Tradisi Maulid Nabi

TRADISI   MAULIDAN

Oleh : M. Danusiri

 

A. Pengertian Maulid Nabi Muhammad saw

Ada kekeliruan umum dalam penyebutan  kelahiran Nabi Muhammad saw, yaitu ‘maulud’. Peringatan tentang kelahiran Nabi Muhammad saw yang bertolak dari kesalahan penyebutan ini berlanjut kepada penamaan peringatan itu, yaitu ‘Peringatan Maulud Nabi saw’ atau disingkat ‘mauludan’, atau ‘muludan’. Secara leksikal, kata ‘maulud’ berarti ‘yang dilahirkan’. Sementara itu yang dimaksud dengan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad saw, bukan ‘yang dilahirkan’, melainkan menyangkut berbagai hal tentang kelahiran beliau, seperti: hari kelahirannya itu sendiri, sejarahnya, perilakunya semasa hidup, kematiannya, hingga pengaruhnya dalam masyarakat dunia dari generasi ke generasi. Kata yang tepat untuk tujuan itu adalah ‘maulid’ dan lengkapnya ‘Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw’.

Kata ‘maulid’ terambil dari perpindahan kata ‘walada, yu>ladu, maulidan’, yang arti kata ‘maulidan’ adalah kelahiran. ‘Maulid Nabi Muhammad saw’ berarti kelahiran Nabi Muhammad saw. Secara praktis bukan hanya memperingati ‘hari’ kelahiran Nabi Muhammad saw, melainkan juga berbagai hal yang berkenaan dengan eksistensi Nabi Muhammad saw sejak dari peristiwa-peristiwa berkenaan dengan sebelum maupun saat-saat kelahirannya hingga pengaruhnya dalam peradaban dunia setelah beliau wafat. Pribadi Nabi Muhammad saw adalah orang yang paling berpengaruh di dunia hingga sekarang (Hart, 1988 : 1),

Menurut catatan sejarah, hari kelahiran Nabi Muhammad saw berfariatif (Rid}a, l966 : 16, 19, 26, 30). Antara lain tanggal kelahiran beliau disebutkan 9 Rabi’ul Awwal dan 12 Rabi’ul Awwal. Berkenaan dengan ini, Abdullah bin Baz menyatakan sebagai berikut:

Secara historis-sosiologis tanggal kelahiran Rasulullah saw tidak diketahui secara pasti. Bahkan, sebagian ahli sejarah di masa kini yang mengadakan penelitian (research) menyatakan bahwa tanggal kelahiran Nabi saw adalah 9 Rabi’ul Awwal bukan 12 Rabi’ul Awwal. Dengan demikian perayaan memperingati Maulid Nabi saw pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal dari sisi sejarah tidak ada dasarnya (Abdullah, 2003 : 215)

 

Hanya saja penetapan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw menurut kalender Masehi yang berlaku secara nasional di negeri kita (Indonesia)  adalah pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal (identik dengan bulan ini menurut bahasa Jawa adalah bulan Maulud atau Mulud). Pada tanggal ini ditetapkan secara nasional sabagai hari libur dan berlaku sejak dahulu hingga sekarang tanpa ada peninjauan sama sekali, dengan demikian penetapan hari kelahiran Nabi saw pada tanggal ini telah menjadi kesepakan nasional, meskipun dari tinjauan sejarang kurang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

 

B. Sejarah Singkat Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw tidak dilaksanakan pada masa generasi pertama dalam Islam yaitu  sahabat, generasi kedua yaitu tabi’in, maupun generasi ketiga yaitu tabi’ut tabi’in (Basyaruddin, 2007 : 171), karena memang tidak ada anjuran apalagi perintah baik dari Allah maupun Rasulullah sendiri. Memperingati seseorang yang sudah meninggal tidak dikenal dalam tradisi Rasulullah hingga generasi ketiga (tabi’ut tabi’in), atau dengan kata  di luar kawasan yang mereka pikirkan. Maka amatlah wajar kalau  memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw menjadi khilafiah di kalangan umat Islam, ada yang mengatakan bid’ah dan ada yang mengatakan sunnah terhadapnya.

Orang yang mengadakan ritus perayaan memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw adalah bani ‘Ubaid al-Qadah aatau ‘Ibadiyyu>n sempalan dari syi’ah Isma’liyyah atau Syi’ah bathiniyyah. Moyang mereka Ibnu Disham yang dikenal al-Qadah. Semula ia adalah budak (mawali) Ja’far bin Muhammad bin Shadiq dan berasal dari Ahwaz. Ibnu Disham adalah salah satu pendiri Syi’ah bathiniyyah. Dari Ahwaz pindah ke Maghrib kemudian menisbatkan diri kepada ‘Aqil bin Abu Thalib dan mengaku sebagai keturunan Muhammad bin Isma’il bin Ja’far ash-Shadiq, padahal orang ini meninggal tanpa meninggalkan keturunan (Basyaruddin, 2007 : 172) sama sekali.

Pada tahun 362 H Bani ‘Ibadiyyu>n berhasil memasuki Mesir dan seterusnya  memperingati ‘Maulid Nabi menjadi tradisi yang berkembang dalam Syi’ah Fathimiyyah. Dinasti Fathimiyyah memang memiliki hari-hari besar cukup banyak antara lain: Maulid Nabi Muhammad saw, Hari ‘Asyura (tanggal 10 Muharram), Maulud Hasan-Husein, Maulud Fathimiyyah, Awal bulan Rajab, Maulud Ali bin Abi Thalib, Nisfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban), Awal Ramadan, Akhir Ramadan, peringatan 7 hari kematian seseorang yang berlanjut pada hari ke 40, 100, tahun pertama kematian, tahun pertama kematian, dan hari ke 1000, peringatan menyambut musim penghujan, menyambut musim kemarau (al-Maqrizi, [t.th.],II : 490). Peringatan-peringatan itu berpengaruh ke negeri kita (Indonesia) ini, terutama di kalangan masyarakat santri NU, terutama peringatan tentang kematian seseorang ( khususnya lagi leluhur), Rebo wekasan yaitu hari Rabu terakhir dalam bulan Shafar, dan Nisfu Sya’ban.  Di kalangan Muhammadiyah, hari-hari itu tidak diperingati, kecuali “maulid Nabi Muhammad” dengan format yang secara keseluruhan dibersihkan dari tah}ayyul bid’ah, khurafat, dan syirik. Meyakini bahwa dengan membaca al-Barjanji pada saat srokol yang para peserta upacara ini  semuanya berdiri dalam mengapresiasi perayaan Maulid Nabi saw, Ruh Rasulullah hadir dalam majlis ini dan memberi berkah kepada mereka adalah khurafat karena keyakinan ini tidak ada dasarnya dari Alquran maupun H}adis s}ah}i>h. Kalaupun ada hadis yang menyatakan seperti itu pasti hadis palsu (maud}u>’). Memohon sesuatu kepada Rasulullah pada saat beliau hadir dalam majlis al-Barjanji adalah syirik karena yang berhak untuk dimintai hanyalah Allah. Dalam hal ini Allah menyatakan ‘Iyya>ka na’budu wa iyya>ka nasta’i>n (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan). Menelorkan ide bahwa Rasulullah hadir dalam majlis al-Barjanji untuk memberikan berkah kepada para partisipan upacara ini adalah tah}ayyul. Peringatan Maulid Nabi bagi Muhammadiyah hanya murni pengajian umum  dengan tema-tema berkenaan dengan Nabi Muhammad saw atau Islam secara umum. Kalaupun disertai unsur lain semuanya bersifat provan tidak sakral, seperti  lomba pidato, dakwah, azan, membaca Alquran, musabaqah tilawatil Qur’an, olah raga dan yang lainnya untuk anak-anak, remaja masjid atau umum.

Kemeriahan yang mengiringi peringatan Maulid Nabi Muhammad saw diawali 2 abad kemudian dari Bani al-Qadah, yaitu pada pemerintaha dinasti Irbal, yaitu al-Malik Mudhaffaruddin (549-630 H – Basyaruddin, 2007 : 175). Dikisahkan bahwa dalam peringatan Maulidan ini disembelih kambing 5000 ekor, ayam 10000 ekor untuk pesta kolosal.

Upacara peringatan Maulid Nabi Muhammad saw berpengaruh luas di kalangan masyarakat Islam, termasuk di Indonesia tanpa menyadari asal-usulnya. Peringatan Maulid Nabi saw diterima dengan baik atas dasar perasaan agama sebagai sesuatu yang baik (taken for granted). Orang yang tidak mau melaksanakan peringatan maulid Nabi justru dikatakan bid’ah dan tidak mencintai Rasulnya. Sementara itu ‘Ibad al-Qadah ketika mencetuskan upacara peringatan ini menyatakan sebagai bid’ah h}asanah (Basyaruddin, 2007 : 174).

 

C Unsur-Unsur Pokok Pelaksanaan Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw

Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw telah membudaya bagi umat Islam di Indonesia untuk semua golongan sehingga peringatan ini dilaksanakan sejak dari tingkat komunitas kecil (kelompok pengajian/jam’iyyah pengajian) hingga tingkat nasional oleh pemerintah. Umat Islam yang benar-benar menyatakan bid’ah dan sama sekali tidak mau memperingatinya hanya bersifat kasus sangat langka dan individual. Sudah barang tentu karena umat Islam terpecah menjadi berbagai kelompok sosial keagamaan, maka dalam mengapresiasi peringatan Maulid Nabi Muhammad saw pun juga bervariatif. Untuk mendeskripsikan peringatan Maulid Nabi saw yang paling komplit unsur-unsurnya adalah dari kelompok Nahdlatul Ulama (NU).

  1. Waktu Pelaksanaan

Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw dilaksanakan dalam bulan Maulud  atau Rabi’ul Awwal, tidak mesti tepat pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal, tergantung kesepakatan antara Kiyai atau Ustaz yang akan memberi ceramah dengan panitia pelaksana peringatan Maulid kapan Ustaz atau Kiyai itu sanggup. Biasanya, pada bulan ini para Ustaz atau Kiyai yang terkenal padat dengan acara ceramah Maulidan sehingga sangat mungkin para panitia harus sabar menunggu giliran hari apa sang Kiyai atau Ustaz itu sanggup. Jamaah Masjid atau Musalla yang tergolong kecil sangat mungkin, karena harus meminta kesediaan seorang Kiyai atau Ustaz tertentu dan ia amat padat jadualnya dan sanggupnya setelah keluar dari bulan Maulud (Rabi’ul Awwal), maka pelaksanaan peringatan dilaksanakan pada bulan berikutnya, yaitu Ba’da Maulud Rabi’u as|-s|a>ni.

  1. Albarjanji

Semenjak pemerintahan Sultan S}alah} ad-Di>n dari dinasti Salajikah, peringatan Maulid Nabi Muhammad saw dikolaborasikan dengan upacara berjanjen. Untuk daerah kantong-kantong Nahdliyyin pembacaan berjanjen dilakukan semenjak hari pertama pada bulan Maulid hingga tanggal hingga tanggal 12 Rabi’ulAwwal, atau bahkan hingga akhir builan. terakhir . Sehari dalam sebuah Masjid atau Mushalla bisa diadakan berjanjen lebih dari satu kali. Ada berjanjen khusus remaja putri, remaja laki-laki, ibu-ibu PKK, atau bapak-bapak. Berjanjen dibacakan dengan seni khas dan selalu menggunakan pengeras suara dengan mengambil waktu bisa sehabis salat Subuh, sehabis salat Lohor, sehabis salat Maghrib, sehabis salat ‘Isyak, sehingga bisa mengganggu ketenangan pemeluk agama lain atau seagama tetapi tidak menyetejui pembacaan berjanjen dengan menggunakan pengeras suara.

Inti berjanjen adalah mengundang, mangayubagya, dan menyanjung-nyanjung Nabi Muhammad saw sebagai rasa cinta kepada beliau dengan ungkapan yang amat puitis atau dengan kata lain dan singkat padat adalah mah}abbaturrasu>l (cinta Rasul). Tujuan semula disusunnya naskah   Albarjanji oleh Abu Hasan al-Barjanji  adalah untuk membangkitkan rasa cinta kepada Rasulullah dan selanjutnya membangkitkan semangat umat Islam untuk mencegah mengganasnya tentara Salib yang telah membantai umat Islam pada perang salib ke I. Albarjanji sangat efektif membangkitkan semangat juang umat Islam sehingga dapat meluluhlantakkan kekuatan Salib pada perang salib ke II dan seterusnya.

Isi keseluruhan sanjungan kepada Rasulullah dalam naskah Albarjanji mirip dengan sanjungan kaum Nasrani terhadap Yesus Kristus, dan sudah barang tentu ada yang sangat berlebihan. Umat Nasrani meyakini Yesus sebagai Penebus dosa, maka Nabi Muhammad pun dalam naskah Albarjanji itu juga disebutkan sebagai penebus dosa. Pada lembar pertama dalam naskah itu tertuli “Assala>mu ‘alaik, ‘alaika ya> mah}ya az}-z}unu>b” (Keselamatan untukmu (Rasul), Bagimu wahai sang penghapus dosa). Aqidah semacam ini tentu tidak benar menurut Alquran. Lebih dari 224 ayat dalam Alquran yang berkenaan dengan penebusan dosa hanya Allah saja yang memiliki kewenangan menebus atau mengampuni dosa (kecuali dosa antar sesama), umpama rumusan ‘Inna-lla>ha Ghafu>rurrah}i>m (sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Kasih sayang, Q.S.at-Taubah/9 : 99).

Mempercayai Nabi Muhammad sebagai penebus dosa Juga menyamakan kedudukannya dengan  Yesus yang dipertuhan oleh kaum Nasrani yang menurut ajaran Alquran mempertuhan Tuhan selain Allah adalah kafir (Q.S. al-Maidah/5 : 17,72,73) atau musyrik (Q.S. an-Nisa>’/4 : 36). Dengan demikian, jika seorang muslim melakukan upacara berjanjen dengan meyakini penuh dan cinta penuh tanpa ada kritik apapun, apalagi marah atau tersinggung jika diingatkan bahwa di dalamnya mengandung unsur yang tidak benar menurut ajaran Islam, sebenarnya orang tersebut sudah jatuh kepada kemusyrikan karena meyakini Nabi Muhamammad sebagai penebus dosa. Untungnya para pengamal berjanjen secara umum tidak mengerti maksud yang terkandung di dalam naskah Albarjanji, kecuali secara global atas dasar pencerahan para Ustaz atau Kiyai sebagai mah}abbaturrasu>l (kecintaan kepada Rasul). Sayangnya, yang mengerti maksud detail kandungan naskah Albarjanji hanya sedikit, meskipun telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Naskah Albarjanji termasuk genre (karya seni) tinggi termasuk dalam kategori manakib, yaitu uraian sejarah seseorang yang menonjolkan hal-hal yang bersifat luar biasa. Contoh manakib adalah Manakib Syeikh ‘Abdul Qadir al-Ji>lani, Manakib Syeikh Bahauddin an-Naqsyabandi, dan Albarjanji itu sendiri. Diantara keluarbiasaan yang disebutkan dalam naskah Albarjanji adalah ketika beliau masih kecil dan digendong oleh Siti halimah di sekitar Ka’bah, arca-arca kagum kepada bayi (Nabi Muhammad) sehingga mata para arca menjulur keluar dari tempat (rongga) lebih satu jengkal memperhatikan bayi Nabi Muhammad saw. penjelasan hal-hal yang luar biasa dan irrasional  dari bayi hingga menjadi Rasul amat banyak.

Sebenarnya mencintai Rasulullah dengan mengapresiasinya dengan untaian syair adalah boleh-boleh saja, umpama ‘Anta syamsun anta Badrun (Engaku adalah matahari, Engkau adalah Bulan) bentuk prosanya adalah pola kalimat tasybih (penyerupaan) ‘Anta ka asy-Syamsi Anta ka al-Badri  (Engkau bagaikan matahari dan engkau bagaikan Bulan) yang secara alami menerangi dunia, kemudian melalui cara berpikir sillogistik sampai pada konklusi atau kesimpulan bahwa pribadi Nabi Muhammad bagaikan Matahari dan bulan menerangi dunia dalam ajaran tauhid dan keluar dari kegelapan iman. Asal tidak kebablasen melebihi kapasitas sebagai manusia dan sebagai Rasulullah tidak menjadi kesalahan, tetapi akan lebih sempurna kalau dalam mencintai Rasulullah menuruti permintaan Rasulullah sendiri sebagai orang yang dicintai, yaitu dengan cara:

  1. Mengikuti Nabi Muhammad saw, mengerjakan sunahnya, mengikuti perkataannya, menjalankan perintahnya, dan menjauhi larangannya. Dalam hal ini Allah berfirman:

 

 

Artinya:

Katakanlah jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutlah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang ( Q.S. Ali Imran/3 : 31)

  1. Lebih mendahulukan apa yang disyariatkan dan diperintahkan Rasulullah daripada mendahulukan hawa nafsu dan keinginannya sendiri. Allah berfirman:

Artinya:

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka; dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin), dan mereka mengutamakan ( orang-orang Muhajirin) atas mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa-apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang beruntung (Q.S. al-Hasyr/59 : 9).

 

  1. Banyak mengingat Rasulullah karena orang yang mencintai sesuatu tentu akan banyak mengingatnya. Dalam hal ini Allah berfirman:

 

Artinya

Sesungguhnya Allah dan Para Malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (Q.S. al-Ahzab/33 : 56).

 

Tiga point inilah ungkapan cinta sejati kepada Rasulullah saw. Jika Rajin melakukan berjanjen tetapi tidak melakukan ketiga point ini, ekspresi cintanya laksana cinta platonis, artinya cinta tak terbalas. Cara semacam ini tidak sesuai dengan ajaran Islam karena Islam amat mementingkan amal.

Di dalam ritus berjanjen masih terdapat kepercayaan mitis kalau tidak mau dikatakan khurafat, yaitu Ruh Rasulullah hadir di tengah-tengah majlis, kemudian partisipan berjanjen berdiri menyambut kedatangan beliau dengan mengatakan”S}alla-lla>h ‘la Muh}ammad” berulang-ulang  secara koor bernada mars, dan bacaan-bacaan lain yang secara keseluruhan menyanjungnya sebagai penghormatan atas kehadirannya. Selanjutnya Rasulullah memberikan berkah kepada para peserta berjanjen dan menghantarkan doa mereka kepada Allah swt. Sudah barang tentu kepercayaan ini bukan yang dituntunkan oleh Rasulullah maupun yang diperintahkan oleh Allah swt.

 

  1. Puncak pelaksanaan Peringatan Maulidan

Susunan pokok upacara peringatan ini adalah sebagai berikut:

  1. Pembukaan.

Materi pembukaan adalah bacaan surat al-Fatihah dihadiahkan kepada Rasulullah lengkap dengan keluarga dan sahabatnya, kepada tabi’in, tabi’ut-tabi’in, para malaikat, orang-orang yang mati syahid, para ‘alim-ulama, syeikh Abdul Qadir al-Jailani, syeikh Junaid al-Baghdadi, para leluhur Kiyai di daerah  mana peringatan itu dilaksanakan, dan sering para sunan (walisongo).

  1. Pembacaan kalam wahyu Ilahi

Materi yang dibacakan tergantung kepada pembaca (qari’), ayat apa atau surat apa yang akan dibacakan. Pembacaannya dilaksanakan begitu bagus dengan kadar seni yang amat tinggi, dan merdu sehingga bagi yang benar-benar menikmati suara ini bisa menangis atau mendirikan bulu roma (bulu pada githok) Setelah itu bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan gaya bacaan deklamasi.

  1. Tahlilan

Tahlilan adalah seperangkat kalimah thayyibah, surat-surat pendek dari Alquran, maupun kalimah-kalimah lain rumusan ulama yang keseluruhannya dibaca secara berjamaah. Pembacaan tahlilan diyakini memperoleh pahala, kemudian pahalanya dikirimkan kepada para ruh seperti disebutkan dalam point a di atas, plus seluruh umat Islam baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup, yang berada di daratan maupun di lautan (yang berada di udara tidak disebut), yang berada di belahan barat maupun timur, yang berada di belahan utara maupun selatan. Setelah itu ditutup dengan doa dengan materi doa yang cukup komrehensif dalam lingkup kehidupan, yang mesti tidak pernah ditinggalkan adalah permohonan ampunan kepada Allah bagi para ruh tersebut di atas, syafaat Rasulullah, dan hasanah dunia-akhirat. Uraian Hikmah Maulid Nabi Muhammad saw

Uraian hikmah Maulid Nabi oleh penceramah – bisa disebut Ustaz, pembicara – bersifat kontekstual. Jika sang pembicara merasa perlu memobilisasi umatnya untuk mensukseskan seseorang untuk mengegolkan jagonya supaya bisa menjadi anggota legislatif atau eksekutif maka mayor uraian adalah masalah politik, uraian maulidan hanya bersifat minor. Jika sang penceramah mengajak berinstropeksi karena menilai umat telah keterlaluan dalam berbuat kemungkaran, maka materi mayor ceramahnya adalah pertobatan, dst, , ,

Jika dipandang perlu, untuk menghidupkan suasana bisa diselingi musik ala santri, meskipun menggunakan enstrumen lain, umpama formatnya campur sari tetapi muatan liriknya diubah berisi muatan ajaran Islam, menggunakan seperangkat seni wayang tetapi di-setting sebagai pesan-pesan moral Islam. Ceramah biasanya diakhiri doa oleh penceramah itu yang isi pokoknya adalah ampunan Allah bagi umat Islam, khususnya yang hadir dalam forum itu, kebahagiaan mereka, dan peningkatan perolehan hidayah bagi mereka dan yang dianggap pemimpin.

Selain unsur pokok di atas sering ada unsur tambahan karena memang diselengarakan lebih meriah, umpama lomba-lomba keagamaan, lomba-lomba olah raga, lomba-lomba seni islami, ziarah kubur sebelumnya yang secara keseluruhan ditujukan supaya menambah syi’ar Islam. Pembagian hadiah bagi para juara peserta lomba dilaksanakan pada puncak acara peringatan Maulid Nabi Muhamma saw.

 

D. Pola-Pola Pelaksanaan Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw

Dua organisasi keagamaan dalam Islam, yaitu Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sama-sama menyelenggarakan upacara peringatan Maulid Nabi Muhammad saw, tetapi ada perbedaan dan kesamaan pelaksanaannya. Dalam NU lengkap dengan pembacaan berjanjen, kirim pahala kepada para arwah, bertawasul dalam berdoa, bertahlilan, berziarah kubur (bisa ya dan bisa tidak tergantung situasi), sementara itu dalam Muhammadiyah sama sekali tidak ada. Selebihnya bisa sama antara NU dan Muhammadiyah. Apa yang tidak dilaksanakan dalam NU oleh Muhammadiyah dianggap atau diyakini mesti jatuh ke dalam salah satu atau semuanya, yaitu tahayyul, bid’ah, khurafat, dan syirik (Mahrus Ali,2007 : 41 dst). Sementara itu apa yang di dalam NU dilaksanakan dianggap atau diyakini sebagai perbuatan yang utama menurut Islam sehingga mengidentifikasi sebagai ahlusunnah waljamaah. Meskipun perbedaan keyakinan ini amat kontras, namun secara keseluruhannya dari masing-masing pihak cukup dewasa sehingga bisa tercipta suasana toleransi tinggi di bawah rumusan ‘lana> a’maluna> wa lakum a’ma>lukum’ (bagi kami adalah amal perbuatan kami dan bagi kamu adalah perbuatan kamu).

E. Khurafat dalam al-Barjanji

  1. Pada saat pembacaan srokol (dari kata asyraqa yang berarti terbit) para pelaku berdiri seambil membaca antara laian “shalallallah ‘ala Muhammad”. Maksudnya adalah memberi hormat akan kedatangan Rasulullah.
  2. Rasulullah datang untuk memberi berkah kepada pelaku barjanji. Dalam banyak kasus, pada saat srokol ini ada sebagian memintal benang untuk dikalungkan atau dibuat gelang pada anak di bawah umur dua tahun. Dengan kepercayaan si bayi tidak akan menderita panas selama 2 tahun.
  3. Pada saat srokol ini bisa meminta apa saja kepada Rasulullah, dan beliau akan memberinya. Rumusan permohonan berkah ini antara lain Ya Rasulullah, aghitsni . . . (Wahai Rasulullah, tolonglah aku).

F. Bid’ah

Unsur bid’ahnya adalah kewajiban melakukan berjanjen itu sendiri, karena kalau tidak melakukannya berarti tidak cinta kepada Rasul. Tidak cinta kepadanya tidak akan mendapat syafaat.

G. Syirik

Unsur syiriknya antara lain meyakini bahwa Rasulullah menghapus dosa seseorang. Pengakuan bel;iau adalah mahiyal kufr (menghapus kekufuran), bukan mahiyadz-dzunub (menghapus dosa).

  1. 4.     DAFTAR  PUSTAKA

Al-Qur’a>n al-Kari>m

Ali, Mahrus, Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat & Dzikir Syirik (Nariyah, Al-Fatih, Munjiyat, Thibbulk Qulub). Surabaya: La Tasyukl, 2007.

Bin Baz, Abdul Aziz bin Abdullah, (et.all. dalam edisi Indonesia), Fatwa Kontemporer. [t.t.]: Media Hidayah, 2003.

Hart, Michael, The 100 a Rangking of the Most Influential Persons in History, Diterjemahkan oleh Mahbub Djunaidi dengan judul:Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah. Jakarta: Pustaka, 1988.

Rid}a, Muh}ammad, Muh}ammad Rasu>l Alla>h. Kairo: al-Ah}ya>’ al-Kutub, l966.

Syuhaimin, Basyaruddin bin Nurdin Shalih, Membongkar Kesesatan Tahlilan, Yasinan, Ruwahan, Tawassul, Istighosah, Ziarah, Maulid Nabi Saw.Bandung: Mujahid Press, 2007.

 

 

 

 

 

 

LATIHAN-LATIHAN SOAL

  1. Apa yang saudara ketahui tentang peringatan perayaan Maulid Nabi Muhammad saw?
  2. Kapan hari tanggal yang tepat kelahiran Nabi Muhammad saw dan menurut pandangan umum umat Islam di Indonesia?
  3. Siapa yang pertama-tama melaksanakan peringatan Maulid Nabi saw?
  4. Siapa yang pertama-tama  melaksanakan peringatan Maulid Nabi dengan pelaksanaan \bersifat kolosal?
  5. Siapa yang pertama-tama melaksanakan Peringatan Maulid Nabi dengan dikolaborasikan dengan pembacaan berjajen? Untuk apa pelaksanaan ini pada mulanya?
  6. Apa isi keseluruhan naskan kitab al-Barjanji? Adakah unsur yang membahayakan akidah Islamiyah yang sebenarnya dalam naskah kitab ini ? sebutkan dan terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia
  7. Adakah kepercayaan dalam pelaksanaan berjanjen yang membahayakan bagi akidah Islam yang benar ? sebut dan jelaskan !
  8. Bagaimana cara sejati dalam mencintai Rasulullah ?
  9. Apa yang dimaksud surat al-Ahzab ayat 56 ?
  10. Jelaskan tanggapan umum umat Islam Indonesia tentang pelaksanaan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw ?
  11. Adakah diantara umat Islam Indonesia yang menyatakan bahwa melaksanakan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw adalah bid’ah ? kalau ada siapa?
  12. Jelaskan dua pola besar dalam mengapresiasi peringatan Maulid Nabi Muhammad saw?
  13. Jelaskan kondisi Umum antara NU dan Muhammadiyah berkenaan dengan pola pelaksanaan peringatan Maulid nabi yang berbeda !
  14. Apakah uraian pokok dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad saw selalu hanya tentang biografi Nabi ? Jelaskan !
  15. Karya naskah kitab al-Barjanji  termasuk genre manakib. Apa maksudnya ?

4 Responses to Tradisi Maulid Nabi

  1. Kang Aldie says:

    Makalah yang saudara sebarkan di atas saya perhatikan benar berisi fitnah dan penyesatan umat atas pemaknaan maulid Nabi Agung Muhammad SAW. Sangat disayangkan sekali.. betapa sempitnya memaknai peringatan maulid sebagai suatu bid’ah dan amaliah musyrik, subhanaLlah. Apakah saudara tidak malu kelak di akhirat apabila mengaku umat RasuluLlah SAW namun tindakan anda di dunia sarat akan fitnah terhadap beliau.

  2. ibnuamir says:

    Alangkah lebih dipercaya (mu’tamad) makalah anda, bila berdasarkan kepa referensi-referensi para ulama salaf, seperti karya Imam Taqiyuddin “Sejarah Rasulullh”, “Muhammad” oleh Sayid Ridho dan lain-lain. Kalau buku-buku karya bin Baz lebih cenderung kepada “menolak” pada peringatan maulid, karena beliau memang tidak mau haflah maulidiyah, bahkan di antara pengikutnya, yang umumnya aliran Wahabi mengharamkan Maulid …..

  3. rahmatulloh says:

    astaghfirulloh semoga alloh mengampuni dosa hamba2nya, aku sih kurang paham jadinya malah bingung

  4. ibra says:

    anda belum menjawab pertanyaan dari latihan diatas ?
    seharusx klau makala it ada pertanyaan yg kt ajuhan maka anda sendiri yg menjawab …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>