Islam sebagai Agama Sosial

ISLAM SEBAGAI AGAMA SOSIAL

Oleh: Ki. Danusiri

 

II.Pendahuluan

Islam merupakan agama rahmatan lil’aalamiin. Hal ini dinyatakan Tuhan sendiri . Demikian Allah berfirman:

(Wamaa arsalnaaka illaa rahmatan lil’aalamiin: Dan tidaklah Aku utus engkau (Muhammad) kecuali untuk rahmat bagi sekalian alam: QS.al-Anbiyaa’ : 107). Artinya, Jangkauan Islam itu amat luas mencakup semua aspek kehidupan. Bahkan tidak ada aspek sekecil apa pun yang berada di luar kawasan Islam. Demikian firman Allah dalam gaya negasi: Maa farrathnaa fil kitaabi min Syai in . . . (Tidak ada sesuatu pun yang Kami alpakan  dari Alkitab/Alquran  – QS. Al-An’am/6 : 38). Atau dalam ungkapam yang bersifat affirmative, Dia berfirman: . . .Wanazzalnaa ‘alaikal kitaaba tibyaanan likulli syai in… ( . . . Dan Kami turunkan Kitab kepadamu (Muhammad) untuk menjelaskan segala sesuatu . . . QS. An-Nahl/16 : 89).

Keluasan jangkauan Islam itu juga diakui para Orientalis yang secara alami amat benci terhadap Islam. Demikian antara lain pernyataan H.A.R Gibb salah satu diantara mereka: Islam is much more than a system of theology, it is a complite civilization. Karena begitu luasnya jangkauan Islam, dan ini hanya dimiliki oleh Islam, agama apapun di dunia ini tak memilikinya, maka tidak ada satu pun konsep yang menyajikan tentang deskripsi Islam yang komprehensif. Akibatnya, setiap gambaran tentang Islam oleh siapa pun selalu bersifat profil-profil-fragmentaristik. Islam tergantung siapa yang menjelaskan. Jika Islam didekati secara akademis tentu akan menghasilkan gambar tentang Islam bercorak akademis dan sepi dari gambaran mistis, milankolis. Jika Islam didekati dengan kacamata tasawuf, akan menghasilkan gambar tentang Islam demikian mengenaskan jika diukur dengan kemajuan zaman.

Jika dalam pendekatan akademis kita fokuskan lebih mendalam, katakanlah melalui pendekatan antropologis,  Gambar  Islam yang dihasilkan adalah sebagai agama yang sepenuhnya humanistis dalam arti meneguhkan eksistensi manusia sebagai manusia. Jika didekati melalui disiplin sejarah, tentu potret yang diperoleh tentang Islam adalah uraian sejarah yang tak pernah habis dan senantiasa berkembang. Jika menjelaskan Islam melalui pendekatan social, tentu akan dihasilkan profil Islam sebagai agama social.

Dalam kesempatan ini penulis/khatib hendak mencoba menjelaskan Islam melalui pendekatan social dimaksud.

 

II.Kandungan Islam tentang Poin-poin Sosial

1.      Tinjauan Naskah Alquran Sebagai Sumber Ajaran

Banyak tokoh di dalam Islam yang membagi isi ajaran  Islam dengan cara dikhotomis menjadi ayat-ayat social dan ayat-ayat ibadah. Khumaini mengatakan ayat-ayat social berbanding dengan ayat-ayat ibadah adalah 100 : 1. Quraish Shihab menyatakan bahwa ayat-ayat social 98 % ayat-ayat ibadah hanya 2 %. Harun Nasution membagi ajaran dasar dan ajaran bukan dasar. Ajaran bukan dasar (social) sebanyak 98 % ajaran dasar hanya 2 %. Nama-nama surat dalam Alquran sebanyak 114 itu, dua  surat tentang ibadah, yaitu surat Ikhlash dan surat at-taubat, 17 surat bersifat netral dalam arti tidak secara langsung dapat dikatakan surat ibadah atau surat social. Selebihnya, yaitu 95 surat adalah surat-surat yang dapat diasosiasikan sebagai social, contoh surat al-Baqarah (sapi betina), surat  al-an-‘aam (binatang ternak), an-faal ( rampasan perang), an-Nakhal (lebah), an-Naml (semut), ad-Dukhon (asap), al-Hadiid (besi), Ali Imran (keluarga Imran), an-Nisaa’ (para wanita), al-Maaidah (makanan) dst.

 

  1.  Tinjauan Naskah Kitab-Kitab Hadis Sebagai Sumber Ajaran

Kitab Hadis himpunan al-Bukhari mencakup 8 jilid. 1 ½ jilid pertama membahas tentang ibadah, selebihnya mengenai social. Kitab Hadis himpunan Muslim terdiri atas 4 jilid. Jilid pertama membahas tentang ibadah, selebihnya tentang social. Naskah kitab Hadis yang lain pun demikian, artinya kandungan ajaran social jauh lebih banyak dibandingkan ajaran tentang ibadah, meskipun kitab-kitab Hadis tersebut mengenai Kitab Sunan (secara praktis menjelaskan tentang peribadatan), seperti Sunan Abu Dawud, Sunan at-Turmudzi, Sunan ad-Darimi, Sunan an-Nasaa’I, dan Sunan Ibnu Majah  

 

2       Islam Dalam Tinjauan Dimensional.

Jika ditinjau dari segi aspek ibadah dan aspek social akan dihasilkan resume sebagai berikut:

– Pertama, aspek ibadah mencakup: (1) thaharah: istinjaa’, wudlu, mandi jinabat, dan tayamum, (2) syahadat : syahadat tauhid dan syahadat Rasul, (3)Shalat: shalat fardlu dan shalat-shalat sunnat, (4) Shaum: puasa wajib, Ramadlan dan puasa sunnat, (5) zakat: zakat maal danzakat fitrah, (6)mengurus jenazah, (7) udlhiyyah (korban), (8) ‘aqiqah), (9) doa, dan (zikir).  Karakter ibadah adalah pelaksanaan ajaran sudah ditentukan dari Tuhan maupun Utusannya (Rasulullah). Manusia tinggal hanya mengikutinya (taken for granted). Manusia tidak boleh melakukan perubahan, baik menambah atau mengurangi. Menambahnya pasti menjadi bid’ah dlalaalah (bid’ah sesat) dan jika menguranginya sama dengan meniadakan semuanya, alias kafir. Diantara ke 10 dimensi ibadah ini hanya shalat saja yang paling otoritatif (‘azimah) atau paling mengikat, selainnya sudah terlalu banyak dispensasinya (rukhshoh) karena sesuatu kesulitan melaksanakannya. Contoh, si mukmin  tidak melakukan puasa Ramadlan karena sakit, bepergian, menyusui, hamil, atau karena benar-benar tidak kuat meleksanakannya. Si muslim tidak melakukan zakat dan haji karena miskin dan dimaklumi. Orang tidak melakukan wudlu karena wudlu itu dilaksanakan hanya karena akan shalat, thawaf, maupun memegang dan membaca Alquran, yang terakhir ini pun ternyata menjadi khilafiah. Dalam kata lain, wudlu hanya ibadah syarthiyyah (sebagai syarat) untuk melakukan sesuatu di luar wudlu itu sendiri. Banyak ulama yang menyatakan orang boleh menyentuh Alquran tanpa harus berwudlu dahulu. Wallaahu a’lamu bishawab; dan masih banyak contoh lainnya.

 

– Kedua, aspek social mencakup semua aspek kehidupan selain yang 10 di atas. Karakter pelaksanaan  dimensi social diserahkan kepada manusia. Dalam hal ini Rasul bersabda: “Antum a’lamu bi amri dunyaakum atau Antum a’lamu bi umuuridnyaakum” (Kamu lebih mengetahui soal urusan duniamu). Allah dan Rasul hanya memberi aturan yang amat longgar umpama supaya berbuat adil, tidak curang, jujur, menepati janji, menepati timbangan dan yang sejenisnya.

 

4. Dimensi Ibadah dan Muamalah.

Dimensi muamalah secara prinsip  identik dengan social. Meskipun demikian, keunikan dikhotomi antara ibadah dan muamalah bukan merupakan pemisahan yang bersifat demarkasional. Setiap ajaran ibadah pasti mengandung dimensi social dan sebaliknya. Contoh Shalat adalah dimensi ibadah. Kandungan sosialnya sebagaimana tampak dalam shalat berjamaah, antara lain adalah ajaran egalitarianisme amat menonjol. Siapa pun berhak berada di shaf pertama bagi yang datang lebih duluan. Pejabat atau ulama harus rela berada di shaf belakang kalau memang dating di masjid  belakangan. Jika dirinci lebih lanjut, dimensi muamalah/social bisa mencakup IPTEK, seni, aestetika, politik, sejarah, kemasyarakatan, ekonomi, dan budaya, dan lain-lain

 

5. Aktualisasi antara Ibadah dan Sosial

Kekurangan  atau kesalahan dalam pelaksanaan ibadah, kafarat (tebusan) nya adalah dimensi social.Contoh: (a) Orang melakukan puasa Ramadlan  kemudian berhubungan seks di siang hari, tebusan yang yang paling memungkinkan adalah memberi makan kepada 60 orang miskin. Orang tidak melakukan puasa Ramadlan karena sakit, hamil, atau menyusui, tebusannya adalah fidyah (bersedekah memberi makan kepada fakir miskin). Orang berusaha supaya puasanya sempurna, ia harus melaksanakan  zakat fitrah. Supaya shalat ‘Id-nya sempurna, ia harus melakukan kurban. Karena melakukan haji tamattu’ atau karena kesalahan-kesalahan selama ihram: mencabut rumput, memotong daun dari pohonnya, mencabut rambut atau bulunya sendiri, dan membunuh serangga atau kutu, ia harus membayar dam (uang). Sebaliknya, kekurangan atau kesalahan pelaksanaan dimensi social tidak bisa dilunasi dengan ibadah. Contoh: dosa karena menyakiti orang lain, karena korupsi, karena mencuri, karena memfitnah  tidak bisa ditebus dengan istghfar berapa pun banyaknya atau dengan shalat tahajud setiap malam. Dosa social itu hanya akan dilebur oleh Allah setelah memperoleh maaf dari yang disakiti, yang dicuri barangnya, yang dikorupsi, atau dengan singkat dari orang yang dirugikan. Jika punya hutang di bawa mati, betapa pun kecilnya, tetap menjadi halangan untuk menuju surga manakala amalnya amat banyak dan mengalahkan amal jahadnya.

 

6. al-Wa’du Wal wa’iid (Janji dan ancaman)

Secara umum, janji-janji yang menyenangkan  seperti pahala (ajrun), kebaikan (hasanah), ni’aam (berbagai kenikmatan) itu lebih besar dari pelaksanaan urusan social atau muamalah ketimbang ibadah. Demikian pula, ancaman: dosa, siksa kubur, siksa neraka jauh lebih dahsyat karena pelanggaran social dari pada pelanggaran ibadah. Contoh-contohnya sebagai berikut:

 

  • Penghilangan nyawa. Disebutkan dalam surat al-Maidah/5 : 32 sebagai berikut:

. . . Man qatala nafsan bighoiri nafsin au fasaadin fil ardli fakaannamaa qatalannaasa jami’a. Waman ahyaaha fakaannamaa ahyannaasa jami

 

Artinya: Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi QS. Al-Maaidah/5 : 32)

 

Dalam ayat ini dapat dipahami bahwa membunuh satu orang saja, dosanya  dikategorikan membunuh semua manusia.Padahal dalam ayat lain menyebutkan bahwa Islam itu memberlakukan hukum qishash. Membunuh satu orang harus dihukum bunuh sebagai balasannya.  Demikian firman Allah termaktub dalam QS.al-Baqarah/2 : 178 sebagai berikut

 

 

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema’afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema’afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma’af) membayar (diat) kepada yang memberi ma’af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih

 

                Qishash    juga berlaku hanya sekedar melukai, demikian ayat yang menyebutkan tentang ini sebagaiberikut:

 

 

Artinya:

 Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada kisasnya. Barang siapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim QS. Al-Maidah/5 : 45)

 

Kesimpulannya, orang yang membunuh orang lain yang semestinya tidak boleh dibunuh , ia harus dibalas dibunuh dan dosanya sama dengan membunuh semua manusia. Dosa karena pelanggaran social, yaitu pembunuhan sungguh  demikian dahsyat.

 

  •   Haji Mabrur

Rasulullah menyatakan bahwa pahala haji mabrur adalah surga balasannya. Demikian sabdanya: “al-Hajjul mabruuru laisal jazaa’ illal jannah (Haji mabrur tidak ada balasan lain kecuali surga). Tetapi harap diingat bahwa predikat haji mabrur tidak diperolehnya ketika seseorang selesai melakukan ibadah haji, melainkan juga harus diperhatikan pasca melaksanakannya di kehidupan hariannya, yang berarti juga termasuk masalah sosialnya.

  •   Keutamaan Mendamaikan Dua Orang Berseteru

Rasulullah menjelaskan bahwa keutamaan mendamaikan dua orang berseteru, keutamaannya setara dengan puasa, shalat, dan sedekah sekaligus. Demikian sabdanya: alaa ukhbirukum min darajatish shiyaami wash shadaqati wash shalaati ? Qulnaa: Balaa, Qaala : Ishlaahu dzaatil bain. Fa inna fasaada dzaatil baini hiyal haaliqatu:Rawaahu Abu Daawuda ( Hai ! maukah kamu aku beri tahu tentang suatu perbuatan yang keutamaannya setara dengan puasa, sedekah dan shalat sealigus ? Kami menjawab Ya” Beliau bersabda: “yaitu mendamaikan dua orang yang berseteru karena kerusakan yang ditimbulkan oleh orang yang berseteru adalah penghancuran – HR. Abu Dawud.

  • Keutamaan Anjang sana

Rasulullah menjelaskan bahwa pahala orang yang beranjangsana kepada saudara kerabat atau saudara seiman, balasannya  surga, setimbang dengan haji mabrur. Demikian sabda Rasul: “Idzaa ‘aada almuslimu akhaahu au zaarahu , Qaala-llaahu Ta’ala: ‘thibta wa thaaba mamsaaka watabawwa’ta minal jannati manziilan. Rawaahu at-Turmudzi ‘an Abi Hurairah (Kitika seorang muslim bertilik kepada saudaranya atau mengunjunginya, Allah berfirman: Alanggakah beruntungnya ! Sungguh beruntung perjalananmu ! Engkau menempatkan surga sebagai tempat tinggalmu – HR. at-Turmudzi dari Abi Hurairah).

 

Memang,  kalau beranjangsana ke tempat famili  terlalu sering akan membuat jengkel yang dikunjungi, meskipun kejengkelan ini salah berat. Yakni, kewajiban kita jika ada tamu adalah memulyakannya sebagai perwujudan iman kepada Allah dan hari akhir (Man kaana yu’minu billahi wal yaumil aakhiri falyukrim dlaifahu). Maka harus disiasati berkunjung ke tempat famili supaya mendapat keutamaan yang fantastic, tetapi tidak menjengkelkan yang dikunjungi, yaitu berkunjung sebagaimana tuntunan Rasul: Zur hibban tazdad huddan (berkunjunglah jarang saja, maka engkau akan mendapat petunjuk).

 

  • Dahsyatnya Dosa  Memutus Shilaturrahim

Dengan singkat Rasulullah menyatakan: “Laa yadkhulul jannata qaathi’un – Muttafaqun ‘alaih (Tidak masuk surga bagi orang yang memutus shillaturrahim – Muttafaqun ‘alaih). Dalam kesempatan lain Beliau menyebutkan bahwa shillaturrahim itu adalah dua orang dalam keadaan berseteru, kemuadian siapa yang berinisiatif mengajak damai itulah yang disebut sillaturrahim. Kalau bukan dalam keadaan berseteru bukan dinamakan sillaturrahim, kalau dalam keadaan damai, nama beranjangsana, atau tilik, atau ziarah – jangan dikacaukan dengan kuburan.

 

 

  • Dahsyatnya Dosa Berseteru. Rasulullah menjelaskan dalam Hadis riwayat at-Turmudzi bahwa orang yang berseteru (tidak saling bertegur sapa) lebih dari 3 hari haram masuk surga.

 

  •  Dahsyatnya Dosa Egoisme. Rasulullah bersumpah jerapah dalam nada yang sngat emosional: Laa yu’minu wa-llaah ! laa yu’minu wa-llaah ! Wa-llaah laa yu’minu ! Qiila, man yaa Rasuulullah ? Qaala: alladzii laa ya’manu jaarahu bawaaiqahu – Rawaahu at-Turmudzi (Tidak beriman demi Allah ! Tidak beriman demi Allah ! Demi Allah tidak berimann! Ditanyakan, siapa itu wahai Rasulullah ? jawabnya: “Orang yang tetangganya menjadi tidak aman karena keberadaannya – HR. at-Turmudzi.

 

  • Pahala Pelaksnaan Ibadah Mahdlah

 

      Pelaksanaan shalat, pelaksanaan zakat, itu ternyata tidak ditemukan penjelasan  pahala secara mendetail. Yang dijelaskan hanya siksaannya jika tidak dilaksanakan. Gambaran-gambaran pahala yang begitu fantastic dalam urusan ibadah justru kebanyakan bersumber hadis palsu atau paling tinggi hadis dhai’if (lemah).Contohnya adalah shalat tasbih. Hadis yang menjelaskan shalat ini menurut para ahli kritikus hadis ternyata lemah.

 

7. Kehidupan Sehari-hari

Waktu yang digunakan dalam apresiasi antara kehidupan ibadah (mahdlah) dan

ibadah social jauh lebih longgar untuk urusan social.

  1. Shalat lima kali sehari maksimal hanya membutuhkan waktu 20 menit, 22 jam 40 menit sisanya adalah   kehidupan social
  2. Puasa sebulan penuh (29 atau 30), waktu di luar puasa 11 bulan.
  3. Haji + umrah hanya membutuhkan waktu beberapa hari, dibanding waktu sepanjang umur.
  4. dan seterusnya dst dst. . .

8. Contoh kajian ayat dengan analisis penggolongan antara urusan ibadah dan urusan social. Allah berfirman dalam surat an-Nisaa’/4 : 46 sebagai berikut:

                                                                           

Artinya: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri (QS. An-Nisaa’/4 : 36).

 

Jika ayat ini dipolarisasi menjadi masalah ibadah dan social mendapat hasil sebagai berikut:

a. Hanya satu soal ibadah, yaitu tidak berlaku musyrik, alias bertauhid

b Ada 12 masalah social. Yaitu: (1) Berbuat baik kepada Ibu, (2) Berbuat baik kepada Bapak, (3) Berbuat baik kepada kerabat, dengan jumlah banyak minimal dua, (4) Berbuat baik kepada anak yatim, (5) Berbuat baik kepada orang-orang miskin, (7) Berbuat baik kepada tetangga dekat, (8) Berbuat baik kepada tetangga jauh, (9) Berbuat baik kepada teman dekat, (9) Berbuat baik kepada anak jalanan, maksudnya pencari ilmu dengan merantau  (10) Berbuat baik kepada pembantu, tukang, atau buruh yang ada dalam kekaryaan kita (11) Tidak angkuh, dan (12) Tidak ambisi selalu berada di depan.

 

9. Penutup

Atas dasar sejumlah indikasi yang dijadikan sebagai argument ini dapat dinyatakan, bahwa melalui pendekatan social, agama Islam itu adalah agama Sosial. Meskipun demikian janganlah sampai salah sangka bahwa khatib menyepelekan iman dan ibadah. Sama sekali tidak. Pelaksanaan dimensi social tidak berarti sama sekali kalau tidak dilandasi iman dan melaksanakan ibadah mahdlah. Orang mengaku beragma Islam, urusan sosialnya sangat baik, tetapi tidak shalat,ia tidak dikategorikan sebagai muslim. Rasulullah bersabda: “al-Farqu bainanaa wa bainahum as-shalah” (Perbedaan antara kita dengan mereka adalah shalat). Atau ia bersabda: “as-Shalaatu ‘Imaaduddiin. Faman aqaamaha faqad aqaamaddiin, waman tarakaha faqad hadamaddiin (Shalat itu adalah tiang agama. Barang siapa melaksanakannya, sungguh ia mendirikan agama. Barang siapa meninggalkannya, sungguh ia menghancurkan agama). Jadi, masalah ibadah mahdlah yang kapasitas pelaksanaanya sedikit tetap harus diindahkan sebaik-baiknya karena identifikasi beragama atau tidak terletak pada ibadah mahdlah. Wallaahu a’lamu bi ash-shawaab.

 

Semarang, 8 Desember 2009

        

                                           

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>