Tauhid dalam aksi dan profesi

TAUHID DALAM AKSI DAN PROFESI

Sasaran Belajar

Setelah mengikuti pembekalan dan pembelajaran ini  Mahasiswa diharapan dapat menjelaskan tauhid sebagai landasan dalam semua aksi, termasuk dalam menjalani profesi. Untuk ini, mahasiwa juga perlu  memiliki  pengetahuan tentang

  1. agama dan  beragama,
  2. tolok ukur kebenaran,
  3. jangkauan agama,
  4. unsur-unsur agama dan hubungan di antara keduanya, serta
  5. basmalah sebagai dasar, operasional, dan tujuan aksi

A. Agama dan Beragama

Antara agama dan beragama tidak dapat dipisahkan tetapi dapat dibedakan (Muslim Kadir). Agama adalah pranata/undang-undang ketuhanan yang diturunkan kepada orang yang berakal sehat untuk memperoleh kebahagiaan dunia-akhirat. Wujud undang-undang itu adalah wahyu/kalamullah yang kongkritnya adalah Alquran dan Assunnah ash-shahihah al-maqbulah, atas dasar penjelasan dari Alquran sendiri

 

 

Artinya:

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.

Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya(QS. an-Najm/53 : 3)

 

Sementara itu,beragama adalah pelaksanaan pranata ketuhanan oleh manusia. Wujud pelaksanaannya adalah ibadah dan muamalah. Dalam bahasa lain, ibadah disebut ibadah mahdlah, yaitu ibadah yang tatacaranya sudah ditentukan oleh Allah dan Rasulullah.Manusia tidak boleh mengarang sendiri. Muamalah disebutnya ibadah ghairu mahdlah. Cirinya adalah ijtihadiyah, artinya, manusia diberikan hak untuk mengatur sendiri. Allah dan Rasulullah hanya menentukan prinsip-prinsip dasarnya, yaitu tauhid. Ibadah mahdlah juga disebut hablumminallah, secara literal berarti tali hubungan dengan Allah, maksudnya hubungan antara khaliq-makhluq secara personal. Ibadah ghairu mahdlah atau muamalah disebut juga hablumminannaas, yaitu tali pengikat antar hubungan sesama manusia. Manusia  tidak bisa hidup sendirian, mesti harus hidup bersama, dalam aturan bersama sehingga tidak saling merugikan atau dirugikan.

Ibadah dalam arti upacara keagamaan yang pokok mencakup: Thaharah (mencakup istinjaa’, yaitu menghilangkan najis yang menempel pada tubuh, pakaian yang dikenakan atau tempat yang dipakai dalam ibadah mahdlah seperti shalat),  shalat (wajib lima kali sehari dan shalat-shalat sunnah seperti: rawatib, tarawih, witir, idul fitri dan idul adhha, shalat dluha, tahajjud, dll), puasa (puasa wajib dalam bulan Ramadlan dan puasa-puasa sunnah seperti: puasa 6 hari bulan syawwal, puasa Senin-Kamis, puasa Ayyam al-Baidla’/hari-hari putih, tgal 14,15,16 tiap bulan, puasa Dawud yaitu sehari puasa sehari berbuka atau dua hari puasa sehari berbuka, dan puasa yaumu ’arafah, (zakat wajib seperti zakat mal setelah sampai nishab atau kuota dan zakat fitri, keutamaan-keutamaan lain seperti sedekah, infaq, dan hadiah), haji (dalam tekniknya mencakup haji ifrad, tamattu’, dan qiraan – termasuk keutamaannya yaitu umrah), mengurus jenazah (mencakup memandikan, mengafani, menyalati, dan mengebumikan – otomatis yang lainnya adalah tambahan-tambahan kreatif manusia seperti peringatan 7 hari, 40 hari, 100 hati, ulang tahun satu kali/ mendhak pisan, ulang tahun 2 kali/ mendhak pindho, peringatan 1000 hari/nyewu, dan haul peringatan tiap tahun kematian. Semua ini tidak diajarkan oleh Rasulullah dan tidak diperintahkan oleh Allah), ‘aqiqah (unsurnya mencakup: menyembelih kambing sebagai tanda syukur kepada Allah dan tebusan kepada-Nya, memberi nama yang baik menurut syariah, tahniq yaitu mengolesi kurma yang telah dihaluskan atau madu pada bibir atau rongga mulut bagian atas si bayi, mendoakan barakah kepada bayi, dan mencukurnya. Upacara ini dilaksanakan pada hari ke 7 hari kelahiran bayi), udhiyyah (berkorban setelah melaksanakan shalat idul adha), do’a (dengan materi doa yang dibenarkan menurut syariat umpama mohon diberi kekuatan untuk melaksanakan perintah-perintah agama, mohon diberikan keselamatan, kesehatan, kemurahan rezeki, dll, tidak boleh memohon yang menentang agama seperti diberi kemampuan untuk mencuri yang aman),  dan zikir (seperti membaca kalimah-kalimah thayyibah: tasbih, tahmid, takbir, istighfar, hauqalah, dan shalawat, asmaa’ al-husna.

Muamalah adalah segala kegiatan kehidupan hubungannya antara manusia yang satu dengan yang lain yaitu saling tolong menolong dalam urusan ketakwaan dan kebaikan bukan dalan urusan dosa dan permusuhan, sebagaimana firman Allah sebagai berikut:

 

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannyadan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya QS. Al-aidah/5: 2).

 

maupun hubungan antara manusia dan alam semesta (material, tumbuh-tumbuhan, dan binatang). Alam semesta seisinya diperuntukkan manusia, tetapi juga sebagai amanah agar bumi ini makmur, artinya bumi tempat kita berdiam ini harus nyaman, ekologinya seimbang. keadaan bumi sekarang ini sangat menghawatirkan antara lain globar warming, green house,  banjir, tanah longsor, kegundulan hutan yang semua ini merupakan akibat ulah manusia. Demikian Allah menjelaskan:

Artinya:

Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya – QS. Hud/11 : 61).

 

B.  Tolok Ukur Kebenaran antara Agama dan Beragama

 

Jika diukur dari segi kebenaran, agama bersifat mutlak, tidak boleh dan tidak bisa diubah (untestable truth) dan dipercayai atas dasar iman untuk diucapkan  sebagai komitmen  dan pernyataan iman, dan dilaksanakan dengan anggota tubuh. Sebaliknya jika diukur dari segi kebenaran, beragama bersifat relatif oleh banyak faktor (kecerdasan orang yang beragama itu, kepentingan pribadi atau kelompok, geografi, sosial, politik, adat istiadat, bahasa, teknologi, atau secara umu kebugayaan dan peradaban), karena itu bisa diubah, bahkan kadang-kadang harus diubah. Dengan demikian, sifat kebenrannya adalah testable (bisa dan perlu diuji).

Contoh-contoh perubahan kebenaran beragama

  1. Qaul qadim (fatwa-fatwa terdahulu)  lalu diubah menjadi qaul jadid (fatwa-fatwa belakangan kemudian) oleh Imam Syafi’i.
  2. Untuk memperoleh kualitas gigi bersih, zaman Nabi cukup digosok memakai kayu araq, sekarang memakai sikat gigi dan odol kualitas bagus.
  3. Jaman Nabi shalat cukup di tanah pasir dan pembatasnya garis atau tombak/tongkat yang ditancapkan di depan mushalli, sekarang di alas keramik, karpet, sajadah. Dalam ruang berkipas angin, atau bahkan ber-AC.
  4. Model pakaian shalat pada jaman Nabi hanya khusus mode pakaian orang Arab kuno, sekarang bisa memakai sarung, baju koko, dan pecis hitam, bisa pakaian kebesaran ala Eropa, atau model di mana Islam itu berada, asal secara lokal dikatakan sopan dan menutup aurat.
  5. Pada jaman Nabi tidak ada ritual halal-bihalal. Di Indonesia, ritual ini  sekarang amat semarak

Catatan:

Hanya saja, perubahan-perubahan keberagamaan itu perlu dibatasi dengan tolok ukur kebenaran agama. Kenyataannya banyak sekali pola-pola ritus keberagamaan yang jauh dari hakikat kebenaran agama, umpama tradisi bukak luwur di sepanjang pantai utara Jawa pada makam-makam wali. Dalam upacara ini terdapat banyak unsur bid’ah, khurafat, bahkan syiriknya. Contoh unsur bid’ahnya adalah bacaan-bacaan Alquran dan kalimah-kalimah thayyibah diyakini ada pahalanya, kemudian pahala ini dikirimkan kepada para arwah, dan kurirnya Tuhan. Unsur khurafatnya adalah keyakinan pahala itu sampai pada arwah yang dituju, dan unsur syiriknya adalah dalam membaca-baca kalimah thayyibah itu menggunakan para wali itu sebagai perantara kepada Tuhan.

Kain putih pembungkus makam, maksudnya batu nisan, dan kain pembungkus rumah makamnya itu dipotong-potong sebesar sapu tangan kemudian dijual kepada para partisipan ritus itu. Kain-kain perca diyakini mengandung tuah atau karamah wali untuk berbagai keperluan hidup (kullu hajatin).

Dalam upacara itu juga dibagi-bagikan nasi bungkus daun jati. Dalam sekali ritus bisa membagi nasi semacam itu hingga 30.000 bungkus. Orang yang memperoleh bagian nasi bungkus itu   membawanya  pulang, kemudian dikeringkan dan seterusnya disimpan. Setiap akan memasak nasi mengambil nasi kering itu satu hingga 3 butir dicampurkan dalam beras yang akan dimasak dan diyakini keseluruhan nasi yang dimasak itu memperoleh berkah dari campuran nasi kering tersebut.

Jadi amat kacau jalan pikirannya. Dalam tahlilan itu, arwah dikirimi pahala, meminta tolong kepada Allah supaya pahala itu sampai kepada arwah yang dikirimi itu, sementara dalam memohon pengiriman pahala itu menggunakan arwah yang dikirimi itu sebagai perantara (wasilah) juga. Kekacauan bertambah-tambah dengan keyakinan kain perca bekas pembungkus kijing, dan nasi aking memiliki berkah karena karamah wali yang telah dikubur itu. Subhaanallaah, kita mohon perlindungan dari kekacauan pikiran, kekacauan iman, dan kekacauan pola ibadah ini. Semoga mereka lekas sadar akan kekeliruannya, bukan malah menghujat kepada yang meluruskannya; amiin.

C. Jangkauan Agama

  1. Ruang lingkup agama identik dengan ruang lingku keberagamaan
  2. Ruang lingkup agama mencakup semua aspek kehidupan
  3. Ruang lingkup agama, jika dirinci mencakup:
    1. dimensi kepercayaan
    2. dimensi perasaan
    3. dimensi pemikiran  (Ketiganya ini dalam level individu)
    4. dimensi sosial ( keempatnya ini tercakup dalam dimensi keduniaan)
    5. dimensi akhirat
    6. Tidak ada bagian kehidupan yang berada di luar jangkauan agama.

                        Implikasi Jangkauan agama seperti ini, mengakibatkan doktrin fiqih yang jangkauannya al-ahkam al-khamsah, yaitu: wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah menjadi kurang relevan, atau bahkan jauh dari kebenaran agama karena sebagian besar kehidupan berada di luar area ritual, yaitu mubah, yang berarti pula sebagian besar kehidupan berada di luar area agama atau keberagamaan.

  1. Perintah Agama

Jika mengacu kepada firman-firman Allah, jangkauan agama sedemikian luas seperti perincian di atas. Berikut ini ditunjukkan firman-firman Allah dimaksud:

  1. Dalam beragama hendaklah totalitas kehidupan, demikian Allah menjelaskan

 

 

 

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu (QS. Al-Baqarah/2 : 208).

 

  1. Islam sebagai agama yang sempurna, demikian Allah menjelaskan:

 

Artinya:

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS al-Maidah/5 : 3).

 

 

  1. Alquran menjelaskan segala sesuatu, demikian Allah menjelaskan:

 

 

 

 

 

Artinya:

Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (QS.an-Nahl/16 : 89).

 

 

  1. Tidak ada yang dialpakan oleh Alquran, demikian Allah menjelaskan:

 

 

 

 

 

Artinya:

Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab[472], kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan (QS. al-An’am/6 : 38).

 

 

  1. Islam berlaku secara universal dan sepanjang masa, demikian Allah menjelaskan:

 

Artinya:

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (QS. al-Anbiya’/21 : 107).

 

 

  1. Contoh-Contoh Perintah dan Anjuran  Dalam Kaitannya Dengan Kesehatan

 

  1.                          a.            Tahapan kejadian manusia dalam rahim, demikian Allah menjelaskan:

 

 

 

 

Artinya:

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanahKemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik (QS. al-Mu’minun/23 : 12-14).

 

 

  1.                          b.            Dalam menyusui anak oleh ibu hendaklah 2 tahun genap, demikian Allah menganjurkan akan hal ini:

 

Artinya:

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh. (QS.al-Baqarah/2 : 232).

 

  1.                          c.            Perintah berpuasa  supaya sehat. Hadis Nabi mengatakan: Shuumuu rasihhuu (berpuasalah kamu sekalian niscaya engkau sehat).
  2.                          d.            Budaya hidup bersih, Alquran menyebutnya 29 kali, antara lain menunjukkan supaya, diri – mencakup jiwa dan raga –  pakaian, lingkungan itu supaya  bersih, pernyataan Allah menyukai orang yang membersihkan diri. Dalam Hadis ditambahkan  hingga di tempat yang paling kotor, yaitu tempat membuang kotoran saja supaya tetap menjaga kebersihan.
  3.                          e.            Dalam mengkonsumsi segala sesuatu (makan dan minum) supaya yang halalan thyiyban (halal dan bersih/baik) dan pas ukurannya baik secara kuantitas maupun kualitas ( jumlah yang dikonsumsi dan kandungan gizi) dan tidak boleh berlebihan dengan kebutuhan tubuh, bahasa teknisnya asupan gizi seimbang.
  4.                            f.            Praktik-praktik pengobatan Nabi yang dilaporkan oleh para penghimpun hadis dalam kitab ath-Thib (bab kedokteran/pengobatan) mulai pencegahan datangnya penyakit, kebiasaan hidup sehat – santai, kerja, tidur, dan istirahat – dan berbagai teknik pengobatan terhadap penyakit.
  5.                          g.            Prinsip-prinsip ilmu urai tubuh, antara lain Allah menyatakan:

Artinya:

Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan,(Qs. al-Ghasyiyah/88 : 17).

 

Dan:

 

Artinya:

dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?    (az-Zariyat/51 : 21).

 

  1.                          h.            Dilarang berbuat yang membahayakan, termasuk membahayakan kesehatan, demikian Alquran menyatakan:

 

Artinya:

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.(QS. al-Baqarah/2 : 195).

 

D. Jangkauan agama Menurut para pakar

 

  1. M. Syalthout, Agama mencakup: aqidah dan syar’iah
  2. Mahmud al-Aqqad, Agama mencakup: aqidah, syari’ah, dan akhlaq.
    1. Harun Nasution, Islam mencakup: tauhid, ibadah, hukum, politik, filsafat, tasawuf, pembaharuan, sejarah, dll, seperti ilmu.

Keterangan:

 

  1. Muhammadiyah mengambil ciri pembaharuan, contoh: Ketika NU tidak membahas tentang merokok, Muhammadiyah dalam tarjihnya memutuskan bahwa merokok hukumnya haram dengan alasan QS. al-Baqarah/2 : 195)

 ولا تلقوا ايديكم الى التهلكة

  1. Muhammadiyah menentukan hukum berdemonstrasi dengan keputusan yang bersifat tentatif, bahwa berdemo bersifat mubah, asal:

1)     tidak merusak fasilitas umum

2)     tidak anarkhis

3)     tidak dalam rangka kepentingan individu atau kelompok

4)     dalam rangka menegakkan kebenaran (moral force).

  1. Tim Dosen Agama Islam UGM, Islam mencakup: Ketuhanan, manusia, Iman dan Takwa, masyarakat, HAM dan demokrasi, hukum, politik, ekonomi, iptek dan seni, kebudayaan, etika (moral, akhlaq), dan kerukunan umat beragama. Pembagian Islam atas unsur-unsur itu dilakukan secara pragmatis saja karena memenuhi anjuran dari DIKTI DIKNAS tentang kurikulum Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi umum yang berbobot hanya 3 SKS.
  2. Fazlurrahman, Islam mencakup: Tuhan, manusia, masyarakat, alam semesta, kenabian dan kewahyuan, eskatologi, setan dan kejahatan, dan lahirnya masyarakat muslim (sejarah) di bawah payung tema besar ”The Mayoriry of Islam”

E. Unsur-unsur Agama

  1. Abu hasan al-Asyari menyatakan bahwa iman mencakup kepercayaan dalam hati (at-tashdiiqu bi al-qalb), mengucapkannya dengan lisan (al-iqraaru bi al-lisaan), dan melaksanakannya dengan anggota badan (al-’amalu bi al-arkaan/ bi al-jawaarih).
  2. Joachim Wach menyatakan (identik dengan al-Asy’arir), bahwa agama merupakan respon manusia terhadap Realitas Mutlak yang diungkapkan dalam bentuk pemikiran (perasaan, dan keyakinan), ritus-ritus (ibadah seperti shalat, puasa, haji, udlhiyyah, ’aqiqah, dan mengurus jenazah), dan kehidupan kelompok atau kehidupan sosial).
  3. Pengertian kelompok amat longgar dan luas, satu diantaranya kelompok dokter, yaitu IDI (Ikatan Dokter Indonesia) , atau KKI (konsil Kedokteran Indonesia), PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia), PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia), kelompok atau Jamaah Pengajian, kelompok majlis taklim, jam’iyyah Thariqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyin, Persyarikatan Muhammadiyah dll.

 

 

F. Basmalah Sebagai Dasar, Operasional, dan Tujuan Suatu Aksi dan Profesi

 

  1. Arti kandungan basmalah adalah seluruh kegiatan yang meiliki nilai manfaat selalu merupakan atas nama Allah, bukan semata-mata kegiatan manusia.
  2. Perbuatan yang dilakukan atas nama Allah bersifat suci, berpahala, dan bernilai ibadah.
  3. Nabi mengatakan: ‘Kullu amrin dzibalin la yubdau bibismillahi fahuwa aqtha’u (segala sesuatu yang memiliki nilai kebaikan yang tidak dimulai dengan basmalah maka pasti terputus – hubungannya dengan Allah).
  4. Setiap aksi, termasuk menjalani profesi, termasuk profesi dokter, keperawatan, kebidanan, analis kesehatan, pustakawan, guru, dosen, instruktur, dan masih banyak jenis profesi lainnya selalu berkesadaran ilahiyah.
  5. Dampak yang ditimbulkan:
    1. Amat santun (humanis) terhadap yang dilayani (pasien, klien, relasi, rekanan, mitra kerja)
    2. Tidak berbuat dhalim terhadap yang ditangani
    3. Tidak melakukan penyerobotan (plagiat, korupsi, mencuri, merampas hak orang lain, mark up, kolusi, atau sebangsanya) dalam mengembangkan karier.
    4. Amanah terhadap yang telah menjadi kesanggupannya.

Tujuan seluruh kegiatan baik secara individual (perasaan, pemikiran, keyakinan), dan kehidupan sosial (hubungan antara manusia yang satu dengan yang lain)  harus dikembalikan kepada Allah. Dengan demikian, dasar melakukan kegiatan berlandaskan tauhid (rumus lafalnya adalah: basmalah), operasional (aplikasi) melakukan kegiatan atas nama Allah, dan senantiasa dikembalikan kepada Allah. Inilah yang dfisebut tauhid aksi dan tauhid profesi).

G.   Penutup

Untuk mengakhiri pembekalan ini, marilah kita berdoa bersama-sama: Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami untuk menjadi orang yang amanah, santun, dan konsisten dalam keyakinan, aksi, dan dalam menjalani profesi; amiin, ya  Rabb al-’Alamiin. Wallaahu a’lamu bi ash-shawaab.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Referensi

 

 

al-Asy’ari, Abu Hasan al-Imam, Maqaalaat al-Islaamiyyiin: wa al-Ikhtilaaf al-                           Muslimiin, II,  Kairo: Dar ast-Tsaqafah, 1930

 

. . . . . . . ,  al-Ibaanah ’an Ushuul ad-Diyaanah. Kairo: Idaarah ath-Thibaa’ah al-                                    Muniiriyyah, 1927.

 

’Abd al-Baqi, Ahmad Fuad, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfadl al-Qur’an al-Kariim.                                 Indonesia: Maktabah Dahlan, [t.th.].

 

Danusiri, Agama Islam dan Kemuhammadiyahan III Untuk Program Studi Ilmu                                   Kebidanan. Semarang, LSIK Unimus, 2007.

 

Danusiri, ‘Integrasi Ilmu: Deduksi atas Wahyu”, dalam Addin. Kudus: STAIN Kudus

 

Kadir, Muslim A. Ilmu Islam Terapan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.

 

Mazkur, Ibrahim. al-Mu’jam al-Falsafi. Kairo: Jamhuriyyah Mishr al-“Arabiyyah                           [t.th.]

 

Nasution, Harun. Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya. Jakarta: UI Pressw, 1981.

 

Salthout, Muhammad, al-Islam: al-’Aqidah wa asy-Syarii’ah. Kairo: Maktabah an-                                  Nahdlah al-‘Arabiyyah, [t.th.].

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>