Tahlilal dalam Kancah Budaya

TAHLIL DAN TAHLILAN ALAM KANCAH BUDAYA

0leh : Danusiri

 

Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh

 

Pengertian-pengertian Dasar

 

1. Tahlil belum tentu tahlilan, tetapi dalam tahlilan pasti ada bacaan tahlil.

2. Tahlil adalah nama lafal essensi tauhid la> ila>ha illa-lla>h ( tidak ada Tuhan selain Allah.

3. Tahlilan adalah seperangkat formula yang terdiri atas sejumlah kalimah   thayyibah, surat-surat pendek, ayat-ayat, atau bahkan potongan-potongan ayat Alquran yang dibaca baik secara individual maupun komunal (sendiri-sendiri atau berjamaah/koor), didasari keyakinan bahwa membacanya memperoleh pahala dari Allah swt. Pahalanya dikirimkan untuk orang yang sudah mati atau masih hidup tetapi diperlakukan seperti orang yang sudah mati, umpama seorang yang sedang haji ditahlili sejak hari pemberangkatannya hingga hari ke tujuh setelah itu tiap malam Jumat hingga yang haji kembali ke rujmah dengan selamat.

4. Yang dimaksud dengan kalimah thayyibah secara literal adalah kalimat-kalimat yang baik, berasal dari Alquran, Hadis, maupun rumusan ulama, seperti tahlil, tahmid, takbir, tasbih h}auqalah, S}alawat, surat Ikhlas}, al-muta’wwiz||atain, ayat kursi, had}rah, tawasul, hadiyyah, dan doa.

 

Tahlilan Dalam Tradisi

 

1. Tahlilan merupakan ritus keagamaan khas Islam santri NU [ Nahdlatul Ulama] baik secara legal atau kultural yang dilaksanakan pada hari pertama hingga hari ketujuh kematian seseorang, pada hari ke 40, hari ke 100, ulang tahun kematian pertama (mendhak pisan), ulang tahun kematian kedua (mendhak pindho), hari ke 1000 (nyewu), dan selanjutnya tiap tahun sekali (h}aul)  sejauh dikehendaki oleh keluarga si mayyit. Ulama atau kiyai besar biasanya selalu di-h}aul-i

2. Ritus tahlilan biasa dilaksanakan pada malam Jumat (kamis sore) sesudah shalat ‘As}ar di makam-makam, atau sesudah salat maghrib atau sesudah salat ‘Isya’ di masjid atau di mushalla, atau di majlis-majlis taklim. Tahlilan bisa dilaksanakan di hari-hari lain atas dasar kesepakatan warga (pastisipan) dan tempatnya bergantian di antara mereka. Ritus ini menjadi kelengkapan memeriahkan ‘Idul fitri, yakni setelah salat id kemudian ramai-ramai ke makam leluhur untuk tahlil di sana, atau paruh terakhir bulan Sya’ban yang biasa disebut ruwahan atau nyadranan. Dalam nyadranan juga ritus kirim arwah jamaah, yaitu masing-masing jamaah bisa mendaftar nama-nama orang yang sudah meninggal dari kerabatnya dan untuk masing-masing nama, ia  membayar sejumlah uang (katakanlah RP.5.000) kepada ulama atau kiyai yang memimpin upacara tahlilan. Sesudah tahlilan biasanya diikuti dengan ramah tamah atau makan-makan, bisa saja hanya snack ala kadarnya, tetapi pada hari ke tujuh kematian seseorang dan peringatan-peringatan selanjutnya bisa cukup istimewa, bahkan sepulang tahlilan partisipan dibawai nasi dos, takir, atau berkat. Perkembangan selanjutnya berkat tidak berisi nasi, melainkan kue-kue dengan pertimbangan praktis bisa dikunsumsi lain hari dan kondisi makanan masih tetap baik tidak basi, atau berwujud bahan mentah yang belum dimasak seperti: me instan, gula pasir, teh bungkus, telur ayam, dan uang sekedarnya.

Khususnya di dalam majlis taklim, tahlilan bisa menyatu dengan yasinan, pembacaan naz}aman al-asma’ al-h}usna, atau mujahadah-an.

3. Sebenarnya, tujuan final tahlilan adalah mengirim pahala kepada si mayyit. Kiriman ini dipohonkan kepada Allah. Manfaat pahala seterusnya bisa berbentuk ampunan, pembebasan dari siksa kubur, siksa neraka, dan akhirnya masuk surga penuh dengan kenikmatan, dan kedamaian abadi tanpa batas. Dengan begitu, tahlilan dihayati sebagai bentuk kesalihan yang  meruncing pada birr al-walidain (berbakti kepada orang tuwa atau meluas kepada leluhur dan sanak kerabat yang telah meninggal). Pengertian ini termasuk dalam konsep hasanah Jawa mikul dhuwur mendhem jero. Akan tetapi, forum tahlilan sering dimannfaatkan untuk tujuan lain, seperti penggalangan politik untuk mendukung calon presiden, gubernur, bupati/walikota, lurah/kepala desa,  calon anggota DPR (legislatif), atau kemenangan pemilu bagai partainya.

4. Upacara tahlilan untuk masyarakat NU telah menjadi budaya yang mapan (devinitif) atau prevalensi (kelaziman/kemestian) sehingga berimplikasi klaim bahwa, jika ada orang mati dan tidak ditahlili diibaratkan seperti kematian binatang.”Wong mati yen ora ditahlili koyo matine kebo utowo kucing”, demikian ucapan seorang warga NU ketika mengomentari ada peristiwa kematian dari warga Muhammadiyah yang tidak menyelenggarakan prevalensi perjamuan tahlilan. Implikasi selanjutnya, keluarga si mayyit yang tidak menyelenggarakan upacara tahlilan tidak disebut sebagai “ahlu sunnah waljamaah”.

5. Dilihat dari partisipan  pelaksanaan tahlilan, ritus ini dapat dibagi menjadi dua, tahlilan biasa, dan tahlil kubra. Dalam tahlil kubra melibatkan massa yang banyak (kolosal) dan dihadiri sejumlah kiyai besar dari berbagai kota,  dilaksanakan di alun-alun, atau di suatu kampus pondok pesantren besar di kota atau di desa. Tahlilan semacam inilah yang biasanya sarat dengan muatan-muatan lain:  atas nama kepentingan bangsa, keprihatinan nasib bangsa yang kurang menguntungkan, atau penggalangan politik praktis.

6. Dalam acara istighasahan, mujahadahan, pengajian akbar  atau yang sejenisnya, unsur tahlilan hampir tidak pernah tertinggal, dan biasanya malah didahulukan dari pada acara ayang lain.

7. Dalam ziarah walisongo atau trend kotemporer disebut wisata religius, tahlilan adalah unsur yang mesti ada, dan ini dikirimkan kepada wali yang sedang diziarahi, termasuk kerabat wali di makam itu, meluas kepada tokoh-tokoh agama setempat dan umumnya kaum muslimin laki-laki mauapun perempuan, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati.

 

Akar Upacara Tahlilan

Kurang lebih 5000 tahun yang lalu para penyembah Tuhan ‘Yang’, atau Hyang, atau biasanya sebagai Dewa matahari, Dewa langit, raja para Dewa memiliki kekuasaan untuk menghukum atau mengganjar kenikmatan bagi manusia yang hidup sesudah mati.

Supaya sang ‘Hyang’ tidak menghukum manusia yang telah mati, yang hidup menyajikan berbagai persembahan dan aneka mantra untuknya pada hari ke satu, tiga, tujuh, sembilan, 15, 40, 100, satu tahun, dan tiga tahun kematian. Bersamaan dengan perkembangan jaman, perpindahan manusia dari tempat satu ke tempat lain (migrasi, transmigrasi, dan urbanisasi), perkembangan agama dan percampurannya dengan adat-adat lokal yang ditemui, upacara penyelamatan orang yang sudah mati ini mengalami perkembangan, pengurangan, penyesuaian dengan perkembangan budaya di mana upacara penyelamatan ini berlangsung.

Untuk di Indonesia, khususnya di Jawa, prevalensi perjamuan tahlilan merupakan sinkretisme dari Hinduisme, Budhisme, dan Islam. Dalam format budaya tahlilan yang telah mapan dapat disaksikan dalam tradisi NU di Jawa atau di luar Jawa di Indonesia ini yang berada di kantong-kantong transmigran asal Jawa. Ada perbedaan di sana-sini dalam formula tahlilan, tetapi perbedaan itu sdama sekali tidak prinsipiil, hanya tergantung alokasi waktu atau tensi pemimpin upacara tahlilan. Dalam segi waktu tahlilan bisa dipersingkat dan bisa diperpanjang atau diperbanyak bacaan tertentu, umpama lafal tahlil ‘la> ila>ha illa-lla>h bisa dilaksanakan sebanyak 70.000 kali dengan dibagi sama sejumlah partisipan dengan teknik pembacaan kor (berjamaah) atau hanya tujuh kali. Pembacaan tahlil 70.000 kali disebut fida’ (yang secara literal berarti penebusan dosa)

Dalam tradisi tarekatisme, sub kultur dalam NU, orang kafir pun jika diupacarai fida’-an tetap terampuni  dosanya oleh Allah dan dimasukkan  di surga karena kesalahannya sudah ditebus (di-fida’-i)

 

Tahlilan dalam Opini Ulama

 

Sebelas mazhab: Hanafiah, Malikiyah, Syafi’iyyah, Hambaliyyah, Sufyan sauri, Sufyan ‘uyainah, Lais bin Rahawaih, Ibnu Jarir, az}-Z{ahiriyyah, dan Auza’iyyah menolak tahlilan dan perjamuannya (al-‘Alawi, [t.th.]: 69).

Banyak ulama Syafiiyyah mengatakan bahwa tahlilan adalah bid’ah (as-Sarbani,[t.th.]: 368; al-Qulyubi, [t.th.],I: 353; an-Nawawi, 1417 H,V:l86; al-Haitami,[t.th.],I:577; ad-Dimyati,[t.th.],II:146; al-Qirmani,no.18,1933:285; as-Sarbani, 1415 H,I:210. Sepuluh mazhab yang lainnya juga senada dengan syafiiyyah, meskipun menggunakan term lain: Hanafiah mengatakannya bid’ah (al-Amin,1386 H,II:240), Malikiah mengatakannya bid’ah (ad-Dasuki,[t.th.],I:419, Hambaliah m,engatakannya makruh dan seperti jahiliyah (al-Muqaddasi,1405 H,II:215) sebagaiannya mengharamkan dan sebagainnya mengatakannya bid’ah (Ibnu Taimiyyah,[t.th.],I:316.

Khususnya imam mazhab yang empat (Malikiyyah, Hanafiyyah, Syafiiyyah, dan Hambaliyyah) mengatakan bahwa membaca Alquran yang pahalanya dikirimkan kepada orang mati itu tidak akan sampai. Dalilnya adalah ‘wa an laisa lil insa>ni illa> ma> sa’a (dan seseorang tidak akan memperoleh, melainkan pahala usahanya sendiri (Q.S. an-Najm/53:39) dan hadis “iza ma>ta ibnu a>ma inqath’a ‘amaluhu illa> min sala>sin: shadaqatin ja>riyatin au ‘ilmin yunrafa’u bihi, au waladin shalihin yad’u> lah  (Apabila manusia telah meninggal dunia maka terputuslah amal usahanya, kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan, dan anak salih yang berdoa untuknya (si mayyit) (an-Nawawi,[t.th.],I:90).

Sebenarnya, ulama Indonesia yang menulis kitab dan umumnya ulama kotemporer juga menolaknya. An-Nawawi Bantani mengatakan haram. Arsyad al-Banjari dan al-Mawa’iz mengatakannya bid’ah.

Yang mendukung prevalensi tahlilan, bacaan Alquran dikirimkan sampai, dan perjamuan makanan di tempat orang mati hanya at-thahthawi dari mazhab Hanafiah. Hal ini terjadi karena salah kutip dari sebuah hadis Nabi sebagai berikut:

 

Kharajna> ma’a Rasu>lulla>hi shalla-lla>hu ‘alaihi wasallam fi jana>zatin faraitu Rasula-lla>hi saw. Wa Huwa ‘ala  al-qabri yu>sha al-h}afiru ausa’a min qibali rijlaihi ausa’a min qibali ra’sihi. Falamma> raja’a istaqbalahu da>’iyya imraatun faja>a wa jia bi ath-tha’ami fawad}a’a yadahu (Kami keluar bersama Rasulullah saw (untuk melayat) jenazah. Aku melihat Rasulullah saw. sementara beliau di makam. Para penggali (kubur) dinasihati saupaya melebarkan bagian kepala dan bagian kaki. Katika kembali (dari makam) beliau diminta mampir kepada seorang wanita lalu menghidangkan makanan . . . (H.Abu Dawud,Beirut:Dar al-Fikr,[t.th.],III:244.

At-Thahthawi mengutipnya imraatahu (yang berarti wanita si mayyit). Padahal dalam teks asli hanya imraatun (seorang wanita) lafal mutlak. Dan di dalam Musnad Imam Ahmad wanita itu dusebutkan si anu (fulanah – Ibn Hambal, 1994,V: 293). Tambahan lagi, Hadis Abu Dawud dan Hadis-hadis lain tentang ini tidak dituliskan dalam bab jinazah atau kematian, melainkan dituliskan dalam bab jual beli (dalam Sunan al-Baihaqi), bab makanan (ath-tha’am) untuk Sunan ad-Daruquthni, bab makanan dalam Syarah Ma’nil Astar, atau bab Ghashab (meminjam tanpa izin) dalam Nishb ar-Rayah.

Rekomendasi

 

            Kita menjadi salah tingkah, uring-uringan sendiri, bingung, mau ikut bagaimana tidak mau ikut  tahlilan ( termasuk yasinan, mujahadahan, nariyahan, istighasahan, manaqiban, zibaan, berjanjenan, takhtiman Alquran yang semuanya pasti ada unsur kirim pahala, hadrah, dan tawasul, dan sering ada sesaji seperti membakar kemenyan Arab atau kayu Garu) juga  bagaimana. Untuk itu rekomendasi yang dapat diajukan adalah sebagai berikut:

1. mengikuti, tetapi pada bagian hadrah, hadiah, dan tawasul kita diam. Bagian di luar itu kita mengikuti dengan motif (niat) ibadah nafsiah.

2.Akan lebih bagus kalau menjadi imam dalam upacara ini sehingga bisa menyesuaikan dengan aqidah dan syariat yang benar, yaitu menghilangkan hadrah, hadiah, dan tawasul.

3. Jika kita yang mmenjadi imam akan lebih utama lagi jika bisa mensosialisasi zikir model at-tartil karya Prof. Suparman Syukur. Dalam Yasinan sebisa munmgkin diajak untuk dibaca, dipahami ayat demi ayat untuk diajak dilaksanakan petunjuknya, dan selanjutnya bukan hanya surat yasin yang dibaca, melainkan juga surat-surat lain dalam Alquran.

4. Jika kondisi psikologis mantab, tidak salah tingkah dengan berbagai celaan dari warga masyarakat, terhadap orang-orang yang sudah meninggal cukup hanya berdoa sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah. Semakin banyak berdoa untuk para almarhum semakin bagus, tetapi akan lebih bagus kalau dilaksanakan secara konstan atau ajeg umpama setiap selesai salat Maghrib atau salat ‘Isya’. Jika tidak bisa berdoa berbahasa Arab sesuai lafal tuntunan Rasulullah boleh dengan bahasa lokal yang inti doa-permohonan itu untuk  ampunan dosa, selamat dari siksa kubur dan siksa neraka, masuk surga dalam kenikmatan dan kedamaian abadi. Hanya akan menjadi naif dan ironi kalau selama hidup tidak mau belajar berdoa berbahasa Arab sesuai tuntunan Rasulullah, ibarat sekolah hanya menjadi siswa TK abadi.

 

Penutup

 

            Mudah-mudahan tulisan ini ada manfaatnya. Jika benar semata-mata dari Allah swt, dan jika ada kesalahannya karena kebodohan penulis. Walla>hu a’lamu bi ash-shawab.warju minhu al-maghfirah.

 

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

 

Semarang, 10 Februari 2008.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *