Halal – Haram dan Dampaknya Bagi Kehidupan

Latar Belakang: Dimensi Positif dan Dimensi Negatif

1. Dimensi Negatif

a. Bangsa Indonesia terkenal di dunia sebagai bangsa korup dan bermental jelek.   Indonesian have lousy ethic and corruption (Kraar, l989).

b. Jika bangsa Indonesia pergi ke luar negeri melalui Singapura, orang hanya akan menduga kita dari dua kemungkinan: (1) TKW/TKI, atau (2) Koruptor.

c. Tingkat kejujuran bangsa Indonesia nol (zero trust sociaty)

2. Dimensi Positif

Kita, umat Islam, merupakan mayoritas bangsa ini. 87 % lebih penduduk    Indonesia adalah umat Islam. Di sisi lain, kita ini sebagai  bangsa Indonesia juga merupakan penduduk muslim terbesar di dunia.

 

3. Kesimpulan

Dalam kenyataan keberagamaan praktis, yang haq dan yang batal itu bercampur. Implikasinya antara lain, dalam dunia makanan, minuman, obat-obatan, kosmetika, kita tidak lagi mempertanyakan halal atau haramkah barang-barang yang kita konsumsi tersebut. Lebih dari itu, jika ada warung yang menuliskan muslim, justru warung muslim itu  tidak laris dan lama-lama tutup, kecuali di daerah non muslim.

II. Keharusan Agamis

Yang haq harus menang, yang batal harus hancur. Dalam hal ini Allah berfirman:

وقل جاء الحق وزهق الباطل إن الباطل كان زهوقا . . . (الاسرأ. 81)

Supaya yang haq dan halal jaya, yang batal dan haram hancur, kita harus kembali kepada al-Qur’a>n al-Kari>m., selanjutnya mengamalkan petunjuknya.

1.Lefel Paradigmatik

a. al-Qur’a>n sebagai petunjuk kehidupan. Allah menyatakan hal ini dalam al-Qur’a>n sebanyak 48 kali, antara lain: الم ذالك الكتاب لا ريب فيه هدى للمتقين 81:2

b. Salah satu bagian kehidupan adalah dunia makanan dan minuman, obat-obatan,  dan pemanfaatan sesuatu seperti kosmetika. Dalam hal ini, Allah memperingatkan supaya menimbang-nimbang halal dan haramnya secara sungguh-sungguh. Nabi bersabda: إستفت قلبك وإن افتوك وافتوك وافتوك  (Mintalah fatwa kepada hatimu, meskipun mereka memberi fatwa kepadamu, mereka memberi fatwa kepadamu, mereka memberi fatwa kepadamu). Allah juga berfirman: فلينظرالانسان إلى طعامه(عبس: 24 (Maka hendaklah ia memperhatikan kepada yang dimakan).

Jika telah jelas bagi kita halal dan haramnya sesuatu yang akan kita minum, kita makan, kita pakai (perabot kehidupan), kita harus memilih hanya yang halal saja. Dalam hal ini Allah berfirman: كلوا من الطيبات واعملوا صالحا . . .  (Makanlah yang baik-baik saja dan perbuatlah yang baik, Q.S. 23 : 51). Dalam hal ini sebuah hadis menyatakan: طلب الحلال فريضة على كل مسلم (رواه ابن مسعود) (Mencari rezeki yang halal itu wajib bagi setiap muslim, HR. Ibnu Mas’u>d).

III. Yang disebut makanan halal adalah: (1) dzat/material/substansi halal, (2) Cara memperoleh nya halal, (3) Cara memprosesnya halal, (4) Penyimpanannya halal, (5) Pengangkutannya halal, (6) Penyajiannya juga halal).

IV. Keutamaan Mengkonsumsi yang Halal

a. Doa kita kepada Allah dikabulkan. Dalam hal ini Rasulullah Saw bersabda:

إن سعد سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم, ان يسأل الله تعالى ان يجعله مجاب

الدعوة, فقال له: اطب طعمتك تستجب دعوتك (رواه الطبرنى) (Bahwa, Sa’ad memohon kepada Rasulullah untuk memohonkan kepada Allah supaya Dia menjadikannya (Sa’ad) diperkenankan doanya. Beliau bersabda kepadanya: Baikkanlah makananmu, maka doamu diperkenankan. HR.Imam Tabrani).

b. Memperoleh Cahaya ilahi dalam hati dan memperoleh hikmah-hikmah dari Allah.

من اكل الحلال اربعين يوما نور الله قلبه واجرى ينابع الحكمة من قلبه على لسانه

(Barang siapa makan sesuatu yang halal selama 40 hari, maka Allah akan menerangi hatinya dan Dia lakukan sumber-sumber hikmah dari hatinya atas lisannya. HR. Abu Ayyub).

c. Mencari rezeki halal merupakan 9/10 dari nilai ibadah. Rasulllah Saw bersabda:

العبادة عشرة اجزاء, تسعة منها فى طلب الحلال

(Ibadah itu 10 bagian, sembilan dari padanya adalah mencari rezeki halal).

d. Mencari rezeki halal akan memperoleh ampunan dan rida Allah. Rasulullah Saw bersabda

من امسى وانيا من طلب الحلال بات مغفورا له واصبح والله عنه راض

bermalam dengan diberi ampunan dan ia masuk pagi, sedang Allah itu rida (Barang siapa waktu sore hari dengan lemah karena mencari yang halal, maka ia kepadanya).

e. Para pencari rezeki halal memperoleh derajat syuhada’. Rasulullah Saw bersabda:

ومن طلب الدنيا حلال فى عفاف كان فى درجة الشهداء (رواه الطبرنى عن ابى

. هريرة). . .

Dan barang siapa menuntut dunia akan barang halal dalam penjagaan, maka ia berada pada derajat orang-orang yang mati Syahid.HR. Tabrani dari Abi Hurairah).

V . Larangan Mengkonsumsi yang Haram

Allah Swt. berfirman:

ولا تأكلوا اموالكم بينكم بالباطل وتدلوا بها الى الحكام لتأكلوا فريقا من اموالالناس

بالاثم وانتم تعلمون.

(Dan janganlah sebagian dari kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu  dengan jalan yang batil, dan janganlah kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari pada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. Q.S.  al-Baqarah : 188).

Dia juga berfirman:

يا ايها الذين أمنوا اتقوا الله وذروا ما بقي من الربى إن كنتم مؤمنين.(البقره: 278

(Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut), jika kamu orang-orang yang beriman. Q.S. al-Baqarah: 278).

VI. Jenis-Jenis Makanan dan Minuman yang Haram

1. Bersifat material

a. Bangkai, termasuk bangkai adalah sayatan dari binatang yang masih hidup.       Rasulullah bersabda:

ما قطع من البهيمة وهي حية فهو ميتة.رواه ابوداود عن الليث

(Apa yang dipotong dari binatang ternak, sedang ia masih hidup, adalah bangkai.HR.Abu Dawud dari al-Lais} bin Waqid).

Kita sering mendengar berita ayam yang dijual dipasaran cukup banyak yang bangkai. Karena itu kita harus mengetahui ciri-ciri ayam bangkai atau sembelihan.

b.  darah yang mengucur dalam sembelihan atau darah yang keluar dari binatang, semua jenis darah. Dalam hal ini Allah berfirman:

قل لأجد فى ما اوحي الي محرما على طاعم يطعمه إلا ان يكون ميتة اوداما مسفوحا

او لحم خنزير فإنه رجس او فسقا اهل لغير الله به . . .

Artinya Katakanlah: Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai atau darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor atau binatang yang disembelih atas  nama selain Allah . . . (QS. al-An’am : 145).

c. Babi dan binatang yang disembelih atas nama selain Allah (lihat ayat di atas).

d. Makanan yang kotor, menjijikkan, dan najis.

ويحل لهم الطيبات ويحرم عليهم الخبائث

(Dia yang menghalalkan bagi mereka yang baik-baik dan mengharamkan bagi mereka yang buruk-buruk. Q.S. al-A’raf : 157)

e. Binatang buas dan bertaring seperti kucing, macan, anjing, musang, dan serigala:

كل ذى ناب من السباع حرام (رواه البخارى )

(Setiap yang memiliki taring dari binatang buas adalah haram (HR. al-Bukhari).

f. Burung berkuku kuat dan tajam. نهى النبي عن كل ذى مخلب من الطير:

(Nabi Saw melarang setiap yang berkuku kuat dan tajam dari burung.

g. Ular, burung gagak, tikus, anjing, dan burung elang.

عن عائشة, قال رسول الله صلى الله عليه وسلم, خمس فواسق تقتلن فى الحلال

والحرام: الحية والغراب الابقع والفأرة والكلب العقور والجدة (رواه مسلم)

(Dari ‘Aisyah RA, bahwa Rasulullah Saw bersabda: lima binatang yang jahad hendaklah dibunuh baik halal maupun haram, yaitu: ular, burung gagak, tikus, anjing galak, dan burung elang. HR. Muslim.

h. Minuman yang memabukkan

يا ايها الذين أمنوا انما الخمر والميسر والانصاب والازلام رجس من عمل الشيطان

فاجتنبوه لعلكم تفلحون (المائده:90 )

(Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamer, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Q.S. al-Maidah: 90).

Yang termasuk khamer adalah kullu ma> takhammara (segala sesuatu yang sehakikat dengan khamer, yaitu yang memabukkan, yaitu narkoba.) Termasuk obat-obatan dan kosmetika yang najis. Contoh obat najis adalah air kencing. Dan contoh kosmetika najis adalah kosmetik yang dicampuri plasenta dari orok bayi manusia yang meninggal.

2. Campuran antara yang halal dan yang haram, menjadi haram: Rasulullah bersabda: إذا اجتمع الحلال والحرام غلب الحرام (ketika berkumpul antara yang halal dan yang haram, maka yang haram mengalahkan yang halal). Contohnya adalah kue atau roti yang bahan pengempuknya, bahan dasarnya adalah rambut manusia).

3. Secara material halal, tetapi cara memperolehnya dilarang oleh Allah dan Rasul.

a. mencuri nasi. Nasi secara material adalah halal, tetapi nasi hasil mencuri menjadi haram (QS. 5 : 38).

b. Memperoleh harta kekayaan seperti uang dengan jalan riba, reiteniir (QS.2 : 278).

c. Memperoleh harta dengan jalan menipu, terancam tidak termasuk golongan muslim seperti mencampur barang bagus dengan barang tidak bagus atau barang tiruannya. Ketika Rasululklah melihat penjual kurma berbuat kurma kualitas jelek di taruh di dalam, kemudian yang ditampakkan yang bagus-bagus, Rasulullah bersabda: Barang siapa menipu, maka ia bukan golonganku (HR> Muslim).

d. Memperoleh harta kerena suap-menyuap (kolusi). Dalam hal ini Rasul bersabda:

لعن الرسول الله صلى الله عليه وسلم  الراشى والمرتشى (رواه احمد والحكيم)

(Rasulullah melaknat penyuap dan yang disuap. HR. Ahmad dan Hakim).  – –

e.Memperoleh harta karena berkhianat. يا ايها الذين أمنوا لا تحونوا الله والرسول وتخونوا اماناتكم وانتم تعلمون

f.(Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan jangan mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui (QS. al-Anfal/8 : 7).

f. Memakan harta anak yatim (HR. Muttafaqun ‘alaih).

g. Mengambil harta dengan cara yang batal  (QS. 2 : 188).

h. Memperoleh harta dengan cara korupsi. Dalam hadis panjang, potongannya demikian:

فوالذى نفس محمد بيده لا يغل أحدكم منها شيئا إلا جاء به يوم القيامة يحمله على

عنقه, إن كان بعيرا جاء به له رغاء. وإن كانت بقرة جاء بها لها خوار. وإن كانت

شاة جاء بها تيعر, فقد بلغت (فأقول لا املك لك شيئا, قد ابلغتك. رواه متفق عليه)

(Demi Allah yang jiwa Muhammad ada di Tangan-Nya ! Tiada seorang pun yang menyembunyikan sesuatu (korupsi), melainkan ia akan menghadap di hari kiamat memikul di atas lehernya, jika berupa unta ia akan bersuara, jika berupa lembu ia akan melenguh, jika berupa kambing ia akan mengembik. Maka, sungguh aku telah menyampaikan. (Maka aku katakan: aku tidak dapat menolongmu sedikitpun; aku telah memperingatkan kepadamu (HR. Bukhari Muslim/Muttafaqun ‘alaih).

4. Makanan atau Minuman yang merusak kesehatan baik jasmani, rohani, atau keduanya). Diktum ini diperoleh dari paradigma bahwa:

a.  Yang menghidupkan dan mematikan hanya Allah. Kalimah tauhid sekaligus kalimah thayyibah menyebutkan:

لا إله إلا الله وحده لا شريك له, له الملك وله الحمد يحيى ويميت وهو على كل شيئ

قد ير

(Tidak ada Tuhan (yang disembah) kecuali Allah Yang Esa dan tiada sekutu bagi-Nya. Dia yang memiliki kerajaan, dan Dia yang yang maha terpuji. Dia yang menghidupkan dan mematikan; dan Dia menguasai segala sesuatu).

b. Manusia diberi hidup diwajibkan memelihara hidup sebaik-baiknya. Kalau sakit supaya berobat, dan bunuh diri dosa besar, contoh penderita diabet mengkonsumsi gula menurut ukuran orang normal, pendertita darah tinggi memakan sate kambing seukuran orang normal, dan terkena penyakit paru-paru tidak mau berhenti merokok.

Rasul bersabda: ومن قتل نفسه بشيئ فى الدنيا عذب به يوم القيامة(متفق عليه ).

Barang siapa bunuh diri dengan sesuatu, di hari kiyamat ia akan disiksa dengannya (dengan apa ia bunuh diri – HR. Muttafaq ‘alaih).

5. Makanan atau minuman (termasuk obat-obatan, dan kosmetika) yang tidak jelas halal atau haramnya atau syubhat, supaya dimenangkan posisi haramnya.

ومن وقع فى الشبهات واقع الحرام  (barang siapa jatuh di dalam syubat, maka ia jatuh di dalam haram (HR. at-Turmuzi).

VII. Bahaya mengkonsumsi yang Haram

a. Di akhirat kelak, perutnya berisi api, dan ia dimasukkan ke neraka sa’ir (api menyala-nyala  –  QS. 4 : 10).

b. Pemakan riba akan menjadi penghuni neraka. (QS. 2 : 75).  Penghuni neraka berbeda dari dimasukkan ke neraka. Penghuni adalah langgeng/permanen, dimasukkan bersifat sementara atau ada batasan waktu.

c. Neraka adalah tempat yang paling utama. Dalam hal ini Rasulullah bersabda:

كل لحم نبت من حرام فالنار اولى به. رواه الترمذى عن كعب)

(Setiap daging yang tumbuh dari makanan haram, maka neraka adalah tempatnya yang paling utama- HR. at-Turmuzi dari Ka’ab).

d. Sillaturrahmi dan sedekah dari harta yang diperoleh dengan haram, kesemuanya dihimpun menjadi satu untuk menambah siksanya di neraka. Rasul bersabda:

من اصاب مالا من مأثم فوصل به رحما اوتصدق به او انفقه فى سبيل الله جمع الله

ذالك جميعا ثم قذفه فى النار, وقال عليه السلام خير دينكم الوراع(رواه ابو داود).

(Barang siapa mendapatkan harta dari dosa, lalu dengannya ia bersillaturrahmi, atau bersedekah, atau membelanjakan (infak) di jalan Allah, maka Allah menghimpun seluruhnya itu kemudian Dia melemparkan ke neraka. Beliau bersabda: Yang paling baik agamamu adalah wara’, perwira.  – HR. Abu Dawud).

e. Salatnya tidak diterima Allah. Rasulullah bersabda:

من إشترى ثوبا بعشرة دراهم وفى ثمنه درهم حرام لم يقبل الله صلاته مادام عليه

منه شيئ (رواه احمد)

(Barang siapa yang membeli pakaian dengan harga 10 dirham, satu dirham dia antaranya uang haram, maka Allah tidak akan menerima salatnya selama pakaian itu dikenakannya (HR. Ahmad).

VIII. Sekian, semoga ada manfaatnya bagi kita semua. Wassalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh.

 

 

 

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Toksikologi Dalam Sabda Nabi

I.       Pengertian-pengertian Dasar

  1. Toksin

Toksin adalah zat racun yang dibentuk dan dikeluarkan oleh organisme yang menyebabkan kerusakan radikal dalam struktur faal, atau merusak total hidup atau keefektifan organisme pada suatu bagian  (Kamus Besar, 1990:955).

  1. Faal, berarti kerja alat tubuh sebagaimana mestinya  (Kamus Besar,l990:293).
  2. Toksikogenik, hewan yang dapat menghasilkan toksin sehingga tetumbuhan yang dimakannya akan mengalami keracunan (Kamus Besar, l990:955).
  3. Toksikolog, berarti ahli ilmu racun.
  4. Toksikologi, adalah ilmu tentang zat beracun yang berbahaya.

II.    Kasus-Kasus Racun Pada zaman Nabi Saw.

  1. Dikisahkan bahwa Rasulullah berada dalam situasi perang Khaibar. Rasulullah diberi daging kambing yang diberi racun di dalamnya. Beliau mengetahui bahwa daging yang dimakan di dalamnya ada racun, sehingga ketika memakannya tertahan di tenggorokan. Rasulullah lalu memerintahkan kepada para sahabat supaya mencari seorang wanita Yahudi yang diduga ia yang memberi racun dalam daging yang ia berikan kepada beliau. Setelah diketemukan, wanita ini lalu diinterogasi. Ia mengakuinya dengan tujuan untuk membunuh Nabi. Ketika itu sahabat meminta izin kepada Rasulullah untuk membunuh wanita itu. Beliau menolaknya. Tetapi karena Baraah mati disebabkan keracunan daging itu, maka beliau mengzinkan membunuh wanita itu sebagai qishash –  H.R. al-Bukhari).
  2. Racun Sebagai Sarana Bunuh Diri

Menurut sabda beliau, siapa yang bunuh diri dengan cara meminum racun, siksanya adalah neraka kekal di dalamnya.Beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من ترد من جبل فقتل نفسه فهو فى نار جهنم يترد فيه خالدا مخلدا فيها ابدا ومن تحس سما فقتل نفسه فسمه فى يده يتحساه فى نا ر جهنم خالدا مخلدا فيها ابدا ومن قتل نفسه بحديدة فحديدته فى يده يجاء به فى بطنه فى نا ر جهنم خالدا مخلدا فيها (رواه البخا رى عن ابى هريره )

Artinya:

Rasulullah saw. Bersabda: Barang siapa mendaki gunung kemudian ia bunuh diri (terjun bebas) maka ia akan terjun di neraka dan berada di dalamnya kekal abadi. Barang siapa meminum racun untuk bunuh diri maka ia akan membawa racun itu  di tangannya dan  meminumnya juga di neraka, ia kekal abadi di dalamnya. Barang siapa bunuh diri dengan besi, maka besi itu akan didatangkan (kembali) menancap di perutnya dan ia di neraka kekal abadi (H.R. al-Bukhari dari Abi Hurairah).

Penawar Racun

Pada Zaman Islam generasi pertama telah ada pengetahuan bahwa racun itu ada penawarnya sehingga dapat menyelamatkan manusia dari kerusakan fungsional organ tubuh atau selamat dari maut. Beliau bersabda:

—  من اصطبح بسبع تمراة عجوة لم يضره ذالك اليوم سم ولا سحر (رواه البخارى عن ابى هريره)

Artinya:

Barang siapa yang pagi-pagi benar memakan tujuh buah kurma beserta kulitnya (kurma itu hampir matang, dalam bahasa Jawa gemadung) maka ia akan terhindar racun dan sihir di hari itu (H.R. al-Bukhari dari Abu Hurairah).

Kandungan Hadis

Dari kedua hadis itu terkandung pengertian antara lain:

  1. Telah ada kesadaran umum bahwa racun adalah sesuatu yang membahayakan bagi makhluk hidup.
  2. Ada kesadaran menetralisir racun bagi yang terlanjur meminumnya.
  3. Ada bibit-bibit kesadaran melakukan eksperimentasi penawaran racun. Eksperimen pertama menggunakan kurma beserta kulitnya, direbus, dan ditentukan dosisnya (7 buah).
  4. Proyeksi lebih jauh  dapat melakukan eksperimen apa saja sejak dari mineral, buah-buahan, hingga isi bumi yang lainnya, kalau-kalau dapat ditemukan kandungan zat-zat yang berguna bagi kesehatan atau penawar racun, atau meningkatkan ketajamannya.

Kasus Lalat

Tentang lalat, Nabi saw. Bersabda:

— اذا وقع الذ با ب فى اناء احدكم فليغمسه كله ثم ليطرحه فا ن فى احد جنا حيه شفاء وفى الاخر داء (رواه البخارى هن ابى هريره)

Artinya:

. . . Apa bila bijana salah seorang di antara kamu kemasukan lalat, maka celupkan seluruhnya ke dalam bijana itu karena salah satu di antara kedua sayapnya mengandung obat dan sayapnya yang lain mengandung penyakit (H.R. al-Bukhari dari Abi Hurairah).

Kandungan Hadis

Dari teks hadis ini dinyatakan bahwa dalam sayap lalat satu di antara keduanya mengandung obat dan yang lain mengandung penyakit. Pernyataan Rasulullah ini amat menarik untuk mengeksplorasi lebih jauh bagi para ilmuwan toksikologi  atau para ilmuwan serumpun, bahwa : (l) Apakah benar kandungan sabda Nabi itu ? ,(2) Kalau benar, kandungan penyakit itu berwujud racun,  bakteri, atau parasit, (3) kandungan obat yang ada di salah satunya itu bakteri antitoksinnya, atau zat lain bakteri yang bermanfaat bagi kesehatan ?, dan (3) Kandungan lain dalam hadis itu adalah sebagai tauladan untuk eksperimen-eksperimen lebih lanjut untuk menemukan resep bagi kesehatan.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Revitalisasi Aqidah Islamiyyah Di Era Globalisasi

Disampaikan dalam Forum Darul Arkom Purna Studi FKM Unimus

 السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 Pendahuluan

 Penggunaan kata ‘revitalisasi’ dalam ungkapan ‘revitalisasi aqidah Islamiyyah’ disadari bahwa nilai-nilai aqidah secara praktis mengendor, melemah, bahkan sebagian mengelupas karena pengaruh budaya globalisasi yang begitu mudah kita amati dalam kehidupan di sekitar kita. Gaya hidup, mode pakaian, trend seni, maupun pemanfaatan teknologi komunikasi, robot, dan komputerisasi atau secara umum ipteks telah banyak yang lepas dari kontrol aqidah Islamiyyah.

Pengertian :

Aqidah  yang jamaknya ‘aqaid  berarti sesuatu yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketenteraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak sedikitpun bercampur dengan keraguan.

 Al-jaziri mengatakan bahwa ‘aqidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum (aksiomatis) oleh manusia berdasarkan akal, wahyu, dan fitrah. Kebenaran itu terpatri ke dalam hati sanubari  kemudian menolak segala sesuatu yang bertentangan dengan  kebenaran itu.

Ada sejumlah istilah yang secara praktis identik dengan aqidah, seperti iman,  tauhid, ushuluddin, ilmu kalam, dan fiqh  al-akbar.

Ruang lingkup.

Pembahasan ‘aqidah mencakup:

  1. Ilahiyyah, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Allah, umpama wujud-Nya, sifat-sifat-Nya, dan af’al-Nya .
  2. Nubuwwah, yaitu pembahasan yang berhubungan dengan  Nabi, Rasul, kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada mereka, mukjizat, dan karamah.
  3. Ruhaniyyah, yaitu pembahasan yang berhubungan dengan alam metafisika seperti jin, malaikat, setan, iblis, dan ruh.
  4. Sam’iyyah, yaitu pembahasan yang berhubungan dengan sesuatu yang hanya diketahui melalui sam’i (yang didengar) dari wahyu (Alquran dan hadis), seperti alam barzah, akhirat, azab kubur, tanda-tanda kiyamat, surga, neraka, Tuba, ‘arsy, akhirat, dan mizan.
  1. Ruang lingkup ‘aqidah juga dapat diperinci sebagaimana yang dikenal sebagai rukun iman, yaitu iman kepada Allah, malaikat (termasuk didalamnya:jin, setan, iblis), kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada para utusa-Nya, Nabi dan Rasul, hari akhir, dan takdir Allah

Sentra aqidah Islamiyyah

Aqidah Islamiyyah berpusat pada tauhid (pengesaan Allah). Seluruh kegiatan iabadah, akhlak, maupun muamalah harus merupakan perwujudan tauhid. Dengan kata lain tauhid  tidak hanya merefleksi dalam kehidupan individual, melainkan juga harus mengejawantah dalam kehidupan sosial (tauhid al-ummah) maupun secara luas mencakup seluruh aspek kehidupan  (wa tauhid al-fanniyyah as-saqafatiyyah). Secara tradisional, menurut warisan intelektual Islam klasik, tauhid mencakup :

  1.  Tauhid rubuibiyyah, yaitu meyakini bahwa hanya Allah yang mencipta, mengasuh, mengatur, memelihara , termasuk yang menghancurkan alam ini kelak hanyalah Allah swt.
  2.  Tauhid Uluhiyyah, yaitu hanya Allah swt yang disembah maupun dimintai pertolongan (diseru dalam doa) tanpa perantara apapun (wasilah).
  3.  Tauhid al-Asma’ w ash- shifat, wa al-af’al, yaitu Allah memiliki nama dan sifat yang hanya dimiliki oleh Allah sendiri, dan Dia juga berbuat tidak karena oleh yang selain Dia.

Sumber Aqidah

Sumber ‘aqidah adalah al-Qur’an dan as-sunnah ash-shahihah al- maqbulah. Selainnya tidak ada.Apa saja yang datang dari keduanya diyakini secara penuh tanpa ada keraguan sedikitpun, kemudian  akal  difungsikan  untuk membenarkan apa yang diyakini oleh hati itu melalui rasionalisasi atau mencari hikmah di balik yang dikatakan oleh kedua sumber itu, sehingga ‘aqidah  Islam itu rasional.

Fungsi Aqidah

Secara umum para ulama membagi keseluruhan Islam ke  dalam kategori tertentu seperti: aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah; atau: aqidah, syariah, dan akhlak; Posisi akidah adalah fondasi atau landasan bagi yang lainnya. Tanpa aqidah yang benar menurut Islam, ibadah, akhlak, dan muamalah tidak ada artinya. Tanpa aqidah islamiyyah, syariah dan akhlak tidak ada artinya. Tetapi hanya berakidah saja tanpa ibadah dan berakhlak, juga tidak ada gunanya. Berakhlak secara baik dalam menjalani kehidupan di dunia ini, tetapi tanpa dilandasi dengan aqidah islamiyyah maupun ibadah menurut Islam juga tidak ada manfaatnya.Bermuamalah tanda dilandasi dengan aqidah Islamiyyah adalah sekularisme sebagaimana yang terjadi dalam sistem kapitalisme atau sosialisme. keempatnya (aqidah, ibadah, akhlak, muamalah) harus tetap dalam keterpaduan.

Pengertian Global

Global adalah relating to or happening throuhout the whole world. Era globalisasi  dicirikan :

      1    Ledakan informasi tanpa batas

  1. Nilai-nilai moralitas melonggar atau bahkan lepas dalam kehidupan modern ini
  2. Rasa perikemanusiaan semakin  tumpul
  3. Kecenderungan mengagungkan iptek
  4. Kecenderungan kehidupan semakin materialistik.

Dengan ciri-ciri semacam itu jika diukur dengan Islam sebagai sistem (mencakup aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah) jelas merupakan suatu tantangan yang serius.

Solusi

Level pragmatis

Satu-satunya menghadapi tantantangan globalisasi  hanyalah kita tetap berakidah Islamiyyah. Istiqamah di dalamnya. Dalam hal ini Nabi bersabda:”Aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang kamu tidak pernah akan tersesat selamanya selagi berpegang teguh keduanya, yaitu Alquran dan As-sunnah”. Namun demikian bukan berarti kita menolak secara in toto terhadap era globalisasi. Pemanfaatan teknologi informasi atau secara umum  iptek modern seoptimal mungkin untuk aktualisasi aqidah Islamiyyah, dan dalam waktu yang sama menekan sekecil-kecilnya dampak buruk bagi refitalisasi aqidah Islamiyyah tersebut. Profil umat  yang pas di era globalisasi adalah secara iptek modern tetapi aqidah, moralitas, ubudiyyah, dan menjalani kehidupan ini tetap istiqamah berdasar aqidah Islamiyyah.

Level Idiologis

Muhammadiyah dengan seluruh komponennya, utamanaya bidang tarjih dan tajid, harus memiliki komitmen mengembangkan ipteks (ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni), atau bahkan menciptakan peradaban yang sepenuhnya Islam sambil mengikis peradaban Barat yang sekularistik dan stiril dari nilai moralitas karena telah terbukti peradaban ini (Barat) hanya menghasilkan peradaban yang bercorak dehumanistik dan hedonistik.

Penutup

Sekelumit penjelasan  tentang “Revitalisasi Aqidah Islamiyyah di Era Globalisasi “ ini dapat menjadi pengantar diskusi yang tindaklanjutnya antara lain  teraktualisasi dalam kehidupan nyata , utamanya dalam menjalani profesi kita masing-masing sebagai sarjana dan alumni Unimus (pprofesi keperawatan, kebidanan, teknologi pangan, analis kesehatan, kesehatan masyarakat, pelaku bisnis, enginering, pengembangan sastra dan kebahasaan, maupun praktisi statikisme).

Semarang, Oktober 2007

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Muhasabah Atas Berbagai Musibah

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

  1. 1.                                                                                                                                                                                                                     Keterciptaan awal Bumi adalah baik. Allah berfirman:

 

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik (QS al-A’raf/7:56).

  1. 2.                                                                                                                                                                                                                     Respon manusia justru membuat kerusakan, Allah berfirman:

 

 

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)(QS ar-Rum/ : 41).

  1. 3.                                                                                                                                                                                                                      Bentuk pengrusakannya adalah musyrik, Allah berfirman:

 

 

Artinya:
Katakanlah: “Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).”(QS. Ar-Rum/30:42)

 

Atau berbuat dosa tumpuk-menumpuk, Allah berfirman:

 

 

Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat sebelum kamu, ketika mereka berbuat kezaliman, padahal rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka sekali-kali tidak hendak beriman. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa (QS.Yunus/10:13).

 

  1. 4.                                                                                                                                                                                                                     Allah menghukum karena pengrusakan yang dilakukan oleh manusia( Lihat ayat di atas). 

 

  1. 5.                                                                                                                                                                                                                     Disebutkan Allah menghancurkan suatu kaum dengan habis tak bersisa hingga 65 kali.
  2. 6.                                                                                                                                                                                                                     Contoh Allah menghancurkan kaun Tsamud:

 

 

Artinya:

Adapun kaum ‘Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal di antara mereka (QS. Al-Haqqah/ : 6-8).

  1. 7.                                                                                                                                                                                                                      Himbauan Allah untuk membuktikan bukti-bukti hukuman Allah terhadappara                      pembangkang:  (Lihat no. 3 di atas).
  2. Analisis tergadap peristiwa gunung merapi meletus apakah sunnatullah atau kemurkaan-Nya, tampak lebih nyata sebagai sunnatullah.
  3. Sebuah peringatan untuk kita agar tidak membangkang kepada Allah lebih jauh. Rasulullah bersabda:

 

يخرج من أمتى يقرؤن القران ليست قرائتكم إلى قرائتهم شيأ  ولا صلاتكم

إلى صلاتهم شيأ ولاصيامكم إلى صيامهم شيأ. يقرءون أنه لهم وهو عليهم ولا تجاوز  صلاتهم  تراقيهم.  يمرقون  من  الإسلام  كما  يمرق  السهم

من الرمية (رواه ابو داود عن على بن ابى طالب)

Artinya:

Akan ada dari umatku yang membaca Alquran, bahwa pembacaanmu dibanding dengan pembacaan mereka, pembacaanmu bukan apa-apanya. Salatmu dibandingkan dengan salat mereka, salatmu bukan apa-apanya. Puasamu dibadingkan dengan puasa mereka, puasamu tidak ada apa-apanya. Mereka mengira bahwa yang demikian itu yang paling baik bagi mereka. Dia puas dalam posisi seperti itu. (sebenarnya) salat mereka tidak keluar dari kerongkongan mereka. Mereka keluar dari Islam seperti keluarnya anak panah dari busurnya – HR. Abu Dawud dari Ali bin Abi Thalib).

  1. Ancaman bagi yang membangkang sunggh amat mengerikan baik ketika di dunia maupun di akhirat. Allah berfirman:

 

 

 

Artinya:

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik[414], atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar (QS. Al-Maidah/5 : 33).

  1. Khatib menghimbau kepada diri sendiri dan jamaah, marilah kita bertaubat tidak membuat kerusakan baik di laut, di darat, di gunung, di pekuburan atau yang lain. Berbuat kerusakan itu intinya adalah musyrik, bertuhan kepada selain Allah. Dengan bertaubat, dengan idak musyrik, dengan tidam membuat kerusakan, insya Allah kita akan selamat.

 

 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

AL-HIKMAH : GENERIKA, DOKTRIN, DAN OPINI

I. Pendahuluan

Tulisan ini dilatari oleh dawuh Prof Abu supaya saya ngomong ngalor ngidul  antara lain mengomongkan tentang fenomena Ponari. Saya mengiyakan tanpa mempertimbangkan kemampuan saya. Setelah saya pikir-pikir kemudian muncullah ide untuk memilih tema sebagaimana tertulis di atas. Saya menulis, tidak sekedar ngomong karena para ustadz yang mengisi di forum ini senantiasa orang-orang yang jauh di atas saya – bukan karena merendah tetapi benar-benar faktual – sehingga campur grogi adalah pasti. Jika tidak memenuhi harapan  Bapak Ibu Jamaah saya mohon maaf sebesar-besarnya.

II. Arti  al-Hikmah Secara Bahasa

Arti asal kata al-hikmah adalah al-luja>m, yaitu besi yang dipasangkan pada moncong kuda yang salah satu bagiannya masuk ke dalam mulutnya yang dengannya kuda itu dapat dikendalikan, tidak binal, bersifat sebaik-baiknya bagi yang memanfaatkan (Ibrahim Anis : 191).

Al-Hikmah juga berarti mencegah dengan se se-strik-strik-nya hingga diperoleh perbaikan atau kebaikan maksimal, contohnya adalah al-luja>m  terhadap kuda sehingga kuda tersebut menjadi baik, jinak (lulut), dan tidak binal (ar-Raghib al-Asfahani: 248).

 

III. al-Hikmah dalam Alquran

Alquran menyebut kata al-hikmah dan kata-kata yang lain yang seakar seperti al-hukm, al-hakim, al-ahkam, yahkumu, hakimin, muhkama>t dan yang sejenis hingga tidak kurang dari 198 kali. Ini menandakan al-hikmah termasuk tema yang amat penting menurut Alquran. Pentingnya tema ini dapat dianalogkan kalau kita diperintah oleh orang tua kita hingga terulang 5 kali saja karena kita belum melaksanakan, pasti nada perintah itu sudah keras, kadang-kadang diimbuhi bentakan, dan kita yang diperintah itu telah muncul kejengkelan pula. Bayangkan Allah mengulangi jauh di atas angka 5 kali 10, tetapi 198 kali. Pola kelompok keberagamaan yang kurang mengapresiasi ini, tentu   tidak banyak tahu tentangnya, dan implikasinya tentu bisa nunjangpalang.

Dalam kesempatan ini saya hanya membahasnya sekedarnya saja dari pengertian hakiki sebagaimana dijelaskan Alquran, tetapi saya akan berbuat sejauh  saya mampu. Saya tidak mampu menangkap makna yang sebenarnya dari Alquran. Setiap kata al-hikmah atau yang seakar dengannya, pasti menempati struktur dalam suatu kalimah dan mengandung arti yang khas pula. Di tempat lain pasti memiliki arti lain pula sehingga kalau tiap orang memiliki pemahaman yang sama dari Alquran tentu ada makna 198 dari kata al-hikmah. Jika ada perbedaan pemaknaan terhadapnya, tentu arti al-hikmah lebih banyak lagi dari sekedar jumlah itu (198).

1. Semakna berbuat sebaik-baiknya laksana terhadap kuda

Makna yang demikian ini dipakai dalam Alquran umpama احسن كل شيئ خلقه (Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya, QS as-Sajdah/32 : 7). Contoh pemakaian arti ”sebaik-baiknya” ini antara lain:

 

وما ارسلنامن قبلك من رسول ولا نبي إلا إذا تمنى القى الشيطان فى امنيته فينسخ الله ما يلقى الشيطان ثم يحكم الله اياته والله عليم حكيم

Artinya: Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Rasul pun dan tidak (pula) seorang Nabi, melainkan apabaila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaithan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu. Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaithan, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya, dan Allah Maha mengetahui lagi maha bijaksana. QS. al-Hajj/22 : 52)

 

Arti kata haki>m dalam konteks  ayat itu adalah berbuat terhadap sesuatu, di luar diri sang pembuat, supaya menjadi baik dengan kualitas sebaik-baiknya bagi si pembuat dan objek yang dimanipulasinya. Kalau yang berbuat itu Allah tentu untuk objek manipulasinya., yaitu Allah.

 

2. al-Haki>m

Al-Haki>m adalah orang yang melakukan al-luja>m. Dengan demikian al-hakim adalah orang yang berbuat baik, sebaik-baiknya. Kata al-Hakim   digunakan sebagai salah satu nama di antara nama-nama Allah yang indah (al-asma> al-husna) dan mengandung arti Allah senantiasa berbuat sebaik-baiknya terhadap semua makhluk. Kalau pun akhirnya ada seorang masuk atau dimasukkan ke neraka dengan siksaan yang amat pedih, itu bukan Allah Maha Kejam, melainkan orang itulah yang kejam terhadap dirinya sendiri karena tidak mengindahkan peringatan Allah. Contoh makna demikian ini antara lain:

 

وقالوا لو كنا نسمع او نعقل ما كنا فى اصاب السعير. فاعترفوا بذ نوبهم فسحقا لاصحاب السعير.

Artinya: Dan mereka berkata, “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan) itu niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala. Mereka mengetahui dosa-dosa mereka. Maka kebinasaanlah penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala (QS. al-Mulk/67 : 9-10).

 

3. al-Hukm

Al-hukm berarti perbuatan sebaik-baiknya dari al-Hakim. Al-Hukm juga mengandung arti menetapkan bahwa sesuatu itu begini atau begitu atau tidak begini dan tidak begitu (baik-buruk, benar-salah, ya-tidak, silahkan-jangan dst), yang dikemudian hari melalui para logikus  al-hukm berarti qad}>iyah (kalam khabar yang mengandung afirmasi/mengiyakan atau mengingkari). Contoh pemakaian makna semacam ini dalam Alquran adalah:

 

إن الله  يأمركم  ان تؤدوا  الامانات  الى  اهلها  واذا حكمتم  بين   الناس ان تحكموا بالعدل إن الله نعما يهظكم به إن الله كان سميعا بصيرا

 

Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu), apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat ( QS. an-Nisa>’/4 : 58).

 

Pelaku al-hakim (yang memutuskan begini atau begitu), al-hukkam yang senantiasa memberi putusan hukum, yaitu hakim  di antara amanusia adalah al-h}aki>m, manusia sendiri. Contoh pemakaian makna semacam ini adalah

 

ولا تأكلوا اموالكم بينكم  بالباطل  وتدلوا  بها الى  الحكام  لتأكلوا  فريقا من اموال الناس بالاثم وانتم تعلمون

Artinya: Dan janganlah sebahagian dari kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari pada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui (QS. al-Baqarah/2 : 188).

 

4. al-H}ikmah

Al-h}ikmah berarti mencurahkan kebenaran dengan ilmu dan akal (isha>bathu al-h}aq bi al-‘ilmi wa al-‘aql). Jika makna ini diterapkan kepada manusia adalah manusia yang mengetahui gejala, fenomena, mauju>da>d dan berbuat kebaikan karena curahan kebaikan dari Allah. Tipologi manusia demikian diberikan kepada Lukman al-H}akim. Demikian firman Allah:

 

ولقد اتينا لقمان الحكمة ان اشكر لله ومن يشكرفإنما يشكر لنفسه ومن كفر

فإن الله غني حميد

Artinya: Dan sesunguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu bersukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur kepada dirinya sendiri, dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha kaya lagi Maha terpuji (QS. Luqman/31 : 12).

Kata al-h}aki>m dalam ayat itu berarti nama Luqman itu sendiri yaitu Luqman al-H}akim, sekaligus karakter Luqman dan membuahkan pengertian Luqman senantiasa berbuat sebaik-baiknya (terutama kepada anaknya supaya tidak musyrik).

Jika diterapkan kepada Alquran, kitab suci ini adalah representasi hikmah itu sendiri atau sekurang-kurangnya  mengandung hikmah, contohnya adalah:

 

الر. تلك ايات الكتاب  الحكيم  (Ali>f la>m ra>, Inilah ayat-ayat Alquran yang mengandung hikmah (QS. Yunus/10 : 1).  Yang dimaksud hikmah dalam ayat ini adalah hikmatun ba>lighatun muzdajarun, berita sebaik-baiknya dan yang menjadikan baik.

al-H}ikmah bisa identik dengan al-h}ukmu. Setiap al-h}ikmah pasti al-h}ukmu, tetapi setiap al-h}ukmu belum tentu al-h}ikmah. Al-h}ukmu identik dengan al-h}ikmah manakala dalam meberikan putusan hukum itu benar dan baik. Pemakaian makna semacam ini antara lain dalam:

 

يا يحي خذ الكتاب بقوة واتيناه الحكم صبيا  (Hai Yahya, ambillah al-Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak (QS. Maryam/19 : 12). Ayat ini menjelaskan Yahya telah dicurahi hikmah oleh Allah pada saat ia masih kanak-kanak yang wujudnya adalah kitab suci berisi berbagai petunjuk hidup yang baik dan benar, bukan benda-benda magis. Pengertian al-h}ikmah semacam ini diulang lagi umpama:إن الله يحكم ما يريد  (Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendakinya, QS. Al-Ma>idah/5 : 1).

Pengertian al-h}ukmu yang identik benar dengan al-h}ikmah manakala tidak ada perbedaan antara  lafal dan makna sebagaimana disebut dalam Alquran. Makna yang demikian ini, ketika diterapkan kepada manuaia, dalam keadaan delimatis, mereka memilih mati (dibunuh) sebagai muslim dari pada murtad dengan kehidupan nyaman di dunia. Dalam sejarah Yahudi, banyak Nabi yang mati dibunuh umatnya karena tidak menghentikan dakwah mereka untuk mengajak agama tauhid. Mereka itulah ahl al-hikmah. Rasulullah sendiri berulangkali menjadi percobaan pembunuhan oleh kaumnya sendiri, dan ia tidak pernah surut untuk tetap berdakwah.

Antara sejarah dan mitos, ada dua orang prajurid muslim muzarabes) yang tertangkap oleh pasukan salib. Mereka  akan dibebaskan jika mau berpindah agama dari Islam ke Nasrani. Satu di antaranya mengaku tetap sebagai seorang muslim, meskipun dibunuh. Orang ini kemudian dipenggal kepalanya, kemudian kepala itu menggelinding dan berputar sambil membaca la> ila>ha illa-lla>h dan darahnya berbau harum, dan surga yang akan ditempatinya telah ia lihat dengan jelas. Yang satunya bersedia masuk Nasrani asalkan diberi ampunan sehingga tetap hidup. Setelah mengatakan begitu diiyakan oleh prajurit Nasrani, namun kemudian dipenggal kepalanya. Kepala itu akhirnya menggelinding dan berputar-putar sambil mengatakan penyesalannya dan tempatnya neraka, serta bau darahnya sangat anyir. Walla>hu a’lamu bi ash-shawab.

 

5. an-Nubuwwah (Kenabian)

Ibrahim bin ’Abdurrah}ma>n as-Sa’di menyatakan bahwa al-h}ikmah berarti an-nubuwwah (kenabian) yang menunjuk kepada para Nabi dan Rasul yang memiliki u>lul al-’azmi, kemudian diikuti oleh para Nabi dan Rasul lain maupun orang-orang yang memiliki derajad kenabian (bukan Nabi). Contoh pemakaian makna seperti ini adalah:

 

إنا انزلنا التوراة فيها هدى ونور يحكم بها النبيون الذين اسلموا للذين هادوا والربانيون والاحبار . . .

Artinya: Sesungguhnya kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh Nabi-nabi yang menyerahkan diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka, dan pendeta-pendeta mereka . . . (QS. al-Maidah/5 : 44)

 

Dalam pengertian al-h}ikmah sebagai an-nubuwwah, para Nabi dan Rasul dalam menyampaikan hukum (kebenaran, wahyu, kebaikan) selalu dibekali oleh Allah dua hal: al-Kitab dan al-Hikmah. Dalam hal ini Allah berfirman:

 

ربنا وابعث فيهم رسولا منهم يتلون عليهم اياتك  ويعلمهم  الكتاب  والحكمة

ويزكيهم إنك انت العزيز الحكيم

Artinya: Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah as-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang maha Perkasa dan Maha Bijaksana (QS. Al-Baqarah/2 : 129; dapat dibaca pula pada ayat 2 : 151, 231, 2512, 269; Ali Imran/3 : 48, 81, 164, an-Nasa</4 : 54,113; al-Maidah/5 : 110; al-Jum’ah/62 : 2).

 

Orang yang diberi hikmah adalah orang yang diberi sesuatu kebaikan oleh Allah dalam jumlah yang banyak (ومن يؤت الحكمة فقد اوتي خيرا كثيرا ). Sudah barang tentu orang kebanyakan tidak mengetahui pemberian Allah ini. Alh}ikmah laksana arus listrik, tidak bisa diamati tetapi efeknya amat terasa baik  mnanfaatnya maupun madaratnya.

 

III. al-H}ikmah dalam Opini

Dalam dunia manusia, orang yang diberi hikmah dipersepsi sebagai orang yang linuwih, banyak memberi manfaat kepada orang banyak. Karena ahlul hikmah juga manusia yang kadang-kadang terkena emosi, bisa saja orang ini menyumpahi orang lain, dan sumpahnya dipercayai terjadi seketika atau tidak lama sesudah itu. Dalam bahasa Jawa disebut nyabda. Karena sabda ahlul hikmah mandhi, maka ia lalu disegani, ditakuti kutukannya, tetapi diharapkan kasih sayang dan bantuannya. Orang semacam ini digelari wali, setengah wali, atau insan kamil, orang yang dekat kepada Allah dan selanjutnya dijadikan perantara dalam berdoa kepada Allah. Syeikh Abdul Qadir aljilani, Syeikh Junaid al-Baghdadi, Syeikh an-Naqsyabandi, dan orang-orang lain yang sejenis adalah contoh tipologi manusia mediator antara Allah dan manusia. Semua urusan hidup (kullu h}a>jatin) menjadi beres setelah dikonsultasikan kepada manusia tipologi ini.

Secara faktual ada dua jenis manusia adi kodrati semacam ini, yang pertama wali sebagai karunia Allah (QS al-Baqarah/2 : 269 – waman yu’til hikmata faqad u>tiya khairan kas}>ran)  dan yang kedua wali sebagai anugerah Thaggut (QS.al-Baqarah/2 : 256-257), atau al-Jibt (QS. An-Nisa>’/4 : 51,60,72; al-Maidah/5 : 60; an-Nahl/16 : 76, dan az-Zumar/39/ : 17). Yang oleh Ibnu Taimiyyah wali jenis pertama disebut auliya>u-ar-Rahma>n (wali karena anugerah Allah) dan jenis wali yang kedua disebut auliyau asy-syaithan (wali karena anugerah syaithan). Orang yang secara formal adalah non muslim pasti bertuhan selain Allah, yaitu thaghut atau al-jibt, yang wujudnya bisa bermacam-macam: Isa bin Maryam, Uzair, Fir’aun, manusia, binatang, gejala alam (benda-benda bermana atau tuah seperti bathaok bolu, kayu kastigi, galeh asem, aneka macam batu akik, pring temu rose, lulang bo landhoh, aneka macam aji-aji, qur’an stambul yang semuanya dijadikan sebagai pelindung dari marabahaya), ualama, hawa nafsu, kekayaan, bahkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Baik personifikasi wali karena anugerah Allah maupun anugerah syaithan sama-sama bersifat adikodrati, sama-sama memiliki kemampuan yang luar biasa (khawariqu al-‚ada>d atau khawarijul ‚ada>d), sama-sama mampu menunjukkan dan memberikan manfaat kepada orang banyak, sama-sama waspodo (ngerti sakdurunging winarah, wicaksono). Wali jenis pertama dapat dicontohkan para Nabi dan Rasul, Umar bin Khatab, atau secara umum khulafa’ ar-Rasyidun, dan wali jenis kedua dapat dicontohkan Ki Joko Bodho, Ki Gendheng Pamungkas,  Mama Lorens, dan si kecil Ponari.

Yang lebih sulit dipahami ialah secara lahiriah berprofil orang bersurban, berbaju gamis, senantiasa berlumuran minyak wangi, idiom-idiomnya Arab, bahkan menggunakan ayat-ayat Alquran untuk membenarkan tindakannya, dan ini aman tidak mendapat kutukan masyarakat, tetapi esensinya tetap auliya> asy-syaithan karena indikator daya linuwih-nya menggunkan haikal, wifiq, rajah, hizib,puasa mutih, ngebleng, ngrowot, ngidang, apati geni,  dan semua laku (ritus) yang tidak ada tuntunannya dalam Alquran maupun Assunnah).

Perkembangan selanjutnya, al-h}ikmah berarti Failasuf atau Thabib (dokter ?). para peminat filsafat di dunia Islam menafsirkan al-h}ikmah dari ayat-ayat Alquran adalah filsafat. Para Nabi dan Rasul dalam berdakwah kepada umat dibekali dua perkara kitab dan filsafat. Mereka, para Nabi dan Rasul adalah ahlul hikmah dalam arti failasuf). Kemudian, para failasuf mengklaim mereka termasuk dalam cakupan u>tiya khairan kas}i>ran (diberi kebaikan yang banyak) oleh Allah secara langsung.

Thabib dan ilmuwan tidak termasuk dalam cakupan u>tiya khairan kas}i>ran, tetapi karena tadabbur-nya, penelitiannya, nad}arnya, dan ta’allum-nya (belajar)nya, kemudian diberi penghargaan oleh manusia, terutama sejak abad 17 dengan gelar akademik (BA, Drs/Dra, Ir, MA, Dr, Phd, Prof. Dan yang sebangsanya). Mereka diberi anugerah Allah u>tu al-’ilma daraja>t (QS. Al-Mujadilah/58 :11). Prestasi sejauh yang dapat mereka peroleh menurut para ahlul hikmah hanyalah karamah ’ammah (kemulyaan umum) yang tingkatannya rendah, yaitu hanyalah ’ilm al-yaqi>n, tidak mencapai derajat h}aqq al-yaqi>n.

Kerendahan ahlu al-hikmah lebih diperparah dalam tradisi, bahkan budaya bangsa Indonesia. Dalam bangsa ini terdapat sedikitnya dua tipologi ahlul hikmah. Pertama orang-orang yang menjual jasa dengan balasan rupiah dan dibahasakan mahar (mas kawin) yang mewujud benda-benda bertuah  dalam bentuk pasang susuk mahabbah-katresnan, pelarisan, kadigdayan, untuk percepatan memperoleh jodoh), dan yang kedua dalam arti suap-menyuap untuk meraih status tertentu (lamaran pekerjaan atau diterima sebagai mahasiswa, pengegulan proyek, kelancaran spj, pemenangan perkara dalam pengadilan, pengesahan undang-undang, penyelamatan dari hukuman, mencari simpati masa untuk menjadi anggota legislatif, dan yang sebangsanya,  dengan rumusan ’mohon kebijaksanaan Ibu/Bapak). Kebijaksanaan adalah terjemahan dari kata al-h}ikmah.

 

IV. Rekomendasi

Kita hanya akan selamat jika kita terbebas dari segala macam bentuk kemusyrikan. Inilah al-h}ikmah al-ba>lighah, kebaikan yang terbaik, kemanfaatan yang paling bermanfaat, dan inilah yang dipegangi oleh para Nabi dan Rasul, meskipun bisa merenggut nyawa mereka dari para penentangnya.

Aneka tawaran ketik reg mama, ketik reg  keberuntungan, ketik reg sio, dan ketik reg-ketik reg lain yang sejenis dapat menimbulkan kemusyrikan. Dalam hal ini Rasulullah melalui sabdanya yang diriwayatkan Muslim, dengan demikian s}ah}i>h menyebutkan: من اتى عرفا فصدق بما يقول فقد برئ محمد عنه  (Barang siapa mendatangi orang pintar kemudian membenarkan perkataannya sungguh Muhammad bebas dari mereka – tak ada persambungan apa pun. Dalam hadis lain disebutkan shalatnya selama 40 hari tidak diterima oleh Allah. Walla>hu a’lamu bi ash-shawa>b.

 

V. Penutup

            Mudah-mudahan uraian singkat ini ada manfaatnya bagi penulis dan para peserta kajian ke-Islam-an ini. Ami>n ya. Rabb al-’Alami>n. Atas segala kekurangannya mohon maaf sebesar-besarnya.

 

 

Semarang, akhir Vebruari 2009

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

RAJABIAH ANTARA DOKTRIN DAN BUDAYA

Oleh: M. Danusiri

Pendahluan

Di dalam bulan Rajab terdapat peristiwa penting, yaitu isra’ dan mi’raj Rasul, merupakan suatu momentum yang amat penting dalam Islam. Karena pentingnya, apresesiasi umat Islam juga sangat istimewa. Dalam perjalanan sejarah, akhirnya muncul berbagai mitos maupun ritual yang sebagiannya perlu diluruskan kembali sebagaimana tuntunan Rasulullah.

Dalam forum ini akan dijelaskan serba ringkas mengenai isra’- mi’raj dan amalan rajabiah yang berlaku di kalangan masyarakat.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pandangan Islam tentang kesehatan (bag 1)

Oleh:  M.Danusiri

Tujuan Umum Pembelajaran
Setelah membaca dan mengikuti pembelajaran bab ini Mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan pandangan Islam tentang kesehatan.
Tujuan khusus Pembelajaran
Setelah membaca dan mengikuti pembelajaran  bab ini Mahasiswa diharapkan dapat:
1.    Menjelaskan pengertian sehat
2.    Menjelaskan  dan dapat  mengusahakan dirinya agar sehat secara jasmani.
3.    Menjelaskan dan dapat mengusahakan dirinya agar sehat secara rohani
4.    Menjelaskan dan dapat mengusahakan dirinya agar sehat jamani dan rohani

A. Pengertian Sehat
Kata ‘sehat’ merupakan indonesianisasi dari bahasa Arab ash-shihhah dan berarti sembuh, sehat, selamat dari cela, nyata, benar, dan sesuai dengan kenyataan (Warson, [t.th.]:817). Kata ‘sehat’ dapat diartikan pula: (1) dalam keadaan baik segenap badan serta bagian-bagiannya (bebas dari sakit), waras, (2) mendatangkan kebaikan pada badan, (3) sembuh dari sakit (Kamus Besar, 1990:794).
Dalam bahasa Arab terdapat sinonim dari kata ash-shihhah yaitu al-‘afiah yang berarti ash-shihhah at-tammah (sehat yang sempurna – Warson [t.th.]:1021).Kadang-kadang kedua kata itu digabung menjadi satu ash-shihhah wa al’afiah, diindonesiakan menjadi ‘sehat wal afiat’ dan  artinya sehat secara sempurna.
Dalam kaitan dengan ilmu kesehatan maupun ilmu keperawatan, yang dimaksudkan dengan kata sehat adalah seluruh tubuh (termasuk anggota badan) dalam keadaan baik berfungsi sebagaimana adanya. Kaki dikatakan sehat manakala kaki itu berfungsi secara penuh dan tidak ada sama sekali disfungsi baginya sedikitpun di samping tidak merasa sakit (warson, [t.th.]:1420
Tidak ada satu kata pun di dalam Alquran menyebutkan kata ash-shihhah dan al’afiah, tetapi Alquran menyebutkan perkataan syifa’ yang berarti kesembuhan (dari sakit), dan pengobatan (menuju kesembuhan dari keadaan sakit). Kata syifa’ disebut tiga kali dalam Alquran, yaitu surat Yunus ayat 57, surat al-Isra; ayat 80, dan surat Fushilat ayat 69. Disebutkan bahwa di samping sebagai petunjuk Alquran juga dinyatakan sebagai obat yang menyembuhkan. Allah berfirman:
Artinya:
Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi obat (penawar) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang zalim selain kerugian (Q.S. al-Isra’/17:82).

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa Alquran sebagai penyembuh hanya kepada orang yang beriman secara Islam. Non muslim dikategorikan sebagai orang-orang lalim, otomatis tidak sehat. Dengan demikian, yang dimaksud sehat atau sakit dalam ayat ini bersifat rohaniah. Secara fisik orang dikatakan sehat tetapi secara rohaniah belum tentu dikatakan sehat. Ukuran sehat atau sakit terletak pada ‘iman’ secara Islam. Tipologi kesehatan yang demikian ini secara lebih eksplisit, yaitu penyakit hati, kata lain dari rohani,  disebutkan kembali dalam ayat berikut:

Artinya:
Wahai manusia ! sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Alquran) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman (Q.S. Yunus/10:57).

Selanjutnya, Alquran memberi petunjuk bahwa madu lebah mengandung obat. Allah berfirman:

Artinya:
Kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah memudahkan (bagimu) dari perut lebah itu keluar minuman  (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir (Q.S. an-Nahl/16:69)
Dari ayat ini dapat diambil pengertian bahwa kata syifa’ mengandung pengertian  general (jami’-mani’),  yaitu ‘sehat’ secara umum, bisa sehat secara jasmani maupun sehat secara rohani. Justifikasi ‘sehat’ dari ayat itu bukan hanya orang beriman secara islami, melainkan manusia secara umum tanpa memandang keimanan seseorang. Rasionalitas dari ayat ini Alquran bisa dijadikan penyembuh dari sakit jasmani maupun rohani, orang beriman maupun orang tidak beriman. Atas dasar iman  yang mantab terhadap firman Allah  bisa irumuskan teori dasar (grand theory) bahwa ‘Alquran adalah penyembuh dari sakit manusia’. Dari rumusan teori yang bersifat universal ini kemudian dioperasionalkan oleh Rasulullah, bahwa setiap sakit itu ada obatnya. Teknis pengobatannya bermacam-macam antara lain sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut::
حديث جابر بن  عبد الله  رضي الله  عنهما  قال: سمعت  النبي  صلى الله عليه وسلم يقول: إن كان من شيئ من ادويتكم ,او يكون  فى شيئ من ادويتكم, خير,
ففى شرطة محجم, او شربة  عسل,  او لذعة  بنار  توافق  الداء, وما  أحب أن
أكتوى
Artinya:
Hadis dari Jabir bin Abdillah, semoga Allah meridai keduanya, ia berkata: Aku telah mendengar Nabi saw bersabda: jika telah ada sesuatu dari obatmu, atau akan ada sesuatu dalam obatmu itu kebaikan, maka canduk (bekam), atau minum madu atau membakar besi dengan api kemudian ditusukkan pada penyakitnya, dan aku tidak suka kei (membakar besi kemudian ditusukkan pada yang sakit – HR. Muttafaqun ‘alaih).

Segala sesuatu pasti ada pengecualiannya, kecuali yang Maha Mutlak. Pengecualian bahwa ‘semua sakit pasti bisa disembuhkan’ sebagaimana dikatakan dalam firman Allah QS. An-Nahl/16:69 ini adalah sabda Rasul sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut:
حديث أبى هريرة  رضى الله  عنه, أنه  سمع  رسول الله  صلى الله عليه وسلم يقول: فى الحبة السوداء شفاء من كل داء إلا السام.متفق عليه.
Artinya:
Abu Hurairah mendengar dari Rasulullahsaw bersabda: di dalam jintan hitam itu terkandung obat dari berbagai penyakit kecuali maut. (HR. Muttafaqun ‘alaih).
‘Mati’ sebagaimana dikatakan dalam hadis di atas adalah pengecualian dari sakit. Mati memang kodrat ilahi. Dia lah yang menghidupkan, yang mematikan. Dengan demikian, jika Allah menghendaki seseorang harus mati, sementara ia sakit, diobati dengan apa, oleh siapa, dan dengan cara apa pun pasti tidak bisa sembuh. Jadi Allah juga yang membuat pengecualian bahwa setiap sakit ada obatnya, dan pengecualiannya adalah maut. Dalam pernyataan yang bernada anomali oleh Rasulullah harus dipahami bahwa Rasulullah hanya menyatakannya mengenai kemutlakan Allah dalam hal mematikan dan menghidupkan makhluk, bukan beliau yang mematikan dan menghidupkannya.
Dalam hal mengusahakan kesembuhan dari sakit, Rasulullah memberikan penjelasan dengan berbagai macam cara. Dari hadis Jabir, sebagaimana telah dikutip, menunjukkan tiga hal untuk mencapai kesehatan dari keadaan sakit, yaitu bekam, mengonsumsi madu, dan kei. Beliau juga menjelaskan cara lain untuk berobat dari sakit, yaitu ruqiyah (secara teknis diterjemahkan jampi atau mantra). Beliau menggunakan surat al-muta’wwiza<t, yaitu surat al-Ikhlas, surat al-Falaq, dan surat an-Nas. Dalam hal ini, istri beliau ‘Aisyah meriwayatkan bahwa:
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا اشتكى, يقرأ على نفسه بالمعوذات, وينفث.فلما استدوجعه كنت أقرأ عليه, وأسح بيده, رجاءبركتها.متفق عليه.
Artinya:
Bahwa, jika  Rasulullah merasa sakit, ia membaca untuk dirinya surat al-mu’awwiza>t (surat al-Ikhlas, surat al-Falaq, dan surat an-Na>s) kemudian meludahi – gerakan meludah tetapi tidak keluar air ludahnya –  bagian yang sakit. Ketika sakitnya itu semakin berat, aku yang membacakan untuknya dan aku yang mengusapkan dengan tangannya pada bagian yang sakit dengan mengharapkan berkahnya (al-mu’awwiza>t – HR. Muttafaqun ‘alaih).

Surat al-Fatihah juga dapat dijadikan sebagai sarana penyembuhan sakit melalui teknik ruqiyah, yaitu surat itu dibaca, dalam batin memohon kesembuhan dari Allah terhadap sakit si pasien, kemudian ditiupkan kepada pasien.
Dikisahkan bahwa seseorang mendatangi kepada rombongan Nabi meminta untuk meruqyah temannya karena telah diruqiyah dari kaumnya sendiri dan belum sembuh. Salah seorang sahabat Nabi menyanggupinya untuk meruqiyah setelah mendapat restu dari beliau dan telah disepakati upahnya. Seseorang dari sahabat Nabi tadi meruqiyahnya dengan membaca surat al-Fatihah untuknya sesuai dengan petunjuk Rasul. Setelah diruqiyah, pasien sembuh. Upah pun diberikan. Sahabat segera akan membagi daging kambing itu, tetapi pelaku ruqiyah melarangnya, untuk lapor dulu kepada Rasulullah. Selanjutnya mereka lapor kepada beliau, lalu Rasulullah, sambil tertawa,  mengisyaratkan dengan menepuk-nepukkan panah ke tanah untuk dibagi-bagi kepada masing-masing sahabat.     (H.R. al-Bukhari,VII, [t.th.]:22-23).
Hanya saja perlu hati-hati menggunakan ruqiyah karena banyak jenis ruqiyah yang termasuk syirik. Ruqiyah menurut tuntunan Rasulullah bukan mantra dan guna-guna melainkan doa (permohonan sepenuhnya) kepada Allah. Salah satu kandungan inti surat al-Fatihah bagi manusia adalah memohon supaya dikaruniai keberuntungan dan kenikmatan. Hal ini terungkap dalam ungkapan “Iyyaka nasta’i>n” (Hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan).  Inti kandungan seluruh ayat dalam surat al-Falaq adalah permohonan supaya diselamatkan dari daya magis yang merusakkan (black magic) dan orang atau siapa saja yang mendengki (jin, syetan, dan manusia). Kandungan  inti surat an-Nas adalah permohonan supaya terhindar dari godaan setan dan supaya dalam berusaha, salah satunya berdoa diberi kemantaban yang prima. Ketika Rasulullah besuk kepada salah satu anggota keluarganya, beliau menempelkan telapak tangannya ke tubuh si sakit lalu menyapukan tangan kanannya itu ke tubuh pasien dan berdoa:
االلهم  رب  الناس  أذهب  الباءس  واشفيه  وانت  الشافى  لا شفاء  إلا شفا ئك  شفاء لا يغادر  سقما
Ya Allah, Tuhan para manusia, aku mohon hilangkan penyakit; sembuhkan dia karena Engkau adalah  Penyembuh. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu yang tiada penghalang bagi si sakit (untuk sembuh) – H.R. al-Bukhari dari ‘Aisyah (al-Bukhari,VII, [t.th.]:24).

Dari peristiwa aksi Nabi Muhammad saw ada kesamaan antara doa dan  ruqiyah, di samping ada perbedaannya. Doa murni tidak mengharapkan datangnya magical power umpama doa (mohon) ampunan atas dosa dan kesalahan: “Allahummagffir zunuby”( Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku ), Rabbanaghfir lana> wali ikhwanina>-llazi>na sabaquna> bil ima>n (Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam beriman). Sementara itu, doa ruqiyah  mengharapkan datangnya magical power, sesuatu yang konkrit, spontan, dan biasanya sesuatu itu lalu benar-benar terjadi, irrasional. Ketika akan berangkat perang Khaibar, Nabi mengusap mata Ali yang ketika itu sedang sakit, seketika itu Ali sembuh dari sakit mata, kemudian ia diangkat untuk memimpin perang Khaibar tersebut dan hasilnya memperoleh kemanangan yang gilang-gemilang (al-Bukhari, [t.th.],IV:79 ).
Adapun doa yang berbeda sama sekali dengan ruqiyah (mantra), Rasulullah tidak pernah melakukan. Apa yang disebut ruqiyah. Pada diri Nabi secara hakiki adalah doa yang memperoleh ijabah dari-Nya lantaran begitu dekatnya beliau dengan Allah. Ruqiyah yang berasal dari selain Rasulullah sering mendatangkan syirik. Contohnya adalah mantra atau guna-guna murni (tanpa ada hubungannya dengan doa) mengobati anak sakit panas, menangis terus tanpa ada air mata yang keluar, dan pandangan mata kosong, biasanya menghadap ke atas, yang secara umum dikatakan terkena jin atau kesurupan adalah sebagai berikut: “Kiyai tempel, Nyai tempel, ojo nempel marang si jabang bayi Sumarno, nempelo marang kukusan amoh ! ketiban idu putih sirno tanpo sarono ! (Kiyai tempel dan Nyai tempel, janganlah kamu menempel kepada si anak Sumarno, menempellah kamu kepada tempat penanak nasi. Terkena ludah putih hilang sirna tanpa perantara).
Terkadang bentuk ruqiyah itu dicampur dengan kalamu-llah dan orang yang berpraktik pengobatan alternatif merasa yakin tindakannya itu benar secara syar’i (secara agama) sehingga jika kita tidak berhati-hati juga jatuh ke dalam praktik yang sebenarnya tidak benar. Contohnya mengobati istri atau dirinya tetap berhubungan aktif tetapi tidak membuahkan keturunan (KB mencegah kelahiran paska senggama) dengan mantra sebagai berikut: Ri, Thiri kedadean soko banyu mani, mati, mati, mati saking kersane Gusti Allah, La ilaha illa-llah Muhammadarra-Rasulu-llah (Ri, Thiri, kejadian dari air mani mati, mati, mati karena kehendak Allah, tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah).dalam teks lain lebih vulgar berbunyi demikian: Ri thiri, si jabang bayi kedadean soko banyu peli, mati mati, mati saking kersaning Gusti Allah, la ilaha illallah Muhammadarrasulullah”. Kata ‘peli’ berarti penis. Dalam ungkapan Jawa, kata itu sudah termasuk ‘saru’, yaitu porno. Mantra ini diucapkan tiga kali tanpa bernafas dan diucapkan sesudah orgasmus. Mantra ini jelas menyimpang jika ditinjau dari segi aqidah Islamiyyah karena (1) menyumpahi makhluk Allah sementara makhluk itu tidak bersalah dengan penyumpah, dan (2) mendahuluai kehendak Allah.
Banyak  di kalangan umat Islam terjebak ke dalam praktik kemuyrikan ketika berusaha menyelesaikan masalah kehidupan antara lain: suapaya dikasihani orang lain atau bosnya, supaya memperoleh jodoh sesuai yang diinginkannya, supaya tubuhnya kebal senjata tajam, senjata tumpul, tembakan, kebal ketika diracun maupun tak terbakar ketika dibakar, supaya gapang mencari rezeki dan laris ketika berjualan, supaya tinggi derajat (status)nya seperti gampang naik pangkat, supaya sembuh dari sakit, dan aneka kebutuhan manusia (kullu hajatin). Teknik praktik ini dengan menggunakan jimat atau rajah, dalam bahasa Arab bisa dibut haikal atau wifiq. Rajah adalah coretan-coretan atau kode, atau garis-garis, atau huruf-huruf yang tidak bisa dipahami. Berikut ini dicontohkan sebuah wifiq untuk mengobati alat vital supaya kuat dan tahan lama dalam bersetubuh sebagai berikut:

لو ااا ااا لو ااا م م م ااا م اا م
Rumus itu dituliskan dalam daun sirih yang bertemu ruasnya – cabang-cabang kerangka daun itu berpangkal sejajar dari tulang daun di tengahnya, bukan berselang-seling.
DAUN SIRIH TEMU RUAS                            DAUN SIRIH BUKAN TEMU RUAS

Jumlah daun itu sebanyak tiga helai. Setelah itu, daun sirih tersebut dikunyah-kunyah atau dikinang pada malam Kamis, malam Senin, dan malam Jumat. Batang penis akan keras, kuat, dan tahan lama dalam bersetubuh (Mahrus Ali, 2009: 93). Jimat dan praktik magic seperti ini jelas jauh dari kebenaran jika ditinjau dari segi syariat Islam karena: (1) jimat itu tidak diajarkan oleh Rasulullah maupun tidak dijelaskan dalam Alquran, (2) kepercayaan akan keampuhan jimat itu termasuk khurafat, yaitu keyakinan yang tidak berdasar pada syariat dan keyakinan itu batal, (3) bertendensi kepada selain Allah pada sesuatu kekuatan gaib selain Allah adalah musyrik, (4) mestinya kita hanya bersandar kepada Allah – inilah yang disebut ash-shamad, dan andaikan praktik jimat ini manjur, kekuatan itu pasti datangnya dari jin atau syetan.
Mungkin, untuk daun sirihnya dari segi ilmu herbalian tidak bermasalah dengan aqidah Islamiyah atau memang mengandung zat-zat tertentu yang bermanfaat bagi penguatan alat vital. Akan tetapi, ketika mengunyahnya harus malam Kamis, malam Jumat, dan malam senin tentu bermasalah. Penentuan waktu-waktu untuk mengunyah daun sirih itu tentu atas dasar kepercayaan tertentu, atau petunjuk – yang pasti – selain Allah dan Rasulullah. Jadi, dari segi penggunaan daun sirih ini pun tetap menyimpang dari syariah maupun ilmu-ilmu medis.
Mestinya, untuk memperoleh kualitas vitalitas yang prima, seharusnya menggunakan cara-cara ilmiah dan halal, umpama cara hidup (makan, minum, istirahat, kerja, olah raga, istirahat, tidur, berhibur, dan yang lainnya) secara teratur sesuai dengan aturannya masing-masing tentu akan mendatangkan kesehatan yang baik. Jika jasmani sehat secara sempurna, tentu semua organisme akan berfungsi sebagaimana mestinya termasuk sistem kerja alat vital. Sudah barang tentu menjadi salah besar ketika alat vital kurang berfungsi, ejakulasi dini, dan penis loyo kemudian meminta jasa para dukun dengan praktik magisnya agar dalam waktu singkat, gampang, sim salabim, ada gadabra, pet kalipet, thong kalithong, biyahin-biyahin, ahilin-ahilin, ri thiri, dan sebangsanya yang irrasional kemudian memperoleh hasil yang diinginkan. Dalam akronim  Jawa, dhukun kepanjangan dari ‘ngridhu dhuwite wong pikun’, artinya dhukun adalah mengambil secara licik uang orang yang telah pikun. Pikun berarti orang tua yang sudah tidak berpikir jernih dan terlalu pelupa karena kehilangan memori. Kenyataannya, orang yang meminta jasa para dukun adalah orang-orang yang tidak lagi berpikir rasional, mirip orang pikun.
Alquran menyitirnya bahwa perbuatan demikian itu menghamba kepada syetan dengan ilmu andalannya, yaitu sihir. Demikian Allah berfirman:
Artinya:
Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui (QS al-Baqarah/2 : 102).

Dari berbagai ayat, hadis, dan aksi-aksi Rasulullah yang berkaitan dengan usaha kesembuhan dapat disimpulkan bahwa Alquran maupun Assunnah menjelaskan bahwa hidup sehat itu adalah penting dan cara memperoleh kesehatan harus hati-hati, jangan sampai jatuh ke dalam praktik kemusyrikan.
B. Jalinan antara Kebersihan, Kesehatan, dan Keimanan
Rasulullah saw pernah berasabda adan amat populer di lingkungan dunia medika Islam “an-Nadafatu min al-iman” (Bersih itu bagian dari iman). Sementara itu pepatah yang amat polpuler juga mengatakan “Bersih pangkal sehat”, yang berarti modal pertama untuk memperoleh kesehatan adalah kebersihan. Lawan dari bersih adalah kotor atau jorok. Dengan demikian dapat dipahami bahwa kotor dan jorok tidak mengundang kesehatan, melainkan lawannya, yaitu sakit. Jadi, kotor atau jorok mengandung penyakit atau sakit. Dari alur pikir ini dapat dipahami bahwa ada independensi (saling tergantung) antara bersih, sehat, dan iman. Bersih menyebabkan sehat, dan sehat merupakan bagian dari iman. Di sisi lain, iman yang benar menuntut supaya hidup bersih, dan buah dari hidup bersih adalah sehat.
Dalam banyak kesempatan (30 kali – Ahmad Fuad Abdul Baqi, [t.th.]: 544) Alquran menekankan kualitas hidup bersih atau suci, baik suci secara lahiriah maupun suci secara batiniah. Firman Allah:
(Dan terhadap pakaianmu bersihkanlah – Q.S. al-Mudassir/74 :4) adalah contoh perintah Allah agar kita mengusahakan kebersihan dan kesucian pakaian yang kita kenakan. Adapun contoh Allah menghendaki kebersihan dan kesucian batin adalah dalam peristiwa para sahabat laki-laki memerlukan sesuatu kepada istri-istri Nabi tidak boleh secara langsung, vis a vis, melainkan harus  ada tabir, kemudian lanjutannya Allah berfirman:

Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah- rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri- isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah (Q.S. al-Ahzab/33 :53).

Allah menghendaki kepada umat-Nya kebersihan secara umum. Demikian firmannya:

Artinya:
Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran.” Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci[138]. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri (QS.al-Baqarah/2: 222).

Sebaliknya, Allah memerintahkan kepada kita umat Islam agar menjauhi kehidupan yang kotor. Contoh dalam peristiwa wanita haid, supaya menunda dulu tidak melakukan hubungan suami istri. Haid disebutkan sebagai al-aza atau kotor sebagaimana ditunjukkan dalam ayat yang baru saja dikutip ini, (Q.S. al-Baqarah/2:222). Di dalam surat al-Baqarah ayat 232 disebutkan secara langsung kaitan anatara kesucian dengan keimanan, yaitu dalam kasus perceraian. Wanita yang telah habis masa ‘iddah-nya , kemudian menghendaki nikah lagi dengan pria lain (bukan mantan suami) keduanya sama-sama suka dan seiman, wali wanita itu harus mengijinkan niat anak perempuannya itu. Keijinan ini merupakan kesucian jiwa sekaligus perwujudan iman. Menghalangi niat anak perempuannya kawin dengan pria yang ia senangi dan seiman (bukan mantan suaminya) berarti hatinya kotor dan tidak beriman. Demikian teks ayat yang dimaksud:

Artinya:
Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya[146], apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma’ruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. Itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS.al-Baqarah/2 :232).

Kesucian atau kebersihan yang dikehendaki oleh Islam amat komrehensif. Selain kebersihan lahiriah (tubuh), batiniah (jiwa), pakaian, juga lingkungan. Dalam hal ini Allah berfirman sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Baqarah ayat 222 sebagaimana telah dikutip dalam bab ini.

C. Kesehatan Jasmani
Telah disinggung bahwa bersih itu pangkal sehat. Selanjutnya, makanan dan minuman yang dikonsumsi harus yang bergizi dan harus sekaligus halal. Bergizi saja tidak cukup dan halal saja juga belum cukup. Allah memang memerintahkan kepada kaum muslilmin supaya makan makanan yang halalan thayyiban. Demikian firman Allah:

Artinya:
Wahai manusia ! makanlah dari (makanan) halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu (Q.S. al-Baqarah/2:l68).
Secara hukum makanan yang kita makan itu harus halal dan secara realistik makanan itu harus bersih dan bergizi karena kandungan pengertian thayyiban adalah baik, lezat, bergizi, dan sehat (Warson, [t.th.]:939). Terkandung pengertian makanan atau minuman sehat adalah aman dikonsumsi baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Makanan  yang di dalamnya terdapat pengawet, pewarna, penyedap, pengenyal, dan perenyah yang tidak direkomendasikan oleh ilmu-ilmu kesehatan (kedokteran, keperawatan, gizi, teknologi pangan) di luar cakupan ‘thayyiban’ karena harus kita hindarkan dalam arti tidak mengonsumsinya.
Makanan yang bergizi akan meningkatkan kekuatan tubuh (Thobieb, 2002:l65) yang berarti tubuh atau jasmani menjadi sehat. Kualitas sehat jasmani menurut Islam dipandang baik. Nabi bersabda:
المؤ من القوي خير من المؤمن الضعيف (الحد يث)
Artinya:
Orang mukmin yang kuat itu lebih baik daripada orang mukmin yang lemah (al-Hadis).

Orang yang kondisi jasmaninya sehat tentu lebih energik, inovatif, dan lebih kreatif (Thobieb,2002:173) dan memiliki daya mobilitas yang tinggi. Meskipun demikian, hanya memiliki kesehatan jasmani belum sempurna menurut pandangan Islam. Orang sehat jasmaninya belum tentu sehat rohaninya, dapat diilustrasikan sebagai berikut:
Agus adalah seorang pemuda bertubuh kekar, secara fisik sempurna, dan tidak terdapat cacat tubuh. Panca indra berfungsi secara normal. Ia memeiliki kesenangan bermain sepak bola. Karena lokasi latihannya cukup jauh dari rumah dan jadual latihan berlangsung  sejak pukul 15.30 hingga l7.30, maka ia harus berangkat dari rumah pukul 14.30. Waktu ini belum masuk waktu salat ‘Ashar. Sehabis latihan belum masuk waktu maghrib dan ia langsung pulang, tentu dalam keadaan badan kotor  dan penuh keringat. Sesampai di rumah waktu salat maghrib sudah lewat. Jadual latihan sepak bola ia jalani amat disiplin, dan salat ‘Ashar dan maghrib tidak ia laksanakan secara rotin dengan tidak ada penyesalan, sementara ia mengaku benar-benar muslim, terlahir dari keluarga muslim, dan biasa menjadi kepanitiaan peringatan hari-hari besar Islam di lingkungan remaja masjid di kampungnya.
Illustrasi di atas memberi pesan bahwa secara jasmani Agus itu sehat tetapi secara rohani tidak sehat karena persoalan agama tidak diperhitungkan sebagai beban (taklif) kewajiban yang harus dilaksanakan. Orang Islam yang salatnya tidak konsisten (beres) biasanya perilakunya juga kurang baik, umpama buang air kecil di pinggir jalan sambil berdiri, padahal di tempat terbuka dan tidak dibersihkan (tidak ber-istinja’- dalam bahasa Jawa tidak cewok), biasa berkata kotor (mengumpat) hanya dalam persoalan-persoalan kecil dan sepele. Itulah sebabnya, s   ehat jasmani memerlukan kesehatan rohani.
D. Kesehatan Rohani
Seorang dikatakan sehat rohaninya jika ia terbebas dari penyakit batiniah. Penyakit ini cukup banyak. Al-Ghazali menyebutkan (al-Ghazali, V,l974:l00-560) antara lain:
1.    Hubb ad-Dunya (Cinta dunia) berlebihan karena menumbuhkan kemunafikan.
2.    Rakus, amat dekat dengan cinta dunia, bahkan saling berkelindan. Cinta harta menyebabkan rakus, atau rakus merupakan perwujudan cinta harta. Nabi Muhammad saw memberikan contoh profil orang cinta harta dan rakus melalui sabdanya sebagai berikut:
لو كان  لإبن  أدم واديان من ذهب لا تبغى لهما ثالثا ويملاء جوف إبن ادم
إلا التراب ويتوب الله من تاب
Artinya:
Jikalau manusia itu memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga untuk tambahan dari dua lembah tadi, dan rongga manusia itu tidak akan penuh selain oleh tanah; dan Allah menerima taubat terhadap siapa yang mau bertaubat (al-Hadis).

Dari hadis ini dapat dipahami bahwa orang yang menuruti kemauan nafsu untuk mencari kekayaan, seberapa pun kekayaan telah diraih, ia tetap kurang puas dan akan selalu ingin mencari terus. Kisah umat terdahulu dapat dicontohkan figur Qarun, di India ada tokoh raja bernama Rahwana atau Dasamuka adalah contoh konglomerat yang amat rakus. Sekarang kita tahu betapa kekayaan Husni Mubarak, mantan Presiden Mesir yang memerintah selama lebih dari 30 tahun dan berakhir sangat dramatis, yaitu diturunkan secara paksa oleh rakyatnya sendiri. Selama berkuasa, ia  memiliki uang sebanyak lebih dari 360 trilyun rupiah. Maunya masih ingin tetap berkuasa memeras rakyat.Muamar Gadafi dikenal sangat totaliter dalam memerintah. Ia ingin tetap membangun keluarganya yang memerintah. Ketika perubahan harus terjadi supaya rakyat hidup layak, ia mempertahankannya, meskipun ribuan nyawa ia korbankan dengan menembaki mereka melalui mesin perangnya, yaitu para serdadunya.
Kita harus bisa memetik pelajaran dari kehidupan akhir para perakus kekayaan dan kekuasaan. Mereka pasti berakhir dengan tragedi. Secara agama, mereka dikutuk dan disaksikan oleh orang banyak (rakyat) sebagai penjahat, na’uzubilla>h min za>lik.
3.    Kikir
Kikir merupakan akibat pasti dari cinta harta adan rakus. Kikir merupakan sifat yang amat buruk. Alquran mengatakan:

Artinya:
Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS Ali Imran/3 : 180).

Nabi mengatakan bahwa kikir itu menghilangkan keimanan:
خصلتان لا تجتمعان فى مؤمن البخل وسؤ االخلق  (الحديث)
Artinya:
Dua perkarta tidak akan berkumpul pada orang mukmin, yaitu kikir dan jahat akhlak (H.R. at-Turmuzi dari Abu Sa’d).
Karena begitu buruknya sifat kikir, Rasulullah menuntun doa dan membentuk pribadi kaum muslimin supaya jauh dari sifat kikir. Demikian doa beliau:
اللهم إنى اعوذ بك من البخل  واعوذ بك  من الجبن  واعوذ بك  ان ارد إلى ارذ ل العمر (الحديث)
Artinya:
Ya Allah sesungguhnya hamba berlindung pada-Mu dari kekikiran, dan hamba berlindung pada-Mu dari sifat pengecut, dan hamba berlindung pada-Mu dari ketuaan yang sia-sia (al-Hadis).

Jika kita memandang Rasulullah sebagai teladan kita, tentunya kita rajin berdoa sebagaimana Rasulullah tuntunkan itu. Rajin berdoa dengan doa itu lambat laun dan pasti akan menuntun pada diri kita untuk tidak kikir karena malu setiap hari memeohon supaya titak kikir sementara kita akan mengingkari permohonan kita sendiri

4.    Ria (Pamer) dan Takabbur (Sombong)
Riya’, dalam bahasa Indonesia ditulis ria, berarti sombong, congkak, bangga karena telah berbuat baik. Sifat ini buruk. Berbuat baik hanya akan menjadi baik kalau niatnya baik, cara yang ditempuh baik, dan tujuannya juga baik. Niat yang baik adalah ikhlas lillahi ta’la. Ending-nya kelak, orang-orang sombong adalah neraka. Rasulullah bersabda:
الا ادلكم على  اهل الجنة  كل ضعيف  مستضعف  لو اقسم  على الله لإمراة
واهل النار كل متكبر مستكبر جواظ (الحديث)
Artinya:
Apakah tidak aku tunjukkan kepadamu penduduk surga, yaitu setiap orang lemah dan dipandang lemah. Jika ia bersumpah kepada Allah, niscaya Allah akan menumpahkan kebajikan kepadanya; dan penduduk neraka, yaitu tiap-tiap orang yang sombong dan terpandang sombong  yang angkuh dalam, gerak-geriknya (HR. Bukhari dan Muslim dari Harisah bin Wahab).

Sombong bisa terjadi karena merasa memiliki kelebihan dibanding yang lain dalam hal-hal tertentu sesuai dengan konteks. Mahasiswa ber-IP 3.80 bergaya angkuh terhadap temannya yang IP-nya di bawah angka itu. Orang yang memiliki HP. bagus, harganya mahal, fasilitasnya amat banyak dan tampangnya keren, bisa melecehkan kepada relasinya yang ber-HP kuno dan out of date. Orang kaya bisa tidak mau bergaul dengan tetangganya yang miskin dengan landasan komitmen tidak level, seorang ilmuwan merasa dirinya istimewa kemudian melecehkan orang-orang yang bergelar kesarjanaan di bawahnya dst, , , Orang semacam ini, kelak di akhirat di neraka sana tempanya. Menurut sabda Nabi saw, mereka  berada di lembah yang bernama Habhab. Demikian katanya:
إن فى ن نا ر جهنم واديا يقا ل له هبهب حق على الله  ا ن يسكنه كل جبا ر
Artinya:
Sesungguhnya dalam neraka jahannam ada sebuah lembah yang bernama habhab. Allah menempatkan orang-orang sombong di dalamnya (H.R. Tabrani, Abu Ya’la, dan Hakim dari Abu Musa, dalam syarat Muslim).

Hadis ini dikutp oleh Imam al-Ghazali dalam Ihya’-nya. Orang-orang sombong itu kelak akan diubah menjadi semut merah yang sangat kecil dan diinjak-injak oleh manusia, sementara manusia tidak merasakan kalau mereka menginjak-injak semut – yang sejatinya adalah manusia itu.
Nabi Muhammad saw memberi tuntunan kepada kaum muslimin supaya menjauhkan diri dari sifat sombong. Demikian doa tuntunan beliau:

اللهم إنى اعوذ بك من نفخة الكبرياء
Artinya:
Ya Allah aku mohon perlindungan kepada-Mu dari hembusan sombong (H.R. Abu Dawud dan Ibnu Majah dari Jubair bin Math’am).

5.    ‘Ujub
‘Ujub adalah heran dengan diri sendiri  (baik sebagai pribadi maupun kelompok, chauvinism). ‘Ujub bisa muncul karena merasa memiliki sesuatu yang orang lain

tidak memilikinya. Sifat ini amat buruk. Menurut Allah, ‘ujub tidak ada artinya sama sekali. Allah berfirman:

Artinya:
Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-bera (Q.S. at-Taubah/9:25).

Sifat ‘ujub hendaknya dijauhi karena merupakan penyakit jiwa. Memelihara ‘ujub dalam diri berarti memelihara penyakit dalam diri, tentu lama-lama ia menjadi sakit jiwa yang berarti tidak sehat secara rohani. Terlalu lama sakit jiwa pasti akan merembet kepada badannya karena ada hubungan timbal bailk antara tubuh dan jiwa, yaitu manakala jiwa sakit tentu tubuh akan ikut sakit pula. Sebaliknya tubuh sakit, jiwa akan sakit pula. Jiwa sehat akan berpengaruh pada kesehatan tubuh, dan tubuh  sehat akan berpengaruh pada kesehatan jiwa.
6.    Munafiq
Secara umum dan praktis, munafik adalah orang yang tidak cocog antara lahir dan batinnya. Secara lisan ia mengatakan ‘ya’, batinnya mengatakan ‘tidak’ atau sebaliknya. Secara lisan mengatakan ‘beriman’  dan batinnya mengatakan ‘tidak’, hakikatnya tidak beriman. Tujuan kemujnafikan untuk mengelabuhi orang lain dan mencari keuntungan diri. Rasulullah bersabda:
اربع من كن فيه كا ن منا افقا خا لصا ومن كانت فيه خصلة منهن كان فيه خصلة من النفاق حتى يدعها إذا ائتمن خان وإذا حد ث كذ ب إذا عاهد غد ر وإ ذا خاصم فجر (الحديث -فتح المبدى  1 )
Artinya:
Barang siapa melakukan empat perkara, ia adalah seorang munafik murni.Barang siapa melakukan salah satu dari empat perkara itu, dia mempunyai salah satu dari sifat kemunafikan sehingga dia meninggalkannya, yaitu: bila ia dipercaya dia berkhiayanat, bila dia berkata dia pasti dusta, bila dia berjanji dia tidak menepatinya, dan bila dia berttengkar dia meninggalkan yang benar (al-Hadis – al Fath al-Mubdi,I:65).

Sebenarnya masih begitu banyak penyakit hati yang menyebabkan secara rohani orang menjadi sakit  seperti hasud (dengki), profokatif, iri hati menyaksikan kesuksesan orang lain,  menghayal (mengharap datangnya sesuatu yang secara logika tidak mungkin), pemalas, dan suka dipuji (sum’ah).
Jika di dalam diri seseorang terkumpul antara lain (al-Hufi,2000:77-573): Kasih sayang, pemurah, keberanian, adil, suka perdamaian, al-‘iffah (kesucian)ash-shidqu (jujur), sabar, mau bermusyawarah, al-hilmu (lapang dada), pemaaf, al-‘afwa (kesetiaan), al-haya’(malu), az-zuhd (hidup sederhana), al-qana’ah (merasa cukup apa yang telah ada padanya), at-tawaddu’ (rendah hati), at-tib al-isyarah (bergaul secara baik), hub al-‘amal (cinta bekerja), al-bisyru wa al-fukahah (gembira dan lelucon sekedarnya), orang semacam ini secara rohani adalah sehat.
Jika diperhatikan secara seksama, ternyata ada tipe manusia yang secara rohani sehat yang indikasinya: rajin ibadah, perilakunya baik, berbicaranya sopan membaca Alquran bagus, dan hidupnya sederhana, tetapi secara jasmani kurang sehat, terlihat melankolis (bahasa Jawa memelas), terlihat lemah, batuk-batuk kecil, raut muka kusut, tempat huniannya kurang terawat, tentu profil ini tidak dikehendaki oleh Islam. Ia musti juga harus sehat secara jasmani maupun rohani.
E. Kesehatan Jasmani dan Rohani
Orang yang sehat secara jasmani tetapi sakit rohaninya, tentu lebih tampak nafsu kebinatangannya. Sebaliknya, orang yang sehat rohani tetapi sakit jasmaninya tentu mobilitasnya amat terbatas. Menurut Islam, tipologi ideal adalah orang yang secara jasmani dan rohani sehat. Hubungan antara jasmani dan rohani merupakan hubungan timbal balik, saling mempengaruhi, dan saling ada ketergantungan. Jasmani sehat mempengaruhi rohani menjadi sehat.Rohani sehat mengarahkan kepada perilaku supaya jasmani juga sehat.
Orang yang secara rohani sehat tetapi tidak sehat secara jasmani dikarenakan keterbatasan pemikirannya atau berpikir secara parsial bahwa dunia itu tidak penting, dunia itu hanya ghurur (menipu), dunia hanya lahw (sendaugurauan), dan dunia hanya sementara sehingga tidak atau kurang memperhatikan kepentingan jasmani dan hanya terobsesi keakhiratan. Selanjutnya membiarkan diri secara jasmani tidak atau kurang terawat, sakit-sakitan, dan termarginalisasi oleh struktur dan sistem sosial di mana ia tinggal, padahal realitas sosial itu senantiasa berubah dan berkembang secara cepat. Kemajuan hari ini akan segera menjadi kuno beberapa dekade kemudian. Islam menghendaki umatnya  supaya sehat dan kuat baik jasmani maupun rohaninya laksana Thalut. Allah berfirman:

Artinya:
Dan Nabi mereka berkata kepada mereka, “sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka menjawab: ‘Bagaimana Thalut memperoleh kerajaan atas akmi, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu daripadanya, dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak ? (Nabi) menjawab:’Allah telah memilihnya (menjadi raja) kami dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik .” Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas lagi Maha mengetahui (Q.S. al-Baqarah/2:247).

Tipologi Thalut adalah orang yang sanggup bukan hanya memimpin dirinya, melainkan juga memimpin orang banyak, memimpin negara, dan memimpin supaya hukum-hukumn Tuhan berlaku di muka bumi. Profil Thalut, jika siang memimpin perusahaan yang masing-masing sektor – sejak dari modal awal hingga sektor  paling ujung berfungsi  dan menghasilkan produk secara halalan thayyiban  – dan jika malam ia ‘asyiq-ma’syuq (tenggelam dalam zikir kepada Allah) laksana petapa yang telah meninggalkan kehidupan dunia. Demikianlah hakikat basthatan fi al-‘ilm wal al-jism.

Latihan-latihan
1.    Jelaskan apa yang saudara ketahui tentang pengertian sehat secara umum !
2.    Berikan contoh-contoh (minimal tiga model) perilaku orang yang sehat jasmani tetapi      sakit rohaninya.
3.    Berikan contoh-contoh (minimal tiga model) perilaku orang yang sehat rohani tetapi  jasmaninya sakit.
4.    Berikan contoh-contoh (minimal tiga model) perilaku orang yang sehat baik jasmani maupun rohani.
5.    Ada teks demikian:
اللهم إنى اعوذ بك من البخل واعوذ بك  من ا لجبن  واعوذ بك  ان ارد إلى
ارذ ل العمر (الحديث)
a.    harakatilah  secara benar
b.    Terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara baik dan benar
c.    Apa kandungan teks ini ?
6.    Sebut dan jelaskan lima macam penyakit rohani yang menghambat kesehatan jiwa.
7.    Sebut dan jelaskan  lima  macam indikator bahwa seorang muslim sehat rohaninya
8.    Tulislah dengan huruf Arab doa sapu jagat yang isinya agar manusia dikaruniai kebahagiaan dunia dan akhirat, kemudian tulis pula terjemahnya. Berada pada surat apa dan ayat berapa di dalam Alquran ?
9.    Jelaskan pilihan saudara: kebahagiaan dunia, kebahagiaan akhirat, atau kebahagiaan dunia-akhirat ? Jelaskan alasan saudara ! Jelaskan pula rencana  (program) untuk mencapai ke arah itu.
10.    Ada teks :
ألمؤ من القوي خير من المؤ من الضعيف
a.    Teks ini ayat Alquran atau Hadis ?
b.    Berilah harakat yang benar padanya !
c.    Terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan  Jelaskan kandungan teks ini

DAFTAR PUSTAKA
al-Qur’an al-Karim
Ahmad Muhammad al-Hufi. Keteladanan Akhlak Nabi Muhammad Saw.Bandung: Pustaka Setia,2000.
Abi ‘Abd-llah Muhammad bi Isma’il al-Bukhari.[t.th.]. Shahih al-Bukhari.VII. Semarang :Thoha Putra.
Ahmad Warson al-Munawwir, [t.th.]. Almunawwir: Kamus Arab-Indonesia. Yogyakarta: Krapyak.
“Departemen Pendidikan dan Kebudayaan”. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia .Jakarta: Balai Pustaka.
Imam Ghazali, 1988.Ihya’ al-Ghazali,V. (trans) Ismail Ya’qub.Jakarta Selatan: Faizan.
Mahrus Ali,2009. Mantan Kiai NU Membongkar Praltek Syirik: Kiai, Habib, dan Gus Ahli Bid’ah. Surabaya: La Tasyuki.
Muhammad Fuad ‘Abd al-Baqi, [t.th.]. Mu’jam Mufahras li Alfaz al-Qur’an al-Karim .Indoinesia: Maktabah Dahlan.
Thobieb al-Ahsyar, 2003.  Bahayanya Makanan haram. Jakarta: al-Mawardi Prima,

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Merawat kematian

Oleh M.Danusiri

Tujuan Instrksional Umum Pembelajaran
Setelah membaca dan mengikuti pembelajaran ini diharapkan Mahasiswa dapat menjelaskan cara merawat  kematian sejak dari sakaratul maut hingga pemakamannya menurut ajaran Islam.
Tujuan Instrusional Khusus Pembelajaran
Setelah membaca dan mengikuti pembelajaran bab ini mahasiswa diharapkan dapat:
1.    Menjelaskan pengertian mati baik secara fisik, psikologis, sosial, maupun ruhani.
2.    Menjelaskan cara menangani orang dalam kritis menuju kepada kematian menurut ajaran Islam
3.    Menjelaskan cara menangani orang mati menurut syariat Islam, yaitu memandikan, mengafani, menyalati, dan mengebumikannya.
4.    Menjelaskan cara yang benar menurut syariat berkenaan dengan upacara-upacara di sekitar kematian.
5.    Menjelaskan cara-cara berziarah kubur menurut syariat Islam.

A. Pengertian Kematian
1.    Kematian adalah berhentinya suatu kehidupan, berakhirnya semua aktifitas kehidupan, penghentian kesadaran indrawi, hasrat dan semua jenis gerak, perpisahan  jiwa dari tubuh. Jiwa kembali ke alam rohani dan tubuh atau raga berangsur-angsur hancur menjadi tanah.
2.    Kematian adalah akhir dari kehidupan, ketiadaan nyawa pada organisme biologis. Semua makhluk hidup pada akhirnya akan mati secara permanen, baik penyebabnya secara alami, terkena penyakit, atau karena kecelakaan. Setelah kematian tubuh, makhluk hidup mengalami pembusukan dan selanjutnya kembali menjadi tanah.
3.    Kematian secara fisik adalah kematian yang sudah benar-benar berakhir karena semua organ tubuh tidak berfungsi untuk bertahan hidup.
4.    Kematian secara rohani  adalah kematian yang sudah diambang ajal, dimana jiwa dan raga sudah tidak bernyawa. Hidup sudah berakhir di bumi ini dan nyawa kembali ke alam selanjutnya (alam barzah). Alquran menjelaskan bahwa Allah lah yang mematikan manusia. Demikian kitab suci ini menyatakan:

Artinya:
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (Qs az-Zumar/39 : 42).
Dan

Artinya:
Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.(QS.Ali Imran/3 : 145).

Tentu, secara empirik kematian manusia disebabkan oleh sesuatu hal atau peristiwa, umapama karena ketuaan, sakit, kecelakaan, keracunan, kebakaran, tenggelam dalam air, dan yang lainnya. Secara imani, penyebab-penyebab kematian itu sudah menjadi ketetapan atau takdir dari Allah.

B. Macam-macam Kematian
Ada beberapa tinjauan pengertian tentang kematian, antara lain
1.Kematian sosial
Kematian sosial terjadi ketika seseorang telah kehilangan kontak dengan      orang lain. Penyebabnya cukup berfariatif. Orang yang karena dianggap terlalu sombong bisa dikucilkan oleh masyarakatnya. Di desa-desa sering terjadi kasus pengucilan oleh warganya karena yang bersangkutan tidak mau bergaul dengan warga masyarakatnya karena berbagai alas an, umpama merasa tidak level bergaul dengan warganya. Ia menilai terlalu jelata, miskin, dan awam. Ketika orang yang dikucilkan ini mempunyai hajatan seperti khitan anaknya, ia mengundang warganya untuk selamatan anaknya. Warganya tak ada yang mau mendatangi undangan itu.
Karena mengidap penyakit berbahaya dan berpotensi menularkan kepada orang lain, seperti sakit paru-paru yang parah. Orang tersebut kemudian diisolasikan supaya tidak kontak fisik dengan orang lain. Dalam keadaan seperti ini, ia bisa dikatakan mati sosialitasnya. Karena penyakitnya amat serius dan membutuhkan kesembuhan, orang semacam ini diisolasikan oleh yang menangani supaya tidak berhubungan dengan orang lain supaya orang lain ini tidak menghalangi proses penyembuhannya. Jika ia dapat disembuhkan kemudian pulang ke kampong halamannya, kehidupan sosialnya bisa dinormalisir kembali.
2. Kematian Psikologis
Orang dikatakan mati secara psikologis jika aspek-aspek kepribadiannya telah hilang, orang yang dikatakan rai gedheg (berwajah dinding) pada hakikatnya adalah mati secara psikologis karena ia telah tidak lagi memiliki rasa malu  berbuat yang mestinya tidak boleh dilakukannya. Ketika seorang pejabat beragama Islam, sudah haji, tetapi gemar berkorupsi, orang ini sebenarnya telah mati jiwanya. Seseorang muslim, dikatakan ustad oleh orang banyak, tetapi ia secara diam-diam sering mengunjungi lokalisasi dan bersenang-senang dengan para penjaja seks. Dia tidak merasa malu dengan dirinya sendiri, tidak merasa khawatir kalau ada jamaahnya mengetahuinya,  maupun tidak merasa malu kepada Allah, ia telah mati jiwanya. Jiwanya akan hidup kembali kalau ia mau bertaubat dari kemaksiatan-kemaksiatannya.
3. Kematian Biologis
Kematian biologis adalah bentuk kematian seluruh atau sebaian organisme, umpama organ jantung telah tidak berfungsi, tetapi organ lain masih berfungsi. Jantung yang telah mati ini dapat digantikan dengan jantung lain dengan cara jantung yang telah mati dilepas dari posisinya kemudian  dicangkokkanjantung lain yang masih berfungsi. Jika semua organ berhenti, maka dari kematian biologis menjadi kematian fisik.
Dalam Ilmu kedokteran dijelaskan,antara lain oleh Frank J Ayd. Kematian merupakan sebuah rangkaian secara urut mulai dari kematian klinis, kematian otak, kematian biologis, dan berakhir dengan kematian sel-sel (Lyons, 1970 : 50). Kematian klinis terjadi ketikan pernafasan dan detak jantung berhenti. Dalam beberapa kasus, kematian klinis masih bisa diselamatkan, artinya hidup kembali. Contohnya seseorang tenggelam. Setelah diangkat, nafas dan jantungnya berhenti. Kemudian dilakukan pijat jantung padanya dan dirangsang pernafasan dengan cara dari mulut ke mulut. Secara berangsur ia bisa bernafas lagi dan jantung berdetak lagi. Ia hidup kembali.
Urutan selanjutnya adalah kematian otak. Otak tidak bisa mengatasi kehilangan suplai oksigen lebih dari 10 menit. Jika nafas dan jantung berhenti lebih dari 10 menit, maka otak juga akan mati. Kematian otak secara keseluruhan bertahap. Pertama adalah kematian cortex, yaitu lapisan luar otak. Selanjutnya diikuti kematian dienchepalon, yaitu lapisan otak bagian tengah. Selanjutnya kematian batang otak. Setelah keseluruhan komponen otak mati kemudian diikuti kematian biologis ditandai berhentinya gerak tubuh. Setelah tubuh mati, segera diikuti kematian sel-sel (Ebrahim, 2001 : 123;
C. Merawat Peristiwa Sakaratul Maut
Ada beberapa tuntunan berkenaan dengan peristiwa kematian antara lain:
1. Bersabar menghadapi musibah.
Ketika seorang wanita menangis karena kematian suaminya dan peristiwa ini diketahui oleh Rasulullah, beliau mengatakan kepadanya: إتق الله واصبرى  “ittaqilla>h was}biri> (Takutlah kepada Allah dan bersabarlah). Wanita tadi tidak menerima nasihat itu karena tidak tahu bahwa yang menasihati Rasulullah. Setelah ia tahu, ia diam dan masuk kamar, lalu menyatakan penyesalannya. Rasulullah lalu menasihati lagi:
إنما الصبر عند الصدمة الاولى . . .
) “Innama as}-s}abru ‘inda as}-s}adamat}il-u>la – Bahwa sabar itu ketika pukulan pertama – HR. Muttafaq ‘alaih dari Anas bin Malik – Fuad, 2007 : 277).
2. Tidak membacakan surat Yasin untuk orang yang sedang mengalami sakaratul maut. Hadis-hadis berkenaan dengan peristiwa ini lemah atau d}a’if dan tidak boleh dijadikan dasar hukum melaksanakan sesuatu perbuatan. Contohnya adalah hadis berikut:
يس قلب القران لا يقرأها رجل يريد الله والدار الاخرة غفر له واقروًوها على موتاكم
Artinya:
Yasin adalah hati Alquran. Tidaklah seseorang yang dibacakannya dan berharap kepada Allah dan kehidupan (bahagia) di akhirat, kecuali ia diampuni. Maka, bacakanlah (surat Yasin) orang (yang akan) mati diantaramu.  (HR.Ahmad. an-Nasai dari Mu’tamir).
Hadis ini lemah. Tiga orang periwayat hadis ini majhu>l  (tidak diketahui- Qadir Jawas, 2005 : 30).
Juga hadis berikut:
إقراو يس على موتاكم. ..   “Iqrau> ya>si>n ‘ala> mata>kum”  (Bacakan surat Yasin orang yang akan mati diantaramu – HR. QAhmad, Abu Dawud, an-Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Abi Syaibah, al-Hakim, Baihaki, dan ath-Thayalisi).
Kualitas hadis ini lemah. Tiga tingkat (thabaqat) periwayat hadis ini majhul, yaitu Sulaiman at-Taimi, Abu Usman, dan ayah dari Abu Usman (Jawas, 2005 : 30).
Hadis yang berbunyi:
ما من ميت يموت فيقرأ عنده (يس) إلآ هون الله عليه
Artinya: Tidak ada seorang pun yang akan mati, lalu dibacakan surat Yasin di sisinya melainkan Allah akan memudahkan (kematiannya).
Terhadap Hadis ini Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Abu Hatim mengomentari bahwa hadis ini mungkar. Hadis ini Palsu (maud}u>’) . Pemalsunya adalah Marwan bin Salim al-Jaziri. (Jawas,2005 : 37). Abdullah bin al-Mubarak, seorang ulama ahli kritikus hadis yang amat handal mengatakan bahwa semua hadis yang menjelaskan tentang berbagai keistimewaaan surat Yasin berkenaan dengan orang mati adalah palsu (Jawas, 2005 : 37).
Cara yang benar menangani orang yang akan mati adalah menuntun membaca “La> ila>ha illalla>h”. Cara ini didasarkan pada Sabda Nabi sebagai berikut:
لقنوا موتكم لا إله إلا الله (رواه مسلم و ابو داود والنساء والترمذى وابن ماجه عن ابى سعد الخدرى
Artinya: ajarkanlah la> ila>ha illalla>h kepada orang yang hampir mati diantara kamu. HR. Muslim, Abu Dawud, an-Nasai, at-Turmuzi, dan Ibnu Majah dari Abu Sa’id al-Hudri. (Jawas, 2005 : 47)
Jika dalam menuntun pengucapan kalimah tauhid tersebut berhasil, harapannya, atas dasar sabda Rasulullah, orang tersebut akan masuk surga, yang ini tidak akan diperoleh keterangan bagi orang yang dibacakan surat Yasin padanya ketika menghadapi sakaratulmaut. Hadis yang dimaksud adalah sebagai bedrikut:
من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة (رواه احمد وابو داود وحاكم)
Artinya: Barang siapa yang akhir berbicaranya la> ila>ha illalla>h , ia masuk surga. HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Hakim (Jawas, 2005 : 45-46).
Menurut para ahli kritik Hadis, hadis ini s}ah}i>h}, dengan demikian dapat dijadikan dasar untuk melakukan sesuatu, dalam hal ini menuntun (talqin) orang dalam keadaan  atau sakaratulmaut.
Jika seorang pasien di rumah sakit sudah mengalami sakaratul maut dan dipasang beberapa fentilator untuk mengontrol denyut jantung maupun syaraf-syaraf otak memang telah menampakkan tanda-tanda menuju kematian, perawat segera meminta seorang  keluarganya masuk di ruang ICCU di mana pasien itu dirawat supaya menalqin kalimah tauhid la> ila>ha illalla>h atau Alla>h hingga ia benar-benar menghembuskan nafasnya yang terakhir.  Jika tidak ada keluarganya yang menunggu, perawat harus secara langsung menangani talqin ini. Jika tenaga perawat sangat terbatas, sementara pasien yang harus dirawat amat banyak, maka bisa ditalkin menggunakan kaset yang suaranya dapat ditangkap oleh telinga pasien. Dengan suara tahlil terus menerus memasuki telinga pasien, harapannya, meskipun ia tidak bisa berbicara, hatinya tetap sadar akan ketauhidannya ketika nyawa atau ruh lepas dari jasadnya, dan tidak diselewengkan oleh Iblis atau syetan. Sehingga, pasien dalam keadaan husnul khatimah. Inilah wujud dakwah yang sangat strategis bagi para tenaga medis dalam mengislamkan orang yang menuju kematian.
D. Merawat Kematian
Ada beberapa tuntunan dan dan kewajiban menangani orang yang telah meninggal, yaitu:
1. Melakukan istirja’, yaitu mengucapkan lafal “Inna lilla>hi wa inna ilaihi ra>ji’u>n”. Tindakan ini didasarkan perintah Allah sebagai berikut.

Artinya: (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “inna lilla>hi wa inna ilaihi ra>ji’u>n (Q.S. al-Baqarah/2 : 156).
Selanjutnya Rasulullah menambah ajaran agar berdoa manakala tertimpa musibah kematian dari keluarganya atau saudaranya seiman, yaitu doa sebagai berikut:
اللهم اجرنى فى مصيبتى واخلفلى خيرا منها.
Artinya: Ya Allah anugerahilah pahala atas musibahku ini, dan gantilah untuk ku yang lebih baik daripadanya.
Doa ini dapat dijelaskan bahwa bagaimanapun, orang yang tertimpa musibah pasti sedih. Tetapi harus ihlas atas musibah itu karena yang menghendaki adalah Allah. Dial ah yang mematikan dan menghidupkan seseorang. Seluruh alam seisinya adalah milik Allah semata-mata. Kapan saja Ia menghendaki untuk mengambil tidak ada yang dapat mencegahnya karena Ia mengambil hak miliknya. Selanjutnya di balik musibah yang menyedihkan itu agar kita memohon kemurahannya agar mengganti musibah dengan sesuatu yang membahagiakan.
Ucapan yang benar ini mengandung hikmah bahwa para ahli waris harus ihlas akan kematian orang tersebut, meskipun mereka amat menyayangi, mendambakan, atau karena motif lain. Tidak ihlas akan kematian orang yang disayangi berarti menentang kuasa Allah. Justru orang yang mati kemudian ditangisi keluarganya, si mayit malah disiksa Allah. Demikian Hadis Nabi berkenaan dengan masalah ini
الميت يعذب فى قبره بما نيح عليه, (متفق عليه)
“al-Mayyitu yu’az|z|abu fi> qabrihi bima> ni>h}a ‘alaihi  (Mayit itu disiksa di kuburnya karena tangis keluarganya atasnya (HR. Muttafaq ‘alaihi dariUmar bin Khathab (Fuad, 2007 : 279).
Setelah nyata seseorang meninggal, maka segera dilakukan hal-hal sebagai berikut:
a).    Memejamkan matanya kalau masih terbuka. Keterbukaan mata itu terjadi karena mata mengikuti keluarnya ruh. Ketika Abu Salamah mengalami sakaratul maut, Rasulullah memasuki  bilik di mana Abu Salamah berbaring. Ia sudah meninggal, dan matanya masih terbuka, kemudian Rasulullah memejamkan matanya dan bersabda:
وقد شق بصره, فاغمصه, ثم قال: إن الروح إذا قبض اتبع البصر. فضج ناس من اهله فقال: لا تدعوا على انفسكم إلا بخير. فإن الملائكة  تؤمن على ما  تقولون, ثم قال: اللهم اغفر لأبى سلمة وارفع  درجته فى المهديين.  وافسح له  فى قبره, ونور له فيه واخلقه فى عقبه (رواه مسلم عن أم سلمة).
Artinya: sesungguhnya apabila ruh itu dicabut mata mengikutinya. Maka orang-orang dari keluarganya berteriak, beliau bersabda: janganlah kamu berdoa untuk dirimu sendiri kecuali demi kebaikan karena Malaikat mengamini terhadap yang kamu ucapkan. Kemudian beliau berdoa: Ya Allah ampunilah dosa-dosa Abu Salamah, angkatlah derajatnya beserta orang-orang yag mendapat petunjuk, lapangkanlah dia dalam kuburnya, sinarilah ia dalam kubur, dan gantilah ia pada putranya (HR. Muslim dari Ummu Salamah).
b).    Tangan disedekapkan di atas dada dan kaki diluruskan.
c).    Mulut dikatupkan dengan diikat kain yang menyangkut bagian dagu, pelipis,  dan kepala bagian ubun-ubun.
d).    Ditelantangkan membujur dengan kepala sebelah kanan kiblat. Untuk di Jawa membujur ke utara.
e).    Muka dan seluruh tubuhnya ditutup, sambil mempersiapkan perawatan selanjutnya, khususnya memandikannya).
f). Mengabarkan berita lelayu ini kepada keluarganya yang menungguinya di rumah sakit. Selanjutnya supaya keluarga berkoordinasi mengabarkan peristiwa ini kepada  para tetangga, relasi, dan kerabatnya.
2. Memandikan mayyit
Sebelum memandikan mayit persiapkan terlebih dulu: (1) air suci yang menyucikan, dengan dicampuri bau-bau wewangian, (2) serbuk larutan kapur barus, untuk meredam bau, (3) sarung tangan dan handuk tangan untuk membersihkan kotoran maupun najis lain, (4) Lidi atau sebangsanya untuk membersihkan kuku, dan (5) handuk untuk mengelap tubuh mayit setelah dimandikan.
Setelah persiapan selesai segera memandikannya, (1) Membujurkan jenazah menghadap kiblat dengan kepala di sebelah kanan,  di tempat tertutup, pada tempat yang telah disediakan. Di rumah sakit, dalam memandikan mayyit perawat bisa bekerja sama dengan bagian kerohanian atau malah ini bagian kerohania sepenuhnya sehingga perawat hanya mengoperkan ke bagian ini. (2) Melepas seluruh pakaian yang menempel padanya, termasuk pengikat dagu, (3) Menutup bagian aurat, (4) Melepas cincin atau gigi palsu kalau ada, (5) Membersihkan kotoran dengan meremas bagian perut agar kotoran keluar, pada saat ini bagian kepala agak ditinggikan sehingga memperlancar keluarnya kotoran, (6) Membersihkan kuku-kukunya, rongga mulutnya, atau lubang-lubang yang lain. Disunahkan menyiram air mulai bagian kanan diawali dari kepala, lalu menurun hingga kaki, setelah itu   dimulai bagian kiri dengan peragaan seperti bagian kanan. Cara ini diulangi beberapa kali sambil digosok-gosok dan bilas sehingga bersih. Diusahakan ganjil, tiga, lima dst, Untuk mengakhiri ini disiran larutan kapur barus atau air yang wangi.
Dalam memandikan jenazah, tidak perlu dibuka atau diakhiri dengan wud}u karena tidak dicontohkan maupun diperintahkan oleh Rasulullah. Demikian dalil peragaan memandikan jenazah dari Rasulullah:
حديث  أم عطيت  الانصرية  رضي  الله عنها, قالت:  دخل علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم ونحن  نغتسل إبنته, فقال: اغسلنها  ثلاثا  او خمسا أو اكثر  من  ذالك بماء وسدر, واجعلن فى الاخرة كافورا, فإذا فرغتن  فاذننى . فلما فرغنا  اذناه, فألقى إلينا
حقوه فقال: أشعرنها إياه.
فقال أيوب (احد الرواة): وحدثنى حفصة بمثل حديث محمد, وكان فى حديث حفصة (أغسلنها وترا) وكان فيه ثلاثا  أو خمسا أو سبعا.  وكان فيه أمه قال: إبدأن بميامنها ومواضع الوضوء منها. وكان فيه, أن أم عطية قالت: ومشطناها  ثلاثة قرون (متفق
عليه)
Artinya:
Hadis dari Ummu ‘Athiyah al-Anshariyyah r.a.berkata: Rasulullah saw. Masuk ketika kami sedang memandikan putrinya, maka beliau bersabda: mandikan dia tiga atau lima atau lebih banyak dari itu bila perlu, dengan air dan daun bidara, dan yang terakhir dengan kapur barus. Jika telah selesai beritakan kepadaku. Maka ketika telah selesai kami beritakan kepadanya, maka beliau memberikan kainnya kepada kami sambil bersabda: pakaikan sarung ini kepadanya. Ayyub, salah satu rawi dalam hadis ini, berkata: Hafshah menceritakan kepadaku seperti hadis Muhammad ini, tetapi dalam riwayat hafshah ada keterangan mandikanlah ia secara ganjil: tiga, lima, atau tujuh. Juga, dahulukan bagian kanannya dan tempat-tempat wudu daripadanya. Ummu ‘Athiyah juga berkata: kemudian kami sisir dan menggulung rambutnya tiga sanggul (Muttafaqun ‘alaih – Fuad, [t.th.] : 286).
Dalam hadis ini hanya dijelaskan supaya di dalam memulai memandikan dimulai anggota badan yang biasa terbasuh dalam wudu dan bagian kanan: wajah, tangan, dan kaki bukan dimulai dengan wudu.  Demikian pula tidak ada azan. Kata-kata yang kemungkinan diasosiasikan secara salah tentang wudu adalah kata-kata: “fa az{innani>” arti ungkapan ini adalah ‘undanglah’ atau ‘beritakan kepadaku, bukan ‘azanilah’.
3. Mengafani Mayit
Perlengkapan kafan meliputi: (1) Selembar kain lingkaran badan dan yang lebih panjang dari seluruh tubuh, (2) Tujuh utas tali dari sobekan kain kafan, (3) Kain segi tiga tutup kepala/rambut, (4) Sehelai  tutup aurat, untuk wanita ditambah kain basahan, mukena untuk rambut, dan baju untuk penutup bagian dada, (5) Kapas untuk menutup semua lobang (mata, mulut, telinga, hidung, dan mulut).
Untuk jenazah laki-laki disunahkan kain tiga lapis, demikian hadis tersebut menunjukkannya:
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كفن فى ثلاث أثواب يمانية بيض سحولية من
كرسف ليس فيهن قميص ولا عمامة (متفق عليه عن عائشة).
Artinya: Rsulullah saw. Dikafani dengan tiga lapis (baju) kain putih Yaman yang dipintal dengan halusterbuat dari kapas (katun) tidak memakai gamis dan surbal (HR. Muttafaq alaih dar ‘Aisyah).
Dalam naskah-naskah  kitab kuning fikih menyebutkan disunnahkan, kalau ada,  ditambah baju kurung dan surban. Untuk jenazah wanita disunahkan lima lapis kain kafan ditambah sarung, baju, dan kerudung.
Untuk mengafani mayit, urutan persiapannya adalah sebagai berikut:  (1) Meletakkan tujuh utas tali  pada posisi: ujung kepala, leher, pinggang/pada lengan tangan, perut, lutut, pergelangan tangan, dan ujung kaki,(2) Menggelar kain memanjang dan melebar di atas tujuh utas tali ke seluruh tubuh, selanjutnya ditaburi serbuk kapur barus, (3) Meletakkan dan mengatur kain (segi tiga) penutup rambut/kepala, (4) Membentangkan kain penutup dada, dengan masih terhampar di ke atas, (5) Meletakkan kain sehelai tutup aurat (semacam celana dalam) memanjang dan melebar ke bawah dan merupakan kain lipatan, (6) Bagi jenazah wanita diatur mukena, baju, dan kain basahan sesuai dengan posisi tubuh masing-masing.
Adapun urutan pelaksanaannya adalah: (1) Meletakkan jenazah membujur di atas kain yang telah dibentangkan, dalam keadaan tertutup selubung, jangan sampai jenazah berkeadaan telanjang, (2) Menutup tujuh lubang (dua mata, dua telinga, hidung, mulut, dan pusar) dengan kapas yang ditaburi serbuk kapur barus, (3) Menutupkan kain segi tiga pada rambut di kepala dengan ikatan  pada jidat, (4) Mengatupkan tutup dada melalui lubang pada leher, (5) Mengatupkan lipatan tutup celana dalamnya. Bagi Jenazah wanita, meletakkan tiga pintalan rambut ke belakang kepala, menutupkan kain mukena pada rambut kepala, menutupkan belahan kain baju pada dada, melipatkan kain basahan melingkar badan perut dan auratnya, di atas penutup kain celana dalamnya, (6) Mengatupkan dengan melingkar tubuh badannya kain kafan yang rapat, tertib, dan menyeluruh, (7) seluruh utas tali ditalikan dengan cara menali yang mudah dilepas, bukan talipati.
4. Menyalati Mayyit
Syarat menyalati jenazah: (1) Bergama Islam, (2) Berakal sehat, (3) Baligh, (4) Menutup aurat, (5) suci dari najis maupun hadas baik besar maupun kecil, (6) Mayat sudah dimandikan maupun sudah dikafan, (7) Posisi jenazah di sebelah kiblat orang yang menyalatinya. Si Imam salat berada di s}af terdepan sendirian berada di samping jenazah bagian kepala kalau jenazahnya laki-laki, dan di bagian kaki bawah lutut kalau jenazahnya perempuan. Para makmum berada di belakang Imam  dan selalu membentuk s}af ganjil.
Jika salat jenazah bersifat ghaib, mayat tidak perlu ada di depan para mushalli ‘alaih. Salat Ghaib dilakukan biasanya terhadap para pemimpin agama yang wafat. Umat Islam dari tempat-tempat yang jauh dihimbau oleh para tokoh agama atau ustaz untuk ikut menyalatinya secara ghaib.
Peragaan salat jenazah meliputi:
(1) Niat dalam hati, bisa juga dilafalkan, “Ushalli ‘ala haz}a al-mayyiti arba’a takbira>tin mustaqbilal qiblati lilla>hi Ta’a>la. Hanya perlu disadari melafalkan niat jangan dinyatakan sebagai rukun. Kalau melafalkan niat diyakini sebagai rukun berarti menambah syariat di luar tuntunan Rasulullah.
(2) Takbiratul ihram atau takbir pertama, melafalkan Alla>hu Akbar (Allah Maha Besar).
(3) Membaca surat al-Fatihah,
(4) Takbir yang kedua, Alla>hu Akbar.
(5) Membaca shalawat Nabi, sebaiknya secara lengkap:
اللهم صل على محمد وعلى أل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى أل إبراهيم, وبارك على محمد وعلى أل محمد. كما باركت على إبراهيم وعلى أل إبراهيم. فى
العالمين إنك حميد مجيد)
)Alla>humma s}alli ‘ala> Muh}ammad wa ‘ala> a>li Muh}ammad. Kama> s}allaita ‘ala> Ibra>hi>ma wa ‘ala> a>li Ibra>hi>m. Wa ba>rik ‘ala> Muh{ammad wa ‘ala> a>li Muh}ammad ka ma> ba>rakta ‘ala> Ibra<>hi>ma wa ‘ala> a>li Ibra>hi>m, fi al-‘a>lam i>na innaka h}ami>dun maji>d – Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah melimpahkannya kepada Ibrahin dan keluarganya. Berkatilah Muhammad dan Keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkati Ibrahim dan keluarganya. Di Alam semesta ini, Engkau sesungguhnya senantiasa terpuji dan diagungkan).
(6) Takbir yang ketiga, Alla>hu Akbar
(7) Berdoa, antara lain:
اللهم اغفر له وارحمه وعافيه واعف عنه واكرم نزوله ووسع مدخله واغسله بالماء
والثلج والبرد ونقه من الخطاياه كما ينقص الثوب الابيض من الدنس. وابدله دارا خيرا من داره واهلا خيرا من اهله وزوجا خيرا من زوجه واعذه من عذاب القبر
وعذاب النار.
)Alla>hummaghfirlahu warh}amhu wa ‘a>fi>hi wa’fu ‘anhu wakrim nuzu>lahu wa wassi’ madkhalahu wa aghsilhu bi al-ma>I wa as|-s|alji wa al-bard wa naqqihi min al-khathaya>hu kama>yunaqqas|s|aubul abyad}u min ad-danas wa abdilhu da>ran khairan min da<rihi wahlan khairan min ahlihi, wa zaujan khairan min zaujihi wa a’iz|hu min ‘az|a>bi al-qabri wa ‘az|a>bi an-na>r – Ya Allah, ampunilah dia, kasihanilah dia, sehatkanlah dia, ampunilah dia, mulyakan di tempat penurunannya, luaskanlah tempat masuknya, mandikanlah ia dengan air, air embun, dan air sejuk, sucikanlah ia sebagaimana kain putih dibersihkan dari kotoran, gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), gantilah keluarganya yang lebih baik dari pada keluarganya ketika di dunia, gantilah istrinya yag lebih baik dari pada istrinya ketika di dunia, jagalah dia dari siksa kubur dan siksa neraka).
(8) Takbir ke empat, Alla>hu Akbar
(9) Berdoa, antara lain:
اللهم إكان محسنا فضعف عن حسناته, وإن كان مسيأ فتجاوز عن سيأته. اللهم لا تحرمنا اجره ولا تضلنا بعده.
)Alla>humma in ka>na muh}si<nan fad}a’’if ‘an h}asana>tihi wa inka>na musi>an fataja>waz ‘an sayyia>tihi. Alla>humma la> tah}}rimna ajrahu wa la> tud}illana> ba’dahu – Ya Allah jika ia termasuk orang yang berbuat baik, maka lipat gandakanlah kebaikannya. Jika ia termasuk orang yang berbuat jelek, maka lewatkanlah kejelekennya. Ya Allah, jangan Engkau haramkan pahalanya. Janganlah menyesatkan kepada kami sepeninggalnya).
Jika si mayyit masih memiliki orang tua yang hidup, doa yang dibaca sesudah takbir ke  empat antara lain demikian:
اللهم اجعله لنا فرطا واجعله لهما سلفا واجعله لهما زخرا وثقل  به موازينهما
وافرغ صبرا على قلوبهما ولا تفتنهما بعده ولا تحرمهما أجره
Artinya:
Wahai Tuhanku, jadikanlah dia pendahulu yang mendahului orang tuanya untuk menyiapkan kebaikan bagin orang tuanya, jadikanlah dia kebajikan yang didahulukan untuk ibu bapaknya, jadikanlah dia pertaruhan (persediaan) bagi keduanya, beratkanlah dia di timbangan dua orang tuanya, curahkanlah kesabaran atas jiwa kedua orang tuanya, janganlah Engkau memberi cobaan-cobaan kepada kedua orang tua sesudahnya, dan janganlah Engkau tidak memberikan pahalanya kepada orang tuanya.
Ulama-ulama Mutaqaddimin membaca doa sesudah takbir ke empat sebagai berikut:
اللهم ربنا اتنا فى الدنيا حسنة وفى الاخرة حسنة وقنا عذاب النار
Artinya:
Wai Tuhanku, berikanlah kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat, dan peliharalah kami dari azab neraka.
Imam Syafi’i menyukai doa berikut: (di luar maupun di dalam shalat jenazah, terutama dalam shalat jenazah). Umumnya tidak ada doa setelah menyalati jenazah)

اللهم هذا عبدك وابن عبدك خرج  من روح الدنيا وسعتها  ومحبوبه وأحبائه منها إلى ظلمة  القبر  وما هو  لاقيه. كان  يشهد  أن لا إله  إلا انت  وأن محمد  عبدك ورسولك  وانت  اعلم  به. اللهم  إنه  نزل  بك  وأنت خير منزول, واصبح  فقيرا  إلى رحمتك  وأنت غني عن  عذابه  وقد جئناك راغبين إليك شفعاء  له  اللهم إن كان  محسينا  فزد فى  إحسانه وإن كان مسيئا فتجاوز عن  سييئاته ولقه  برحمتك ورضاك  وقه فتنة القبر  وعذابه,  وافسح له  فى قبره  وجاف الارض  عن جنبيه  ولقه برحمتك الامن من عذابك حتى  تبعثه   إلى جنتك   يا ارحم الراحمين
Artinya:
Tuhanku, ini hambamu, dan anak hambamu. Dia keluar dari kesenangan dunia dan keluasannya, dari kekasihnya dan teman-teman setianya menuju kepada kegelapan kubur dan kepada apa yang akan ditemui. Dia mengaku bahwasanya tiada Tuhan kecuali Engkau dan bahwasanya Muhammad itu hamba-Mu dan Rasul-Mu. Tentang hal ini, Engkau pula yang lebih mengetahui. Tuhanku, ia datang kepada-Mu dan Engkau sebaik-baik yang didatangi. Dia telah sangat perlu kepada rahmatmu, sedang Engkau tidak perlu mengazabnya. Kami datang kepada-Mu karena gemar kepada-Mu, memohon syafaat untuknya. Tuhanku, jika seorang yang berbuat baik, maka maka tambahkanlah kebaikan untuknya. Jika adalah orang yang berbuat buruk, maafkanlah kesalahan-kesalahnnya. Berilah, dengan rahmat-Mu, ia menjumpai keridlaan-Mu. Peliharalah dia dari fitnah kubur dan azabnya. Luaskanlah untuknya dalam kuburannya.  Jauhkanlah tanah dari lambungnya. Berilah untuknya dengan rahmatmu, memperoleh keamanan dari azab-Mu  sehingga Engkau membangkitkannya ke dalam surga-Mu. Wahai Tuhanku yang amat pengasih dan penyayang.(TM.Hasbi sh-Shidieqy, Ped.Shalat:472).
Versi doa lain dari Rasul:
اللهم أنت  ربها  وأنت  خلقتها  وأنت  رزقتها  وأنت  هديتها   للاسلام  وأنت قبضت  روحها  تعلم  سرها  وعلا نيتها جئنا  شفعاء له  فأغفر له  ذنبه
Artinya: Wahai Tuhanku, Engkaulah Tuhannya, Eangkaulah yang menjadikannya, Eangkaulah yang telah memberi rezeki kepadanya, Engkaulah yang telah menunjukkannya kepada Islam, dan Eangkaulah yang telah menggenggam jiwanya. Engkau mengetahui rahasianya dan  yang dilahirkannya. Kami datang memohon syafaat untuknya, maka ampunilah dosa-dosanya (HR. Abu Dawud dari Abi Hurairah – Subulussalam, II : 144
10).Salam mengakhiri salat: Assala>mu ‘alaikum warah}matulla>hi wabaraka>tuh (Semoga keselamatan untk kamu semua,demikian juga berkah Allah-Nya), sambil menoleh ke kanan), kemudian melakukan hal yang sama sambil menoleh ke kiri.
Di dalam menyalati jenazah tidak ada tuntunan dari Rasulullah maupun perintah Allah dan Rasulullah untuk ditahlili sesudah atau sebelumnya. Karena itu sebaiknya tidak menambah syariat di luar yang dicontohkan oleh Rasulullah dalam hal ini. Akan lebih baik kalau disalati berulang-ulang sebelum diberangkatkan ke makam. Pengulangan salat berdasarkan kehadiran para pelayat yang bergelombang. Pengulangan menyalati jenazah mengacu kepada tindakan Rasulullah sewaktu menyalati Hamzah, paman beliau. Hamzah wafat dalam perang Uhud. Ada 70 syuhada’ ketika itu. Rasulullah menyalatinya satu persatu. Setiap menyalati seorang jenazah, Hamzah selalu disertakannya. (Iwan Gayo, 2008).
Dasar pelaksanaan salat atas jenazah adalah perintah Rasulullah antara lain ketika ada seorang salih dari Habsy meninggal, berita itu sampai kepada Rasulullah, kemudian beliau berperintah: Fahalumma ! fashallu> ‘alaihi (Marilah salat bersama-sama untuknya H.R. Muttafaq ‘alaih dari Jabir R.a.).
Secara umum merawat jenazah di rumah-rumah sakit hanya sampai menyalatinya. Setelah itu diserahkan kepada keluarganya setelah administrasi berkenaan dengan perawatan telah dilunasi oleh keluarganya. Namun, sangat mungkin tenaga klinis seperti perawat atau dokter bertugas di lingkungan militer, sehingga merawat jenazah yang gugur di medan pertempuran harus dirawat hingga pemakamannya. Seorang jenazah karena kecelakaan yang diserahkan ke rumah sakit, dan tidak diketahui keluarganya, sementara identitasnya: KTP [Kartu Tanda Penduduk], ia harus pula dirawat hingga pemakamannya.  Inilah sebabnya pembahasan dalam bab ini diteruskan hingga ke materi pemakaman jenazah. Ebih dari itu, tenaga medis ketika pulang dari kerja, mereka adalah warga masyarakat yang sama-sama memiliki kewajiban dalam merawat jenazah hingga pemakamannya.
5.   Mengubur Mayyit
Hal-hal yang perlu disiapkan dalam penguburan mayit adalah sebagai:
(1). Tempat penguburan jenazah muslim mestinya khusus kuburan muslim, tidak dicampur dengan kuburan non muslim. Kalau karena darurat adalah persoalan lain. Di kota-kota besar, secara umum kuburan itu bercampur-baur antara jenazah yang semasa hidupnya beragama Katolik, Kristen, atau Islam. Kenyataan ini hanyalah karena persoalan praktis, yaitu tanah pekuburan sangat terbatas sehingga kalau kubur keluarga seseorang tidak dipajaki lagi setiap tahunnya, tentu akan digusur dan diisikan jenazah lain yang dikubur belakangan, dengan membayar pada aparat. Umumnya, di kota-kota sangat padat penduduk sehingga mau mengubur jenazah saja harus mengeluarkan biaya banyak kalau ingin tidak digusur.
.(2). Struktur tanah kuburan harus kuat tidak mudah longsor. Mengubur jenazah harus berbentuk   liang lahat, artinya ada rongga di dalamnya. Jadi tubuh jenazah tidak langsung tertindih tanah.
.(3). Ukuran dalam  lubang pemakaman dikira-kirakan tidak bisa dibongkar binatang buas pemakan daging atau bangkai seperti harimau, anjing, dan serigala, dan tidak membocorkan bau busuk. Secara umum dan ideal adalah setinggi manusia dewasa berdiri, kira-kira 160 cm, atau dalam tradisi Jawa sak dedeg sak pengawe (setinggi orang berdiri sambil mengacungkan tangannya lurus-lurus ke atas).
.(4) Keranda jenazah harus dapat menutup rapat jenazah dan dari bahan yang sesederhana mungkin sehingga tidak termasuk mubazir. Setelah liang lahat siap untuk menguburkan, jenazah segera diberangkatkan ke tanah untuk dikubur. Rasulullah memang menganjurkan agar menyegerakan mengubur Jenazah. Demikian sabda beliau:
أسرعوا بالجنازة, فإن تك صالحة فخير تقدمونها, وإن يك سوى ذالك,
فشر تضعونه عن رقابكم {متفق عليه عن ابى هريرة}
Artinya:
Segerakanlah penguburan jenazah. Jika ia baik, maka baiklah yang kamu ajukan. Jika selain itu, maka kejahatan yang kamu turunkan dari bahumu (Muttafaqun ‘alaih dari Abi Hurairah).
Di dalam mengubur jenazah sangat dianjurkan untuk berdoa sebagai ditunjukkan hadis berikut:
كان إذا وضع الميت فى قبره قال: بسم لله وعلى ملة رسول لله, رواه الخمسة.
Artinya: adalah Rasulullah, apabila mayat dimasukkan ke kuburnya, beliau berdoa: bismillah wa ‘ala millati Rasulillah (dengan menyebut asma Allah  dan atas nama agama utusan Allah) –HR. al-khamsah dari Ibnu Umar Ra).
Kiranya perlu disadari bahwa tidak ada riwayat autentik dari Nabi  mengazani dan mengikomati mayit di dalam kubur. Melakukan kedua hal ini bisa dikatakan bid’ah jika itu suatu keharusan atau keutaman. Sepanjang riwayat yang ada, adzan hanya untuk memanggil salat fard}u atau shalat tahajjud, utamanya,  1/3 malam terakhir. Tidak ada riwayat pula riwayat dari Rasulullah melakukan azan untuk mengendalikan angin lesus (putting beliung).
Tidak ada riwayat autentik dari Rasul menalkin mayat dalam keadaan sudah terkubur. Justru malah ada riwayat shahih Nabi menyalati jenazah setelah di kubur dan salatnya di area pekuburan pula karena jenazah tersebut lupa belum disalati di rumah duka. Hadis berikut menunjukkan akan hal ini:
إنتهى رسول الله  صلى  الله  علي  وسلم  إلى   قبر  رطب   فصلى  عليه  وصفوا
خلفه وكبر اربعا
Artinya: (Pada suatu hari) Rasulullah sampai ke kubur yang masih basah, maka beliau shalat baginya dan bershaf-shaflah para sahabat baginya dan bershaf-shaflah para sahabat di belakang beliau (HR. Bukhari dan Muslim).  Wallaahu a’lamu bishawaab.
Catatan
Sebenarnya tidak ada tuntunan:
(1).  Dalam mengiring jenazah membaca tahlil secara koor sepanjang perjalanan ke kuburan,
(2). Berhadiah fatihah atau yang lain kepada jenazah, kecuali doa maghfirah dan keselamatan untuk jenazah. Hal ini didasarkan anjuran Rasulullah sebagai berikut:  Ketika Raja Najasyasi tersebut meninggal dunia, Rasulullah bersabda:
إستغفروا  لأخيكم  {رواه  البخارى  ومسلم  عى  ابى  هريرة}
Artinya Mohonkan ampunan untuk saudaramu (HR. al-Bukhari dan Muslim/Muttafaqun ‘alaih dari Abi Hurairah).
Kalau berdoa untuk ampunan jenazah kepada Allah hendaklah setulus-tulusnya. Demikian anjuran Rasulullah:
إذا صليتم على الميت فأخلصوا الدعاء {رواه ابن ماجه عن ابى هريرة}
Artinya: Jika kamu manyalati orang meninggal, maka hendaklah kamu tuluskan dalam berdoa (HR. Ibnu MaJah Dari Abi Hurairah). Nabi menambahkan nasihat untuk kebahagiaan orang yang telah meninggal di lamnya sana sebagai berikut:
من صل عليه مائة من  المسلمين  غفر له { رواه  ابن ماجه  عن ابى هريرة
إسناده  صحيح  رجاله  رجال  الصحيحين}
Artinya:Barang siapa menyalati mayit terdiri atas 100 orang Islam, diampunilah dia. Sanadnya shahih, para rawinya sederajad rawi Bukhari dan Muslim.
Atas dasar hadis ini, kalau kita benar-benar ingin memulyakan orang yang telah meninggal dan itu beragama Islam, usahakan agar setiap ada peristiwa kematian disalatkan minimal 100 orang. Jaminan ampunan atas dosa-dosanya adalah tidak perlu diragukan. Untuk itu, manusia janganlah mengarang-ngarang peribadatan. Ini pasti sesat dan menyesatkan orang-orang bodoh. Bertaubatlah kamu-kamu yang selama ini mengirim-ngirim pahala untuk orang mati.
(3) Upacara terobosan di bawah jenazah sementara jenazah dipanggul mengawali pemberangkatan. Upacara ini hanya bersifat lokal. Karena itu harus ditinggalkan. Si Mayit tidak butuh dihormati seperti itu. Ia justru, mungkin saja sangat takut kalau se masa hidupnya di dunia tidak termasuk orang salih.
(4). Barisan paling depan membawa lampu sementara penguburan dilakukan pada siang hari, Ruh orang yag meninggal akan memperoleh sinar terang sebagaimana keterangan dari Rasulullah – dalam kasus kematian Abu Salamah – karena amal salihnya. Tetapi jika semasa hidupnya di dunia termasuk orang jahad tak kan memperoleh sinar terang meskipun diberi seribu  lampu siang malam. Cara berpikir member lampu bagi jenazah yang diirung untuk dikuburkan ini amat kacau dan irrasional, khurafat karena tidak ada dasarnya dalam syariat.
(5) Menabur uang atau kembang di sepanjang perjalanan menuju kuburan. Tindakan ini juga sama saja konyolnya. Akan lebih bijaksana kalau uang itu disedekahkan saja secara sopan kepada orang yang dikehendaki.
(6). Pemimpin upacara pemberangkatan jenazah sebaiknya meminta kepada para pelayat agar mau memberi maaf atas kesalahan jenazah semasa masih hidup,
(7). Mengihlaskan hutang jenazah jika dirasa tidak memberatkan. Segera berhubungan kepada ahli waris untuk membayar hutang jika penghutang menuntut pembayaran. Dalam hal ini Rasulullah bersabda:
نفس المؤمن معلقة بدينه حتى يقضى عنه. رواه أحمد والترمذى وحسنه.
Artinya: Ruh orang mati itu digantungkan hutangnya hingga hutang itu terbayar. HR. Ahmad dan at-Turmuzi, dan ia (at-turmuzi) menghasankan hadis ini.
Hadis ini dapat dijelaskan demikian. Jika si mayyit ini memiliki jatah ke surga, jatah itu tidak akan diterima jika hutangnya belum dilunasi oleh ahli warinya. Selanjunya, hadis ini mengandung implikasi, hutang yang semula halal saja menjadi penghalang masuk surgea hingga hutang itu terbayar, apalagi kalau si mayyit itu memakan barang haram ? a’u>z}u billa>hi min z}a>lik.
(8). Memberikan persaksian amal-amal jenazah yang baik ketika masih hidup. Hal ini didasarkan hadis Rasulullah terhadap jenazah Abu Salamah sebagaimana dikutip di awal-awal bab ini.
Setelah rombongan jenazah sampai di kuburan, urutannya sebagai berikut:
(1) Keranda diletakkan di sebelah liang kubur
(2) Tutup keranda di buka,
(3) Dua atau tiga orang pengiring jenazah masuk dulu ke liang lahat untuk menerima jenazah,
(4) Jenazah diangkat dan dimasukkan dari arah kaki, didahulukan dari pada bagian kepala
(5) Yang telah di dalam menerima jenazah dengan hati-hati,
(6) Jenazah dimiringkan dengan lambung kanan sehingga wajah dapat menghadap kiblat,
(7) Tali-temali dilepas, tetapi masih tetap melingkar pada posisinya,
(8) Menutup cekungan liang lahat dengan kayu yang kuat,
(9) Menimbuni tanah secara rapat dan padat.
Dalam mengebumikan mayat perlu diperhatikan ha-hal sebagai berikut:
(1)    Tidak ada tuntunan talkin untuk orang yang sudah mati. Seluruh hubungan antara orang yang sudah mati dengan orang yang masih hidup di dunia terputus kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dalam arti masih dimanfaatkan oleh yang hidup, dan anak salih yang mendoakan kepada orang tuanya (yang sudah meninggal). Dalam hal ini Rasulullah bersabda:
إذا مات إبن ادم إنقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة  جارية او علم  ينتفع به وولد صالح يدعو له.
Artinya: Apabila anak Adam (manusia) meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali dalam tiga hal: sedekah jariah, ilmu yang dapat dimanfaatkan, dan anak salih yang mendoakan kepada orang tuanya.  Namun demikian, masalah talqin menjadi perselisihan di antara umat Islam. Sebagian menolak atas dasar hadis di atas, sebagian tetap menyelenggarakan talqin dengan dasar hadis berikut:
عن ضمرة بن حبيب رضي الله عنه – احد التابعين – قال: كانوا يستحبون إذا سوي على الميت قبره, وانصرف الناس عنه, ان يقال عند قبره: يا فلان ! قل لا إله إلا الله ثلاث مرات.  يا فلان ! قل ربي الله, ودينى الإسلام, ونبي محمد. رواه سعيد بن منصور موقوفا.
Artinya:
Dari damrah bin Habib r.a. bahwa salah seorang Tabi’in berkata: Apabila telah diratakan kubur atas mayyit dan orang-orang telah pergi, hendaknya dibacakan di sisi kuburnya: la> ila>ha illalla>h tiga kali. Hai Fulan (sebut namanya) ! katakanlah: Tuhanku adalah Allah, agamaku Islam, dan Nabiku Muhammad. (HR. riwayat Sa’id bin Manshur dalam keadaan mauquf). Sementara itu, Thabrani meriwayatkan hadis serupa dari Abu Umamah dengan kualitas hadis marfu’(Ibnu Hajar, 2007 : 277-278).
Dari dua buah hadis ini dapat dipahami, sekurang-kurangnya h}asan li ghairih kualitas hadis riwayat Damarah tersebut yang secara praktis dapat digunakan sebagai dasar beragama. Tetapi, jika konfrontasikan dengan hadis tentang terputusnya hubungan antara orang yang sudah mati dengan orang yang masih hidup berkualitas jauh lebih sahih, maka yang harus dijadikan pedoman beragama haruslah yang lebih sahih. Demikian aturan dalam ilmu-ilmu hadis jikan enemukan pertentangan (ta’arud}) di antara dua hadis.
Solusi yang paling netral tidak memihak kelompok manapun adalah yang meyakini harus ditalqin setelah terkubur dengan tanah dipersilahkan. Sementara itu, yang menolak talqin di atas kubur silahkan. Masing-masing pihak hendaknya saling menghormati. Perselisihan ini tidak dapat diselesaikan secara sepihak. Kasus talqin termasuk persoalan khilafiah laten.
(2)     Oleh karena itu kalau diadakan upacara di kuburan setelah selesai menimbuni tanah cukup didoakan yang isinya supaya si mayit jauh dari fitnah kubur, jauh dari siksanya dan siksa neraka, diberi ampunan atas kesalahannya, supaya lapang, terang, dan nyaman di alam kubur baik doa itu dilakukan secara individual atau jamaah. Tidak perlu pula membaca Alquran, surat Yasin atau yang lain yang pahalanya dikirimkan kepada yang baru saja dikebumikan atau orang-orang lain yang telah meninggal.
(3)    Tidak dianjurkan para wanita ikut menghantar jenazah ke kuburan karena dikhawatirkan kehilangan kontrol sehingga berbuat yang tidak-tidak seperti menangis atau sambat-sambat. Laki-laki pun juga tidak boleh kalau seperti permpuan itu.
Berkenaan dengan orang yang telah meninggal terdapat banyak upacara keagamaan yang sebenarnya tidak ada tuntunan dari Rasulullah, umpama: memperingati kematian dengan mengundang orang banyak ke rumah ahli watis si mayit pada hari pertama kematian hingga hari ke tiga tau ke tuju setiap malamnya, pada hari ke 40, pada hari ke 100, ulang tahun kematian pertama (mendhak pisan), ulang tahun kematian ke 2 (mendhak pindho), pada hari ke 1000, dan selanjutnya tiap tahunnya (h}aul) jika dikehendaki untuk mengadakan tahlilan dan yasinan dengan niat pahala bacaan dikirimkan kepada si mayit sebagai bakti anak kepada orang tua (birr al-walidain). Cara ini sama sekali tidak pernah dipraktikkan oleh Rasulullah, para sahabat, tabiin, maupun tabi’ut tabiin. Dengan demikian, maksud hati ingin berbuat baik, tetapi sebenarnya malah tersesat. Praktik ini diadakan jauh setelah kewafatan Rasulullah. Cara ini oleh sementara 11 pendiri mazhab menolaknya mentah-mentah. Ke 11 mazhab itu adalah: Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, Imam Hambali, Sufyan Tsauriyyah, Sufyan ‘Uyainiyyah, Laits bin Rahawaihiyyah, Ibnu Jaririyyah, adh-Dhahiriyyah, dan Auza’iyyah (al-“Alawi,[t.th.]:1969]. Mereka mengkategorikan  aneka macam upacara kematian yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah adalah bid’ah yang perlu dijauhi. Yang dicontohkan bagi yang telah meninggal hanya doa untuk mereka. Doa untuk mereka dapat dilakukan kapan saja, sebanyak-banyaknya, tidak perlu dikuburan kalau di sana malah terjadi kesalahan.
5.    Ziarah Kubur
Ditambahkan di sini mengenai syariat ziarah ke kubur. Amal perbuatan ini  memang boleh asal:
a.  Mendoakan yang diziarahi,
b. Ingat bahwa dirinya akan mati sehingga diharapkan ia banyak bertaubat dan beramal salih sebagai bekal menuju kematian,
c. Tidak boleh meminta atau doa sesuatu kepada yang diziarahi, kepada Rasulullah sekalipun,
d. Tidak mengirim pahala bacaan kalimah-kalimah thayyibah maupun Alquran). Keempat hal ini tercermin dari tuntunan doa Rasulullah bagi para peziarah kubur sebagai berikut:
السلام عليكم اهل الديار من المسلمين والموًمنين و انا إنشا الله بكم لاحقون.
اللهم لنا ولكم العافية
Artinya: Semoga keselamatan untuk kamu hai penduduk para muslim dan mukmin, aku insyaAllah menyusulmu. Ya Allah semoga bagi kami dan kamu semua memperoleh kesehatan. (Basharuddin, 2007 : 164).
e. Kalau ingin ngalap berkah (memperoleh barakah) dalam berziarah kubur terbatas meneladani kesalihan, seperti: ibadahnya, perjuangannya terhadap Islam, keramah-tamahannya terhadapsesama muslim, kealimannya, ke-zuhud-annya, dan yang kebaikan-kebaikan lainnya yang diziarahi ketika ia masih hidup di dunia.
f. Di Kuburan tidak boleh duduk, utamanya di atas pemakaman. Larangan Nabi demikian artinaya: Janganlah kalian salat menghadap kuburan dan duduk di atasnya (H.R.Muslim). Jadi di kuburan cukup berdiri, dengan demikian tidak perlu berlama-lama di sana.
A.    Ringkasan
Kematian adalah berhentinya kehidupan, keluarnya nyawa dari tubuh sehingga semua aktifitas organ tubuh berhenti. Kematian bermacam-macam jenisnya, ada kematian sosial, kematian psikologis, dan kematian biologis.
Pusat perhatian dalam topik ini adalah kematian biologis. Sebelum mati secara definitif didahului proses yang disebut sakaratul maut. Dalam keadaan ini harus dirawat supaya mati seseorang termasuk dalam kategori h}usnul khatimah, yaitu dengan cara dituntun membaca kalimah tauhid La ila>ha illalla>h. Selanjutnya, ketika sudah nayata-nyata meninggal ada empat macam perawatan pokok secara syar’i, yaitu: memandikan, mengafani, menyalati, dan mengebumikannya. Selain ke empat ini tidak ada syariat apa pun kecuali anjuran sebanyak-banyaknya mendoakan orang yang sudah mati agar memperoleh maghfirah dari Allah. Allah berkenan menempatkan di tempat yang luas, terang, dan nikmat, serta selamat dari azab maupun fitnah kubur hingga fitnah akhirat. Upacara-upacara lokal keberagamaan selain yang dituntunkan oleh Rasulullah berkenaan dengan kematian akan menjadi bid’ah dan perlu ditinggalkan.
Daftar Pustaka
Al-Qur’a>n al-Kari>m.
‘Abd al-Baqi, Ahmad Fuad,  2007, al-Lu’lu.u wa al-Marja>n, (ter.) Salim Bahraesy. Surabaya: Bina Ilmu.
Abdat, Abdul Hakim bin Amir,  2006, Hukum Tahlilan (Selamatan Kematian & Hukum Membaca Alqur’an untuk Mayit Bersama Imam asy-Syafi’i. Jakarta: Pustaka Abdullah.
Ali, H.Mahrus,  2007, Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat & Dzikir Syirik (Nariyah, al-Fatih, Munjiyat, Thibbul Qulub), Surabaya: Laa Tasyukl.
Al-Asqalani, Ibnu Hajar, 2000, Bulughul Maram, (tans.) Achmad Sunarto, Jakarta: Pustaka Amani.
Ebrahim, Abul Fadl Mohasin, 2007, Organ Transplatasion, Euthanasia, Cloning and Animal Experimentation: an Islamic View (Trans.) Mujiburrahman: Fikih Kesehatan, Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.
Jawas, Yazid bin Abdul Qadir, 2006, Yasinan. Jakarta: Pustaka Abdullah.
Lyons, Catherune, 1970, Organ Trnasplant: The Moral Issues, London: SMC Press Ltd.
Okho Com
Syuhaimin, Basharuddin bin Shalih,  2007, Membongkar Kesesatan: Tahlilan, Yasinan, Ruwahan, Tawassul, Istighasah, Ziarah, Maulid Nabi, Bandung: Mujahid.
www.Wikipedia Com.
Yuniardi, Harry,2007,  Santri NU Menggugat Tahlilan. Bandung: Mujahid.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kelahiran Manusia

Oleh M.Danusiri

Tujuan Umum Pembelajaran
Setelah membaca dan mengikuti pembelajaran bab ini, Mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan tentang kelahiran manusia.
Tujuan Khusus Pembelajaran
Setelah membaca dan mengikuti pembelajaran pada bab ini, Mahasiswa diharapkan dapat:
1.    Menjelaskan dan mengerti proses terjadinya manusia menurut ajaran Islam
2.    Menjelaskan dan mengerti norma-norma Islam bagi ibu yang sedang hamil
3.    Menjelaskan perawatan terhadap ibu hamil, suaminya, maupun penciptaan kondisi kondusif baik secara sosial maupun kultural.
4.    Menjelaskan perawatan ibu dalam proses persalinan secara Islam
5.    Menjelaskan perawatan bayi sejak hari pertama hingga masa ‘aqiqah
6.    Menjelaskan perawatan bayi dalam penyusuan

A. Asal-Usul Manusia
Proses keterciptaan manusia cukup rumit dan panjang. Demikian tahapannya.
1.    Tahap Minerologi: at-Turab (Tanah)
Sekurang-kurangnya Alquran menyebutkan tujuh kali tentang at-turab, yaitu pada QS.Ali Imran : 59, an-Nahl : 59, al-Kahfi : 37, al-Hajj : 5, ar-Rum : 20, Fathir : 11, dan al-Ghafir : 67. ayat-ayat ini menyebutkan  bahwa asal usul manusia adalah at-turab yang secara literal berarti tanah,bumi, atau debu. Dicontohkan di sini firman Allah bahwa manusia itu berasal dari at-turab sebagai berikut:

Artinya:
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah (QS. Al-Hajj/22 : 5).

Padanan kata at-turab ke dalam bahasa Indonesia adalah debu, tanah, bumi.(Warson, [t.th.] : 14). Sifat tanah, bumi atau debu adalah kering karena yang paling dekat di antara sejumlah kata ini adalah debu.
Allah juga menyebutkan sembilan kali, yaitu dalam Q.S. al-An’am : 2, al-A’raf : 12, al-Mu’minun : 12, al-Qashash : 38, as-Sajdah : 7, ash-haffat : 11, Shad : 71 dan 76, dan al-Isra’ : 61 bahwa asal usul manusia adalah ath-thin  yang secara literal berarti tanah lumpur. Unsur cairan dalam pengertian tanah seperti ini, unsur cairan amat dominan. Contoh penyebutan asal manusia dari ath-thin adalah sebagai berikut:

Artinya:
Dan ssungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari sesuatu (saripati) dari tanah.(Q.S. al-Mu’minun/23 : 12).

Jika dipahami melalui pendekatan teori evolusi, dan ini merupakan cara berpikir yang paling akurat karena mengenai objek fisik dan berada selalu menggejala dalam waktu, ath-thin yang paling awal adalah saripati lumpur, kemudian lumpur dalam bentuk tanah liat (ath-thin al-lazib – Q.S. ash-Shaffat/37: 11). Sifat tanah liat ini adalah lekat atau disebut juga lempung dalam bahasa Jawa yang bisa menempel. Unsur cairan lebih sedikit dibanding ketika masih dalam pengertian lumpur. Dengan demikian tanah liat lebih kering daripada lumpur. Dari bahan ini Allah mencipta insanun atau basyarun yang padanan dalam bahasa Indonesia adalah  manusia.
Selanjutnya Allah juga menjelaskan bahwa asal-usul tanah liat dengan kosa kata al-h}ama>’, yang secara literal berarti tanah liat kering, sebanyak tiga kali, yaitu dalam Q.S. al-Hijr : 26, 28, dan 33 berasal dari shalshal (lumpur hitam), umpama Allah berfirman:

Artinya
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk (Q.S. al-Hijr/15 : 26).

Tanah liat kering itu disebutkan berasal dari tembikar (tanah kering, keras, padat, dan tidak ada unsur air). Demikian Allah berfirman :

Artinya:
Dia menciptakan manusia dari tanah kering dari tembikar (Q.S. ar-Rahman/55 : 14).

Mencermati sejumlah ayat tentang asal-usul  manusia ternyata tidaklah mudah karena ada yang disebut at-turab (tanah, debu, bumi), ath-thin (lumpur atau tanah liat), al-h}ama>’ (tanah liat), shalshal (tembikar). Melalui tatapikir logika hubungan antara komrehensi dan denotasi, at-turab berarti bumi dengan demikian berarti genus dan mengandung pengertian umum. Spesiesnya atau denotasinya amat banyak, yaitu keseluruhan mineral bumi, seperti: batu, cadas, lahar, magma, barang tambang, lumpur, debu, belerang, tanah, gas bumi, air,dan masih banyak lagi yang lain. Selanjutnya, dapat dirinci lebih jauh dengan mengambil contoh air, bagian dari bumi, menjadi air tawar dan air laut. Jika air tawar dirinci atas dasar penggunaannya dalam bersesuci sebagai sayarat beribadah terdapat air suci dan menyucikan, air suci tidak menyucikan seperti air kelapa, air tidak suci dan tidak menyucikan.
Diantara sekian banyak  mineral bumi yang dipilih Allah untuk mencipta manusia adalah saripati lumpur (shalshal min thin), tanah liat (ath-thin al-lazib), tanah tembikar (shalshal al-fakhar).
Lagi-lagi, Jika dipahami melalui pendekatan evolusi asal keterciptaan manusia, urutannya adalah (1) tanah kering yang bersifat padat dan kering, (2) debu yang bersifat kering, lunak dan terurai, (3) tanah liat yang bersifat kering, agak lunak, lekat, dan ada unsur air sedikit, (4) lumpur yang bersifat campuran antara yang padat dan cair. Unsur cairan amat dominan, (5) lumpur hitam yang bersifat campuran antara yang padat dan cairan, unsur cairan amat dominan, dan campuran itu telah begitu mengendap sehingga berwarna hitam.
Dari urutan logis bahan untuk mencipta manusia ini, kita dapat melakukan eksperimen sebagai berikut:
Kita ambil air keruh satu gelas. Air ini berasal dari got atau sungai yag baru saja menjadi banjir akibat hujan. Selanjutnya air itu didiamkan saja dalam ruang yang tidak terkena sinar matahari secara langsung. Setiap hari diamati dan dicatat perubahannya. Lama-lama, terdapat benda-benda yang berat jenisnya melebihi  berat jenis (BD) air pasti turun ke dasar. Inilah yang disebut endapan. Makin lama, endapan itu semakin tampak nyata dan air di bagian atas dalam gelas itu akan tampak semakin bening. Nah di sini telah terjadi pemisahan yang jelas antara lumpur yang selanjutnya menjadi tanah liat dan air yang amat jernih.
Selanjtnya, Allah menggunakan air itu sebagai bahan mencipta manusia. Ayat-ayat berikut akan menjelaskan kesimpulan ini.
2.    Tahap Air
Tahapan selanjutnya disebutkan bahwa manusia berasal dari al-ma>’. Secara umum semua yang hidup bernyawa mulai dari tetumbuhan dan binatang bersel tunggal hingga yang paling komplek dan sempurna, yaitu manusia (Q.S. ath-Thin/95 : 4) berasal dari air. Demikian Allah berfirman:

Artinya
Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup, maka mengapakah mereka tidak juga beriman ? (Q.S. al-Anbiya’/21 : 30).

Selanjutnya, Allah mempertegas bahwa segala yang hidup, yaitu  dabbah secara literal berarti makhluk hidup yang merayap atau bergerak baik memakai perut, berkaki dua, berkaki empat atau berkaki lebih dari empat dijelaskan berasal dari air. Demikian firmnan Allah:

Artinya
Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian hewan dari air itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu ( Q.S. an-Nur/24 : 45).

Selanjutnya dari salah satu jenis dabbah (hewan yang merayap) disebutkan secara spesifik atau mengerucut bahwa makhluk hidup yang disebut basyar (secara literal berarti manusia) berkaki dua diciptakan dari air. Demikian Allah berfirman:

Artinya
Dan dia pula yang menciptakan manusia dari air, lalu Ia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah, dan adalah  Tuhanmu Maha Kuasa (Q.S. al-Furqan/25 : 54).

Dari ayat itu juga terkandung pengertian bahwa manusia melalui perkawinan antara laki-laki dengan perempuan menghasilkan keturunan (pertalian darah), dan dari perkawinan itu  muncul pertalian saudara penyerta (mushaharah) seperti anak menantu, cucu menantu, keponakan menantu, saudara dari istri/suami (saudara ipar), bibi/om dan uwak ipar, mbah ipar. Yang kemudian dalam scala luas mengandung pengertian makhluk yang bernama manusia sebagai suatu spesies (kelas) yang berbeda dari non manusia.
Dalam pengertian bahasa Arab semua yang cair disebut al-ma>’ (air) dengan demikian al-ma>’ sebagai genus (jinis – terserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘jenis’), denotasinya bisa air laut, air asin, air tawar, air embun, air kencing, dan air mani (sperma). Dengan demikian maksud al-ma>’ dari ayat 54 dari surat al-Furqan di atas adalah air mani. Sifat air mani disebutkan sebagai sesuatu yang hina. Demikian Allah berfirman:

Artinya
Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (Q.S. as-Sajdah/32 : 8)

Dikatakan hina karena air itu terpancar dari dua kelamin, yaitu kelamin laki-laki, masuk ke dalam kelamin perempuan, berproses di dalamnya  (perempuan) dan keluar dari  kelamin perempuan itu. Kelamin laki-laki maupun perempuan adalah tempat keluarnya air kencing yang menjijikkan dan najis. Kelamin  adalah simbol kerendahan, aurat sebagai sesuatu yang harus ditutupi dan memalukan jika dilihat oleh orang lain. Secara medis air itu disebut air mania tau sperma. Bau air mani itu tidak sedap dan amat tajam menyengat hidung.  Implikasi yang terselip di dalamnya adalah  ‘manusia keliru besar jika ia menjadi sombong dan terlalu berbangga’. Ia harus sadar bahwa asalnya adalah sesuatu yang hina.
Air hina, yaitu air mani (sperma) yang terpancar ke dalam alat reproduksi wanita dan berproses dengan air (cairan) wanita di dalam rahim. Jadi ada pertemuan al-ma>’  dari laki-laki dan al-ma>’  dari perempuan. Demikian Allah berfirman:

Artinya
Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan. Dia diciptakan dari air yang terpancar. Yang keluar antara tulang sulbi dan tulang dada (Q.S. ath-Thariq/86 : 5-7)

B.  Proses Kejadian Manusia Dalam Rahim: Tahap Embriologis
Sebelum menjelaskan proses lebih lanjut tentang keterciptaan manusia dalam taham embriologis ini, perlu dijelaskan siapa tokoh pakar dalam bidang ini. Ternyata, tokoh tersebut adalah seorang dokter muslim yang hidup di abad 13. Dia lahAmin ad-Daulah Abu al-Faraj Ibn Muwafaq ad-Di>n Ya’qu>b ibn Ish}aq ibn al-Quff, popular disebut ibn al-Quff. Ia lahir di Karak 10 mil dari laut mati yang sekarang menjadi wilayah Yordania. Karya dalam bidang kesehatan amat banyak. Diantaranya sangat monumental, yaitu “al-‘Umdah fi al-Jarahat”  (Buku Induk tentang Pembedahan) dan “al-Gharadh fi H}fdz asy-Syifa>’ (Menuju Hidup Sehat). Buku ini menjelaskan tentang embriologi dan usaha-uasa menuju pola hidup sehat.
Dalam ilmu bedah, ia memperkenalkan opium, hyioscine, dan antropine untuk meredakan rasa sakit sewaktu pasien dibedah dalam rangka memulihkan kesehatannya. Ia juga yang berhasil menemukan system pembuluh darah (vascular) vena dan system pembuluh darah arteri, hubungan diantara kedua pembuluh darah itu, serta bungannya ke dalam seluruh tubuh. Empat ratus kemudian baru ditemukan kembali melalui alat microscopis oleh Marcello Malpighi, seorang dokter kenamaan dari Italia. Ibnu Quff juga menemukan katup dalam jantung yang mengatur keluar-masuknya aliran darah dari jantung ke seluruh tubuh dan kembali ke jantung.
Dalam kaitannya dengan embriologi dan perinatologi, sebagaimana diungkapkan dalam karyanya al-Jami’ (semacam karya ensiklopedis), Ibnu membahas proses-proses embriologi keterciptaan manusia sangat akurat, mendetail, dan sejalan dengan penjelasan Alquran. Karya iji dibagi ke dalam 20 bab. Keringkasan penjelasannya adalah sebagai berikut:

Pembentukan awal adalah sebuah buih yang merupakan tahap enam sampai tujuh hari pertama, pada hari ke- 3 hingga 16 secara bertahap membentuk gumpalan dan pada hari ke-28 sampai 30 menjadi sebuah gumpalan kecil daging. Pada hari ke-38 sampai 40, kepala muncul terpisah dari bahu dan lengan. Otak dan jantung yang diikuti dengan hati terbentuk sebelum organ lainnya,”  papar  Ibnu al-Quff seperti dikutip Abouleish.

Al-Quff menambahkan bahwa janin mengambil makanan dari ibunya untuk tumbuh. Ia menambahkan, ada tiga selaput yang  menutupi dan melindungi janin. Pertama menghubungkan pembuluh darah arteri dan vena dengan sesuatu di rahim ibunya melalui tali pusar.

“Melalui pembuluh vena, janin bayi mendapatkan makanan untuk kebutuhan nutrisinya. Sementara pembuluh arteri membawa udara,” tutur al-Quff. Pada akhir bulan ketujuh, lanjut al-Quff, semua organ telah selesai. Setelah kelahiran, tali pusar bayi dipotong pada jarak empat jari luasnya dari badan, dan terikat dengan baik, dengan wol yang lembut.

Wilayah yang dipotong ditutupi dengan filamen/kawat pijar basah dalam minyak zaitun dengan sebuah obat penahan darah untuk mencegah pendarahan yang menetes. “Setelah kelahiran, bayi dirawat oleh ibunya dengan air susu ibu (ASI)  yang merupakan nutrisi paling baik.(www.suaramedia.com).

Dari kutipan ini dapat diambil pengertian bahwa sumbangan sarjana Islam klasik dalam kemajuan ilmu kesehatan modern amat besar dan masih digunakan hingga sekarang. Kutipan ini juga memberikan inspirasi sarjana-sarjana kesehatan muslim sekarang jangan hanya mengikuti secara membabi buta terhadap ’penemuan’ sain Barat yang sering kita idolakan dan sekaligus kita menjadi minder yang sebenarnya sering terbukti bahwa mereka hanyalah plagiat dari karya-karya penemuan sarjana muslim. Sebenarnya kita juga dapat menghasilkan penemuan-penemuan spektakuler dalam bidang sains.
Selanjutnya, mari kembali meneruskan alur pikir tentang proses evolusi keterciptaan manusia dalam tahap embriologi ini.
1.    Unsur Bahan Laki-laki
Perlu ditegaskan kembali bahwa tahap akhir dari asal-usul manusia adalah al-ma>’ (air) dari laki-laki maupun perempuan yang bertemu karena msing-masing terpancar dari sumbernya (sulbi dan taraib). Pengertian empirik kata ‘terpancar’ dan alami hanyalah melalui hubungan kelamin atau senggama antara laki-laki dan perempuan. Menurut Islam Senggama hanya diperbolehkan setelah melalui ritus-inisiasif pernikahan atas dasar syariat, tidak sedang menstruasi bagi perempuannya, dalam keadaan sehat, dan bersih menurut syariat pula. Atas dasar pemancaran al-ma>’ hendak dijelaskan lebih lanjut, yaitu proses penjadian dalam rahim.
Asal manusia menurut firman Allah berikut berasal dari nuthfah:

Artinya
Dia telah menciptakan manusia dari air mani (sperma), tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata (Q.S. an-Nahl/16 : 4).

Pengertian nuthfah adalah air mani (sperma) yang keluar dari laki-laki. Pengertian ini dipertegas oleh ayat berikut:

Artinya
Bukankah dia dahulu setetes air mani yang ditumpahkan ke dalam rahim (Q.S. al-Qiyamah/75: 37)

Segera dijelaskan di sini bahwa penumpahan sperma laki-laki ke dalam rahim sudah barang tentu menurut ajaran Islam adalah melalui prosedur pernikahan antara laki-laki dan perempuan. Ayat berikut menjelaskan tentang penumpahan sperma laki-laki ke dalam rahim ibu

Artinya:
Kemudian Kami jadikan nuthfah (air mani) yang disimpan dalam tempat yang kokoh (rahim – Q.S. al-Mukminun/23 : 13).

Sprema (air mani) atau nuthfah merupakan campuran dari unsur-unsur. Allah berfirman:

Artinya:
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, yang kami hendak mengujinya ( dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat (Q.S. al-Insan/76 : 2).

Unsur-unsur yang membentuk sperma (nuthfatin amsyaj) menurut penemuan ilmu kesehatan modern adalah sebagai berikut:
a.    Testis, adalah batang penis mengeluarkan kelenjar kelamin yang mengandung spermatozoa, yaitu sel panjang berekor dan berenang dalam cairan serolite.
b.    Kantong-kantong benih tempat menyimpan spermatozoa, tempatnya dekat postrat. Sifat cairan dalam kantong ini tidak membuahi.
c.    Postrat mengeluarkan cairan yang bersifat krim dan berbau khusus
d.    Kelenjar yang tertempel pada jalan air kencing, yaitu kelenjar cooper dan kelenjar lettre yang melekat dan mengeluarkan lendir.
Perlu ditambahkan di sini bahwa istilah ‘penemuan sain moderen’ hanya bersifat konseptualisasi data empirik, yaitu ada gejala atas dasar pengamatan indra kemudian memberikan nama (justifikasi) gejala tersebut.
2.    Unsur bahan wanita
Secara teknis bahan  wanita disebut telur. Telur yang terbuahi dalam trompe lalu bersarang di rongga rahim (cavum uteri), tentu melalui proses hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan dan terikat dalam pernikahan yang syah menurut syariat Islam. Dalam hal ini Allah berfirman:

Artinya:
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah(Q.S. al-Hajj/22 : 5).

Telur dalam rahim memanjang dan menghisap pada dinding rahim sehingga lama kelamaan membesar; dan semakin kokoh. Dalam hal ini Allah berfirman.

Artinya
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah ( Q.S. al-‘Alaq/96 : 2).

Arti ‘alaq sebenarnya bukan segumpal darah, melainkan ‘sesuatu yang menempel’. Dalam ayat ke lima dari surat al-Hajj ayat lima di atas juga dijelaskan tahapan-tahapan evolusi tentang sesuatu yang melekat, mulai dari setetes air mani hingga menjadi muthghah (segumpal daging yang belum sempurna (ghairu mukhallaqah), selanjutnya daging yang sempurna (mukhallaqah), dalam arti lebih keras dan lebih jelas bentuknya menuju kepada bentuk janin yang sebenarnya.
3.    Proses Penjadian Dalam Rahim.
Melalui kegiatan sifat telur yang telah terbuahi dan menempel dalam rongga lalu menghisap sesuatu yang menyebabkan membesar dan membentuk jaringan fungsional dan komplek, dalam hal ini Allah berfirman:

Artinya
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari sesuatu saripati (berasal) dari tanah.Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani(yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, kemudian segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang, kemudian Kami jadikan dia makhluk (yang berbentuk) lain. Maka maha Sucilah Allah, pencipta yang paling baik (Q.S. al-Mu’minun/23 : 12-14).
Urutan lompatan kejadian manusia dalam rahim pasca sperma adalah ‘alaqah, muthghah (ilmu kedoketaran umum menamakannya mudigah – begitu sulitnya lisan mereka melafalkan muthghah), muncul tulang dalam muthghah dan tulang itu terbalut atau ada dalam jaringan muthghah, selanjutnya menjadi sesuatu bentuk yang sama sekali baru, yaitu seorang janin di dalam rahim dengan jalan ansya a (tumbuh secara perlahan seperti tumbuhnya biji menjadi pohon, dahan, dan ranting. Pohon, jika dibanding dengan biji merupakan bentuk yang sama sekali baru dan berbeda).   Pohon tidak lagi seperti daun, ranting, akar, batang, bunga, dan buah. Kumpulan itu semua disebut pohon. Nah, janin merupakan kumpulan dari berbagai organ yang berhimpun di dalamnya.
Dalam berproses ini Allah memberikan ruh di dalamnya, kemudian juga melengkapi pendengaran, penglihatan, dan hati sanubari (sebagai  potensi untuk meyakini atau tidak meyakini sesuatu). Demikian Allah berfirman:
Artinya
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuhnya) ruh (ciptaan)-Nya, dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, tetapi kamu sedikit sekali bersyukur ( Q.S. as-Sajdah/32 : 9).

Dari ayat di atas dapat dipetik pengertian bahwa proses janin dalam rahim telah lengkap, ada pendengaran, penglihatan, dan penglihatan batin. Di samping itu Allah menjelaskan dalam sosok manusia yang telah lengkap disertai jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Dalam hal ini Allah berfirman:

Artinya
Dan bahwasanya Dia lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan. dari air mani, apabila dipancarkan ( Q.S. an-Najm/53 : 45-46).

Kedua ayat yang terakhir ini memberikan pemahaman bahwa proses penciptaan janin dari aspek fisik telah sempurna. Allah juga melengkapi dengan memberikan ruh padanya. Allah berfirmaqn demikian:

Artinya
Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepada-Nya dengan bersujud ( Q.S. al-Hijr/15 : 29).

Dengan penjelasan ayat ini proses akhir keterciptaan sosok manusia benar-benar telah final, mencakup aspek jiwa dan raga. Dalam waktu tertentu, kemudian sosok manusia dalam rahim itu keluar (lahir) ke alam dunia menjadi seorang bayi. Dalam hal ini Allah berfirman:

Artinya
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran dan penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur (Q.S. an-Nahl/16 : 78).

Seorang janin secara fisik maupun spiritual telah terjadi secara sempurna, tinggal kapan ia keluar kea lam dunia ini (dalam bahasa Jawa disebut ngalam ndonya alam padhang atau dalam bahasa Indonesia alam mayapada adalah alam yang dapat kita saksikan secara empiric ini. Tetapi sebelum dikeluarkan kea lam dunia, ia diberi takdir terlebih dahulu.

C.  Ketetapan Tentatif Bagi Janin Dalam Kehidupan Selanjutnya
Yang dimaksud dengan ‘ketentuan tentatif janin dalam kehidupan selanjutnya’ adalah bahwa menurut sabda Nabi saw. bayi ketika usia kehamilan seorang ibu, atau proses pembentukan janin dalam rahim ketika usia 120 hari ditetapkan ketentuannya oleh Allah dan dituliskan oleh malaikat tentang empat perkara, yaitu: rezeki, kematian, kesusahan, dan kebahagiaannya. Demikian sabda Nabi yang menjelaskan pengertian ini :
إن الله عز وجل وكل بالرحم  ملكا يقول  يا رب نطفة  يا رب علقة  يا رب مطغة   فإذا اراد  ان يقضي خلقه  اذكر ام ا نثى سقي  ام سعيد  فما الرزق والاجل فيكتب فى بطن امه( رواه البخارى عن انس بن مالك)
Artinya
Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memerintah Malaikat menjaga rahim, maka ia bertanya: Ya Rabbi ! masih berupa nuthfah (air mani), ya Rabbi ! sudah berupa ‘alaqah (darah beku), ya Rabbi ! sudah berupa mudghah (segumpal daging), maka apabila akan dijadikan, ditanyakan laki-laki atau wanita, nasib baik atau jelek, apakah rizkinya, ajalnya. Maka ditulis semuanya ketika berada dalam perut ibunya (H.R. al-Bukhari dari Anas bin Malik, dalam Ahmad Fuad,[t.th.]: l006).

Sebenarnya takdir Allah dalam rahim tentang empat perkara ini bukan harga
mati tanpa peluang untuk berubah. Bagaimana pun takdir ini misteri tidak dapat dimengerti oleh janin itu sendiri setelah ia hidup di luar rahim ibu atau menjadi sosok manusia. Secara realistik, kita tidak mengerti apa yang terjadi nanti, besok, lusa, l0 hari lagi, l00 hari mendatang, atau singkatnya masa depan adalah gelap. Yang tampak di dalam angan-angan kita adalah kemungkinan-kemungkinan. Sesuatu yang mungkin bukanah kenyataan kecuali kemunmgkinan. Hanya saja kemungkinan masa depan itu supaya menjadi kenyataan yang terang, nyaman, dan membahagiakan hendaklah manusia berjuang merajut dan mengusahakan untuk kehidupan di masa depan. Dalam hal ini Allah berfirman:

Artinya
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan  suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya. Dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia ( Q.S. ar-Ra’d/13 : 11).

Ayat ini memberi pesan bahwa ada peluang untuk berubah bagi takdir seseorang setelah ia berniat dan mengusahakan mengubahnya agar masa depan lebih baik. Secara eksplisit Allah menjelaskan memang ada peluang takdir masa lalu bagi yang Allah kehendaki, umpama dalam rahim ditulis ketetapan ‘seseorang senantiasa miskin dan susah hidupnya di dunia ini’, kemudian karena usahanya demikian gigih untuk menyongsong masa depan yang lebih bagus bagus, Allah lalu mengubahnya menjadi orang yang berkecukupan dan bahagia secara ekonomi maupun aspek klehidupan yang lain. Demikian firman Allah yang menyatakan kemungkinan perubahan takdir dimaksud:

Artinya
Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan ( apa yang Dia kehendaki) dan di sisi-Nya lah terdapat Ummul kitab ( Q.S. ar-Ra’d/13 : 39).

Ayat ini dengan demikian mengandung ajaran agar dalam menjalani hidup di dunia ini dengan cara bekerja keras, profesional, dan berkelanjutan, sekaligus tidak boleh berpangku tangan, malas, laksana Pak Ogah dalam film seri ‘Unyil’ Tipologi manusia ‘Pak Ogah’ adalah manusia sampah tak berguna yang lebih rendah derajatnya daripada binatang ternak. Demikian Allah berfirman:

Artinya
Atau kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami, mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak ini. Q.S. al-Furqan/25 : 44).

Dengan demikian secara syar’i dalam Islam tidak membenarkan umat manusia ini bodoh, malas, berderajat rendah, dan melankolis (memelas).” Islam mencitakan: ‘al-Islamu ya’lu wala yu’la ‘alaih’ (Islam itu tinggi dan tidak boleh ada yang melebihi tingginya).
Dalam kaitannya perubahan takdir atau nasib masa depan supaya lebih baik dari sekarang, Abdullah Ibnu Umar berdoa yang doanya itu kemudian direkomendasi oleh Rasulullah. Doanya adalah demikian:
اللهم إن كنت كتبنى سقيا فامحونى واكتبتى سعيدا
Artinya: Ya Alah, jika Engkau menetapkan kepadaku dengan ketetapan susah, maka hapuskan untukku dan tetapkan aku dengan ketetapan bahagia (Fatchurrahman, 1979:31).
Doa itu dilakukan oleh Abdullah bin Umar setelah beliau mendengar sabda Rasulullah demikian:

إن الدعاء والبلاء بين السماء والارض يقتتلان ويدفع الدعاء البلاء قبل ان
ينزل (رواه الترمذى)
Artinya: Sesungguhnya doa dan bencana itu berada diantara bumi dan langit. Keduanya saling berperang. Doa akan menolak bencana sebelum turun ke bumi.
Hadis ini mengandung pengertian bahwa jika berdoa yang baik-baik seperti selamat, beruntung, bahagia, bencana yang telah terencana dari langit tidak jadi mengenai orang-orang yang berdoa tersebut. Tentunya, doa dimaksud disertai dengan usaha keras, gigih, sistematis, dan ulet. Usaha keras tersebut haikatnya adalah doa karena di balik usaha keras adalah harapan. Harapan secara syar’i  identik dengan doa.
Selanjutnya Rasulullah menjelaskan bahwa sedekah dan sillaturrahin itu bisa merubah ketentuan sial menjadi ketentuan beruntung. Demikian Beliau bersabda:
إن الصدقة وصلة الرحم تدفع ميتة السوء وتقلبه السعادة
Artinya: Bahwa sedekah dan sillaturrahmi itu dapat menolak kejelekan-kejelekan dan membalikkannya menjadi kebahagiaan (Fatchurrahman, 1979:32-33).
Cara berpikir demikianlah yang dimaksud bahwa ketetapan dalam rahim bagi seorang calon manusia merupakan ketetapan tentatif, yaitu ketetapan yang bukan final dari Allah, melainkan merupakan ketetapan yang memberikan peluang perubahan ketetapan. Perubahan itu diberikan kepada manusia untuk merubahnya sendiri, Allah hanya memberikan petunjuk, memberi kemudahan, merekomendasi, selanjutnya menetapkan dengan ketetapan yang baru sesuai dengan kehendak manusia itu sendiri.
Dari proses panjang kejadian manusia ini dapat diikhtisarkan kembali sebagai berikut:
1.    shalshal (tanah kering/tembikar) bersifat kering, padat, keras.
2.    turab (tanah, debu) bersifat kering, terurai, lunak.
3.    thin (tanah lumpur) bersifat basah, terdiri dari dua unsur: tanah dan air dan kandungan air masih minor.
4.    ath-thin al-lazib (tanah liat) bersifat perpaduan unsur tanah, air, unsur lekat sehingga bisa menempel pada sesuatu, unsur cair agak dominan.
5.    al-H}ama’ (tanah liat yag menghitam dan akhirnya hitam ), unsur air cukup dominan.
6.    Unsur tanah dianulir dalam proses selanjutnya
7.    al-Ma>’ (zat cair), seluruh makhluk hidup berasal dari zat cair, unsur tanah telah hilang.
8.    al-Ma>’  (zat cair), makhluk dabbah (merayap/bergerak dengan perut, kaki 2 atau lebih ) berasal dari zat cair.
9.    al-Ma>’ (zat cair), yaitu dabbah berkaki 2 dan berjalan secara tegak berasal dari zat cair.
10.    Main mahin (saripati air yang hina) yang keluar dari tempat keluarnya air kencing, yaitu kelamin dua kali. Pertama dari bapak, dan kedua dari Ibu.
11.    Ma>in dafiq (saripati air yang terpancarkan baik dari laki-laki maupun perempuan).
12.    nuthfah (sperma/air mani dari laki-laki).
13.    nuthfah fi qara>rim maki>n (air mani yang tersimpan dalam rahim ibu).
14.    nuthfatun amsajj (air mani yang membentuk embrio, tahap zygota.
15.    al-‘alaq (sesuatu yang melekat) berbentuk panjang, karakternya menghisap, dan lama-lama membesar.
16.    muthghah (segumpal daging)
17.    i‘dham (tulang)
18.    i’dham kusia bi al-lahm (tulang dibalut dengan daging)
19.    Peniupan ruh  pada janin (tahap l8 di atas)
20.    Penentuan takdir 5 perkara: Mati, hidup, rezeki, bahagia, dan kesusahan.
21.    Dilengkapi dengan pendengaran, penglihatan, dan hati sanubari
22.    Dilengkapi dengan jenis kelamin laki-laki atau perempuan.
23.    Terjadilah spisies manusia yang sempurna dan lahir ke dunia.
D.  Merawat janin dan Ibu Hamil
Islam, dalam hal ini Alquran maupun as-sunnah ash-shahihah tidak menjelaskan secara detail tentang perawatan ibu hamil maupun janin dalam kandungan. Aturan bagi keduanya berlaku secara umum, antara lain makan dan minum yang h}alalan thayyiban  (Q.S. al-Baqarah/2 : 168 – halal, baik, bersih, dan sehat), tidak boleh berlebihan (Q.S. al-A’raf/7 : 31), baik dalam arti terlalu kenyang atau over dosis kandungan gizi yang dikonsumsi supaya tidak terlalu gemuk bagi ibu maupun janin dalam kandungan sehingga menyulitkan proses kelahiran. Badan diusahakan selalu bersih (Q.S. al-Baqarah/2 : 222, at-Taubah/9 : 32), baik dengan mencuci muka, mandi, atau yang lain, termasuk menyikat gigi secara teratur; berpakaian yang bersih dan pantas, dan tetap menutup aurat (Q.S. al-A’raf/7 : 32); di siang hari supaya tidur sebagaimana anjuran Rasulullah yaitu qailulah (tidur secukupnya/sebentar); dilarang memakan yang haram, demikian juga minuman keras. Dalam hal ini Rasulullah bersabda: “Kullu muskirin khamrun wakullu muskirin haramun” (semua yang memabukkan itu adalah khamr dan semua yang memabukkan itu haram (H.R. Muslim, II,[t.th.] : 200).
Keseluran norma Islam tentang perangai hidup, makan, minum, istirahat siang secukupnya yang berlaku secara umum, inklusif bagi ibu hamil terbuktikan benar sepenuhnya menurut teori dan praktik secara ilmiah dalam ‘Ilmu Keperawatan (Hamilton, l989 : 14,83,84).
Sikap bapak/suami terhadap ibu hamil berlaku sebagimana biasanya, yaitu suami senantiasa ber-mu’asyarah (pergaulan sehari-hari) secara baik (ma’ruf). Istri yang hamil tetap hormat dan taat kepada suaminya; suami tetap sayang pada istrinya. Keduanya tetap dalam keadaan di luar hamil, dalam arti saling mencintai dan menyayangi. Dalam hal ini Allah berfirman:
Artinya
Dan dantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang, sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir (Q.S. ar-Rum/30/21).
Ajaran Islam ini ternyata terbuktikan benar secara ilmiah, yaitu menurut ‘Ilmu Keperawatan’, bahwa di usia kehamilan, istri maupun suami perlu dirawat juga (Hamilton,l989 : 69). Salah satu perawatan terhadap suami, kehidupan seks supaya tetap normal-normal saja (hamilton, l989 : 83) sehingga suami tidak mempunyai lamunan-lamunan untuk selingkuh. Hanya caranya saja yang perlu disesuaikan dengan keadaan hamil sehingga istri tidak merasa terobjektifasi atau tereksploitasi, melainkan kedua belah pihak merasa saling membutuhkan dan kesehatan janin dalam rahim tetap terpelihara.
Di saat istri  hamil, justru dianjurkan banyak melakukan sujud dan ruku’, sudah barang tentu dilandasi dengan doa dan ibadah. Dalam hal ini Alah berfirman:
Artinya
Hai, Maryam taatilah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku’lah bersama dengan orang-orang yang ruku’ (Q.S. Ali Imran/3 ; 43).

Anjuran ruku’ dan sujut ini ternyata juga terbuktikan benar secara ilmiah menurut disiplin ‘Ilmu Keperawatan’, yaitu supaya berolah raga menurut porsi orang hamil, yaitu senam hamil (Hamilton, l989 : 84), yang salah satu teknis peragaannya seperti gerakan ruku’ maupun sujud, bahkan dua posisi ini cukup dominan dalam praktik senam hamil.
Secara medis mengharuskan kultur masyarakat juga ikut merawat kesehatan bagi keluarga yang istri/ibu sedang menjalani kehamilan. Karena itu bancaan dalam bahasa Jawa adalah salah satu bentuk sedekah untuk menolak bala’ (malapetaka) atau fitnah sosial dapat dilaksanakan sepanjang tidak sampai pada praktik khurafat dan syirik. Tetangga yang diberi sedekahan tentu berterimakasih. Salah satu wujud terimakasih mereka adalah mendoakan supaya ibu dan anaknya senantiasa selamat. Keluarga itu dikaruniai kesehatan, keselamatan, dan kemurahan rezeki oleh Allah. Doa orang banyak tentu lebih ijabah dibanding doa hanya sendirian. Logikanya semakin banyak orang mendoakan kepadanya berpeluang semakin terkabulnya sebuah doa. Dalam hadis-hadis Nabi disebutkan kalau seseorang yang sudah meninggal disalati oleh 100 orang ia akan terampuni, artinya sangat maqbul doa itu. Untuk itu cara doa kepada orang yang sudah meninggal itu bisa diterapkan untuk doa orang yang lagi hamil. Agar ibu hamil didoakan oleh orang lebih banyak, sebut saja lebih dari 100 orang, maka ia harus lebih banyak dalam bersedekah.inilah yang dimaksud bahwa masyarakat harus juga dirawat.
E.  Merawat Persalinan
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar dalam persalinan ibu tidak terlalu berkesulitan.
1.    Ketengan/Keamanan
Prioritas utama perawatan saat persalinan adalah kebersihan dan keamanan (Hmilton, 2003 : 16). Jauh sebelum itu, Islam menjelaskan bahwa dalam semua amal perbuatan termasuk wanita yang hendak melahirkan supaya diciptakan kondisi bersih dan aman, baik keamanan fisik maupun jiwa, tidak boleh cemas, takut, gugup, apalagi putus asa dari rahmat Allah. Mengenai hal ini Allah berfirman:
Artinya
. . .Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum kafir ( Q.S. Yusuf/12 : 87).

Mengenai tidak boleh gugup, cemas, takut, dan berkecil hati, Rasulullah menuntun doa kepada kita supaya baik yang bersalin maupun yang merawat (tim yang menangani persalinan: dokter, bidan, perawat, analisator kesehatan, farmakolog, maupun unsur lain) menjadi sabar, tabah, tawakkal, yang akhirnya justru membangkitkan semangat atas izin Allah. Demikian doanya:
اللهم إنى اعوذبك  من العجز  والكسل  والجبن  والهرم  واعوذبك من عذاب  القبر واعوذبك من فتنة  المحيا والممات  (رواه  البخارى  عن  انس بن مالك)
Artinya
Ya Tuhan kami, aku mohon perlindungan-Mu dari kelemahan dan malas, penakut, dan sangat tua. Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah hidup dan mati (H.R. al-Bukhari dari Anas bin Malik. Dalam ‘Abd al-Baqi,II [t.th.]: 1028).

Pada saat proses pesalinan berlangsung, hendaklah perawat atau tenaga medis lainnya (dokter, dukun bayi, bidan atau yang lain) menuntun doa sabar dan optimisme kepada ibu sebagai berikut:
حسبنا الله ونعم الوكيل على الله توكلت (رواه الترمذى)
Artinya
Ya Allah Dzat yang mencukupi dan sebaik-baik melindungi aku. Hanya kepada Engkaulah ya Allah aku berserah diri (H.R. at-Turmuzi).

Jika persalinan selesai dilaksakan, sambil merawat sebagaimana mestinya menurut ilmu medis, jika anak yang dilahirkan cacat, supaya dituntun doa:
قدر الله وما شاء فعل (رواه مسلم)
Artinya
Allah telah menakdirkan apa yang dikehndaki-Nya, maka berlakulah (H.R. Muslim).

Jika bayi yang dilahirkan meninggal tuntunan doa untuk yang melahirkan adalah:
إنا لله وإنا  إليه راجعون اجرنى فى مصبتى واخلفلى خيرا منها (رواه مسلم)
Artinya:
Sesungguhnya kami ini kepunyaan Allah dan kepada-Nya kami kembali. Ya Allah berilah pahala dari musibah yang aku hadapi dan berilah pengganti dengan  yang lebih baik ( H.R. Muslim).

Jika yang dilahirkan selamat, tuntunan doa bagi siibu oleh para tenaga medis, termasuk yang merawatnya adalah :
اعوذ بكلمات الله ا لتمة من كل شيطان وهامة من كل  عين لامة  (رواه البخاري)
Artinya
Dengan kalimat-Mu yang sempurna hamba mohon perlindungan dari semua syaitan dan binatang yang berbisa dan juga pandangan mata yang jahat (H.R. Muslim).

Aneka macam doa ini menandakan bahwa dalam semua keadaan baik yang sedang mengalami persalinan maupun yang menanganinya dituntut senantiasa memiliki kesadaran transendensi ilahiyah. Inilah yang membedakan antara tenaga profesional medika yang sekuler dengan yang Islami. Kita sebagai seorang muslim dalam menjalani profesi medika, termasuk keperawatan harus berpola islami dan jauh dari sikap sekularistik, sehingga aktifitas profesionalnya bernilai ibadah.
2.    Menjaga Kebersihan
Islam tidak mentoleransi sedikitpun keadaan jorok dan kotor. Di tempat yang secara umum dianggap kotor pun seperti kakus (wc) Rasulullah menekankan supaya tetap bersih. Begitu sungguh-sunggunya  beliau dalam menekankan kebersihan di tempat yang biasa kotor ini menjadi tuntunan doa bagi kaum muslimin supaya tetap bersih kakusnya. Kakusnya saja supaya tetap bersih, apalagi tempat-tempat lain di luar kakus
اللهم إنى اعوذبك من الخبس وا لخبائس (رواه الترمذى)
Artinya: Ya Allah aku mohon perlindungan kepada-Mu dari berbagai macam kotoran / syaitan laki-laki atau syaitan perempuan.(syaitan ini adalah syaitan kotoran. H.R. at-Turmuzi).
Perlu ditegaskan di sini bahwa makna asal ‘khubsun’ adalah kotor. Kemudian secara praktis dimaknai syetan jantan dan kata ‘khabaits’ dimaknai syetan betina, yang semestinya bermakna berbagai macam kotoran. Pengertian kata ‘khubsun’ dan kata ‘khabaits’ dengan makna syetan betina diwarisi secara salah kaprah dari generasi ke generasi.
Menurut Rasulullah, dan ini telah menjadi pandangan hidup setiap muslim, bahwa bersih itu adalah bagian dari iman (an-nadhafatu min al-iman). Implikasi hadis ini dalam kontek merawat pesalinan baik yang sedang bersalin maupun yang tim yang menanganinya bukan semata-mata mencari rezeki atas dasar profesionalitas, melainkan pelaksanaan iman dalam diri  untuk membantu keselamatan, kebersihan, keamanan, dan kesehatan ibu bersalin maupun bayi yang baru lahir.
3.    Merawat Bayi
a.    Azan dan Iqamah
Setelah bayi dibersihkan dari kotoran yang melekat dalam tubuhnya dan diberi berpakaian, perawat segera menganjurkan kepada orang tua si bayi, utamanya bapaknya,  melakukan azan pada telinga bagian kanan dan iqamah pada telinga kiri dengan suara yang halus. Dalam hal ini Rasulullah bersabda:
من ولد له مولود فاذن فى اذنه اليمنى واقام فى اذنه ا ليسرى لم تضره ام الصبيان (رواه احمد والترمذى عن الحسين بن على)
Artinya
Barang siapa melahirkan anak, (dan) anak yang dilahirkan itu  diazani pada telinga kanan dan iqamah pada telinga kiri, maka tidak ada yang membahayakan kepada si ibu anak (H.R. Ahmad dan at-Turmuzi dari Husain bin Ali).

Sangat mungkin bapak si bayi tidak mengetahui syariat azan dan iqamah untuk bayi yang baru dilahirkan ini, atau mengetahuinya tetapi karena begitu bergemnbiranya sehingga ia lupa terhadap kewajiban melakukan azan dan iqamah bagi anaknya, atau kecewa karena anak yang baru lahir ini tidak sesuai dengan harapannya misalnya mengharapkan anak laki-laki tetapi lahir perempuan atau sebaliknya. Maka, kewajiban bagi tenaga medis, termasuk perawat, melakukan azan dan iqamah tersebut karena selain sebagai perawat dia adalah juga seorang muslim yang berkewajiban berdakwah. Bentuk dakwah satu-satunya yang paling monumental dalam keadaan ini adalah melakukan azan dan iqamah untuk si bayi.
Essensi azan dan iqamah bagi si bayi yang baru dilahirkan adalah memperkenalkan kalimat pertama yang ia dengar di dunianya yang baru adalah kalimah tauhid dan ajakan berbuat kebajikan. Harapan selanjutnya adalah ketika nanti dewasa menjadi muslim yang taat beragama dan menjauhi perbuatan-perbuatan buruk.
Implikasi dari ajaran azan dan iqamah bagi bayi yang baru saja dilahirkan tidak boleh diperdengarkan selain kalimat-kalimat dalam dua formula itu. Memperdengarkan suara music ndangdut, klenengan, degung, atau music-musik merdu ukuran local-lokal tertentu harus disebutnya sebagai perbuatan keji sebagai penistaan terhadap bayi, lebih nista lagi terkutuk kalau syair dalam musik itu berbau porno.
b.    Memberi Hanak  dan Berdoa
Setelah selesai melakukan azan dan iqamah supaya bibir si bayi diolesi – sedikit saja – madu murni atau kurma, berkualitas bagus dan steril dari zat-zat perusak: bakteri, kuman, parasut, pewarna, pengawet, dan ajino moto, atau zat berbahaya lainnya. Hal ini didasarkan pada hadis Nabi sebagai berikut:
عن ابى  موسى  الاشعرى  رضىى لله عنه  قال ولد لى غلام  فاتيت به  النبي صلى الله عليه وسلم فسماه ابراهيم وحنكه بتمرة ودعا له بالبركة (رواه البخارى)
Artinya
Dari Abu Musa al-Asy’ari, mudah-mudahan Allah meridainya, berkata: Aku punya anak (yang baru lahir), kemudian aku sowankan kepada Nabi saw., maka beliau memberi nama kepadanya ‘Ibrahim’, kemudian meng-hanaqi-nya, dan berdoa barakah untuknya (H.R. al-Bukhari).

Setelah di hanak supaya si bayi didoakan dengan doa barakah, minimal demikian; “Allahumma barik laka”( Ya Allah, berkahilah engkau (anak).
c.    Pemberian Nama
Perawat bisa memberikan penyuluhan tentang pemberian nama terhadap bayi kepada orang tuanya jika memungkinkan. Rasulullah menganjurkan tentang pemberian nama sebagai berikut:
إنكم تدعون يوم القيامة باسماء ابيكم واسماء ابائكم فاحسنوا اسمائكم (رواه الترمذى عن ابى درداء)
Artinya
Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil besok pada hari kiayamat dengan nama bapakmu dari nama bapakmu, maka perbaikilah namamu (H.R. at-Turmu`i dari Abi Darda’
Nama-nama baik bagi anak laki-laki berdasarkan urutan kebaikan menurut sabda-sabda Rasulullah adalah sebagai berikut: (1) Abdullah, (2) Abdurrahman, (3) Abdurrahim, (4) Muhammad, (5) Ahmad, (6) Nama-nama  Nabi dan Rasul, (7) Nama-nama Malaikat, dan (8) nama-nama lokal (‘ajam) yang memiliki kandungan makna yang baik, umpama nama lokal Jawa ‘Suharto’. ‘Su’ berarti baik, dan ‘Harto’ berarti harta kekayaan. Harta kekayaan yang baik mengandung makna: (1) niat dalam mencari harta baik, (2) cara yang ditempuh dalam memperolehnya baik, (3) sesuatu yang diperolehnya berkualitas baik, (4) di dalam membelanjakannya juga baik, (5) berakibat baik dalam pemakain harta sehingga terthindar dari bala’, inilah yang dinamakan rizqun h}ala>lan thayyiban.
Kombinasi nama Arab dan lokal juga baik asal mengandung arti atau harapan baik, umpama ‘Muhammad Bronto Utomo’.’Muhammad’ berarti ‘orang yang terpuji’, ‘Bronto’ berarti ‘hasrat yang amat kuat’, dan ‘Utomo’ berarti ‘keutamaan’. Jadi ‘Muhammad Bronto Utomo’ berarti ‘ ia memiliki hasrat yang amat kuat untuk berbuat sesuatu yang utama sehingga menjadi orang yang terpuji’.
Khusus bagi wanita, prioritas utama nama-nama baik adalah nama-nama keluarga Rasulullah umpama Fathimah, Khafshah, Zainab, dan ‘Aisyah; selanjutnya nama-nama sesuai urutan nama-nama yang ada pada laki-laki, umpama Mahmud (laki-laki-muzakkar) menjadi mahmudah. Adam (muzakkar) menjadi Adamah (perempuan-muannats). Abdul Karim (laki-laki) menjadi Abul Karimah (perempuan) dan seterusnya. Selanjutnya nama-nama lokal yang memiliki kandungan makna yang baik, umpama dalam tradisi Jawa ‘Suprapti’. ‘Su’ berarti ‘baik’, dan Prapti’ berarti ‘datang’. Jadi ‘Suprapti berarti “setiap datang di manapun ia selalu membawa berita baik, mengakibatkan baik pada diri maupun yang didatangi, atau ia selalu diliputi dengan kebaikan. Kombinasi nama Arab dan lokal juga baik asal tetap mengandung makna baik
Dalam pemberian nama yang bersifat netral, umpama nama bulan seperti Aprilia karena anak lahir pada bulan April, nama hari seperti Kliwon, nama berkenaan dengan peristiwa yang dianggap monumental umpama ‘Ngili bersih’, yaitu anak lahir pada saat orang tua mengungsi segera setelah anak dibersihkan  karena peristiwa perang, kurang dianjurkan karena tidak memiliki kandungan makna yang baik.
Selain yang disebut di atas termasuk kategori nama jelek. Islam tidak menganut falsafah “Apalah arti sebuah nama” sebagaimana yang dianut oleh orang-orang Barat, sehingga buat mereka tidak ada masalah memberi nama manusia sama dengan memberi nama pada binatang. Memberi nama pada binatang piaraannya, umpama monyet, tikus putih, kucing, anjing dengan nama Jibril jelas jelek sekali dan menodai perasaan agama umat Islam. Sementara itu, nama ‘margaret’ untuk manusia maupun anjing piaraan tidak bermasalah bagi orang-orang Barat.
Nama-nama yang paling jelek menurut Islam adalah nama-nama yang kandungan artinya menandingi nama-nama Allah atau kekuasan-Nya, umpama memberi nama anaknya: ar-Rahman, ar-Rahim, al-Malik al-Amlak Temasuk nama-nama yang amat jelek, bahkan simbol kemusyrikan adalah nama-nama penghambaan kepada selain Allah, umpama Abdul Isa, Abdul Manaf, dan Abdul Qulub. Nama-nama binatang untuk nama manusia termasuk nama yang tidak baik, umpama ‘Domba Utama’, ‘Lembu Perkasa’, dan ‘Singo Sakti’.Nama-nama yang mengandung arti porno juga tidak baik, umpama ‘Parjan’, artinya secara praktis adalah lubang dan yang dimaksud adalah kelamin wanita. Memberi nama anak laki-laki dengan nama perempuan atau sebaliknya juga termasuk nama-nama yang tidak baik karena akan mempengaruhi kejiwaan anak di kemudian harinya. Menamai anak dengan perabot rumah tangga seperti siwur (cibuk untuk mandi), kran, cowek (medan untuk menyambal), kuwali (periuk) jelas merupakan nama yang sangat jelek, mengingat manusia adalah makhluk yang di mulyakan oleh Allah. Demikian firmannya
Artinya:
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lauta, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan (QS. Al-Isra’/17 : 70).

Untuk itulah kita tidak boleh menyamakan derajat manusia dengan alat-alat yang dipakai oleh manusia.
d.    Memintakan Doa Barakah Kepada Ulama
Akan memiliki keutamaan jika perawat menyarankan kepada kedua orang tua anaknya supaya membawa anaknya bersilaturrahmi kepada ulama, kiyai yang ikhlas untuk meminta doa mereka bagi kebaikan anaknya. Pada zaman Nabi saw. cara ini telah membudaya. Abu Musa mempunyai anak disowankan kepada Rasulullah, kemudian beliau mendoakan kepada anaknya dengan doa barokah.
e.    Menyusui Selama Dua Tahun
Terutama kepada ibu muda dan baru melahirkan yang pertama, perawat atau tenaga medis lainnya yang menanganinya supaya menganjurkan kepadanya untuk menyusui bayinya selama dua tahun penuh. Dalam hal ini Allah berfirman.

Artinya:
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (Q.S. al-Baqarah/2 : 233).

Menyusui dua tahun penuh bagi ibu terhadap anaknya memiliki manfaat cukup banyak. (1) Kesibukan Ibu tidak terkuras habis atau terforsir jika dibandingkan dengan ibu yang memiliki anak sundulan (anak masih menyusu ibunya tetapi sudah hamil lagi). (2). Kesehatan anak lebih bagus karena makanan asi lebih tercurah kepadanya dibanding dengan adiknya yang masih dalam kandungan, (3) Kesehatan Ibu juga lebih bagus dibanding ia harus melayani suami, merawat kehamilan, dan merawat anaknya yang masih menyusui, (4) Secara tidak langsung mengikuti program KB (Keluarga Nerencana), dan (5) tentunya secara ekonomis lebih teratur, hemat dibanding terlalu banyak anak-anak sundulan  yang semuanya membutuhkan makan dan berarti lebih boros.
f.    ‘Aqiqah
Termasuk keutamaan jika perawat menganjurkan supaya (1) orang tua anak melakukan ‘aqiqah pada hari ke tujuh dari kelahirannya. Untuk anak perempuan satu ekor kambing, dan untuk anak laki-laki kalau bisa dua ekor kambing, dan jika tidak bisa juga cukup satu ekor kambing saja, (2) mengumumkan secara resmi nama anaknya disertai penjelasan arti nama yang dipilihnya. Biasanya pengumuman resmi ini berlangsung dalam upacara tasmiyyah-an (secara literal berarti memberi nama kepada anak). (3) mencukur rambut si anak pada acara ‘aqiqah. Cara ini adalah ittiba’(mengikuti tradisi) Rasulullah.
Essensi menyembelih hewan untuk ‘aqiqah adalah izhar asy-syukur (menyatakan rasa syukur) kepada Allah karena memperoleh amanah dan anugerah dari-Nya. Ketika menyembelih hewan ‘aqiqah untuk anaknya, doanya harus eksplisit. Seandainya nama anak adalah ‘Lalailatul Badriyah’ (secara literal berarti malam purnama) anak Mahmud dan Rabi’ah,  maka doanya adalah sebagai berikut:
بسم الله اللهم منك واليك عقيقة ليلة البدرية بنت محمود و رابعة  الله اكبر الله اكبر الله ا كبر
Artinya
Dengan nama Allah, ya Tuhan kami, dari-Mu dan kepada-Mu ‘aqiqah Lailatul Badriyyah binti Mahmud dan Rabi’ah ; Allah maha Besar, Allah Maha Besar, Allah maha Besar.

Hendaklah disadari bahwa anak yang lahir itu laksana barang yang digadaikan. Untuk memilikinya secara penuh orang tua harus melakukan ‘aqiqah untuk nya. Dalam hal ini Rasulullah bersabda:
كل غلام رهينة بعقيقته تذبح عنه بوم سابعه ويحلق ويسمى (رواه الترمذى عن سمرة)
Artinya
Setiap anak adalah gadaian (yang tebusannya) dengan ‘aqiqah, yaitu menyembelih untuk nya pada hari ketujuh dan memberi nama kepadanya (H.R. at-Turmuzi dari Samurah).

Jika sejak dini sudah diperhatikan secara seksama mengenai syariat Islam untuk kelahiran anak, memiliki peluang lebih besar  perawatan anak tersebut  hingga dewasa juga didasarkan pada syariat dibanding dengan anak yang diasuh kurang memperhatikan syariat di usia masa ‘aqiqah. Bayi yang tidak diupacarai ‘aqiqah memiliki peluang lebih besar pada usia remaja hingga tuanya menjadi orang yang ‘uquq (durhaka), yaitu ‘uqu>q al-wa>lidain (durhaka kepada kedua orang tua) dibanding dengan anak yang diupacarai ‘aqiqah di usia ‘aqiqah-nya. Sebaliknya, anak yang diupacarai ‘aqiqah memiliki peluang lebih besar untuk menjadi orang yang ‘aqiq (permata hati) bagi kedua orang tuanya dibanding dengan anak yang tidak diupacarai ‘aqiqah.
Diantara bentuk durhaka anak karena tidak di-‘aqiqah-i sebagaimana sabda Rasul adalah anak itu akhirnya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi:
ما من  مولود  إلا  يولد على  الفطرة  فابواه  يهودانه  ا و ينصرانه  او يمجسانه كما تنتج ا لبهيمة  بهيمة جمعاء هل  تحسنون فيها  من جدعاء (متفق عليه)
Artinya
Tiada bayi yang dilahirkan melainkan lahir di atas fitrah, maka kedua orang tuanya yang menjadikannya ia yahudi, Nasrani, atau Majusi sebagai lahirnya binatang yang lengkap sempurna. Apakah bagus binatang yang lahir dengan putus telinganya ? (H.R. Muttfaq ‘alaih).

Maksud hadis ini, jika anak lahir dididik secara benar, maka ibarat  binatang, ia lahir dengan sempurna tanpa cacat. Jika dididik secara tidak benar, maka ibarat binatang, ia lahir dengan cacat, bisa cacat fisik, cacat mental, dan cacat aqidah. Bahkan yang terakhir ini bukan hanya cacat melainkan aqidah batal.
Bentuk-bentuk durhaka lain adalah kafir (atheisme) dan M.5 (dalam bahasa Jawa dikenal mo limo), (l) madad (mabuk-mabukan), (2) minum (minum-minuman keras), (3) madon (suka berzina atau selingkuh), (4) maling (mencuri), (5) main (berjudi). Sudah barang pasti, premanisme termasuk durhaka dan termasuk  kategori M.5 karena perangai mereka adalah M.5 tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an al-Karim
‘Abd al-Baqi, Ahmad Fuad, [t.th.], al-Lu’lu’ wa al-Marjan.II (trans.)Salim Bahreisy. Surabaya: Bina Ilmu
. . . . . . [t.th.], Mu’jam Mufahras li Alfaz al-Qur’an al-Karim. Indonesia: Maktabah Dahlan.
Dougall, Jane Mac. 2003, Kehamilan Minggu Demi Minggu (trans.) Nina Irawati. Jakarta: [t.p.].
Fatchurrahman, l979, al-Haditsun Nabawy, I,  Kudus: Menara Kudus.
Esposito, John L., 2001, Insiklopedi Dunia Islam Modern,III. Jakarta: Mizan.
Hamilton, Persis Mary, 1989, Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas  (trans.) Ni Luh Gede Yasmin Asih. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGL.
Hawari, dadang, 1997, al-Qur’an: Ilmu Kedokterfan Jiwa dan Ilmu KesehatanJiwa. Jakarta: Dana Bhakti Prima Yasa.
Munawwir, Ahmad Warsoon, 1984, Kamus Al-Munawwir: Arab-Indonesia Terlengkap: Yogyakarta: Krapyak Yogyakarta.
Sutomo, Adi Heru (trans.), 1988, Perawatan Ibu dan Bayi: Pedoman Praktis. Jakarta: Buku Kedoktertan EGL.
At-Turmuzi, Abi ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin ash-Shurah, [t.th.], Sunan at-Turmuzi: al-Jami’ ash-Shah}ih, Indonesia: Thaha Putra Semarang
www.suaramedia.com

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Merancang Keturunan yang Baik, Sehat, dan Halal

Oleh: M. Danusiri

Sasaran Belajar
Setelah membaca bab ini mahasiswa diharapkan:
1.    Dapat menjelaskan dan menjelaskan bahwa kehidupan seks adalah sunatullah.
2.    Dapat menjelaskan dan menjelaskan tentang kehidupan seksual yang benar dan sehat.
3.    Dapat menjelaskan dan menjelaskan tentang kehidupan seks yang salah dan tidak sehat dengan berbagai dampaknya.
4.    Bersikap positif terhadap hal-hal yang berkenaan dengan kehidupan seks yang benar dan sehat.
5.    Bersikap negatif terhadap hal-hal yang berkenaan dengan kehidupan seks yang salah dan tidak sehat.
6.    Pada saatnya berapresiasi terhadap kehidupan seksual yang benar dan sehat.

A.  Kehidupan Seksual sebagai Sunnatullah.
Dapat dijelaskan bahwa sunnatullah mengandung arti: 1) Hukum-hukum Allah yang disampaikan untuk umat manusia melalui para Rasul. 2) Undang-undang keagamaan yang ditetapkan oleh Allah yang termaktub di Al Qur’an. 3) Hukum kejadian dsb) alam berjalan secara tetap dan otomatis (Kamus Besar,1990:869) atas dasar kehendak Allah.
Dari penjelasan tentang sunatullah di atas dapat dicontohkan berkenaan dengan definisi pertama. 1) Istri yang menolak melayani suami padahal tidak  uzur maka ia (istri) akan dilaknat oleh malaikat, adalah sebuah sunnatullah karena hal tersebut merupakan sabda rasulullah saw. secara prinsip sabda rasulullah adalah juga wahyu. Allah berfirman
وما ينتق عن الهوى ان هو الا وحي يوحى (القران سرة النجم : 3- 4)
Artinya: dan tiadalah yang diucapkannya itu (Alquran) menurut kemauan hawa nafsu. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan  (kepadanya – Q.S. an-Najm/53: 3-4).

Demikian sabda Rasulullah yang dimaksud:
اذا دعا الرجل امراةته الى فراشه فلم تاء ته فبا ت غضبا ن عليها لعنتها الملئكة حتى تصبح (متفق عليه)
….Apabila suami mengundang istrinya ketempat tidur sedang ia tidak memenuhinya maka laknat Malaikat atas perempuan itu sejak ia menolak ajakan itu hingga subuh – H.Mutafaq ‘alaih (an-Nawawi, [t.th.]: 152).

Sebaliknya nafaqah  seorang suami untuk istri dan anaknya, keutamaanya jauh lebih besar dibanding diinfakkan  Kepada yang lain. Demikian sabda Rasullulah saw
د ينار انفقته فى سبيل الله ود ينا ر انفقته فى رقبة  ودينا ر تصد قت به على مسكين ود ينا ر انفقته على اهلك ااعظمها اجرا الذى انفقته علة اهلك (رواه مسلم عن ابى هريره)
Artinya:
Satu dinar engkau nafkahkan ke jalan Allah, satu dinar engkau nafkahkan kepada budak, satu dinar engkau sedekahkan kepada orang miskin, satu dinar engkau nafkahkan kepada keluargamu (istri dan anak), yang paling besar pahalanya adalah dinar yang engkau nafkahkan kepada keluargamu – H.R. Muslim dari Abi Hurairah (an-Nawawi, [t.th.]: 154).

Petunjuk tentang betapa besarnya pahala nafkah pada keluarga dari Rasullulah ini secara prinsip adalah sunnatullah. Termasuk Sunnatullah (undang-undang keagamaan) adalah wanita muslimah kelak akan masuk surga melalui pintu manapun yang ia suka jika saat di dunia ia memiliki karakter 1) Salat fardu yang lima. 2) Puasa Ramadhan. 3) Kesediaan menjaga kemaluan kecuali kepada suami_ tidak selingkuh sama sekali, dan. 4) Taat pada suami dalam hal-hal selain kedurhakaan. Demikian sabeda Nabi:
اذا صليت المراة خمسها وصا مت شهرها وحصنت فرجها واطا عت بعلها د خلت من اي  ا بواب الجنة شا ئت  (رواه احمد عن ابى هريرة )
Artinya:
Apabila wanita mendirikan salatnya yang lima, berpuasa bulan Ramadan, memelihara kemaluannya, dan menaati suaminya, maka dia masuk surga dari pintu-pintu surga mana pun yang dia kehendaki – H.R. Ahmad dari Abi Hurairah (Ibrahim, l994: l84).

Puasa itu wajib adalah berdasar undang-undang keagamaan atau sunnatullah karena perintah itu termaktub di dalam Alquran. Demikian firman Allah
يا ايها الذ ين امنوا كتب عليكم الصيا م كما كتب على الذ ين من قبلكم لعلكم تتقون (سراة البقره  183)
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Q.S.al-Baqarah/2:183).

Apabila hendak melakukan salat supaya berwudu (Q.S. al-Maidah/5: 5) adalah undang-undang keagamaan  (sunnatullah) karena termaktub dalam Alquran. Natur api membakar, air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah, dan  gesekan dua benda keras menumbulkan panas adalah hukum alam atau sunnatullah yang bersifat pasti dan otomatis
Dari contoh-contoh di atas ada kesamaan antara sunnatullah dengan hukum alam atau kedua-duanya identik, tetapi keduanya juga ada perbedaannya. Sunnatullah lebih luas dibanding hukum alam. Hukum alam hanya mengenai kejadian-kejadian alam yang tetap dan otomatis seperti api berkarakter membakar, sedang sunnatullah mencakup mengenai kejadian alam (gejala alam) yang bersifat tetap dan otomatis juga mengandung undang-undang Allah melalui perantara para Rasul, dan undang-undang keagamaan yang termaktub dalam Alquran. Kedua hal yang terakhir tidak tercakup dalam hukum alam. Bahkan sebagian ilmuwan (ilmuwan ateisme) yang berhasil menemukan teori dan akhirnya meningkat menjadi hukum alam bisa ingkar atau tidak mengakui undang-undang keagamaan sebagaimana termaktub dalam kitab suci.
Undang-undang keagamaan, dalam hal ini Alquran, maupun Hadis Nabi saw menjelaskan bahwa nafsu birahi terhadap lawan jenis yang berpuncak pada hubungan seksual adalah sunnatullah. Alquran mengatakan:
زين للنا س حب الشهوا ت من النساء والبنين والقنا طر المقنطرة من الذ هب والفضة والخيل النسو مة والانعام والحرث ذالك متاع الحياة الد نيا والله عنده حسن الما ب
Artinya
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga), Q.S. Ali Imran/3: 14).

Alquran juga menjelaskan bahwa semua yang tumbuh di muka bumi, termasuk manusia dicipta Allah berpasang-pasang, Alah berfirman:
سبحا ن الذى خلق الاز واج كلها مما تنبت الارض ومن انفسهم ومما لا يعلمون
Artinya
Maha suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui (Q.S. Yasin/36:36).

Dalam dunia manusia, pasangan manusia laki-laki adalah manusia perempuan. Dengan demikian, hidup berpasang-pasang atau berjodoh-jodoh adalah sunnatullah, undang-undang Allah, atau pula undang-undang agama Islam.
Rasulullah mengatakan bahwa nikah itu adalah sunnah dari para Rasul. Demikian sabda beliau:
اربع من سنن المر سلين الحياء والتعطر والسواك والنكاح (رواه الترمذى عن سمرة)
Artinya;
Empat perkara termasuk sunnah para Utusan (Rasul), yaitu:malu, wewangian, siwak (gosok gigi), dan nikah (H.R. alt-Turmuzi dari Samurah)

Karena nikah itu sunnah Rasul, maka beliau melarang sahabatnya yang hidup membujang. Larangan itu pada akhirnya berlaku menyeluruh bagi umat Islam. Demikian sabda Nabi saw:
اا ن النبى صلى الله عليه وسلم نهى  عن التبتل (رواه التر مذى عن سمرة)
Artinya:
. . .bahwa Nabi salla-llahu ‘laihi wa sallam melarang hidup membujang (H.R. at-Turmuzi dari Samurah).

Bagi siapa saja dari kaum muslimin yang tetap membujang, pada hal ia mampu menikah, tetapi tidak mau melakukannya, ia tidak diakui sebagi umat Muhammad. Demikian sabda Nabi saw:
فمن رغب عن سنتى فليس منى
Artinya:
. . .Barang siapa tidak menyukai sunnahku, maka ia bukan golonganku . . .

Karena nikah yang salah satu bentuk praktisnya adalah hubungan seksual adalah sunnatullah – dalam arti dianjurkan oleh-Nya – maka siapa pun dengan dalih dan upaya apapun pasti tidak bisa melawan sunnatullah tersebut. Dalam hal ini Allah berfirman:
لهم البشرى فى الحياة الد نيا وفى الاخرة لا تبد يل لكلما ت الله ذا لك هو الفوز العظيم
Artinya:
Bagi mereka berita gembira bag kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat  (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar (Q.S. Yunus/10:64).

Hanyalah omong kosong dan kebohongan besar kalau ada manusia – yang jelas non muslim – untuk menjadi orang terbaik dalam suatu agama justru hidup membujang sebagai orang suci dan mengkhotbahkan kesucian. Di balik lagalitas bujang, ternyata justru bergelimang dengan kehidupan seksual sekuat-kuatnya, dengan cara apapun yang ia mau, dengan siapa pun ia suka, dengan cara apapun ia menghendaki sehingga inses dan sodomi mereka lakukan tanpa merasa berdosa maupun mengkhianati umatnya (Nigel, 2007:1-274) yang jika diukur dari norma agama Islam adalah kehidupan seksual yang paling kotor dan menjijikkan sepanjang sejarah manuisa.
Supaya umat Islam tidak menjalani kehidupan seksual seperti binatang atau orang-orang yang disucikan tetapi paling bobrok dalam kehidupan ini, Rasulullah menganjurkan kepada umatnya segera menikah setelah memiliki kemampuan (nafaqah lahir-batin). Demikian sabda beliau:
يا معشر الشبا ب من استطاع منكم الباء ت فليتز وج فا نه اعض للبصر واخصن للفرج ومن لم يستطع فعليه با الصيا م فانه له وجاء (رواه الجما ععة)
Artinya:
Hai para pemuda, barang siapa yang mampu di antara kamu serta berkeinginan hendak kawin, hendaklah dia kawin. Karena sesungguhnya perkawinan itu akan memejamkan matanya terhadap orang yang tidak halal dilihatnya, dan akan memeliharakannya dari godaan syahwat. Dan barang siapa yang tidak mampu kawin hendaklah ia puasa, karena dengan puasa hawa nafsunya terhadap perempuan akan berkurang  (H.R. al-Jama’ah).

Ungkapan “ aghaddu lil bashar wa ahshanu lil farj  terkandung secara implisit baik laki-laki maupun wanita memiliki bayangan-banyangan  dan khayalan-khayalan tentang berbagai hal berkaitan dengan seks. Konon, remaja kalau sudah jerawatan di wajahnya pertanda ia telah memiliki bayangan dan khayalan tentang seks. Untuk itulah Rasulullah sebagai pemimpin umat mengetahui keadaan ini hingga beliau menghimbau umatnya supaya segera menikah agar khayalan-khayalan tentang seks berkurang karena berganti dengan realisasi-realisasi seksualitas. Beliau sendiri mencontohinya dan melaknat bagi yang membujang yang  mampu untuk menikah.
Hanya saja realisasi hubungan seksual tidak laksana binatang yang hanya berhukum kemauan dan kemampuan mengalahkan pesaingnya dengan kekerasan. Secara naluri pada umunya binatang hanya mengenal lain jenis sebagai pasangan, tidak mengnal muhrim maupun tidak mengenal tempat dan situasi. Tak ada rasa malu ketika hasrat seksual menguasai diri sehingga terlampiaskan di mana saja – yang menurut ukuran manusia tidak mungkin dilaksanakan umpama di tempat terbuka umum, dan keramaian. Perkawinan dalam Islam diatur sangat rumit, sejak meminang, akad nikah, dan kehidupan berkeluarga hingga meninggal salah satu atau keduanya. Alquran menyatakan bahwa perkawinan merupakan perjanjian yang berat. Allah berfirman:
وكيف تاء خذ و نه وقد افضى بعضكم الى بعض وا خذ ن منكم ميثا قا غليظا

Artinya
Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami istri. Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat (Q.S. an-Nisa’/4:21).

Beratnya perjanjian dalam perkawinan sebanding beratnya janji para Rasul untuk menegakkan kalimat  tauhid yang beresiko kematian oleh para penentangnya atau oleh kaumnya sendiri. Isa bin Maryam hendak di bunuh oleh umatnya sendiri, kaum Yahudi, untung saja diselamatkan oleh Allah di-rafa’. Allah berfirman:
بل رفعه الله اليه وكا ن الله عزيزا حكيما
Artinya:
Tetapi (yang sebenarnya) Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Q.S. an-Nisa;/4:l58).

Dengan kerumitan dan beratnya nikah terlihat essensinya bahwa hasrat seksual tidak boleh dibunuh (dipadamkan), karena itu sunnatullah, tetapi juga jangan dibiarkan liar, melainkan dikendalikan dengan berbagai norma, bahkan ditinggikan derajatnya. Perkawinan adalah ibadah dan suci (sakral) sehingga tidak boleh main-main dengan nikah, tidak bereksperimen atau coba-coba.
Dalam kegiatan meminang, kalau seseorang meminang gadis, jadi dilanjutkan ke jenjang berikutnya atau tidak, atau proses peminangan belum nyata-nyata diurungkan, orang lain tidak boleh meminangnya. Demikian sabda Nabi saw:
المؤمن اخو المؤمن فلا يحل للمؤمن يحطب على  حطبت  ا خيه حتى يذر (رواه احمد و مسلم)
Artinya;
Orang mukmin adalah sadara orang mukmin, maka tidak halal bagi seorang mukmin meminang seorang perempuan yang sedang dipinang oleh saudaranya, sehingga nyata sudah ditinggalkan (H.R. Ahmad dan Muslim).

Atas dasar hadis di atas,  Islam hanya membenarkan seorang laki-laki melamar perempuan yang benar-benar kosong (dalam bahasa kontemporer jomblo). Perempuan yang hendak dijadikan jodoh haruslah seiman-tauhid. Nabi bersabda:
اان المراة تنكح على دينها ومالها وجمالها فعليك بذا ت الد ين (رواه مسلم والتر مذى عن جا بر
Artinya:
Sungguh perempuan itu dinikahi oleh karena agamanya, hartanya, dan kecantikannya, maka pilih yang beragama. (HR. Muslim dan at-Turmuzi dari Jabir ).

Perempuan seiman itu masih diseleksi lagi sehingga muncul sederet wanita yang tidak boleh dinikahi, yaitu: (l) ibu dan ibu si ibu (nenek) dari bapak dan seterusnya ke atas, (2) anak dan cucu seterusnya ke bawah, (3) saudara perempuan se bapak se ibu, (4) saudara perempuan se bapak, (5) saudara prempuan se ibu, (6) anak perempuan dari saudara laki-laki dan seterusnya ke bawah, (7) anak perempuan dari saudara perempuan se ibu ke bawah, (8) ibu yang menyusuinya (secara genealogis bisa orang lain tanpa ada ikatan darah), (9) saudara sepersusuan (bukan saudara kandung) se ayah se ibu, sebapak saja, atau se ibu saja, (I0) mertua, (11) anak tiri manakala ibunya telah di-dukhul atau disenggamai, (12)istri dari anak (menantu), (13) istri dari bapak (ibu tiri), (14) saudara ipar (kakak atau adik dari  istri sebapak-seibu, se bapak saja, atau se ibu saja jika di kawin bersama-sama (Soeleman Rasjid, l981:369).
Perempuan yang dapat dinikahi tidak otomatis langsung dapat dinikahi, melainkan harus jelas walinya. Islam memberikan penjelasan siapa saja yang berhak menjadi wali bagi perempuan yang hendak menikah, yaitu: (1) bapaknya, (2) kakek, (3) saudara laki-laki sebapak seibu, (4) saudara laki-laki se bapak,(5) anak laki-laki dari saudara laki-laki se bapak se ibu, (6) anak laki-laki dari saudara laki-laki se bapak, (7) saudara bapak yang laki-laki, (8) anak laki-laki dari paman/pakde pihak bapak, (9) hakim (Soeleman Rasjid, l981:364).
Siapa yang menjadi wali sebagaimana urutan prioritas di atas ada persyaratan internal dalam diri mereka, yaitu wali harus: (1) beragama Islam, (2) baligh, (3) berakal sehat, (4) merdeka/bukan budak, dan  (5) adil (Soeleman Rasjid, l981:364). Syarat perwalian baru gugur jika perempuan yang hendak menikah itu telah menjadi janda.
Setelah persyaratan-persyaratan di atas dipenuhi, bagi laki-laki yang hendak menikahi wanita pilihannya diwajibkan memberi mahar atau mas kawin, boleh berupa uang atau benda. Dalam hal ini Allah berfirman:
واتو النسا ء  صا د قا تهن نحله
Artinya:
. . .Berilah perempuan yang kamu kawini itu suatu pemberian/mahar . . . (Q.S. an-Nisa;/4:4).

Selanjutnya upacara akad nikah dapat dilangsungkan. Pihak yang mesti harus terlibat adalah: calon pengantin perempuan, calon pengantin laki-laki, wali dari perempuan, maskawin dari calon pengantin laki-laki untuk calon istrinya, dan dua orang saksi yang seiman (Islam, baligh, dan berakal sehat). Selebihnya hanya bersifat legal seperti petugas pencatatan nikah dari KUA (Kantor Urusan Agama) dan asesoris yang menambah suasana meriah, khidmad, dan kemegahan. Aneka asesoris baik yang bersifat keindahan maupun upacara-upacara tradisional dan lokal ditoleransi oleh Islam sepanjang tidak menimbulkan takhayyul, bid’ah, khurafat, dan syirik (disingkat menjadi TBC+S) dan tetap konsisten dalam kemurnian tauhid.
Akan sangat utama kalau upacara ijab qabul dilangsungkan di masjid. Nabi saw bersabda: a’linu an-nikaha waja’alu fi al-masajid . . . (umumkanlah pernikahan dan laksanakan di masjid. . . H.R. at-Turmuzi dari ‘Aisyah).
Formula (sighat) akad nikah yang menggambarkan pernyataan  hasrat menikah dari calon mempelai laki-laki dengan mahar diserahkan kepada wali calon penganten perempuan – selanjutnya nanti maskawin itu diserahkan kepada mempelai wanita –  dan kebolehan wali menerima hasrat calon pengantin laki-laki dalam rumusan dialogis adalah – contohnya – sebagai berikut:
Wali          :Aku menikahkan engkau wahai Ahmad Sumarno bin Ahmad Margono dengan anakku Naila binti Ahmad Kosim dengan mahar Seperangkat alat salat, uang sebanyak 200 juta, dan sebidang tanah seluas 500 M.2 berikut bangunan yang ada di atasnya tunai.
Calon penganten laki-laki: Saya terima menikahi saudari Nailah binti Ahmad Kosim dengan maskawin tersebut tunai.
Selesai ijab-qabul kedua calon mempelai menjadi mempelai sah dan resmi sebagai suami istri, pasangan hidup yang salah satunya adalah kehidupan seksual. Karena secara prinsip nikah adalah ibadah dan suci, maka para hadirin yang menyaksikan upacara pernikahan ini supaya mendoakan keduanya dengan kandungan doa barakah. Contoh doa yang diajurkan Nabi saw adalah sebagai berikut:
با رك الله و با رك عليك  وجمع بينكما فى الخير (رواه التر مذى عن ابى هريرة )
Artinya:
Semoga Allah memberkat  dan Dia memberkati kamu, dan mempertemukan  kamu berdua dalam kebaikan (H.R. at-Turmuzi dari Abu Hurairah)

Atau menurut formula Ulama yang semakna dengan hadis Nabi saw di atas :
با رك الله لكما وجمع بينكما فى خير وسعا دة
Artinya:
Berkah Allah atas kamu berdua dan semoga Allah mempertemukan kamu berdua dalam kebaikan dan kebahagiaan.

Atau
اللهم اجمع بينهما فى سعا دة ورخاء اللهم ارزقنا ذ ر ية صالحة  قرة عين لهما وللاسلام وللنا س اجمعين
Artinya;
Ya Allah pertemukan diantara keduanya dalam suasana sejahtera dan gembira. Ya Allah anugerahkan keturunan yang salih-salihat penyenang hati bagi keduanya, Islam, dan bagi manusia semuanya (Tim, 2003:147).

B.  Seksualitas Yang Benar dan Sehat
1.    Kesucian
Bentuk perawatan kehidupan seksualitas adalah pelaksanaan pemenuhan syariat Islam di bidang ini. Jika syariat ini dipenuhi pastilah kegiatan seks itu benar dan sehat. Sebagian perawatan seksualitas terkait dengan norma lain di dalam Islam umpama terkait dengan salat, membaca Alquran, aneka rukun haji, dan i’tikaf di Masjid.Aneka macam ibadah ini mensyariatkan suci tempat, suci pakaian, dan suci badan (sekujur tubuh inklusif alat vital), baik  suci-bersih dari hadas maupun najis. Kalau minimal seorang muslim-muslimah salat lima kali sehari semalam, ia harus berwudu lima kali pula. Di dalam setiap wudu harus harus bersih sekujur tubuh  – inklusif alat vital.Dengan demikian setiap muslim rata-rata minimal membersihkan alat kelaminnya lima kali. Dengan demikian, kapan saja seorang muslim hendak melakukan hubungan seksual dengan pasangan hidupnya yang sah pastilah keduanya dalam keadaan bersih. Akan lebih utama kalau sebelum melakukan hubungan seksual dibersihkan secara khusus, lebih utama lagi kalau dibersihkan pembersih yang dapat menetralisir kuman, basil, virus, atau parasit yang mungkin hinggap pada alat vital. Keutamaan-keutamaan ini  supaya di dasarkan pada pelaksanaan ajaran Islam tentang kesucian: wa-llahu yuhibbu al-mutathahhirin. . .(Allah menyenangi orang yang menyucikan diri – Q.S. at-Taubah/9:l08).
2.    Berdoa
Apabila seorang suami-istri hendak berhubungan, keduanya hendaklah saling berdoa. Doa yang Rasulullah contohkan adalah:
اللهم جنبنا الشيطا ن وجنب الشيطا ن ما ر ز قتنا  (وراه  التر مذى عن ابن عبا س)
Artinya
Ya Allah, jauhkanlah kami dari syaitan, dan jauhkanlah syaitan terhadap rizki yang telah Engkau anugerahkan kepada kami (H.R. at-Turmuzi dari Ibnu ‘Abbas).

Apresiasi kegiatan seks menurut Islam ini tidak semata-mata pelampiasan nafsu birahi, melainkan harus tetap sadar akan eksistensi iman, ingat kepada Allah, bahkan memohon kepada-Nya supaya dijauhkan dari syaitan.
3.    Peragaan
Islam memberikan kebebasan cara yang disenangi dalam melakukan senggama, yang penting masih dalam hubungan kelamin. Di luar itu, umpama wati dubur  (sodomi) terhadap istrinya dan al-harf  (memasukkan penis ke dalam saluran air kencing) tetap dilarang keras. Tentang peragaan senggama Alquran mengatakan
نساء كم حرث لكم فاء توا حرثكم انى شئتم وقد موا لانفسكم واتقوا الله واعلموا انكم ملاقوه وبشر المؤ منين
Artinya
Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanammu bagaimana saja kamu kehendaki dan kerjakanlah amal yang baik untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman (Q.S. al-Baqarah/2:223).

Pengertian anna syi’tum  (bagaimana saja kamu kehendaki) mengandung pengertian antara lain peragaan senggama atas dasar selera bagi suami-istri yang akan melakukannya, boleh dengan cara saling berhadap-hadapan (muqbilat), secara memiringkan tubuh atau berguling-guling (mustaqliyat), atau suami mendatangi istri dari arah belakangnya, tetapi tetap pada lubang vagina /mudbirat – Hasan al-hamsi [t.th]:75-76, Muslim,I,[t.th.]:606-607), bukan lubang yang lain (dubur dan saluran air seni).
4.    Tidak menggosip Pasangan
Ketika beberapa wanita (ibu-ibu) berkumpul, demikian juga laki-laki (bapak-bapak) sering terjadi obrolan santai ke sana kemari, tanpa topik yang jelas ditentukan terlebih dulu, tetapi obrolan itu amat asyik dan sering lupa waktu, bisa menggosip pasangan hidupnya sendiri (suami menggosip istri atau sebaliknya) tentang berbagai hal dengan seksualitas (bisa barang, keadaan, perilaku). Hal ini dilarang keras dalam Islam. Dalam hal ini Rasulullah bersabda:
ا ن من اشر النا س عند الله يو م القيا مة الر جل يفض الى امراة و تفض اليه ثم ينشر سرها (رواه مسلم عن ابى سعيد الحد رى)
Artinya
Sesungguhnya sejelek-jelek manusia pada hari kiyamat adalah seorang suami yang menggosip istrinya dan istri menggosip suaminya mengenai rahasianya (H.R. Muslim dari Abi Said al-Hudri – Muslim,I [t.th.]:608).
Yang di maksud rahasia adalah hal-hal yang menyangkut tentang kehidupan seksualitas.
5.    Penyimpangan Seksual
Jika aturan-aturan agama (syariat) dipenuhi dalam apresiasi seksual, pasti hubungan seksual itu benar dan sekaligus sehat baik secara jasmani maupun rohani, dan membawa kemanfaatan dunia-akhirat. Tetapi jika sebaliknya, yaitu hanya semata-mata pelampiasan nafsu, tentu banyak negatifnya yang ditimbulkan. Berikut ini dijelaskan beberapa bentuk hubungan seks yang tidak diperbolehkan. Jika tetap dilakukan berarti penyimpangan.
a.    Keadaan Menstruasi
Dalam pasangan yang menurut Islam sah  tidak otomatis hubungan seks kapan saja diperbolehkan, melainkan tetap saja ada pembatasan atau saat-saat tertentu tidak diperbolehkan. Larangan ini jika dikaji secara mendalam sebenarnya mengandung manfaat bagi yang bersangkutan, bukan orang lain. Di antara larangan itu adalah tidak boleh melakukan senggama ketika istri sedang menstruasi. Alquran mengatakan:
ويسالونك عن المحيض قل هو اذى فاعتزلوا النساء فى المحيض ولا تقربوهن حتى يطهرن فا ذا تطهرن فاءتوهن من حيث امركم الله ان الله يحب التوابين ويحب المتطهرينز
Artinya
Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: haid itu adalah kotoran. Oleh sebab itu hendaklah  mereka, sebelum mereka suci. Apa bila mereka telah suci, maka campurilah mereka di tempat yang telah diperintahkan Allah kepadamu. Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mnenyucikan diri (Q.S. al-Baqarah/2:222).

Yang dimaksud menjauhkan diri dari wanita haid hanya terbatas tidak melakukan persetubuhan dengan memasukkan penis ke dalam lubang vagina. Bercumbu rayu di antara keduanya diperbolehkan.
Ayat ini turun berkenaan dengan tradisi orang Yahudi bahwa wanita haid tidak boleh makan bersama suami, termasuk tinggal di rumah bersama suami, apalagi berjima’. Dengan demikian ayat ini sebagai jawaban bahwa wanita haid tetap dihormati dalam semua urussan kehidupan. Justru ayat ini mengingatkan kepada suami agar tidak ceroboh dan rakus. Dalam hal ini Rasulullah bersabda:
اصنعوا كل شيئ الا النكاح (رواه مسلم والترمذى عن انس بن  مالك)
Artinya:
. . . perbuatlah (terhadap istri) selain senggama (H.R. Muslim dan at-Turmuzi dari Anas bin Malik – Hasan al-Hamsi,[t.th.]:74.

b.    ‘Azl
‘Azl adalah mencabut penis dari vagina ketika si suami inzal (orgasmus dan mengeluarkan sperma) karena khawatir akan terjadi kehamilan bagi istri. Sebaiknya jangan melakukan ‘azl karena bisa mengecawakan istri maupun diri sendiri. Kalau ingin menghidari kehamilan dalam persenggamaan hendaklah ditempuh dengan cara lain yang sah, umpama memakai kondom berkualitas baik, tissu anti hamil, suntik KB, spiral bagi istri atau yang lain yang cocok dan sehat atas nasihat dokter ahli. Cukup banyak hadis yang melarang ‘azl. Meskipun larangan itu kurang tegas. Pertanyaan tentang ‘azl  oleh sahabat berulangkali, tetapi nampaknya Rasulullah enggan menanggapinya secara vulgar. Diantaranya demikian:
ما من كل الماء يكون الوالد واذا اراد الله خلق شيئ لم يمنعه شيئ (رواه مسلم عن ابى سهد الحدرى)
Artinya:
Tidak ada setiap air mani itu (yang tumpah) tidak menjadi anak. Apabila Allah menghendaki mencipta sesuatu tidak ada yang mencegahnya – H.R. Muslim dari Abu Said al-hudri (Musli,I,[t.th.]:608).

Ketika ada pertanyaan – dan pertanyaan ini terjadi berulang-ulang –  yang nada-nada pertanyaan itu meminta agar diperbolehkan ‘azl  Nabi menjawab: Ana ‘abdu-llah wa Rasuluh – H.R. Muslim dari Jabir bin Abdu-llah (Muslim,I,[t.th.]:610).
Ketidakbolehan ‘azl dimaksudkan melindungi wanita jangan sampai mereka hanya semata-mata sebagai pemuas nafsu laki-laki. Di zaman sahabat, umumnya mereka memiliki istri lebih dari satu, plus budak wanita. Jika ia menyetubuhi mereka dan tidak menginginkan kehamilan, mereka melakukan ‘azl kemudian kekurangpuasan itu,  ia lalu menggilir istri lain di saat itu pula. Itulah sebabnya Rasulullah melarang ‘azl dan supaya mereka kaum laki-laki bertanggungjawab atas perbuatannya.Laki-laki maupun perempuan harus sama-sama merasakan kesenangan dalam persetubuhan. Dalam hal ini Allah berfirman:
اهن لبا س لكم وانتم لبا س لهن
Artinya:
. . .mereka, wanita, adalah pakaianmu dan kamu, laki-laki, adalah pakaian mereka (wanita). . . (Q.S. al-Baqarah/187).

Dalam ayat ini mengandung pengertian bahwa antara suami dan istri adalah setara dan saling mengambil manfaat atas pasangannya.
c.    Transeksualisme
Transeksualisme termasuk gangguan identitas  jenis, umpama secara fisik laki-laki (memiliki penis) tetapi lebih merasa sebaliknya; atau wanita (memiliki vagina) tetapi lebih merasa sebagai bukan wanita. Cara hidup semacam ini tidak dibenarkan menurut Islam. Rasulullah bersabda:
لعن الله المتشا بها ت من النساء با الرجال والمتشا بهين من الرجال با النساء (رواه الترمذى)
Artinya:
Allah melaknati wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai wanita (H.R. at-Turmuzi)

Bentuk transeksualisme yang lebih umum adalah secara fisik laki-laki tetapi berperangai wanita dan dikenal dengan nama waria, dalam bahasa Jawa wandu.
Meniru hanya terbatas pada pakaian yang tidak keterlaluan, umpama wanita memakai celana jeans model laki-laki, memakai T,shirt, memakai kemeja, atau laki-laki memakai kemeja dengan motif bunga-bunga (sembagi), dapat ditoleransi dan tidak termasuk transeksualisme, tetapi telah menjadi isyarat yang bisa saja mengarah kepada transeksualisme beneran. Apabila wanita sudah berperilaku dan berperasaan laki-laki (pakaian tentu bermodel laki-laki) lalu berperasaan seksnya terhadap wanita (sejenis) termasuk transeksualisme (Hawari,l997:383-384). Dengan tegas Rasulullah melarang homoseksual dan lesbian dengan sabdanya sebagai berikut:
لا ينظر الرجل الى عوراة الرجل ولا تنظر المراةالى عوراة المراة ولا يفض الرجل الى الرجل فى الثوب  الواحد ولا تفض المراة الى المراة فى الثوب الواحد (رواه الترمذى عن ابى سعيد وابيه)
Artinya
Jangnlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki (lain)’ janganlah wanita melihat aurat wanita (lain); janganlah laki-laki berada (bersetubuh) dengan laki-laki dalam satu selimut; janganlah wanita berada (bersetubuh) dengan wanita dalam satu selimut (H.R. at-Turmuzi,IV,[t.th.]: l96).

d.    Selingkuh dan Hidup Bersama di Luar Nikah
Hidup bersama di luar nikah adalah hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam satu rumah tetapi tidak diikat oleh perkawinan supaya masing-masing lebih merasa bebas tidak ditekan satu sama lain, termasuk dalam hubungan seksual. Seks hanya semata sebagai pancaran kebutuhan biologis dan bebas dari ikatan agama (Hawari,l9997:223). Kehidupan semacam ini dilarang keras dalam Islam karena termasuk kategori zina, yaitu hubungan seksual laki-laki-perempuan di luar nikah. Nabi saw bersabda:
االسحا ق بين النساء زنا هن (رواه الطبرانى)
Artinya:
Lesbi di antara wanita adalah zina mereka (H.R. Thabrani – PP.4, 2003:228).

Zina adalah perbuatan keji menurut Islam. Demikian Allah berfirman:
ولا تقربوا الزنى انه كا ن فاحشة وساء سبيلا
Artinya:
. . . Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk (Q.S. al-Isra’/17:32).

Termasuk zina adalah selingkuh. Perselingkuhan adalah hubungan seksual di luar nikah yang masing-masing pihak atau salah satunya mempunyai pasangan hidup (suami atau istri) yang  sah menurut syariat Islam. Seorang istri memiliki suami yang sah tetapi bersebadan dengan laki-laki lain disebut zina muhshan. Pelaku zina muhshan dihukum dengan dilempari batu hingga meninggal. Zina ghairu muhshan, yaitu perzinaan antar bujang dihukum dengan dilempari batu 100 kali. Penghukum (eksekutor) tidak boleh merasa kasihan terhadap pelaku zina. Demikian firman Allah:
الزانية والزانى فجلدوا كل واحد منهما مائة جلدة ولا تاء خذ كم بهما راء فة فى دين الله ا ن كنتم تؤمنون با الله واليوم الاخر واليشهد عذا بهما طا ئفة من المؤمنين

Artinya:
Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina maka deralah tiap-tiap orang dari keduanya 100 kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu  untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah  dan hari akhir, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman (Q.S. an-Nur/24:2).

Dengan demikian pelaku perbuatan seks menyimpang berakibat amat menyakitkan atau bahkan mematikan, bukan hanya mengganggu kesehatan.
e.    Masturbasi
Kelihatannya masturbasi (al-istimta’ bi al-yad) bersenang-senang dengan menggunakan tangan) atau secara ekstrim dikatakan zina tangan tidak dikenal dalam tradisi Islam generasi pertama, zaman Rasulullah, sehingga baik Alquran maupun as-Sunnah tidak menyinggungnya, tidak ada pertanyaan dari para sahabat kepada Nabi saw tentang masturbasi, maupun tidak ada kisah dan kasus dari sahabat atau komunitas di negara Madinah di zaman Nabi tentang masturbasi. Kelihatannya tradisi seksual menyimpang ini, masturbasi, berasal dari Eropa lalu melanda ke wilayah lain, termasuk di Indonesia.
Karena essensi masturbasi adalah pelampiasan nafsu birahi tetapi menyimpang dari kenormalan, maka tentunya disamakan dengan zina, dilarang, dan tidak boleh mencoba melakukannya; wala taqrabu az-zina. Secara umum Rasulullah memerintah supaya menjaga aurat (kemaluan) kecuali kepada istrinya atau suaminya. Demikian sabda Rasulullah saw:
احفظ عورتك الا من زوجتك اوما ملكت يمينك  (رواه الترمذى عن جد بهز بن حكيم)
Artinya:
. . . jagalah auratmu kecuali kepada istrimu atau budak wanitamu (H.R. at-Turmuzi dari kakek Bahaz bin Hakim – at-Turmuzi,IV,[t.th.]:188).

Dalam hadis ini dijelaskan bahwa membuka aurat diperbolehkan ketika melakukan jima’ terhadap istri atau wanita lain yang halal dijima’, yaitu budak wanita (‘amat). Di luar itu tidak boleh kecuali ketika buang air. Mandi saja sebaiknya tetap memakai kain penutup, kecuali di kamar mandi yang tertutup.Di dalam persepian, tetap tidak boleh membuka aurat karena Allah tetap mengetahui, demikian juga  malaikat yang bertugas mengikuti kita untuk merekan semua aktifitas yang kita lakukan untuk diskor termasuk kategori perbuatan yang mengandung pahala atau mengandung dosa. Dengan demikian, ketelanjangan yang tidak perlu jangan dilakukan.
Untuk mengendalikan emaginasi-emaginasi seksual bagi perjaka yang belum menikah supaya melakukan puasa yang sungguh-sungguh. Nabi Bersabda:
يا معشر الشبا ب من ا ستطاع منكم الباء ت فليتزوج فانه اغض للبصر واحصن للفرج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فانه له وجاء (الحد يث)
Artinya
Wahai para pemuda, barang siapa yang ingin menikah sedang ia mampu, maka hendaklah ia menikah, karena menikah itu dapat menjaga mata (untuk melihat wanita) dan menjaga kesucian farji. Barang siapa yang belum mampu menikah, maka hendaklah ia berpuasa karena dapat mengurangi khayalan-khayalan tentang wanita (al-Hadis).

Memahami hadis di atas begitu jelas bahwa masturbasi termasuk yang dilarang dalam agama. Ketidaktegasan sabda Nabi tentang ini adalah terlalu suci bagi  Rasulullah untuk berkata sia-sia dan tidak perlu.

Latihan-latihan
1.    Jelaskan persamaan dan perbedaan antara hukum alam dan sunnatullah, berilah contohnya masing-masing berikut keterangannya sehingga persamaan dan perbedaan diantara keduanya menjadi semakin jelas.
2.    Berilah argumen naqli maupun aqli bahwa menikah itu sunnatullah !
3.    Bisakah manusia melawan sunnatullah, termasuk dalam pernikahan ? Berilah argumen secara rasional maupun bukti-buktinya yang autentik !
4.    Jelaskan aturan meminang seorang gadis muslimah yang benar menurut ajaran Islam  !
5.    Jelaskan karakter wanita (yang telah bersuami) yang baik , demikian karakter laki-laki (yang beristri) yang baik  !
6.    Jelaskan persyaratan wali dan saksi dalam akad nikah antara pengantin muslim dan pengantin muslimah !
7.    Jelaskan peragaan seksualitas yang baik, benar , dan sehat !
8.    Jelaskan siapakah orang yang terburuk ketika dibangkitkan besok di hari kiyamat !
9.    Sudahkah kamu merasa mampu untuk menikah ? jelaskan argumentasimu baik merasa sudah mampu atau belum mampu  ! Berpuasakah kamu jika merasa belum mampu menikah ? Apa yang kamu perbuat jika emaginasi-emaginasi seksual muncul sementara kamu belum kawin ?
10.    Ada teks sebagai berikut:
زلا تقربوا الزنى انه كا ن فا حشه وساء سبيلا
Pertanyaan:
a.    Tulis kembali dan harakati secara benar !
b.    Terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara baik dan benar !
c.    Jelaskan apa kandungan ayat itu dalam kaitannya dengan kehidupan seksualitas ?
d.    apa arti kata yang digarisbawahi ?

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur-anul-Karim
Abdu-llah, Ahmad fuad, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfaz al-Qur’an al-Karim. Indonesia: al-Maktabah Dahlan, [pt.th.].
Cawthorne, Nigel, Rahasia kehidupan Seks para Paus (trans) Hilmi Mustafa & Sigit P. Yogyakarta: Alas, 2007.
Al-Hamsi, Muhammad Husain, Qur’an Karim: tafsir wa Bayanu ma’a Asbab an-Nuzul li as-Sayuti. Bairut: Dar ar-Risalah, [t.th.].
Ibrahim, Majdi as-Sayyid, 50 Wasiat Rasulullah saw Bagi Wanita (trans.) Kathur Suhardi. Jakarta: Pustaka Alkautsar, l994.
“Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: PN.Balai Pustaka, l990
Rasjid, Soeleman, Fiqh Islam, Jakarta: Attahiriyah, l981.
“Tim PP. Muhammadiyah “, Tanya Jawab 4 dan 5. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2003.
An-Nawawi, Muhiyyi ad-Din Abi Zakaria bin Syaraf. Riyad ash-Shalihin. Surabaya: Syirkah wa Mathba’ah Ahmad bin Sa’id bin Nabhan, [t.th.].
“Shahih Muslim”. Indonesia: Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, [t,th.].
at-Turmuzi, Abi Isa Muhammad bin Isa bin Saurah, Sunan at-Turmuzi wa Huwa al-Jami’ as as-Shahih, Semarang: Toha Putra, [t.th.].

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pandangan Islam tentang Imunisasi

Oleh : M Danusiri

Tujuan Umum Pemebelajaran
Setelah membaca dan mengikuti pembelajaran pada bab ini Mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan pandangan Islam tentang vaksinasi-imunisasi.
Tujuan Khusus Pembelajaran
Setelah membaca dan mengikuti pembelajaran pada bab ini Mahasiswa diharapkan:
1.    Dapat menjelaskan pengertian vaksinasi-imunisasi, jenis-jenisnya, bahan-bahan formula vaksin, dan efek negatif bagi orang yang divaksinasi-imunisasi dalam masa rintisan pengembangan program ini.
2.    Dapat menjelaskan pandangan ulama antara yang pro dan kontra dengan argumennya masing-masing terhadap pelaksanaan vaksinasi-imunisasi.
3.    Dapat menjelaskan bahan-bahan tahnik dan manfaat bahan-bahan tersebut, serta   pelaksanaanya sebagai ganti pelaksanaan tahnik.
4.    Dapat menjelaskan pertimbangan-pertimbangan umum tentang kehalalan dan manfaat pelaksanaan  vaksinasi-imunisasi bagi kesehatan setelah program ini mencapai kesempurnaannya.
A.    Pengertian Imunisasi
Secara literal, imunisasi berasal dari kata ‘imun’ yang berarti kebal terhadap suatu penyakit. Dengan demikian ‘imunisasi’ berarti pengebalan terhadap suatu penyakit. Prosedur  pengebalan tubuh terhadap penyakit melalui  teknik vaksinasi. Kata ‘vaksin’ itu sendiri berarti senyawa antigen yang berfungsi untuk  meningkatkan imunitas atau sistem kekebalan tubuh terhadap virus. Itulah sebabnya imunisasi identik dengan vaksinasi. Vaksin terbuat dari virus yang telah dilemahkan dengan menggunakan bahan tambahan seperti formaldehid dan thyrmorosal.

1.     Jenis-Jenis Vaksin
Di antara jenis vaksin adalah:  hepatitis (untuk mengusahakan kekebalan hati terhindar dari penyakit), polio (untuk mengusahakan atropi otot sehingga kebal dari penyakit dan jika kebal manfaatnya antara lain bentuk kaki lurus atau normal tidak seperti huruf O atau huruf X, dan kelumpuhan), rubella (supaya kebal dari serangan campak), BCG [Bacillus Calmitte Guerine] untuk mencegah serangan TBC [Tuber Culocis], DPT [Dipteri Portucis Tetanus] mencegah timbulnya penyakit gomen atau sariawan dan batuk rejan serta tetanus, MMR [Measless Mumps   Rubella]. Di Indonesia, praktik vaksinasi-imunisasi terhadap balita [bayi di bawah umur lima tahun] antara lain: hepatitis B, BCG, polio, MMR, IPV, dan DPT. Vaksinasi-imunisasi bahkan telah deprogramkan secara  internasional oleh WHO [World Health Organization].
2.       Bahan-Bahan Vaksin
Disebutkan bahwa materi yang digunakan sebagai bahan vaksin ada dua macam, (1) bahan alami,  antara lain: enzim yang berasal dari babi, seline janin bayi, organ bagian tubuh seperti: paru-paru, kulit, otot, ginjal, hati, thyroid, thymus, dan hati yang diperoleh dari aborsi janin. Vaksin polio terbuat dari babi; atau campuran dari ginjal kera, sel kanker manusia, dan cairan tubuh hewan tertentu antara lain serum dari sapi atau nanah dari cacar sapi, bayi kuda atau darah kuda dan babi, dan ekstrak mentah lambung babi, jaringan ginjal anjing, sel ginjal kera, embrio ayam, dan jaringan otak kelinci. (2) Bahan yang berasal dari unsur kimia antara lain: merkuri, formaldehid, aluminium, fosfat, sodium, neomioin, fenol, dan aseton.
3.       Efek Vaksinasi
Efek pemberian vaksinasi terhadap balita [bayi umur lima tahun ke bawah, selanjutnya cukup disebut balita] berdasar laporan-laporan resmi secara  garis besar ada dua macam:
a.    Berbahaya. Conggres Amerika Serikat (AS) membentuk “The National Chilhoodvaccib injury act” berkesimpulan vaksinasi menyebabkan luka dan kematian. Dr. Wiliam Hay berkomentar, “tidak masuk akal memikirkan bahwa anda menyuntikkan  nanah  ke dalam tubuh anak kecil dan dengan proses tertentu akan meningkatkan kesehatannya. WHO [World Health Organization], yaitu organisasi kesehatan dunia menemukan bahwa anak yang divaksinasi campak memiliki peluang 15 kali lebih besar unuk diserang campak. Banyak penelitian medis mencatat kegagalan vaksinasi. Campak, gabag, polio, gondong juga terjadi di pemukiman penduduk yang diimunisasi
b.    Bermanfaat. Disimpulkan bahwa imunisasi merupakan sebab utama penurunan jumlah penyakit. Dicatat oleh ‘The Brithis Association for the Advancement of Science” menemukan bahwa di Amerika Serikat dan Enggris mengalami penurunan penyakit sebanyak 80 % hingga 90 %. Umumnya di Indonesia seperti kita alami, dulu ketika masih kecil yang bekas-bekasnya masih jelas hingga sekarang, benar adanya menjadikan  ada imunitas dalam tubuh kita. Jadi secara real (nyata), imunisasi ada menfaatnya bagi kesehatan.
Disebutkan pula bahwa secara umum vaksinasi-imunisasi cukup aman karena keuntungan perlindungan jauh lebih besar dari pada efek samping yang mungkin ditimbulkan.
Memang, kegagalan vaksinasi-imunisasi terjadi pada saat rintisan teknologi itu. Dengan demikian laporan WHO [World Health Organization] tentang efek buruk vaksinasi-imunisasi itu benar adanya. Akan tetapi, penelitian, penyempurnaan di bidang kesehatan terus dilakukan sehingga efek buruk dari vaksinasi-imunisasi itu dapat dikuramngi bahkan sekuat tenaga dinetralisir. Sehingga, perkembangan selanjutnya terdapat penyempurnaan di berbagai unsur. Perkembangan selanjutnya, formula vaksinasi-imunisasai lebih bagus, lebih halus, dan lebih aman, sehingga ada manfaatnya bagi usaha meningkatkan sistem kekebalan tubuh manusia, termasuk balita bagi vaksinasi-imunisasi mereka seperti: MMR , DPT, BCG, IPV, dan polio.
4.    Pandangan Islam Tentang Vaksinasi-Imunisasi
a. Wasiat Rasulullah
Sebelum  Rasulullah wafat, tepatnya ketika beliau khutbah pada haji wada’, haji terakhir beliau atau dikenal sebagai haji perpisahan beliau dengan umat Islam,  sempat berwasiat: “Taraktu fiikum amraini. Lan tad}illu> abada> ma> intamassaktum bihima> kitaba-lla>hi wa sunnata Rasu>lihi

تركت فيكم امرين  لن تضلوا  ابدا ما  ان تمسكتم  بهما  كتاب الله  وسنة رسوله.
Artinya:
Aku tinggalkan kepadamu dua perkara. Kamu tidak akan tersesat selamanya selagi berpegang teguh keduanya, yaitu kitabullah (Alquran) dan Sunnah Rasulnya – al-Hadis; Iwan Gayo, 2008: 36). Oleh karena masalah vaksinasi-imunisasi belum terjadi pada masa Rasulullah, maka belum ada petunjuk sedikitpun tentang imunisasi. Terhadap masalah yang bersifat kontemporer menjadi lapangan dan lahan bagi para ulama untuk melakukan ijtihad menemukan solusi hukum perkara tersebut haram atau halal, baik atau buruk, bermanfaat atau berbahaya bagi kesehatan.
Para ulama dalam berijtihad untuk menetapkan hukum terhadap masalah-masalah  kontemporer pasti tidak pernah menghasilkan keputusan ijma’yyah ‘amiyyah (kesepakatan umum), melainkan khlafiyyah (perbedaan pendapat diantara mereka). Bentuk khilafiyyah yang paling ekstrim adalah halal atau haram. Tidak terkecuali mengenai vaksinasi-imunisasi. Dalam Ilmu Fikih memang terdapat  adagium “Man laa ya’lamu khilaafiyyatan laa ya’lamu raaihatal fiqhi” (Barang siapa tidak mengenal perbedaan pendapat, sesungguhnya ia tidak mengenal baunya Fikih”). Baunya saja tidak mengetahui, apalagi ilmu fikihnya itu sendiri.
b.   Pro Versus Kontra: Haram versus Halal Tentang Vaksinasi-Imunisasi
1). Haram
Para ulama, pemikir, mujtahid ada yang menghukumi haram terhadap tindakan vaksinasi-imunisasi. Argumen yang diajukan antara lain memasukkan barang najis dan racun ke dalam tubuh manusia. Manusia iu merupakan khaifatullah fi al-ard} dan asyraf al-makhlu>qa>t (maskhluk yang paling mulia) dan memiliki kemampuan alami melawan semua mikroba, virus, serta bakteri asing dan berbahaya.Berbeda dengan orang kafir yang berpendirian manusia sebagai makluk lemah sehingga perlu vaksinasi untuk meningkatkatkan imunitas pada manusia.
Para filosof Barat dari aliran Eksistensialisme kiri, seperti Jean Paul Sartre menyatakan bahwa manusia hanyalah sampah yang terbuang dan tak berarti. Ia berkata: My original fall is the existence of the Other. I grasp the Other’s look ad the very center of my act as the solidificatiom and alineatiom of my own possibilities (Asal mula kejatuhanku karena keberadaan orang lain. Aku mengerti tatapan orang lain tertuju benar-benar kepada setiap tindakanku sebagai sesuatu yang padat dan mengasingkan kemungkinan-kemungkinanku yang aku punyai; Jen Paul Sartre: 1948: 263). Yang ia maksud dengan istilah ‘kejatuhan’ adalah ketidakmaknaan keberadaannya. Jadi manusia tak ubahnya bagaikan sampah. Ia menambahkan bahwa kejatuhannya itu adalah permanen. . . . “is the permanent structure of my being for the Other” (ibid). Hanya karena manusia diperhatikan orang lain dimaknai dimakan orang lain hingga kepribadiannya hancur tak bermakna. Dari sinilah ia juga mengatakan manusia sebagai homo homini lopus (manusia adalah binatang yang saling memangsa). Paham ini kemudian masuk ke Indonesia antara lain melalui sajak Chairil Anwar tentang ‘Aku’. Dalam sajak ini disebutkan bahwa manusia hanyalah binatang jalang dari kumpulan yang terbuang.  Lebih dari itu, pendapat manusia sebagai binatang telah berakar sejak zaman filsafat Yunani purba.Aristoteles menyatakan bahwa manusia hanyalah binatang yang berpikir. Esensi pendapat ini adalah menyatakan bahwa manusia hanyalah binatang. Jadi tidak bermasalah sama sekali jika di dalam tubuhnya dimasukkan sesuatu yang menurut syariat adalah benda-benda najis karena ‘manusia’-nya sendiri adalah sesuatu yang identik dengan ‘najis’.
Solusi yang diajukan untuk meningkatkan kekebalan balita adalah menghindari tindakan vaksinasi-imunisasi pada balita maupun manusia pada umumnya, selanjutnya  menerapkan syariat tahnik kepada balita, yaitu memasukkan kurma yang telah dikunyah lembut atau madu ke dalam rongga mulut si bayi ketika melaksanakan uapaca ‘aqiqah pada hari ke tujuh dari kelahiran anak. Tahnik dipandang sebagai vaksinasi-imunisasi. Perlu ditambahkan bahwa pada zaman Nabi tidak ada anak yang divaksinasi dan kenyataannya juga sehat-sehat dan banyak yang berumur panjang. Artinya umur harapan hidup rata-rata sejak zaman Rasulullah dan zaman sekarang  kurang lebih sama.
Segera diingatkan di sini bahwa, jika seseorang melakukan tahniq terhadap balita, terutama ayahnya, jangan mengikuti praktik Nabi, yaitu mengunyah kurma, setelah lembut kemudian dimasukkan ke mulut anak. Praktik Nabi ini harus dipandang kasus ekstrim atau istimewa. Ada sesuatu yang berada di luar nalar. Sebut saja karamah beliau. Abu Hurairah diludahi mulutnya oleh Rasulullah, bukan ludah kebencian, menyebabkan Abu Hurairah sangat fasih dan merupakan sahabat yang paling banyak menghafal hadis (al-muktsiru>na fil h}adis; Abd al-Baqi, 2007:902), padahal sahabat ini hanya bersama dengan belaiau kurang lebih dua tahun setengah masa akhir-akhir hidup Rasul. Sahabat ini memang masuk Islam belakangan, setelah Futuh} Makah, pelaklukan kota Makah oleh Rasulullah beserta pasukannya dari Madinah. (Iwan Gayo,2008: 61). Jika seseorang melakukan tahnik persis seperti praktik Rasulullah, dikhawatirkan sekali banyak mengandung virus pada air liur pengunyah kurma. Sementara itu, si bayi yang baru berumur tujuh hari belum memiliki sistem kekebalan yang sempurna. Untuk itu, dalam melakukan tahniq hendaklah menggunakan madu berkualitas bagus atau sari kurma. Sekarang telah banyak tersedia di toko-toko obat, apotik, bahkan took-toko swalayan seperti mall yang menyediakan sari kurma berbentuk cairan. Kedua bahan ini lebih hygine dan insya Allah steril dari kuman, bakteri, jamur, maupun virus yang membahayakan bagi kesehatan bayi karena diproses menurut teknologi modern dan sehat.
Mengapa Rasulullah menggunakan kurma untuk men-tahniq bayi, ternyata kandungan mineral yang dibutuhkan bagi perkembangan tubuh dan kesehatan bayi amat banyak.
(1). Kandungan dan Manfaat  Kurma
Kurma  mengandung banyak hal bagi kebutuhan tubuh manusia,  antara lain:
(a)    Karbohidrat
Kandungan karbohidrat sederhana (glukosa dan fruktosa) yang tinggi merupakan andalan utama dari kurma. Keduanya berkalori tinggi, dan mudah dicerna. Selain itu, kandungan gulanya dapat menenangkan saraf yang gelisah serta memberikan rasa aman pada kejiwaan.Kandungan karbohidrat dalam kurma  sebesar 50 – 70 persen. Gula yang terkandung dalam kurma baru habis terserap dalam tempo 45-60 menit. Hal ini menyebabkan orang yang makan kurma cukup banyak pada waktu sahur akan menjadi segar dan tahan lapar, sebab bahan pangan ini juga kaya akan serat.
(b)    Protein
Kandungan protein didalam kurma sebesar 1.8 – 2.0 persen, yang   memberikan manfaat besar kepada otak. Protein-protein ini melindungi tubuh dari serangan penyakit dan infeksi, menunjang sel-sel tubuh memperbaharui diri, dan menyeimbangkan cairan-cairan tubuh.
(c)    Lemak
(d)    Mineral
Kurma mengandung banyak mineral yang esensial bagi tubuh: seperti potassium, sodium, kalsium, besi, mangan, dan tembaga. Bila potassium dan sodium bekerja bersamaan, mereka bertindak selaku pengatur ritme detak jantung. Dengan menfasillitasi pengalihan oksigen ke otak, potassium dapat memberdayakan pikiran jernih. Selain itu, kurma juga menyediakan kandungan alkali secukupnya pada cairan tubuh, merangsang ginjal mengeluarkan sampah-sampah racun metabolis, membantu menurunkan tekanan darah tinggi, dan menunjang pembentukan kulit sehat.
Kandungan kalsiun dalam kurma berguna bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah. Sedangkan kadar besi yang dikandung buah kurma matang sangat mencukupi dan penting sekali dalam proses pembentukan air susu ibu. Kadar zat besi yang ada dapat menggantikan tenaga ibu yang terkuras saat melahirkan atau menyusui. Zat besi dan Kalsium merpuakan dua unsur efektif dan penting bagi pertumbuhan bayi. Alasannya, dua unsur ini merupakan unsur yang paling berpengaruh dalam pembentukan darah dan tulang sumsum.
zat garam mineral dapat menetralisasi asam, seperti Kalsium dan Potasium. Buah kurma adalah makanan terbaik untuk menetralisasi zat asam yang ada pada perut karena meninggalkan sisa yang mampu menetralisasi asam setelah dikunyah dan dicerna yang timbul akibat mengkonsumsi protein seperti ikan dan telur.
(e)    Vitamin
Dalam buah kurma terkandung berbagai macam vitamin, diantaranya adalah vitamin A, B1, B2 dan vitamin C. Kandungan vitamin A meningkatkan kemampuan pandangan mata dan kekuatan badan, juga kekuatan tulang dan gigi. Selain itu juga dapat memelihara kelembaban dan kejelian mata, menguatkan penglihatan, pertumbuhan tulang, metabolisme lemak, kekebalan terhadap infeksi, kesehatan kulit serta menenangkan sel-sel saraf. Vitamin B1 memfasilitasi jaringan saraf berfungsi sehat sempurna, menunjang tubuh mengubah karbohidrat menjadi energi, mengatur selera makan dan pencernaan, serta memberdayakan metabolisme berasal dari protein dan lemak. Vitamin B2 memfasilitasi pembakaran protein-protein yang disebutkan tadi, karbohidrat, dan lemak yang diperlukan untuk penyedian energi dan pembaharuan sel
(f)    Zat gizi
Kurma juga mengandung banyak zat gizi.
(g)    Serat
Serat yang terdapat dalam kurma berfungsi melunakkan usus dan mengaktifkannya, yang secara alami bisa mempermudah buang air besar. Dalam kurma juga terkandung semacam hormon (potuchsin) yang bisa menciutkan pembuluh darah dalam rahim; sehingga dengan demikian bisa mencegah terjadinya pendarahan rahim.
Begitu banyak kandungan kurma bagi kebutuhan tubuh, bahkan jiwa manusia, maka manfaatnya juga amat banyak. Buah kurma adalah makanan yang sangat baik diandalkan sejak zaman para nabi, didalam al-Qur’an kurma disebut sebanyak 24 kali antara lain dalam surat Maryam ayat 25-26 yaitu ketika Maryam akan melahirkan putranya Nabiyullah Isa ‘Alaihi Salam. Allah memerintahkan beliau untuk menggoyangkan pohon kurma yang menjadi sandarannya kemudian beliau diperintahkan makan buah kurma yang jatuh didekatnya, maka sejak saat itu buah kurma merupakan makanan terbaik dan obat yang sangat mujarab bagi ibu hamil dan pasca melahirkan dari zaman kezaman ila yaumil akhir. Berikut ini  dipaparkan sebagian dari manfaat dan khasiat kurma ditinjau dari sudut pandang medis modern yang sekaligus menguatkan khabar Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah Ash-Shahihah tentang khasiat dan keutamaan kurma.
(1).  Peranan Kurma Pada Wanita Melahirkan, Nifas,  dan Menyusui
Dalam kurma terdapat hormon yang mirip dengan hormon oksitosin (hormon yang dihasilkan neurohipofisa, bekerja untuk merangsang kontraksi otot polos dinding rahim selama coitus dan melahirkan) yang membantu proses kelahiran. Caranya, hormon oksitosin tersebut menyatu dengan reseptornya memulai kontraksi otot yang teratur secara bertahap, sehingga menyebabkan perluasan leher rahim dan dari situ terjadilah proses kelahiran.
Setelah persalinan, hormon oksitosin juga bermanfaat untuk mengeringkan rahim, meningkatkan kontraksi otot ototnya yang terajut satu sama lain seperti jaring dan serat otot-otot yang tersebut berkontraksi sedemikian rupa sehingga menyempitkan celah-celah rajutan tersebut yang diantara matanya terdapat kantong darah lembut dan mengeluarkan darah. Hal ini menyebabkan berhentinya perdarahan secara bertahap.
Serat-serat pembuluh darah vena yang berada di sekitar saluran susu di payudara juga mengalami kontraksi, sehingga menjadikan derasnya air susu ketika saluran saluran ini beserta air susu yang dikandungnya mengalami kontraksi. Dari sana sempurnalah proses penyusuan anak.
(2)     Peranan Kurma dalam membangkitkan sifat kelembutan dari .kaum pria
Sungguh besar manfaat hormon oksitosin yang diperoleh dari kurma. Hormon yang sangat bermanfaat ini melunakkan hati dan perasaan, menimbulkan sifat kasih-sayang, dan itu muncul secara natural, bukan dibuat-buat
(3)    Peranan Kurma dalam Mengatur hormon estrogen
Telah diketahui adanya unsur lain di dalam kurma yang komposisi dan fungsinya sangat mirip dengan hormon estrogen. Diantara fungsi hormon ini antara lain: fungsi-fungsi tulang, payudara, kulit, rahim,  hormon FSH yang merangsang kantong buah pelir (scrotum), memproduksi badan kuning (corpus loteum) LH di dalam ovarium yang menggantung pada ligament besar, keseimbangan ion-ion dan mineral-mineral di dalam tubuh, siklus menstruasi, distribusi lemak di dalam tubuh, produksi insulin, dan produksi sperma pada pria.
(4)    Peranan lain dari Kurma
Selain manfaat-manfaat di atas, kurma jg masih memiliki banyak manfaat lain. Diantaranya adalah :
(a).  Mencegah stroke.
(b). Mengobati anemia, lesu dan letih.
(c).  Menambah berat badan anak.
(d).  Meningkatkan vitalitas.
(e). Memperlancar saluran kencing.
(f). Meningkatkan trombosit dalam darah dan mengatasi DBD.
(g). Mengatasi rheumatik.
(h).  Mencegah tubuh dari bakteri dan kanker
(i). Memelihara dari kerabunan.
(y). Mentabilkan kejiwaan bagi anak dan lansia
(k). Memperlambat penuaan tubuh.
(l). Menyehatkan kulit
(m).Membantu pertumbuhan tulang.
(n). Cocok untuk diet
(o).  Mengatasi wasir.
Kurma memang jenis makanan yang sangat istimewa dibanding dengan makanan lainnya. Maka wajar kalau Alquran maupun Alhadis banyak menyinggung tentang kurma ini. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah melebihkan kurma dari buah-buahan yang lain. Allah menyebutkannya dalam Alquran dalam 20 tempat yang berbeda dengan memakai lafal pohon kurma: an-Nakhl, an-Nakhiil, dan an-Nakhlah. Kurma mendapat tempat istimewa di dalam Alquran dan kita tahu bahwa sebenar-benar perkataan adalah kalaamullah, al-Qur’an al-Karim. Di bawah ini merupakan ayat-ayat al-Qur’an yang menyebutkan tentang Kurma.
1.    Pohon kurma sangat kukuh,sebagaimana firmanNya:

Artinya :
Tidakkah kamu-kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang ) kelangit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabb-Nya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS. Ibrahim/14 : 24).
Kandungan ayat ini  antara lain bahwa pohon kurma yang akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit serta berbuah setiap musim, merupakan tamsil bahwa kita sebagai manusia harus mempunyai iman yang teguh serta selalu berbuat baik kepada siapa pun.
2.    Kelebihan pohon kurma dibandingkan dengan pohon lain
Seperti disebutkan dalam Al Qur’an surat Ar-Ra’du, pohon kurma memiliki kelebihan dibandingkan dengan pohon lain seperti kandungan gizi untuk konsumsi manusia. Kandungan jambu merah, jambu monyet, durian, dan nangka, jika dibanding dengan kurma jelas lebih banyak kandungan buah kurma. Selain itu, buah kurma tidak mengandung efek yang merugikan kesehatan jika dikonsumsi oleh manusia, penderita sakit apapun. Demikian pernyataan Allah bahwa kurma mengandung banyak kelebihan dibanding dengan pohon dan buah lainnya.

Artinya:
“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanam-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanam-tanaman di atas sebagaian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Ra’du : 4)
3.    Peranan buah kurma bagi wanita hamil
Buah kurma mengandung banyak manfaat, di antaranya sangat dianjurkan bagi   perempuan yang hamil dan yang akan segera melahirkan. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Maryam binti ‘Imran untuk memakan buah kurma ini ketika ia sedang nifas. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

aaArtinya:
Artinya:
Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan, minum, dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah,‘Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Rabb Yang Yaha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.’” (QS. Maryam\19: 25-26)
Karena terbukti secara ilmiah bahwa buah kurma banyak kandungannya dan banyak pula manfaatnya bagi kesehatan tubuh mupun jiwa manusia, maka wajar pula jika Rasulullah menggunakan kurma sebagai tamsil (kalimat mutiara)  sebagai seorang mukmin sejati. Demikian sabda beliau:
إِنَّ مَثَلَ الْمؤْمِنِ كَمَثَلِ النَّخْلَةُ ماَ أَخَذَتَ مِنْ شَيْئٍ نَفَعَكَ
“Sesungguhnya permisalan mukmin seperti pohon kurma. Tidaklah kamu mengambil sesuatu darinya, niscaya bermanfaat bagimu.” (HR. ath Thabrani dalam Mu’jamul Kabir, 12/ no.13514 dan Al Hafidz Ibnu Hajar menyatakan: “Sanadnya shahih).
4.    Kurma sebagai penawar racun
Pada Zaman Islam generasi pertama telah ada pengetahuan bahwa racun itu ada penawarnya sehingga dapat menyelamatkan manusia dari kerusakan fungsional organ tubuh atau selamat dari maut. Beliau bersabda:
من اصطبح بسبع تمراة عجوة لم يضره ذالك اليوم سم ولا سحر (رواه البخارى عن ابى هريره)
Artinya:
Barang siapa yang pagi-pagi benar memakan tujuh buah kurma beserta kulitnya (kurma itu hampir matang, dalam bahasa Jawa gemadung) maka ia akan terhindar racun dan sihir di hari itu (H.R. al-Bukhari dari Abu Hurairah).
Kandungan kedua Hadis di atas dapat disebutkan di sini bahwa:
a.    Telah ada kesadaran umum bahwa racun adalah sesuatu yang membahayakan bagi makhluk hidup.
b.    Ada kesadaran menetralisir racun bagi yang terlanjur meminumnya.
c.    Ada bibit-bibit kesadaran melakukan eksperimentasi penawaran racun. Eksperimen pertama menggunakan kurma beserta kulitnya, direbus, dan ditentukan dosisnya (tujuh buah).
d.    Proyeksi lebih jauh  dapat melakukan eksperimen apa saja sejak dari mineral, buah-buahan, hingga isi bumi yang lainnya, kalau-kalau dapat ditemukan kandungan zat-zat yang berguna bagi kesehatan atau penawar racun, atau meningkatkan ketajamannya.
(2). Manfaat Madu
Madu mengandung banyak manfaat bagi kesehatan tubuh, antara                            lain:
(a). Madu mudah dicerna sehingga ketika madu ini masuk ke dalam perut bayi yang berumur tujuh hari tidak akan membahayakan pencenaan bayi
(b). Sifat madu rendah kalori sehingga bayi yang terbiasa diberi madu tidak perlu dikhawatirkan aan menambah berat badan.
(c). Karena mudah dicerna, maka madu lebih cepat larut dalam darah ketika diminum dengan air hangat.
(d). Madu mengandung energi banyak sehingga membantu pembentukan darah, mengatur dan membantu peredaran darah.
(e). Sifat madu dapat membunuh bakteri karena kandungan inhibine. Kandungan inhibine ini sebagai akibat senyawa sejenis lyzozyme. Zat inilah yang menjai esensi anti bakteri.
(f). Madu mengandung royal jelly. Zat ini merupakan kumpulan dari gula, protein, lemak, dan berbagai vitamin seperti: A, B1, B2, dan mineral seperti: kalsium, natrium, magnesium, besi, garam iodine, dan radium.
(g). Madu juga mengandung propolis, polen, dan phytochemicals. Phytocemicals sebagai obat antibiotik mengandung anti bakteri, anti fungal, anti alergi.
(h). Sebagai obat antibiotik, kata Rasul, Madu dapat menyembuhkan 77 macam penyakit, meskipun Beliau tidak menjelaskan secara terperinci penyakit apa saja yang dapat disembuhkan oleh madu. Masih sabda beliau, madu dapat meningkatkan daya hafalan apabila dikonsumsi secara rotin. Bahasa sekarag adalah menguatkan daya memori kita. Sabda ini telah diuji dengan banyak penelitian yang berkesimpulan bahwa madu dapat meningkatkan daya ingat (Ibn Qayyim al-Jauzi, 2006:369) yang disebabkan dalam madu mengandung zat antioksidan yang dapat mencegah proses perusakan sel-sel oleh radikal bebas.
Selain itu disebutkan bahwa Ibnu Sina, filofof dan dokter pertama dalam Islam Klasik, awet muda, segar bugar, dan berumur panjang karena mengonsumsi madu secara rotin.
Jadi, tidak salah, tetapi sangat menakjubkan,  jika Rasulullah banyak menganjurkan agar berobat dan mengonsumsi madu. Padahal, pada zaman Rasulullah belum ada penelitian dan eksperimen secara teratur ilmiah dalam kaitannya pemanfaatan madu bagi usaha kesehatan.
MUI [Mejlis Ulama Indonesia]  menghukumi haram menggunakan obat, termasuk vaksinasi-imuniasi, yang najis. Pemberian vaksinasi IPV [Infection of Pneumococus vaction, selanjutnya cukup disebut IPV] terhadap anak yang menderita imunocompromisme saat ini boleh sepanjang belum ada jenis IPV   lain yang halal. Manfaat yang diharapkan dari vaksin ini antara lain juga untuk mengusahakan kekebalan paru-paru dari serangan penyakit.
2). Halal
Kelompok kedua mengatakan bahwa vaksinasi-imunisasi adalah halal.  Pada prinsipnya vaksinasi-imunisasi adalah boleh alias halal karena; (1) vaksinasi-imunisasi sangat dibutuhkan sebagaimana penelitian-penelitian di bidang ilmu kedokteran, (2) belum ditemukan bahan lainnya yang mubah, (3) termasuk dalam keadaan darurat,(4) sesuai dengan prinsip kemudahan syariat di saat ada kesempitan atau kesulitan. Ayat tersebut menjelaskan prinsip kemudahan dalam pelaksanaan syariat Islam:

Artinya:
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS al-Baqarah/2 : 172).

Dari ayat ini dapat diambil pengertian bahwa memakan yang mestinya haram seperti memakan daging babi yang telah dimasak menjadi halal ketika memang tidak ada makanan selain itu, selagi ia memakannya secukupnya, yaitu untuk menyambung hidup, bukan dalam arti memakan daging babi dalam berbagai olahan kuliner sehingga mendatangkan aneka macam aroma, rasa, dan citarasa untuk berpestaria dalam hal makan-memakan. Harap diingat bahwa  ada saja seorang muslim yang tampaknya hidup di perkotaan, tinggal di asrama mewah tetapi ia dalam keadaan darurat terus menerus, yaitu makanan harian selalu mengandung unsur babi dan alkohol sarana mabuk. Dia itu seperti seorang muslim studi di luar negeri di negara sekuler yang jauh dari suasana Islam. Dalam keadaan demikian, ia boleh saja makan harian sebagaimana mereka dari penduduk asli non muslim makan. Setelah ia selesai studi dan pulang ke kampung halaman, keadaan menjadi normal, ia harus kembali hanya makan yang halal. Dengan demikian, secara analogis vaksinasi-imunisasi yang bahan-bahan alaminya najis boleh dilakukan terhadap keluarga muslim lantaran belum ada faksin yang sepenuhnya dari benda-benda halal dan suci, dari najis.
Berkenaan dengan benda najis ini, perlu disampaikan pula di sini tentang vaksinasi-imunisasi meningitis bagi para calon jamaah haji. Pemerintah Arab Saudi hanya memperbolehkan jamaah haji asal non Arabia jika telah memiliki sertifikasi vaksinasi-imunisasi meningitis. Sementara itu, vaksin ini mengandung unsur babi. Untuk jamaah dari Indonesia, vaksin yang harus disuntikkan ke dalam tubuh calon jamaah haji adalah jenis meningitis tetravalent atau quadrivalernt karena berasal dari bakteri N yang lazim disebut ACWY dan diproduksi oleh Glaxo Smith Kline, Belgia. Sebenarnya, dalam formula akhir, barang jadi siap pakai,  vaksin meningitis ini telah steril dari enzim babi. Enzim babi ini hanya digunakan dalam proses pembuatan formula vaksin (Majlis Tarjih Jateng, 2010 : 6). Namun demikian tetap ada yang keberatan menggunakannya, lebih baik tidak ibadah haji dari pada memasukkan benda najis mughalad}ah ke dalam tubuh yang tidak bisa disucikan secara syariat. Jika pendirian ini menjadi kebijakan resmi kaum muslimin  tentu tida ada orang Islam melakukan ibadah haji yang berasal dari non Arab. Oleh karena itu, agar setiap orang Islam dapat melakukan ibadah haji, asal mampu, maka keharusan menggunakan vaksin meningitis sebagaimana disyaratkan oleh pemerintah Saudi Arabia harus kita terima sebagai seseuatu yang darurat. Selanjutnya prinsip keadaan darurat diberlakukan, bahwa setiap keadaan darurat diperbolehkan yang semula dilarang (ad}-d}aru>ratu tubi>h}ul-mah}d}u>ra>t).
Vaksin meningitis ini memang amat membahayakan bagi keselamatan jiwa manusia. Pada tahun 2001 WHO [World Health Organization] mencatat terdapat 1,2 juta kasus terinveksi virus N ACWY, 135.000 diantaranya meninggal dunia. Di Nigeria, dari 4164 kasus dalam satu minggu meninggal 171 jiwa (Majlis Tarjih Muhammadiyah Jateng, 2010 : 3).  Virus ini bisa menjadi epidemi. Jadi amat membahayakan bagi keselamatan jiwa, khususnya kurang lebih 5 juta,   jamaah haji dari berbagai penjuru di dunia. Jika dalam waktu singkat terjadi wabah di Arab Saudi pada pelaksanaan haji, kemudian mereka terjangkit virus ini, selanjutnya mereka pulang ke negara masing-masing sambil membawa virus maut ini, tentu dalam waktu singkat dunia akan terjangkit epidemi. Orang akan begitu mudah mengutuk Islam dan orang Islam, bahwa ibadah haji dan umat Islam adalah pembabawa petaka dunia. Maka kemungkinan ini harus dicegah dengan cara kita tetap menggunakan vaksin meningitis ini selama belum ada produk alternatif yang halal.
c.  Pertimbangan-pertimbangan Umum Kehalalan Vaksinasi-Imunisasi
Dalam kesempatan ini penulis memberikan lima macam  reasioning yang kiranya dapat menghantarkan pada sikap yang mudah-mudahan objektif, sesuai syariat, dan sejalan dengan paradigma  ilmu kesehatan.
1). Istih}a>lah
Istih}a>lah adalah berubahnya benda najis atau haram menjadi benda lain yang berbeda nama maupun sifatnya. Contoh (1) adalah khamer menjadi cuka. Khamer haram hukumnya dan sifatnya memabukkan, setelah menjadi cuka halal hukumnya dan tidak memabukkan sifatnya. Khamer memang berasal dari benda-benbda suci seperti anggur, kurma, singkong, beras ketan, dan aneka buah-buahan seperti nanas dan dunrian.  Contoh (2) adalah kulit bangkai ketika disamak menjadi suci (al-Hadis). Dari kedua benda ini, yaitu cuka dan kulit yang telah disamak, ternyata tidak ada hukum yang menyatakan najis dan haram.
Atas dasar prinsip ini, cairan vaksin atau vaksin dalam arti bentuk produk yang sudah jadi yang sudah berubah dari bentuk, bau  dan sifatnya dari bahan asalnya, kemudian  dimasukkan ke dalam tubuh manusia  berproses secara alami atau kimiawi, atau senyawa yang akhirnya hilang substansi dan sifat vaksin menyatu dengan seluruh organisme dalam tubuh.  Selanjutnya difusi makro itu berubah menjadi zat anti bodi, yaitu sistem kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit.

2). Istihla’
Istihla’ adalah bercampunya benda haram atau najis dengan benda lainnya yang suci dan halal yang lebih banyak sehingga menghilangkan sifat najis dan keharamannya karena benda najis dan haram tersebut telah hilang rasa, bau, maupun warna. Relefan dengan kasus ini adalah sabda Nabi Saw.:
إن الماء طهور لا ينجسه شيئ (اخرجه الثلاثة وصححه أحمد).
“ al-maa u thahuurun laa yunajjisuhu syaiun” (Air itu suci, tidak ada yang menajiskannya – HR. tiga orang [at-Turmuzi, Abu Dawud, dan Ahmad bin Hanbal] dan dishahihkan oleh Ahmad – Ibnu Hajar al-Asqalani, 2000 : 27).
Atau
إذا كان الماء قلتين لم يجعل الخبث. وفى لفظ لم ينجس. اخرجه الاربعة
وصححه إبن خزيمة.
‘Apabila air telah mencapai dua qullah maka tidak kotor. Dalam suatu riwayat ‘tidak najis. HR. Empat orang [at-Turmuzi, Abu Dawud, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah. Ibnu Khuzaimah menshahihkannya – Ibnu Hajar a-Asqalanbi, 2000: 28).
Atas dasar prinsip ini, cairan vaksin yang begitu sedikit dalam ukuran cc dimasukkan ke dalam tubuh bercampur dengan darah atau cairan lain, (unsur cairan dalam tubuh mencapi 80 %) yang sekian ratus ribu kali jauh lebih banyak kemudian melaui proses-proses yang terjadi di dalam tubuh hilanglah sifat, warna, maupun baunya dari materi vaksin asli (sebelum dimasukkan). Harap diingat pula materi vaksin itu telah berbeda sama sekali dengan bahan-bahan aslinya ketika masing-masingnya belum disenyawakan. Prinsip istihla’ sejalan dengan prinsip istihsan. Melalui prinsip ini, najis yang terlalu sedikit yang menempel dalam tubuh tidak menjadi halangan untuk melakukan salat selama belum hadas. Contohnya adalah jika seseorang melakukan salat. Pada saat itu ada seekor nyamuk hinggap di tangan. Nyamuk itu kemudian menggigit dan menyedot darah dalam tubuh. Akibatnya si mushalli merasa gatal, kemudian nyamuk itu dipencet (dalam bahasa Jawa dipithes) sehingga ia mati dan ada darahnya di tempat itu. Keadaan ini tidak membatalkan salat karena terdapat barang najis, yaitu darah yang tertumpah. Darah yag terlalu sedikit ini tidak dihitung sebagai najis, dikenal ma’fu (diampuni atau dimaklumi).
3). Kemudahan dalam kesempitan
Imam asy-Syatibi, ulama dari Andalusia, Spanyol, sekurun dan sekelas Imam Syafi’i, mengatakan bahwa dalil-dalil tentang kemudahan bagi umat Islam telah mencapai derajat yang pasti. Di antara dalil itu berbunyi; (1) ad-Di>nu yusrun. Ah}abbu ad-di>ni ila-lla>hi as-samh}atu al-hani>fatu” (Agama itu mudah. Agama yang disenangi Allah adalah agama mudah dan ringan – al-Hadis). (2) Imam Syafi’i sendiri mengatakan bahwa kaidah syariat itu dibangun di atas fondasi ‘segala sesuatu apabila sempit maka menjadi luas’. (3) Allah berfirman sebagai berikut:

Artinya:
Tiada dosa atas orang-orang yang buta dan atas orang yang pincang dan atas orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang). Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya; niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barang siapa yang berpaling niscaya akan diazab-Nya dengan azab yang pedih.(QS. Al-Fath/48 : 17).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa dalam beragama tidak perlu bersulit-sulit. Selain itu,  dalam berbagai peristiwa, secara tekstual hingga 10 kali Allah memberikan kebebasan sebagai peringanan karena tidak bisa melaksanakan perintah-Nya. Intinya, umat Islam dalam menjalankan keberagamaannya jangan sampai menyulitkan diri, tetapi juga jangan melecehkannya, menganggap ringan, atau seenaknya sendiri. Melaksanakan perintah sejauh kemampuannya. Allah mengingatkan kepada umat Islam melalui firmannya sebagai berikut:

Artinya:
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”(QS. Al-Baqarah/2 : 286).
4). Berobat dengan yang Haram secara prinsip itu boleh menurut imam syafi’i, Imam Hanafi, dan Ibnu Hazm Kalau keadaannya terpaksa dengan mengajukan ayat Alquran  sebagai berikut:

Artinya:
Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas (QS. Al-An’am/6 : 119).

Dalam ayat ini jelas ada ungkapan boleh memakan haram karena terpaksa, yaitu dalam potongan ayat “. . . Ma> harrama ‘alaikum illa> mad}thurirtum . . .” ( . . . kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. ..) dalam posisi makan haram terpaksa adalah memasukkan barang haram dan najis ke dalam tubuh. Allah membolehkannya
Nabi sendiri membolehkan laki-laki memakai sutra karena sakit kulit. Beliau membolehkan memakai emas kepada sahabat dari Arfajah untuk menutupi aibnya. Beliau juga membolehkan mencukur rambutnya di waktu ihram karena terkena penyakit di kepala (borok).
5).  Fatwa Majlis Eropa lil Iftaa’ wa al-Buhuts
Lembaga fatwa dalam merespon kehebohan vaksinasi-imunisasi bagi anak-anak muslim memberikan dua macam pertimbangan, (1) Mempertimbangkan manfaat vaksin sebagaimana diketahui dari ilmu kedokteran dan menghindari bahaya yang lebih besar, selama belum ada yang lain yang halal, maka hukumnya boleh berimunisasi untuk anak-anak karena masalah  ini termasuk keadaan darurat. (2) Memberikan wasiat kepada para pemimpin umat Islam  agar tidak  terlalu keras dalam masalah ijtihadiyah seperti ini yang membawa maslahat yang lebih besar bagi anak-anak muslim selagi tidak bertentangan  dengan dalil-dalil yang jelas.
d. Konklusi dan Implikasi
Atas dasar lima pertimbangan umum di atas dinyatakan bahwa vaksinasi-imunisasi yang bertujuan untuk mengusahakan kesehatan manusia itu boleh atau halal selagi belum ada bahan vaksinasi-imunisasi yang halaalan thayyiban. Untuk itu, tenaga medis: dokter, perawat, dan bidan bisa menyuntikkan vaksin (DPT, BCG, MMR, IPV, dan meningitis) untuk mengusahakan kekebalan tubuh manusia inklusif balita dari serangan penyakit yang disebabkan oleh bakteri, kuman, dan virus yang berbahaya bagi kesehatan. Akan sangat bagus kalau para sarjana kesehatan (apoteker, analis kesehatan, dokter, Farmakolog, mungkin juga termasuk herbalis) segera memproduk vaksin yang seluruhnya terbuat dari bahan atau sintetisnya yang sepenuhnya secara material halal).
5.    Penutup
Semoga uraian ini ada manfaatnya bagi siapa saja, termasuk untuk memberi penerangan kepada sementara umat Islam yang masih terbatas informasinya mengenai masalah vaksinasi-imunisasi. Hanya kepada Allah kami mohon ridlo-Nya, penyusun mohon ampunan-Nya atas kesalahan, dan kasih sayang-Nya sangat penyusun dambakan sehingga senantiasa dalam keadaan lapang. Walla>hu a’lamu bi ash-shawa>b.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an al-Karim
Abdul Baqi’, Ahmad Fuad, 2007, al-Lu’lu> u wa al-Marja>n, (terj.) Salim Bahreisy, Surabaya: Bina Ilmu.
Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi, al-Furqa>n, Edisi 05,Th.ke – 8,1429H/2008M.
Asy-syathibi, [t.th.], al-Muwa>faqa>t li Ahka>m asy-Syari>’ah, Beirut: Dar al-Fikr.
Al-Asqalani, Ibnu Hajar, 2000, Bulu>gh al-Mara>m (terj.) Achmad Sunarto, Jakarta: Pustaka Amani.
Gayo, M.Iwan, 2008, Buku Pintar Haji dan Umrah, Jakarta: Grasindo.
Himpunan Fatwa Majlis Ulama Indonesia
Ibnu Baz, Majmu>’ Fata>wa wa al-maqa>la>t, 6 ; 25
Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, 2006, Prophetic Medicine, (terj.) Ahmad Asnawi. Jakarta: Diglosia Media.
Ibnu Taimiyyah,  al-Fata>wa al-Kubra, I : 43
“Majlis Tarjih dan Tajdid (MT-T), 2010, Musyawarah Wilayah Tarjih ke 8, Kendal: Pondok Modern Darul Arqam.
Sartre, Jean Paul, 1948, Existensialism and Humanism (trans.) Mairet, PH, London: Methuin Co &LTD.
Qadawi ‘Azzat al-Ghananim, [t.th.], al-Istihaalah wa Ahkamuha fi al-Fiqh al-Islami.
Website Majlis Eropa Lil Ifta’ wal Buhuts/www/.e-cfr
http://permataonline.wordpress.com/2009/03/27/kurma dalam Al-Qur’an dan As-sunah
http://resepherbal.e-salim.com/2008/05/kurma-dalam-al-Qur’an-Al karim.
Buku “Kupas Tuntas Khasiat Kurma” oleh Zaki Rakhmawan
http://izzati-store.com/makanan penuh hikmah-banyak disebut dalam Al-Qur’an dan hadist
http://www.harunyahya.com/indo/buku/keindahan5.htm
alami-herbal.blogspot.com/2009/01/kurma-dalam-al-quran.html
http://yenceu.multiply.com/photos/album/802/Ada_Macam-Macam_Kurma
http://abusyafwan.blogspot.com/2007/11/oleh-oleh-khas-tanah-suci-1.html
http://cahayasunnah.wordpress.com/2007/09/16/manfaat-buah-kurma-menurut-sudut-pandang-medis-modern/
http://alisyar.multiply.com/journal/item/28
http://www.dtjakarta.or.id/content/view/52/33/
http://mediaislam.oaseadwan.info/

Posted in Uncategorized | 1 Comment