Menuju Sukses Hidup

KHUTBAH :  MENUJU SUKSES HIDUP

Jum’at, 1 Syawwal 1431 H/ 10 septmber 2010

Oleh:  M. Danusiri

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله, الحمد لله الذى جعل علينا الاسلام دينا, وجعل شهادة عهيدا, والصلاة خسوعا, والزكاة تزكيا, والصوم جناحا, ويوم الفطر عيدا. اشهد ان لا إله إلا الله جعله لنا توحيدا.

واشهد أن محمدا عبده  ورسوله  نبيا  ورسولا. اللهم صل   وسلم نبينا  الكريم أسوة حسنة لللأ نام. أيها الحاضرون من المسلمين رحمكم الله, أوصينى وإياكم بتقو الله, إتقوا الله فى أي مكان وزمان. فأعلموا أن الله قال فى كتابه  الكريم, وهو  اصدق  القائلين, أعوذ  با لله  من الشيطان الرجيم, بسم الله الرحمن الرحيم.

      

 

 

 

     

 

 

 

 

 

الأية, صدق الله العظيم. الله أكبر  الله أكبر  الله  أكبر كبيرا,  والحمد لله كثيرا وسبحان  الله  بكرتا  وأصيلا. لا إله  إلا الله  واحده  ونصر عبده واعز جنده وهزم  الحزاب  واحده, لا إله  إلا الله  ولا نعبد  إلا إياه, مخلصين اه الدين ولو كره المشركون, ولو كره المنافقون, ولو كره  الكافرون, لا  إله  إلا  الله هو  الله  أكبر.  الله أكبر  ولله الحمد.

 

Sidang Id rahimakullah,

Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Swt. Bahwa kita dalam keadaan iman, Islam, sehat wal afiat tak kurang suatu apa, dan yang lebih membahagiakan lagi kita ber id, berhari raya pada hari ini. Kita memiliki keyakinan dan pasti benar bahwa pada hari ini dosa-dosa kita kepada Allah bersih sama sekali tersapu oleh kegiatan puasa selama sebualan penuh. Keyakinan ini didasarkan sebuah hadis dari Rasulullah:

 

من صام رمصان  إمانا  واحتسابا  غفر له  ما تقدم  من ذنبه (رواه البخارة ومسلم)

Barang siapa berpuasa di bulan Ramadan atas dasar  iman dan menghitung-hitung amalan (untuk menambahnya) maka pasti diampuni dosanya yang telah lewat (HR. Al-Bukhari dan Muslim).  Dalam kesempatan lain beliau bersabda:

 

إن الله تبارك وتعالى فرض الصيام رمضان عليكم وسننت لكم قيامه فمن صامه وقامه إيمانا  واحتسابا  خرج  من ذنوبه كيوم  ولدته أمه (رواه أحمد, والنساء, وابن ماجه, وخزيمة).

Artinya: Sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Berkah telah mewajibkan puasa Ramadan kepada kamu dan mentradisikan kepada kamu untuk memperbanyak amalan di malamnya. Maka barang siapa yang berpuasa di bulan ini dan memperbanyak amalan-amalan di malamnya, ia keluar dari dosa-dosanya seperti pada hari ketika dilahirkan oleh ibunya (HR. Ahmad, an-Nasai, Ibnu Majah, dan al-Khzaimah).

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil hamdu. Hadirin yang berbahagia:

Ayat yang khatib baca sebagai kelengkapan dalam memuji Allah terjemahannya adalah sebagai berikut:  Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya       maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: “Celakalah aku. Selanjutnya masuk ke dalam neraka yang menyala-nyala apinya. “QS. al-Insyqaq/84:9-11).

 

Hadirin rakhimakumullah, inti dari ayat tersebut adalah surga balasan bagi si takwa dan neraka bagi si pendurhaka. Surga dan neraka ke;ak itu sebenarnya dapat bumikan dalam kehidupan sekarang ini. Surga berarti kesuksesan, keberhasilan, kemudahan, fasilitas, kemewaan, kemudahan, atau apa saja yang menjadikan kita senang, gembira, dan bahagia.Neraka berarti kegagalan, kepedihan, kesulitan, kesempitan atau apa saja yang menyebabkan kita menderita.

Proses untuk bisa masuk surga atau neraka, ternyata ditandai simbol-simbol nilai rapot yang diterima dan cara penerimaannya. Jika nilai rapotnya bagus akan diterimakan dengan tangan kanan, dan jika nilai rapotnya jelek akan diterimakan dengan tangan yang posisinya di punggung. Cara ini persis sama seperti anak-anak menerima rapot, mahasiswa yudisium dan wisudawan berprestasi, pelamar memperoleh SK diterima sebagai karyawan, pegawai yang berhasil untuk dipromosikan jabatan yang lebih tinggi, anggota dewan yang tercacat meraup suara pemilih yang memenuhi kuota.  Kesamaan prosedur antara surga kelak di akhirat dan surga sekarang ini bukan surga bumi yang dicontoh Alquran, melainkan sebaliknya Alquran yang memberikan pelajaran konkrit kepada kita supaya kita bisa mencerna Alquran dengan gampang untuk selanjutnya ikhlas mengamalkannya. Tetapi ini hanya berlaku bagi yang terbuka akal dan hatinya.

Kita menyaksikan dalam dunia nyata. Kalau ada anak sekolah di akhir semester merima rapot dan nilainya bagus, kalau ada mahasiswa yudisium dan indeks prestasinya bagus, kalau ada pelamar suatu perusahaan, BUMN, BUMA, PNS dan diterima karena dinilai memiliki kompetensi yang dibutuhkan oleh perusahaan tersebut, kalau ada pegawai berhasil dipromosikan jabatan yang lebih tinggi, kalau ada calon anggota legislatif memperoleh suara memenuhi kuota untuk jadi anggota dewan, pasti hatinya senang, wajahnya sangat ceria, banyak yang memotret mengabadikan momentum itu. Ketika pulang ke rumah, pasti disambut meriah oleh keluarganya. Ada syukuran untuk merayakannya. Ini baru pengumuman lulus atau lolos. Semuanya sudah serba menggembirakan karena ia dapat diandalkan oleh keluarganya.”Wayan qalibu ila ahlihi masruura” Selanjutnya pasti terbayang aneka kemudahan, fasilitas, kehormatan, bahkan aneka macam perusahaan melamar kepadanya dengan tawaran-tawaran gaji yang menggiurkan. Rejeki mencarinya, bukan ia mencari rejeki. Inilah surga dunia. Tentu surga ini akan berlanjut ke surga akhirat setelah ia meninggal dunia jika kesuksesan hidup keduniaan ini digunakan sebagai sarana beribadah kepada Allah.

 

Allahu Akbar Walillahil hamdu. Hadirin rakhimakumullah,

Kalau yang terjadi sebaliknya umpama saja: anak sekolah yang rapotnya tidak tuntas pasti tidak naik kelas. Kalau ia kelas 6 atau 9 atau 12  mengikuti  ujian nasional dan NEM [nilai evaluasi murni]-nya di bawah standar pasti ia  tidak lulus. Mahasiswa yang indek prestasi komulatif di bawah 2 pasti di drop out. Pelamar pekerjaan yang dinilai oleh para penguji tidak memiliki kompetensi pasti ditolak, melamar lagi ditolak, melamar lagi ditolak. Akhirnya, untuk mempertahankan hidup terpaksa ia harus mengamen di jalanan atau dari pintu ke pintu yang sering menjengkelkan yang diameni karena musik yang dimainkan juga sangat tidak bermutu, peragaan yang tidak simpatik, tentu hasilnya hanya cepekan dan recehan. Akan lebih celaka kalau   diketahui hasilnya hanya untuk mabuk. Banyak calon Lurah, calon Bupati, calon legislatif, stres berat karena gagal cita-citanya dan telah mengeluarkan dana amat banyak sebagai modal utamanya. Bahkan juga banyak pejabat bawahan, tengahan, pejabat tinggi karena tidak amanah, meraup keuntungan pribadi yang mestinya itu kekayaan rakyat banyak yang akhirnya tercemar namanya, dipenjara, dihujat rakyat dan kalu meninggal disaksikan oleh berjuta-juta rakyat sebagai koruptor, na’udzubillah mindzalik. Alquran membahasakannya “Wayasla sa’iiraa”. Ini semua adalah neraka dunia yang keadaanya adalah suasana hati maupun fisik: panas, menyulitkan, memalukan, menyusahkan, dan memputusasakan. Siapa yang telah menghuni neraka dunia sebagai akibat ketidakamanahan, rasanya tidak mungkin ia terbebas dari neraka akhirat. Bagaimana mungkin ia bisa lolos dari neraka, sementara saksi hidup berjuta orang menghujat akan kebobrokan moralnya.

 

Allahu akbar walillah walillahil hamdu

Khatib mengajak kepada para siswa, mahasiswa, karyawan, pegawai atau apapun profesinya, aku, kau, dan kita,  mari bersama-sama memulai di hari pertama yang masih kosong, masih putih bersih dari noda dan dosa ini untuk mengukir, menulis, menoreh, berbuat, dan beramal yang baik-baik, yang berprestasi, yang minimal dapat diandalkan oleh keluarga, lebih-lebih dapat diandalkan orang banyak, dan diridai Allah. Rasul bersabda “khairunnaasi anfa’uhun linnasi” (Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia banyak). Jangan kita merasa bahwa lebaran adalah suasana pembebasan dari aturan ketat, semacam penjara, sehingga keluar dari Ramadan menjadi liar, apa-apa serba boleh atau permisifme. Kalau ini yang terjadi, puasa Ramadan sama sekali tidak bermakna, hanya sekedar rotinitas dan formalitas belaka. Itulah sebabnya Rasulullah pernah mencemooh banyak orang yang berpuasa dan tidak memperoleh sesuatu kecuali hanya sekedar lapar dan dahaga. Inilah puasanya jahiliah, orang bodoh. Kebodohan itu antara lain berdoa dan memohon pertolongan  kepada selain Allah seperti kepada arwah yang dipandang wali. Beribadah dalam bentuk upacara yang tidak dicontohkan Rasulullah, itu namanya jahiliyah. Bagian pengadaan barang yang melakukan pembesaran satuan harga, umum disebut mark up, ini adalah jahiliyah. Bisnis nyaman dalam suasana riba, itu adalah jahiliyah. Menimbang dan menakar selalu mencuri bobot, bagi para pedagang, itu adalah jahiliyah. Kalau dipercaya justru diselewengkan, kalau berbicara banyak berbohongnya, kalau berjanji tidak ditepati, ini semua adalah perilaku jahilyah. Mengubah atau menghilangkan bukti-bukti dalam suatu persidangan, itu adalah jahiliyah. Memutus suatu perkara atas dasar tahu-sama tahu, bukan atas dasar kebenaran material, itu adalah jahiliyah. Menyusun laporan kegiatan secara fiktif, itu adalah jahiliyah. tentu masih banyak modus-modus operandi yang secara syar’i disebut jahiliyah yang efeknya adalah murtakibu-dzunub (menumpuk-numpuk dosa).  Alquran menyebutnya ‘talbisul haqqa bil bathili’ (mengubah dari yang benar menjadi yang sebenarnya salah). Demikian Rasul bersabda:

 

ومن دعا  بدعوة  الجاهلية  فهو  من جثاء جهنم. قالوا يا رسول الله, وإن صام  وإن صلى ؟ قال: وإن صام  وإن صلى  وزعم  أنه مسلم

Artinya:

Barang siapa menyerukan seruan-seruan jahiliah maka ia akan menjadi kerak neraka jahannam.Wahai Rasulullah ! meskipun ia puasa dan shalat ? beliau menjawab ‘ya’ meskipun ia puasa dan shalat dan ia menyangka bahwa dirinya muslim (HR. Ahmad).

 

Allahu Akabr, Allahu Akbar walillahil hamdu, Ma’asyiral muslimi rakhimakumullah,

Memahami teks hadis ini kemudian untuk melihat dunia nyata kemusliman seseorang, ternyata tampaknya ia beragama Islam, ia melakukan shalat, ia melakukan puasa Ramadan, tetapi tidak dihitung sebagai orang Islam, apa lagi kalau ia mengaku Islam hanya terbukti KTP-nya saja. Mengaku Islam salatnya hanya tiap lebaran, mengaku Islam salatnya hanya lima hari sekali bukan sehari lima kali. Kalau hadis ini dijadikan tolok ukur keislaman seseorang, banyak sekali orang Islam yang bukan Islam. Inilah tipologi-tipologi muslim jahiliah. Prototipe Islam sintetis in harus dicegah sekarang juga di saat hari yang berbahagia ini. Mari kita menjadi muslim yang benar-benar muslim. Mari menjadi orang takwa yang haqqa tuqaatih, sehingga salat dan puasa kita bermakna dan diterima di sisi Allah sebagai sembah, sujud, dan bakti kita kepada-Nya.

 

Allahu Akbar Allahu Akbar  Allahu Akbar walillahil hamdu.

Himbauan ini dirasa sangat perlu dan mendesak karena dalam pentas global, kita sebagai bangsa Indonesia dan dikenal sebagai pemeluk Islam terbesar dunia selalu mendapat kualifikasi yang kita sangat tidak senang. Indonesia sebagai surga bagi teroris, padahal yang mengatakan itu teroris raksasa dunia, Yahudi dan Amerika serikat. Indonesia selalu juara dalam korupsi, memangnya,  ya. Indonesia juara dunia no 2 dalam pornografisme dan pornoaksisme, benar juga. Yang mencegah justru dicap garis keras. Pantas mereka mengatakan demikian karena undang-undang yang dibuat mendukung atau sekurang-kurangnya member peluang pornografisme dan pornoaksisme. Dalam kejujuran, kita dikenal sebagai masyarakat zero trust society, masyarakat yang tingktat kejujurannya nol. Budaya permisifme, semau gue telah menjadi identitas baru bagi bangsa ini dengan mencari legalitas hak asasi manusia, meskipun bertentangan dengan akhlaqul Islami. Budaya mencari kambing hitam seolah telah melekat dihati bangsa ini. Budaya mengelak dari tanggung jawab dengan argumen khilaf atau kesalahan prosedur terlalu sering diperagakan oleh orang-orang penting di negeri ini.  Image-image nagatif (bathil) ini tidak akan hilang kalau kita tidak mau bertaubat nasuha dan menghapusnya.

 

Sidang Id yang berbahagia dan diberkati Allah,

Marilah kita mengambil star di hari pertama yang kita yakin bahwa diri kita masih bersih dan suci dari dosa ini untuk menghacurkan kebathilan dengan berideologi surat al-Isra’/17 ayat 81 sebagai berikut:

 

Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap (QS al-Isra’/17:81).

 

Kalau kita menjadikan ayat ini sebagai pedoman hidup  baik dalam lefel pribadi maupun bangsa, menjadi kesadaran bersama untuk mengubah citra Indonesia jelek menjadi Citra Indonesia baik yaitu sebagai masyarakat madani, civil society tentu kita pasti bisa karena didukung oleh 88 % lebih umat Islam. Mulai dari diri kita sendiri Ibda’ binafsik. Mulai dari sekarang, mulai dari yang gampang, mulai dari yang kecil atau ampang, sedikit demi sedikit tetapi pasti, sesuai dengan firman Allah:

 

 

Artinya:

sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan – QS.al-Insyiqaq/79:81).

 

Bersamaan dengan itu tidak perlu melangkah surut insya Allah pada gilirannya kita akan menjadi bangsa yang disegani karena prestasi dalam menciptakan model Negara yang baldatun tayyibatun wa Rabbun Ghafur , yaitu suatu Negara yang dicitrakan baik oleh bangsa lain karena memang baik. Bahasa Alqurannya adalah “Fa ammaa man uutiya kitaabahu biyaminih”, negeri kita menjadi suatu Negara yang dapat diandalkan oleh Negara lain yang dalam bahasa Alquran “Wayan qalibu ila ahlihi masrura”

Allahu Akbar Walillahil hamd

Pintu strategis masuk menuju sukses yang dapat diandalkan oleh seluruh komponen bangsa antara lain”

  1. Tauhid bukan hanya dalam peribadatan an sich, melainkan mencakup semua aspek kehidupan: ekonomi, politik, sosial, kemsyarakatan, seni, pemerintahan dan lain-lain
  2. Jujur  pada diri sendiri, orang lain, pemberi kepercayaan, dan kepada Allah
  3.  Ikhlash dalam posisi dan perannya (sebagai rakyat, sebagai guru, sebagai anggota dewan, sebagai praktisi, dan sebagai sebagai yang lain)   dalam mewujudkan cita-cita, baik dalam lefel pribadi, keluarga, masyarakat, dan bangsa sehingga tidak saling meng-iri-kan kepada yang lain. Itulah perintah Allah:

 

 

 

 

 

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (QS al-Bayyinah/98:5).

  1. Kompetensi atau kemampuan dalam tingkat mahir serta professional dalam kompetensinya.
  2. Diniati sebagai ibadah dan mencari ridla Allah. Kita harus sadar bahwa salah satu tugas pokok Islam diturunkan ke bumi adalah untuk memakmurkan bumi itu sendiri, dan bagian bumi adalah Negara di mana kita hidup dan menjalani kehdupan. Demikian Allah berfirman:

 

 

Artinya: Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya. . . (QS Hud/11:61).

 

  1. Sekaligus menghindari segala bentuk penyelewengan, unproduktifitas, kemunafikan, menutup kesempatan orang lain. Atau secara umum menjauhi penyakit-penyakit qalbu.

 

Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil hamdu, siding Id rahimakullah,

Tanpa ada niatan dan komitmen untuk berbuat baik, mengubah citra negri menjadi negeri yang masyarakatnya tergolong masyarakat madani atau masyarakat beradab, mengusahakan Umat Islam sebagai ummatan wasathan, tanpa mau mengambah  lima jalan strategis di atas, hari ini pula, yang salat Id, salat kemeriahan, dan kita yakini sebagai kemenangan agung, dan baru saja kita laksanakan, kita telah menorehkan noda hitam, pernyataan salah, perbuatan jelek menuju kehancuran. Tentu  prestasi yang akan kita peroleh, sebagaimana dibahasakan Alquran adalah “Fa amma man uutiya kitaabahu waraa’a dhahrih fasaufa yad’u tsubuura”, yaitu secara praktis kita menjadi bangsa yang hina dan menjadi bahan hinaan Negara asing yang paling dekat sekalipun, seuatu Negara yang luasnya hanya beberapa pecak atau beberapa jengkal dibanding negeri di mana kita berpijak ini.

 

Allahu Akbar Walillahil hamdu.

Semoga khutbah ini bukan hanya sekedar ritual rotinitas tahunan, sehingga makna Idul fitri hanya sekedar kembali boleh makan, minum, dan pelampiasan syahwat belaka, bukan kembali suci atau kembali fitrah yang secara naqli bersih dari dosa. Kita hendaklah sadar sepenuhnya bahwa yang memiliki peluang untuk melaksanakan ajaran ini hanya kita sendiri kaum muslimin. Kalau kita ogah-ogahan melaksanakannya, Ajaran Islam hanya sekedar retorika indah dan kosong dari isi. Gejala semacam Ini bukan sekedar tanda, melainkan bukti kehancuran. Di sisi lain, orang-orang non muslim tidak mungkin menerima ajaran ini. Simpatik mau menghormati saja sudah sangat bagus. Selalu memfitnah, berdasarkan fakta-fakta sejarah ‘ya’. Untuk itu, mari memohon daya dan kekuatan agar kita bisa  melaksanakan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya dengan baik dan benar seraya senantiasa memohon rida-Nya.

 

Sidang Id yang diberkati Allah, Marilah kita akhiri khutbah ini dengan doa semoga   Allah berkenan mengabulkannya, Amin yaa Rabbal’alamin.

اللهم صل على  محمد  وعلى  أل محمد, كما  صليت على  إبراهيم وعلى أل إبراهيم, وبارك على محمد وعلى  أل محمد, كما  باركت على  إبراهيم  وعلى  أل  إبراهيم,  فى  العالمين  إنك  حميد  مجيد.

الحمد لله الذي نشهد أنك يا الله  الاحد الصمد, الذى  لم يلد  ولم يولد ولم   يكن   له  كفوا  احد  أنتغفر  لنا  إنك   أنت   الغفور   الرحيم.

اللهم  إغفر لنا ولإخواننا الذين سبقون بالإيمان  ولا تجعل فى قلوبنا غلا للذين أمنوا ربنا إنك رؤف رحيم, يا الله, جعل الله لنا وإياكم من العائدين  والفائزين, كل عام  وأننا بخير. اللهم إنا نسئلك علما نافعا, ورزقا  واسعا, وشفاء  من دون  داء وسقم, وعملا  متقبلا. اللهم إنا نعوذبك   من  جهد  البلاء, ودرك  السقاء, وسوء  القضاء, وشماتة الاعداء.  اللهم  إنا  نعوذ بك  من علم  لا ينفع, ومن  نفس  لا يشبع,  ومن  دعاء  لا يسمع  يا حي  يا قيوم, إنك  على  كل  شيئ   قدير,  برحمتك يا ارحم الراحمين. ربناأتنا فى الد نيا  حسنة, وفى  الاخرة حسنة, وقنا عذاب  النار, يا الله, يا عزيز, يا غفار  يا رب  العالمين سبحان ربك رب العزة عما يسفون وسلام على الانبياء والمرسلين والحمد  لله  رب العالمين.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *