Tentang Adam Bukan Manusia Pertama

KOMENTAR TERHADAP RISALAH PROF. ABU SU’UD

TENTANG ADAM BUKAN MANUSIA PERTAMA

Oleh : M. Danusiri

 A   Aspek metodologi

  1. Kelihatannya kurang lazim  setelah ada iftitah kemudian ada muqaddimah. Keduanya sama-sama berarti pendahuluan. Pada muqaddimah ternyata berisi ayat-ayat al-Quran yang isinya tentang Adam sejak rencana Tuhan hingga ia menjadi khalifah, siapa yang mengikuti kekhalifahannya maupun yang menentang, lengkap dengan akibatnya masing-masing.
  2. ternyata, fungsi muqaddimah sebagai isi, sehingga lanjutannya langsung kesimpulan. Setelah itu asumsi-asumsi. Cara semacam ini juga kurang lazim dalam tata tulis ilmiah. Kalau dikatakan pola berpikirnya deduksi, ternyatata sangat tidak konsisten, dan kalau dikatakan alur berpikirnya induksi juga sama saja tidak konsistennya.
  3. pada muqaddimah berisi tentang sederetan ayat berkenaan dengan ‘Adam.’ Sepintas lalu, karena ini berkaitan dengan tafsir tentang ‘Adam, seperti metode tafsir tematik (maudlu’i). Akan tetapi, jika pola ini dikonfirmasikan pada berbagai pola tafsir tematik oleh para mufassirun, kok tidak satu pun yang mirip, seperti pola tafsir Mahmud Syalthout, ar-Raghib al-Asfahani, al-Fayumi, dan al-Kumi. Metode tafsir dari al-Kumi dan al-Fayumi lah yang paling populer diikuti oleh para mufassirun kotemporer. Di dalamnya ada prosedur pengumpulan ayat atau kalimat atau kata yang hendak ditafsiri  berdasarkan urutan turunnya ayat. Dengan cara ini hasil tafsir adalah ayat menafsiri ayat sendiri, ayat berkata dengan dirinya sendiri,  atau secara teknis disebut munasabatul ayat (hubungan ayat yang satu dengan yang lain) jenis munasabatul ayat cukup banyak: hubungan logis, hubungan keterpengaruhan, hubungan sebab akibat atau yang lainnya. Munasabatul ayat menghendaki ayat berbicara sendiri tanpa ada manipulasi dari sang mufassir, mirip-mirip seperti epoche-nya dalam metode fenomenologi, yaitu menaruh dalam tanda kurung untuk tidak mengatakan ‘ya’ atau ‘tidak’).

Sementara itu ar-Raghib al-Asfahani menafsirkan kata-perkata yang menjadi pusat perhatiannya dan mengoleksi dari semua yang ada dalam Alquran sehingga hasilnya akhirnya mirip aphendik – indek’ dan M.Syalthout melalu prosedur tematik yang global per surat. Munasabatul ayat diganti dengan munasabatus-surat

Lha , , , Prof. Abu menggunakan cara apa ? Ketika mengumpulkan sederetan ayat dan bisa disebut untuk diinterpretasi, Prof harus masuk ke dalam paradigma disiplin ilmu tafsir. Kalau tidak jelas, dikhawatirkan Prof. Abu telah mempunyai kerangka berpikir tertentu kemudian mencari pembenar. Ayat-ayat itu dimanipulasi untuk membenarkan, mungkin, setiap langkah alur berpikir. Kalau ini yang terjadi, akan membalikkan fungsi al-Qur’an sebagai hudan lin-naas. Ini berbahaya karena bisa-bisa Alquran difungsikan sebagai pembenar kepentingan, meskipun saya yakin Prof Abu tidak akan berpikiran seperti itu.

  1. Numerikal, biasanya digunakan untuk pemerian atau terminal, tahapan-tahapan berpikir. Dalam risalah Prof. Abu ini tidak tergambar. Contoh 1. Asumsi pertama dinomori 1, sementara itu asumsi kedua nomor 4. dan pola marginalisasinya juga berbeda. Contoh 2. Pemerian nomor 5 ada tiga macam (hal.14), tetapi hasil pemerian ke dua dinomori 6 dan hasil pemerian ketiga dinomori 7. cara ini sangat tidak lazim diukur dari cara penggolongan atau logical devision (taqsimul mantiqi). Contoh tiga ada semacam bab baru berjudul ‘Dogma dan ilmu Empirik’, setelah itu ada nomen klatur 1 sd 7. tiba-tiba ada angka urutan 13. kayak-kayaknya angka ini lanjutan dari nomor 12 yang posisinya sebelum, semacam bab baru, “Dogma dan Ilmu Empirik

Penerapan alur pikir yang demikian ini pasti membingungkan kepada pembaca. Analisis hermeuthic, antara dunia author, dunia teks, dan dunia pembaca tidak ada komunikasi yang jelas, sehingga apa yang dimengerti dan dimaksud oleh author tak tertangkap oleh pembaca, karena tidak ada jembatan antara ketiganya – author, tex, dan reader yang masing-masingnya memiliki regulasinya sendiri-sendiri.  

Usulan

  • Numerikal menggambarkan tahapan berpikir
  • Sistem penggolongan menggunkan cara yang standar, antara yang dibagi dan hasil bagi, antara hasil bagi yang satu negasi benar dengan hasil bagi yang lain atau singkatnya jami’-mani’
  • Pembukaan cukup iftitah saja, bagian muqaddimah diganti karena memang sudah masuk pada inti penuangan ide, mungkin, ‘Interpretasi/Tafsir Ayat-ayat Tentang Adam’. Setelah itu “Asumsi’ bisa,  tetapi supaya dijelaskan tentang apa, misalnya tanggapan atas pemahaman terhadap teks. Jadi, posisi asumsi seperti implikasi atas tafsir.

 

  1. Angka ke 5 dan angka 10 di bawah kolom asumsi-asumsi saling bertolak belakang. Kalau asumsi ke 5 disebutkan bahwa Adam itu makhluk surga, sementara itu angka 10 menunjukkan Adam makhluk bumi yang melewati proses evolusi fisikal. Kalau bertolak dari Adam sebagai makhluk surga, tidak perlu menggunkan proses evolusi. Hukum-hukum regulasi di surga sangat berbeda dari hukum-hukum regulasi di bumi. Lha, , , sebaiknya Prof. Abu memilih salah satu, Adam sebagai makhluk surga, atau sebagai maskhluk bumi ?. Pemilihan salah satu ini dijadikan starting point untuk melakukan perenungan lebih lanjut. Atau dengan cara ke tiga, yaitu Adam sebagai makhluk surga, kemudian karena sesuatu hal “bisa pelanggaran”, atas dasar kuasa Allah, Adam menjadi makhluk bumi sudah dalam bentuk spesies yang bernama manusia. Dengan cara ini tidak perlu ada proses evolusi dari makhluk kehidupan yang paling sederhana, yaitu binatang ber sel tunggal kemudian berevolusi secara alamiah melalaui serangkaian mutasi gena untuk menjadi seorang Adam spesies manusia. Sebagai gambaran, Kazuo Murakami menjelaskan bahwa manusia berbobot 120 atau 60 Kg memiliki sel sebanyak 60 trilyun. Evolusi dari satu sel hingga 60 triryun itu membutuhkan berapa milyard mutasi gena atau menggunkan satuan apa, prestasi sains terlalu belum cukup dalam mengungkap misteri ini.

 

  1. Asumsi nomor 1 sd 13 tampak jelas didasarkan pemahaman atas teks. Mestinya  tidak perlu. Yang perlu adalah tafsiran di balik yang tertulis, apakah menggunakan metode ijmali (global), tahlili (analisis), muqarrin (perbandingan), dan maudlu’i (tematik). Kalau harus melakukan asumsi, posisinya adalah hasil tafsir tertentu yang belum membawa kejelasan. Dari 13 asumsi itu ada yang berposisi sebagai asumsi ada yang mesti sebagai tafsir (interpretasi). Adam bukan manusia pertama memang bisa diasumsikan karena dari ayat-ayat tentang Adam tidak ada yang secara eksplisit menjelaskan sebagai manusia pertama. Hanya saja aroma intelektual muslim sejak zaman klasik hingga sekarang secara paradigmatik cenderung mengikuti arus pendapat Adam sebagai manusia pertam. Iqbal dikecualikan. Ia mengatakan bahwa Adam bukan manusia pertama. Akan tetapi ia tidak menjelaskan secara cukup. Sekarang Prof Abu cukup berani menentang arus dengan mengatakan Adam bukan manusia pertama

 

 

B. KOMENTAR ATAS IDE

      Ketika mengatakan ‘Adam bukan manusia pertama’ dengan menggunakan seperangkat argumen, terutama doktrin ilmiah, khususnya teori evolusi, posisi ilmiah itu sebenarnya sangat rapuh karena:

  1. Mengukur lapisan bumi kedalaman tertentu dengan kesimpulan “sekian juta tahun”, kehidupan makhluk tertentu dengan mengamati fosil dan berkesimpulan binatang ini telah hidup sekian ratus ribu tahun dan punah sekian ratus ribu tahun yang lalu, adalah tidak akurat (apa lagi menggunakan satuan juta atau milyard tahun), lebih lebih lapisan-lapisan bumi antara bagian tertentu dengan yang lainnya – dalam kedalaman yang sama dari permukaaan kulit bumi – tidaklah sama.
  2. Susunan warna maupun material lapisan bumi tidak seragam untuk semua bagian bumi. Singkatnya teori-teori tentang pengukuran umur lapisan bumi dengan rumusan jutaan tahun yang lalu hanyalah berhenti pada tahap hipotetis yang tidak mungkin dibuktikan secara empiris. Manusia sadar akan dunianya yang ilmiah tentang bumi telah terjadi dalam keadaan sedemikian rupa sebagaimana manusia bisa mengamati pada permulaan pengamatannya.
  3. Hingga sekarang belum ada daftar rigit urutan jarak tahun mutasi gena yang satu dengan yang lain setingkat lebih komplek dan  menyebabkan  perubahan bentuk fisik makhluk hidup dari binatang ber sel tunggal hingga makhluk yang bernama manusia dengan jumlah trilyunan  sel  (atas dasar penelitian Kazuo Murakami sebagaimana saya sebutkan pada  point 5 di atas).
  4. Dengan menggunkana pola pikir generalisasi induktif, premis-premis yang digunakan – yang paling tepat adalah setiap proposisi yang menyatakan mutasi gena dari yang sederhana kepada setingkat diatasnya – atas dasar pengamatan empirik untuk menentukan kesimpulan ‘Adam bukan manusia pertama’ terlalu tidak memadahi. Tetapi, Prof Abu bisa mengatakan “Saya kan tidak berpendapat bahwa ‘Adam bukan manusia pertama’ , Saya hanya berasumsi bahwa ‘Adam bukan manusia pertama’”. Untuk ini, komentar saya terhadap Prof Abu, asumsi ya asumsi, ketika asumsi itu diberi argumen empirik ilmiah, sekurang-kurangnya menurut Prof Abu,  jadinya bukan asumsi lagi, melainkan meningkat derajatnya menjadi opini.
  1. Taruhlah Prof Abu mantap pada posisi pendapat bahwa ‘Adam bukan manusia pertama’ pertanyaan yang muncul adalah “Siapa manusia yang pertama itu ?”Adam pada generasi berapa dari mansia pertama, di mana ia berdomisili, dan apakah manusia pertama yang bukan Adam itu sudah berspesies Adamik apa belum, adalah pertanyaan-pertanyaan logis dan otomatis yang muncul.  Ketika tidak bisa memberi jawaban atas pertanyaan ini, apalagi Prof Abu juga mengatakan bahwa Adam hanya bapak manusia Timur Tengah dengan menggunakan argumen genealogi para Rasul, siapa lagi manusia pertama negroid, manusia pertama eskimoid, siapa manusia pertama mongolid, manusia pertama arianid, dst, dst. Ibarat bengkel hanya bisa bongkar tetapi tidak bisa memasang. Meskipun demikian, terlepas dari benar atau salah, saya sangat apresiatif. Manfaatnya cukup banyak, antara lain terhadap ajaran agama, dari segi memahaminya tidak hanya ‘taken for granted’ begitu saja pada ulama-ulama klasik sehingga menjadikan jumud di kalangan umat Islam kontemporer. Otoritatif ulama tetap terbatas berkenaan dengan ruang dan waktu. Dalam sejarah perkembangan pemikiran filsafat, prestasi filsafat murni memang dari para filosof (bukan ahli filsafat) hanya menghancurkan pemikiran filosofis yang telah mapan, kemudian ia membangunnya dengan postulat, asumsi, dan paradigma baru. Hasilnya belum final, sifatnya baru rintisan, demikian informasi dari buku kuno “Filsafat Para Filosof Berfilsafat”. Atas dasar alur pikir saya ini, Prof Abu adalah pendobrag paradigma lama bahwa ‘Adam manusia pertama’, pemikir murni tentang “Adam bukan manusia pertama’ yang masih bersifat rintisan. Saya berharap ada pelanjut yang membangun postulat, asumsi, dan paradigma baru untuk menyempurnakan opini Prof Abu.
  2. Salam hormat dari saya, Danusiri. Mohon maaf kalau sekiranya saya terlalu lancang. Maksud hati ikhlas demi perkembangan Ilmu Islam atau Ilmu dalam Islam.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *