WUQUF DI ARAFAH

KHUTBAH WUQUF DI ARAFAH

 (PRAKTIK MANASIK KBIH MUHAMMADIYAH KOTA  SEMARANG  DI  MAJT)  17  April  2011

Oleh: Drs. M. Danusiri, M Ag

الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفروه, وتعوذ با لله من شرور انفسنا ومن سيأت

اعمالنا. من يهد الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له. اشهد ان لا إله إلا الله

واشهد أن محمدا  عبده  ورسوله. اللهم  صل  وسلم على نبينا  محمد  وعلى اله وأصحابه ومن تبعهم  بإحسان إلى يوم القيامة. أما بعد. فياايها الحاضرون, ايها

الضيوف الرحمن, رحمكم  الله, أصينى  وإياكم  بتقوى  الله. إتقوا  الله  فى  السر والعلن لعلكم تفلحون.  فاعلموا  أن  الله  قد  قال فى  كتابه الكريم, أعوذ  بالله من الشيطان الرجيم, بسم الله الرحمن الرحيم. يا ايها الناس اعبدوا ربكم الذى خلقكم والذين من قبلكم لعلكم تتقون. صدق الله العظيم.

Jamaah, Tamu-Tamu Allah Rahimakumullah,

Terlebih dulu, marilah kita memanjatkan puja dan puji syukur  ke hadirat Allah atas nikmat dari-Nya yang tak terkira baik banyak, bobot, maupun kualitasnya sehingga kita bisa berkumpul bersama di padang ‘Arafah, bumi yang dimulyakan Allah. Saudara-saudara kita di tanah air banyak yang memimpikan bisa berada di tempat ini, namun hingga kini Allah belum berkenan mengabulkannya. Lain halnya dengan kita, Allah berkenan memberikan kesempatan untuk menginjakkan kaki di bumi mulya ini. Marilah saudara-saudaraku kita manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya.

D}uyu>fur-Rahman yang Berbahagia,

Janganlah lupa bershalawat dan bersalam kepada junjungan kita, Nabi Agung Muhammad saw. Dengan beliau kita ditunjukkan jalan keselamatan fi ad-di>ni wad-dunya wal akhirah. Selanjutnya saudara-saudaraku, marilah kita meningkatkan takwa sebanyak-banyaknya, sekuat-kuatnya, selama-lamanya hingga akhir hayat kelak agar kita termasuk orang yang beruntung karena dosa terampuni, karena selamat dari azab, karena memperoleh derajat haji mabrur, dan karena memperoleh rida-Nya, ami>n ya> Rabbal-‘Alami>n.

Tamu-Tamu Allah yang Berbahagia,

Ayat yang Khatib baca dalam muqaddinah khutbah ini, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi demikian: Wahai sekalian manusia sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang-orang yang takwa (QS al-Baqarah/2:21). Dari ayat ini dapat diambil pengertian bahwa manusia yang telah menyembah Allah itu ternyata belum otomatis bertakqwa, melainkan baru bertaraf peluang. Hal ini terpetik dari ungkapan ‘la’llakum’  dari ayat itu yang berarti “mudah-mudahan kamu semua”. Kata ‘mudah-mudahan’ tidak menunjukkan kepastian. Dengan demikian mungkin kita yang telah salat, yang telah bersedekah, yang telah zakat, yang telah puasa, bahkan telah haji seperti sekarang ini belum bertakwa karena memang banyak ayat yang menunjukkan bahwa ibadah yang kita lakukan hanya menunjukkan peluang menuju takwa.  Ayat tentang ibadah puasa Ramadan juga ditutup dengan ungkapan ‘la’allakum tataqu>n’. Hal serupa juga ditunjukkan dalam ayat-ayat tentang salat dan zakat. Untuk membuktikan hipotesis ini, marilah kita simak Sabda Rasulullah saw sebagai berikut:

حديث زيدبن خالد الجهنى قال: صلى لنا رسول الله صلى الله  عليه  وسلم صلاة الصبح با الحديبية على إثر سماء كانت من الليلة. فلما إنصرف أقبل على الناس فقال: هل تدرون ماذا قال ربكم ؟ قالوا, الله ورسوله اعلم. قال: أصبح من عبادى مؤمن بى وكافر. فأمامن قال مطرنا بفضل الله ورحمته  فذالك مؤمن بى وكافر بالكوكب. وأمامن قال مطرنا بنوء  كذا  وكذا  فذالك  كافر بى  ومؤمن با الكوكب (متفق عليه).

Zaid bin Khalid al-Juhani ra berkata: Ketika Rasulullah saw salat subuh berjamaah dengan kami di Hudaibiyyah, yang pada malamnya telah turun hujan, maka sesudah salat Subuh, Nabi saw langsung menghadap kami dan bertanya: Tahukah kamu apa yang baru saja difirmankan Tuhanmu ? kami menjawab: Allah dan Rasulnya yang lebih mengetahui. Allah berfirman: Di waktu pagi ini, hamb-Ku ada yang  beriman kepada Ku dan ada yang kafir. Adapun orang berkata bahwa hujan ini karena fad}al dan rahmat dari Allah, maka orang ini beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang-bintang. Adapun orang yang berkata bahwa hujan ini karena pengaruh bintang ini dan bintang itu, maka ia kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang (HR. Muttafaqun ‘alaih).

Tamu-tamu Allah yang berbahagia,

Nyata-nayata Rasulullah dan para sahabatnya baru saja salat subuh berjamaah, tetapi oleh Allah dikatakan bahwa sebagian kufur kepada-Nya. Padahal yang dikatakan kufur itu juga ikut salat berjamaah. Keimanan mereka hilang, musnah, dan lenyap  hanya karena mengatakan ‘hujan ini karena pengaruh bintang ini dan bintang itu. Dari kejadian ini dapat diproyeksikan atau diperluas bahwa siapa yang percaya kepada nasib di bawah  ramalan zodiac, ramalan hari naas dan hari baik, sistem petung atau numerologi jawa, sistem petung ber kearab-araban, percaya aqidah Hinduisme tentang upacara tiga hari, tujuh hari, 40 hari, 100 hari, mendhak pisan, mendhak pindho, seribu hari, haul, menanam ari-ari di emperan rumah lengkap dengan pagar, aneka kembang, dan kalau malam diberi lampu penerang sebenarnya adalah kafirun billah wamukminun bighairillah (kafir kepada Allah dan beriman kepada yang selain Allah). Mengapa ? semua ini tidak dituntunkan oleh Rasululah maupun tidak ditunjukkan oleh Allah swt. Orang yang percaya semua yang disebutkan ini meniadakan Allah sebagai Dzat yang Maha Sempurna, Dzat yang mengatur seluruh alam seisinya, Dzat yang menjamin kita dalam totalitas kehidupan. Padahal, tak ada daya dan kekuatan apa pun yang mampu menandingi-Nya. Subh}a>nalla>h.

Jamaah Rah}imakumullah,

Jika kita pernah mempercayai dan melaksanakan aqidah  asing dari syariat ini, satu-satunya jalan keselamatan adalah bertaubat kepada Allah dengan kualitas taubat nasuha. Taubat nasuha mengandung 6 unsur, yaitu (1) Menyesal kepada Allah mengapa aku pernah melakukan sesuatu kesalahan fatal, mengapa dulu ditegur oleh orang yang ternyata tahu aku malah membantahnya, mengapa aku dingatkan kesalahanku malah aku tersinggung, malah mengatakan kepadanya yang macam-macam.  (2) Menyatakan taubat dengan memohon ampunan kepada Allah saw, astaghfiruka ya Allah. (3) Berhenti dari perbuatan yang salah ini, (4) Berjanji tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang pernah di buat, (5) Tidak mengganti dengan fariasi kesalahan fatal lainnya, dan (6) Mengisi dengan perbuatan-perebuatan yang diridai Allah.

Jamaah Rah}imakumullah,

Melakukan pertaubatan di padang ‘Arafah  ini, sungguh merupakan tindakan yang paling tepat. Di tempat ini, Adam tahu dan melihat Hawa setelah keduanya terpisah selama lebih dari 200 tahun. Akhirnya, tepatnya di Jabal Rahmah Adam dan Hawa dipertemukan Allah. Di tempat ini pula Allah menurunkan banyak ampunan bagi yang memohonnya. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada hari di mana Allah paling sering menentukan pembebasan hamba-hambanya dari neraka kecuali hari Arafah”. Jika tidak melakukan pertaubatan atas dosa-dosa masa lalu karena sinkretisme, yaitu mencampuradukkan ajaran Islam dan non Islam, atau nayata-nyata melakukan syariat non Islam, sekali lagi, syahadat kita, salat kita, puasa kita, zakat kita, haji kita, dan amalan-amalan sosial yang secara manusiawi dipandang baik akan juga lenyap sebagaimana yang pernah dialami oleh orang-orang yang salat berjamaah subuh dengan Rasulullah karena masih tergolong kafirun billah wa mukminun bighairillah (Kafir kepada Allah dan beriman kepada yang selain Allah). Mereka para sahabat yang tergolong kufur itu masih beruntung karena mendapat teguran langsung dari Allah dan Rasulullah sehingga cepat-cepat melakukan pertobatan massal saat itu pula, di Hudaibiyyah. Untuk itu marilah saudara-saudaraku, segera bertaubat di saat ini pula. Astaghfirulla>hal-‘az}i>m wa atubu ilaih (Aku mohon amupnan kepada Allah Yang Maha Agung dan aku bertubat kepada-Nya).

D}uyu>fur-Rah}ma>n, rah}imakumulla>h,    

Di tempat padang ‘Arafah ini hanya beribadah seperti: bertaubat, beristighfar, berzikir, dan berdoa yang baik-baik yang diutamakan. Tidak ada perbuatan lain yang dianjurkan. Untuk itu, Allah memberikan janji-janji yang luar biasa bagi yang melaksanakannya, yaitu akan menemui siapa yang ingin bertemu kepada-Nya. Rasulullah bersabda:

من احب لقاء الله, احب الله لقائه. ومن كره  لقاء الله, كره  الله  لقائه  (متفق عليه عن أبى موسى).

Barang siapa senang berjumpa dengan Allah, maka Allah pun senang menjumpainya. Barang siapa benci bertemu dengan Allah, maka Allah pun benci bertemu kepadanya (Muttafaqun alaih dari Abi Musa).

Jamaah rah}imakumullah

Salah satu bentuk pertemuan hamba dengan Allah adalah dengan cara berzikir, bertasbih, bertahlil, beristighfar, dan yang sejenisnya. Pada saat kita melakukan ini, Allah menjawab sesuai aksi kita. Jika kita bertasbih dengan mengucap “Subh}a>nalla>hi wabih}ambih” hingga 100 kali, maka Allah akan menghapus doa orang itu meskipun dosa itu sebanyak bilangan buih di lautan. Demikian Rasulullah saw bersabda:

من قال سبحان الله وبحمده فى يوم مائة مرة, حطت خطاياه وإن كانت مثل زبد البحر (متفق عليه عن أبى هريرة).

Ketika manusia mengucapkan “Subhanalla>hil’adhi}m subh}a>nalla>hi wabih}amdihi” Allah berjanji akan menyenangi si pembacanya, akan memenuhi timbangannya dengan kebaikan kelak di akhirat, meskipun kedua kalimat itu sangat mudah diucapkan oleh lisan. Dengan demikian pasti akan menyelamatkan pembacanya dari azab neraka. Demikian Rasulullah saw. bersabda:

كليمتان خفيفتان على اللسان, ثقيلتان  فى الميزان, حبيبتان  إلى الرحمن: سبحان الله العظيم, سبحان الله وبحمده (متفق عليه عن أبى هريرة).

Siapa yang membaca “La> ila>ha illalla>hu wah}dahu> la> syari>kalah, lahul mulku walahul h}amdu wa Huwa ‘ala kulli syain qadi>r” sebanyak 100 kali, maka Allah akan memperlakukan kebaikan pembaca kalimat ini laksana memerdekakan 10 budak dari keturunan Ismail. Demikian Rasulullah saw bersabda:

من قال عشرا:لا إله إلا الله وحده لا شريك له, له الملك وله الحمد وهو على كل

شيئ  قدير,  كان  كمن  اعتق  رقبة  من  ولد  إسماعيل  (متفق  عليه  عن  أبى أيوب الانصارى).

D}uyu>fur-Rah}ma>n rah}imakumulla>h,

Kita sering mendengar seorang TKW disiksa oleh majikannya dan tidak dibayar selama ia bekerja padanya. Kita sering mendengar berita bahwa seorang majikan terlalu perhitungan dalam memberikan bonus kepada PRT-nya, termasuk menyediakan fasilitas yang kurang layak sebagai umat manusia. Mungkin kita termasuk orang yang memperlakukan pembantu rumah tangga kurang manusiawi itu. Tetapi, ketika kita membaca kalimah thayyibah ini, kita dihitung memerdekakan budak bukan hanya seorang, melainkan 10 orang sekaligus. Artinya kita terhitung sebagai dermawan yang luar biasa. Penghitungan Allah kepada pembaca kalimat thayyibah ini tentu akan mewujudkan sifat nyata sebagai orang dermawan terhadap orang-orang yang dikuasainya seperti pembantu rumah tangga, tukang-tukang yang sedang kita pekerjakan untuk kepentingan kita.

Jamaah Wukuf yang Berbahagia,

Jika kalimah tyhayyibah ini dibaca 100 kali, Allah akan menetapkan  baginya sama dengan memerdekan budak 10 orang, ditetapkan padanya 100 h}asanah (kebaikan), dihapuskan untuknya 100 sayyiah (kejelekan) yang pernah dilakukan, menjadi benteng perlindungan untuknya dari syetan pada hari itu (ketika membacanya), dan di hari itu tidak ada orang yang lebih mulya daripadanya – (HR. Muttafaqun ‘alaih dari Abi Hurairah).

Para mufassir, seperti HAMKA mengartikan hasanah mengandung enam unsur kebaikan. (1) al-Kaffah (kecukupan), (2) al-‘Afiah (kesehatan) (3) al-Ma>l ash-sha>lih}ah (harta yang bagus (4) al-Mar’atush-sha>lih}ah (istri atau suami yang shalih/shalihah) (5) alAula>dul abra>r (anak-anak yang berbakti) dan (6) al-Ajru fil-akhirah (pahala di akhirat kelak).

Jamaah Wukuf Yang Berbahagia,

Jika hamba Allah membaca “La> h}aula wala> quwwata illa>billa>h”, Allah akan menghitungnya sebagai tabungan di surga, begitulah kata Nabi saw kepada Abdullah bin Qais (Muttafaqun alaih).

Selain zikir, membaca shalawat atas Rasul juga dijanjikan keutamaan yang luar biasa. Demikian Rasulullah bersabda:

إن اولى الناس بى  يوم  القيامة  اكثرهم  علي  صلاة  (رواه  الترمذى  عن  ابن مسعود. صححه ابن حبان).

  (Sesungguhnya orang yang paling utama bagiku besuk di hari kiyamat adalah yang paling banyak membaca shalawat untukku. HR at-Turmuzi dari Ibnu Mas’ud. Hadis ini disahihkan oleh Ibnu Hibban).

Jamaah Wukuf yang Berbahagia,

Kalau kita mau berdoa apapun yang isinya baik-baik kepada Allah, Allah akan memperlakukan kita sebagai yang paling mulia di sisi-Nya. Dalam hal ini Nabi saw bersabda:

ليس   شيئ   اكرم  على  الله  من   الدعاء  (رواه  النؤمان   بن  بشير عن   ابى هريرة. صححه  ابن  حبان  والحكيم).

Tidak ada sesuatu yang paling mulya di sisi Allah kecuali doa (HR. Nu’man bin Basyir dari Abu Hurairah. Ibnu Hibban dan Hakim menshahihkan hadis ini).

Untuk hadis ini khatib memberi catatan bahwa kepada Allah, satu-satunya perbuatan  yang benar adalah berdoa atau memohon kepada-Nya. Allah adalah Maha Kaya dan Maha memberi. Tindakan yang luar biasa ceroboh adalah mengirim pahala kepada orang yang telah meninggal, dan yang kita mintai menyampaikan pahala itu adalah Allah. Allah dengan demikian diperlakukan sebagai kurir pahala, Subh}a>nalla>h, na’u>z}u billa>hi min z}a>lik.

            Dengan melakukan pertaubatan, istighfar, bezikir, yaitu membaca tasbih, takbir, tahlil, tahmid, hauqalah, shalawat, dan doa secara tulus, penuh penghayatan sebanyak-banyaknya sepanjang waktu di arafah ini, insya Allah dosa-dosa kita masa lalu lenyap secara berbersih bagaikan tidak berbekas. Ketika kelak umat manusia dibangkitkan dari alam kubur umumnya tidak mengenakan pakaian, dan wujudnya berubah dari ketika masih di dunia. Mungkin berkepala babi, berkepala anjing, berkepala monyet karean perbuatan jahad mereka, insya Allah kita dibangkitkan dari kubur nanti dalam keadaan masih utuh seperti sekarang ini, yakni berpakaian ihram secara lengkap, atau sekurang-kurangnya kita termasuk golongan yang selamat, amin ya Rabbal ‘alamin.

D}uyu>fur-Rah}ma>n, rah}imakumulla>h,  

Marilah kita ahkiri dengan doa semoga Allah berkenan mengabulkannya.

اعوذ بالله  من الشيطان  الرجيم,  بسم الله  الرحمن الرحيم. اللهم  تقبل منا  فإنك مجيب السائلين. اللهم  إغفر لنا  ذنوبنا  وإسرافنا,  إنك انت  الغفور الرحيم.اللهم

اجعل حجنامبرورا وذنبنا مغفورا وسعينا مشكورا, برحمتك  يا ارحم  الراحمين

اللهم إنا نسئلك علما نافعا  ورزقا  واسعا وشفاء  من كل  داء وسقم  برحمتك يا ارحم الراحمين. اللهم  أحسن  عاقبتنا فى  الامور كلها  وأجرنا من  خزي الدنيا

وعذاب  الاخرة. اللهم  إنا نعوذبك  من الشك  والشرك  والنفاق والشقاق  وسوء

الاخلاق ربنا أتنا فى الدنيا حسنة وفى الاخرة حسنة وقنا عذاب النار, والحمد لله رب العالمين.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *