Tanggapan Artikel tentang Ruang Waktu dab Tuhan

Tanggapan Artikel tentang Ruang Waktu dan Tuhan

Catatan Untuk Prof Abu Su’ud

 Oleh : Danusiri

 1.      Global

agar ada hubungan organisatoris antara bab ruang waktu menurut ilmu kealaman dengan konsep ruang waktu menurut  Islam agar ditutup dengan uraian kelemahan ilmu itu jika diukur dari Islam sebagai ajaran antara lain tentang ruang dan waktu.

Bagaimana pun objektifnya konsepsi ruang dan waktu menurut sains tetap relatif jika dibandingkan dengan ajaran suci atas dasar iman. Dalam teori ilmu selalu ada anomali. Ruang-waktu mutlak atas dasar ilmu kealaman didasarkan hipotetico filosofis semata dengan jalanberpikir induktif kemudian  mengabsraksi yang lebih luas secara kuantitas dan akhirnya tidak mungkin dapat diuji secara empirik, jadi terdapat paradoksal antara doktrin: rasional, empirik, objektif, dan sistematis dengan konklusi akhirnya yang diistilahkan ruang-waktu mutlak itu sendiri. Karl R.Poper mengritik tajam epistemologi positivisme semacam itu dengan menghadirkan konsep realisme metafisis. Meskipun konsep ini berbeda sama sekali dnegan ajaran Islam karena masih terpaut dengan dunia materi, tetapi sekurang-kuirangnya dapat meratakan jalan untuk membangun pengetahuan tentang yang bersifat benar-benar gaib sebagaimana ajaran Islam.

Sebagai ilmuwan muslim harus bisa menempatkan kesucian aqidah dan objektifitas ilmu. Dengan mengawinkan antara ilmu Barat dan Islam model Amin Abdullah spider web rasanya kurang aman karena ilmu Barat belum tersyahadadi. Karena itu perlu mempertimbangakan konsep ‘sinar Ilmu’ versi Muslim Kadir, atau konsep ‘integrasi Ilmu: Deduksi atas wahyu’ versi Danusiri. Ilmu Barat sebagai semacam instrumen dalam bangunan Ilmu Islam. Yang namanya instrumen selagi tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam di satu sisi dan di sisi lain bermanfaat boleh-boleh saja, sebagaimana seorang petani menggunakan jasa lembu untuk membajak sawahnya.

Ruang waktu menurut ilmu kealaman hanya bersifat meteriaslistis karena hanya merupakan dinamisasi-agregasi dari dunia materi, yang menurut istilah al-Qur’an hanya terbatas pada   as-samaawaat wa al-ard, bagian dari al-‘alaam atau al-‘alamiin.  Memnurut Fahrur-Razi dalam menafsirkan , al-‘alam dari surat  al-Fatihah terdapat antara 14.000 hingga 18.000 tingkatan alam, meskipun pembagian tingkatan ini sangat tidak konsisten. Setidak-tidaknya dalam Islam ada yang disebut alam gaib, non empiris. Maka, konsep ruang waktu menurut ilmu kealaman perlu dilengkapi dengan ruang waktu yang bersifat gaib,metafisis, dengan dimensinya sendiri sehingga memungkinkan dapat menggambarkan bahwa malaikat itu benar-benar ada dalam ruang malaikat dst.

  1. Terlepas dari benar atau  salah,  karya Prof. Abu  tentang Ruang, Waktu, dan Tuhan merupakan karya kreatif-orisinal dan menempati ruang kosong untuk sekian lama sepi dari konsep itu di kalangan pemikir muslim kontemporer. Iqbal yang disebut-sebut sebagai mujadid alfutsani tidak memiliki konsep ruang, waktu, dan Tuhan secara komrehensif kecuali sekedar menganalisis dan mengritik filosof lain seperti Henry Bergson, al-Iraqi, Einstein, tanpa memberikan konsep baru sebagai alternatif. Jadi, kasarnya terima bongkar tidak terima pasang kembali. Guru Besar filsafat Islam di negeri ini cukup banyak, tetapi mana karya mereka tentang subjek ini ?

2.   Fragmentaria

  1. Supaya ada hubungan organisme antara konsep ruang, waktu, Tuhan menurut         ilmu kealaman bab 1 dan Islam (bab 2), sebelum menginjak bab 2 supaya (pada bab 1) ada semacam kritik terhadap konsep sintisme lalu membutuhkan pencerahan dari Islam. Saya meniliai antara bab 1 ke bab 2 kurang ada hubungan organisme atau kesatuan pikiran. 

2        Pada halaman 40 alenia terakhir sebelum kesimpulan terdapat konsep generasi terdiri atas 33 tahun. Kiranya perlu dilengkapi konsep generasi terdiri atas 25 tahun versi Urtega Y Gaset, filosof dari Spanyol. Konsep ini lebih rasional. Rasionalitasnya adalah laki-laki memiliki keturunan rata-rata pada usia 25. dengan demikian, pergantian generasi terjadi setiap 25 tahun

  1. Tentang Ruang waktu Islam (hal. 43), khususnya tentang ruang.

Ketika memasang judul dengan nama Islam, apakah langsung atau tidak langsung perlu ada dalil naqli-nya atau teks leksikal yang menunjuk pada judul. Jadi ketika menyebut Waktu, secara tekstual baik al-Qur’an maupun al-Hadis, atau sekurang-kurangnya satu diantara keduanya, tetapi yang Hadis harus tetap mu’tabar, tidak boleh yang lemah apalagi palsu. Dengan demikian, membahas tentang waktu dan dikatakan sebagai waktu menurut Islam cukup sahih karena di dalam baik al-Qur’an maupun al-Hadis banyak menyinggung waktu apakah waktu dalam arti ke-lama-an maupun penggalan waktu (subuh, dluha, nahar, ‘ashar, maghrib, malam). Benar dan salah suatu konsep atas dasar interpretasi terhadap teks urusan belakangan. Sebisa mungkin hasilnya benar.

Ketika memasang judul ruang sementara kedua teks suci, al-Qur’an dan as-Sunnah tidak menyebutnya, tentu akan menjadi masalah atau dimasalahkan, khususnya oleh kaum tekstualisme atau skriptualisme. Asal ada penjelasan rasional barulah barangkali bisa dipertimbangkan memansang sesuatu di klaim Islam. Jika cara ini mengalami buntu, maka ditulis dengan pola nisbah seperti ‘islami’, lengkapnya menjadi ‘ruang islami’.

Karena ketidakadaan teks tentang ruang yang diasosiasikan sebagai Tuhan itulah barangkali kurang menjadi minat para filosof maupun pemikir muslim, kecuali para sufi untuk menerung tentang ruang sebagai Tuhan atau ruang adalah Tuhan. Di sisi lain memang ada hadis masyhur “Tafakkaru fi khlqillah walaa tafakkaru fi-llaah fatuhliku” (Pikirkanlah ciptaan Tuhan, jangan kau pikirkan Tuhan, kamu akan hancur). Dengan demikian langkah Prof Abu Cukup berani mengambil resiko ini. Karena telah terlanjur terbit, maka saran saya diterbitkan di luar negeri saja. Peminat karya semacam ini dalam negeri terlalu kurang marketable.

Sepengetahuan saya, kaum sufi tidak secara langsung menyebut Waktu Mutlak adalah Tuhan itu sendiri. Al-Iraqi, sebagaimana diuraikan oleh Iqbal, menyebutnya sebagai Ruang ilahiyyah. Ia mengatakan: Ruang Ilahiyyah yang secara Mutlak bebas dari segala dimensi dan mewujudkan titik pertemuan segala yang tak terbatas (hal. 149). Ruang Mutlak adalah puncak perjalanan jiwa manusia yang unik dalam arti tidak dalam keadaan diam, tidak dalam keadaan gerak. Bagaimana pun, konsep ini juga terdapat contradictio, ‘tidak dalam keadaan diam, tidak dalam keadaan gerak’. Tetapi ini adalah kelemahan bahasa. Oleh karena itu, usulan saya, Prof Abu sebaiknya menambah uraian sesudah Ruang Mutlak dan  Waktu Mutlak adalah Tuhan dengan penjelasan bahwa konsep puncak tentang Tuhan adalah  ‘tak terkatakan’ , melainkan dengan tindak sujud kepada-Nya, kemudian merujuk QS al-Isra’/17 : 107-109.

  1. Gung liwang liwung (hal. 50).

Kiranya perlu klarifikasi. Istilah ini lebih pas kalau diartikan kehampaan absolut dan yang dimaksudkan adalah Ruang Absolut atau Ruang Abadi, bukan ruang serba dimensi. Pengertian serba dimensi menggambarkan banyak muatan ruang. Meskipun dalam buku ini yang dimaksud serba dimensi adalah maha lebar, maha panjang, maha luas, maha tinggi, dst, , , dengan gambaran ini justru jelas tampak materialistiknya. Dengan demikian istilah gung liwang liwung dan tafsirnya sebagaimana digambarkan dalam buku ini terdapat kontradictio interminis. Usulannya: gung liwang-liwung adalah kehampaan mutlak atau absolut tanpa dimensi.

  1. Sifat duapuluh (hal. 51, 83)

Menentukan Tuhan memiliki sifat 41 dengan rincian sifat wajib 20, sifat muhal 20 dan sifat jaiz 1 hanyalah kaum ahlusunnah waljamaah, pendivusian atara asy’ariah dan Maturidiah, yang kemudian disederhanakan oleh Imam Sanusi sehingga menjadi populer di Indonesia dan diadobsi oleh NU kemudian disederhanakan lagi menjadi Tauhid Jawa Dipa atau mutakad seket (i’tiqad yang 50). Sisa dari 41 adalah sifat wajib Rasul 4 sifat muhal Rasul 4 dan sifat jaiz rasul 1.

Pendirian ini sebenranya kurang aman. Menurut aliran teologi salaf seperti Ibnu Taimiah, menentukan sifat hanya 41 cenderung kufur. Kalau mau menetapkan bahwa Tuhan memiliki sifat jangan hanya 41, melainkan sejumlah al-Qur’an dan as-Sunnah menyebut sebagai sifat. Kata sifat apa saja yang menyifati lafal Allah atau lafal lain yang sinonim dengan lafal Allah umpama asmaul husna itulah sifat Allah.ar-Rahman umpamanya disamping populer oleh umat Islam sebagai salah satu nama Allah, tetapi secara leksikal lebih pas kalau juga disebut sebagai sifat Allah. Di dalam tradisi pesasntren dengan sistem makna jenggot atau makna gandhul, ketika menafsiri kalam “al-Hamdu lillaahi Rabbil-‘aalamiin, menjadi: alhamdu utawi sekabehani puji (Bahwqa segala puja/puji), iku lillaahi tetep kagungane Allah (semata-mata hanya milik Allah.). sifate Allah, ar-Rahmani kang moho welas (Sifat Allah sebagai Maha Pengasih), dst. Jadi secara leksikal seluruh yang tercantum dalam al-asmaaul husna adalah sifat dan asma Allah. Di dalam al-Qur’an masih jauh lebih banyak dari sekedar jumlah 99 atau 100 yang menyebutkan sebagai sifat Allah. Contoh dalam memberikan  basyir ( kabar gembira) orang-orang mukmin terdapat ayat “Wamakaruu wamakara-llaah, inna-llaaha khairul maakirin (QS.Ali Imran/3 : 54). Kata makar yang kemudian menjadi idiom dalam bahasa Indonesia ‘makar’ adalah juga menjadi sifat Allah. Hanya saja secara leksikal kemudian diubah menjadi siasat. Bahwa ‘siasat Allah itu jauh lebih bagus dari orang-orang kafir. Di dalam ayat ini ada sifat ‘makar’ dalam diri Allah. Makar dalam rangka menlindungi kaum beriman, sebagai wujud ar-Rahim Allah.

Menetapkan sifat Allah hanya 41, menurut Ibn Taimiah, Abdul Wahhab dan yang sealiran dengannya  termasuk kategori salah satu mengurangi, mengubah, atau menambah sifat Allah sebagaimana tercantum dalam Alquran. Mereka mengacu kepada QS. An-Nisa;/4 : 150 yang salah satu kandungannya adalah kufur sebagian dan iman sebagian, selanjutnya sama dengan kufur semuanya. Wallaahu a’lamu bishawaab. Maka usul saya penetapan sifat Allah yang Prof tuangkan dalam karya ‘Ruang, Waktu, dan Tuhan” itu ditambah kata-kata sebelumnya “sebagian sifat atau asma Allah” insya Allah selamat dari orang yang menghawatirkannya karena bisa ngemong lintas paham, kecuali Mu’tazilah. Aliran terakhir ini menggunkan istilah Dzat. Rumusannya antara lain “Allah itu Esa Dzatnya mendengar, dzatnya melihat, dzatnya mengetahui dan seterusnya. Dengan cara ini tidak memaksudkan bahwa Dzat Allah itu banyak.

  1. Hal 52 alenia  3 dan 4, Prof sudah menyatakan bahwa Ruang absolut itu adalah Tuhan  itu sendiri. Asal pernyataan Ruang sebagai Tuhan adalah penyimpulan .analogis, bukan bersal dari teks. Dengan penyimpulan ini sehingga Ruang memiliki atribut bukan makhluk, berkehandak, berkuasa dan seterusnya. Selanjutnya, Prof semacam mencari pembenaran dari teks tentang ruang dengan ungkapan ‘waasi’un’ yang berarti mahaluas, ‘as-shamad’, dan ‘al-Muhiith’.

Hemat saya, istilah ‘waasi’un’ dalam Alquran tidak berkaitan dengan ruang, sampai pun berasal dari abstraksi yang lebih luas dari ruang-ruang terbatas lalu berpuncak menjadi ruang tak terbatas (absolut). Waasi’un dalam selalu berarti dalam rangka Allah memberikan ampunan atau keluasan ilmu (mengetahui). Jadi terlalu jauh, dip[aksakan sih bisa, untuk mengionterpretasi Ruang mutlak dengan kualitas waasi’un.

Kata ash-Shamad hanya terdapat sekali saja dalam Alquran. Arti yang paling sharih secara gramatikal sebagaimana ditunjukkan dalam surat al-Ikhlash, atau dengan metode bayani, jelas sekali bahwa kata itu menunjukkan kualitas atau sifat dari lafal “Allah’. Sekali lagi, atas jawaban SMS Prof. Laafal itu adalah penajaman dari lafal ‘Huwa’ (si Dia), kata ‘Huwa” atau dalam semua surat itu awalnya adalah jawaban Rasul atas dasar wahyu dari pertanyaan orang Yahudi tentang ‘ketuhanan atau “siapa Tuhan Anda wahai Abu Qasim. Jadi sangat jauh untuk diasosiasikan dengan  Ruang Mutlak, meskipun saya amat maklum alur pikir Prof sampai pada pernyataan halaman ini.

Kata ‘Muhiith’ juga terlalu jauh untuk diasosiasikan dengan Ruang. Contoh pemakaian kata ‘Muhith’  umpama ‘Muhiithun bil kaafiriin’  yang secara literal paling dekat artinya adalah ‘meliputi terhadap orang-orang kafir’ mengandung arti prktis-operasional ‘mengalahkan terhadap orang-orang kafir. Kata ini disebut hingga 10 kali dalam Alquran. Semuanya tidak bisa atau terlalu jauh untuk diasosiasikan bermakna dengan ruang. Wallaahu a’lamu bi shawaab.

  1. Hal. 58. penyebutan malam abadi atau malam absolut dan siang abadi atau siang absolt, hemat saya mundur kembali, karena pengertiannya material sekali, yaitu abstraksi dari mala-malam relatif dan siang-siang relatif, sementara telah menggunakan kualitas abadi atau absolut. Karena ada penyebutan dua hal yang absolut, maka yang disebut Realitas menjadi relatif kembali. Kenyataan ini akan semakin jelas ketika disambung pada halaman 59 alenia terbawah disebutkan bahwa Ruang dan waktu pada hakikatnya adalah sama. Perbedaannya hanyalah pada konsepsi manusia. Saya kira, perbedaan konsep adalah perbedaan pengertian.
  2. Pada hala. 63. ketika Alquran mengatakan bahwa Tuhan adalah laisa kamislihi, Fainama tuwalluu fatsamma wajhallah, itu sudah jawaban final dan harus diterima atas dasar iman. Sejauh interpretasi yang dibenarkan secara syar’i menurut Jumhur ulama tafsir adalah takwil itu harus tetap tanzih (memahasucikan) terhadap Allah. Jadi keterangan Prof Abu pada baris ke 5 dari atas halaman ini “Rasanya tidaklah cukup kita kalau hanya mendapat jawaban Allah tidak bisa kita bayangkan  seperti apa pun” kelihatannya perlu diralat ini. Ada jawaban final lagi bahwa Dia adalah ‘lam yakun lahu kufuan ahad’  sikap yang paling selamat adalah iman penuh bila kaifa dan ta’abbudi (kumawulo), tauqifi (menerima apa adanya). Ada wilayah yang akal tidak bisa menyentuhnya. Sekali lagi peringatan Allah “walaa tafakkaru fillaah fathliku”, Wallaahu a’lamu bi shawaab.
  3. Hal. 65. Ruang Mutlak sama dengan Waktu Mutlak sama dengan Tuhan. Supaya ada penjelasan bahwa ini bukan trinitas bentuk baru: satu adalah tiga, tiga adalah satu. Mengacu pada agama-agama kuno dan agama-agama suku, banyak sekali versi trinity, bahkan kalau seandainya Mu’tazilah tidak lahir dalam panggung pemikiran Islam sangat mungkin sekali asy’ariah nyaris terjebak ke dalam trinitas bentuk baru: Allah Ta’ala, Ruh Qudus, dan Muhammad. Oleh orang-orang Asy’ariah-thariqadiyah di negeri ini, Muhammad dikatakan sebagai Nur Muhmmad, sayyidul anbiya’ wal mursalin,  sayyidul awwalin wal akhirin, dan sebagai Mahiy adz-dzunub (penghapus dosa). Kualitas Muhammdi dipersepsikan kurang lebih sama dengan Yesus oleh orang-orang Nasrani.
  4. Ungkapan ‘Anal-haq” tidak bisa dianalisis dengan bahasa filosofis. Ungkapan ini adalah efek dari semacam laku tertentu. Kita bisa membedakan pemain sepak bola dengan pengamat sepak bola. Dunianya lain sama sekali. Pengalaman spiritual dengan analisis filosofis adalah dunia yang berbeda, maka klaim pengalaman-pengalaman seperti itu dan sejenisnya seperti “manunggaling kawulo gusti’Pengalaman spiritual dengan analisis filosofis adalah dunia yang berbeda, maka klaim pengalaman-pengalaman seperti itu dan sejenisnya seperti “manunggaling kawulo gusti’berarti Tuhan immanence in essence dalam diri yang terdalam tidaklah benar, yang satu kawasan intuisi yang lain kawasan falsafi.  Fainama tuwallu fatsamma wajha-llaah adalah Tuhan itu immanence in being adalah tidak benar, yang satu kawasan iman, yang lain kawasan filsafat. Sejauh jembatan yang dapat deterapkan hanyalah rasionalisasi, dan bukan hakiki.
  5. Rspon atas SMS tentang Dahriyyun. Term ini memang menunjuk filsafat materialisme yang tidak urung atheisme juga. Yang saya maksud konsep ad-Dahr adalah arti literal dari sebuah hadis dikutip oleh Iqbal “Laa tasuub ad-dahra, Huwa-llaah (Jangan kau maki waktu karena waktu itu adalah Tuhan). Kemudian kata itu terserap ke dalam bahas Urdu dan Parsi daihar atau daihur.
  6. ar-Razi menggagas lima yang kekal: Tuhan, Jiwa, Ruang, Waktu, dan Materi awal. Dan tidak menyamakan bahwa ke empatnya sama dengan Tuhan. Materi awal adalah benih materi. Karena agregat menjadilah materi. Kiyamat, hancurnya alam semesta adalah kembalinya materi ke materi awal.

 

Sekian dulu, maaf Prof. Saya terlalu lancang. He, he, ,  ini hanya intermesso saja. Anggap ini tidak ada Prof.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *