Rajabiyah antara Doktrin dan Budaya

RAJABIAH ANTARA DOKTRIN DAN BUDAYA

Oleh: M. Danusiri

Pendahluan

Di dalam bulan Rajab terdapat peristiwa isra’ dan mi’raj Rasul, merupakan suatu momentum yang amat penting dalam Islam. Karena pentingnya, apresesiasi umat Islam juga sangat istimewa. Dalam perjalanan sejarah, akhirnya muncul berbagai mitos maupun ritual yang sebagiannya perlu diluruskan kembali sebagaimana tuntunan Rasulullah.

Dalam forum ini akan dijelaskan serba ringkas mengenai isra’- mi’raj dan amalan rajabiah yang berlaku di kalangan masyarakat.

 

Isra’ dan Mi’raj

            Pengakuan Rasul bahwa dirinya baru saja melakukan isra’ dan mi’raj. Amat menggemparkan masyarakat. Sahabat-sahabat dekat Rasul sendiri idak ada yang percaya, apalagi, kaum kuffar. Orang yang pertama percaya terhadap pengakuan beliau dengan begitu mudah dan mantab adalah Au Bakar.   Orang ini memang mengalami banyak perkembangan spiritual. Nama asli Abdul Ka’bah. Ketika memeluk Islam beralih nama Abdullah. Kemudian melengkapi nama menjadi Abdullah bin Abi Qahafah Usman bin ‘Amr al-Quraisyi at-Tamimi. Setelah menjadi sahabat karib Rasul dilaqabi Abu Bakar. Setelah mempercai isra’ dan mi’raj digelari ash-shiddiiq.

Kita sekarang tidak perlu lagi menanyakan apakah Rasul itu benar-benar ber-isra’ mi’raj atau bohong karena beliau bersifat jujur (sidiq) dan masalah ini telah menjadi keyakinan umum umat Islam. Mengingkari isra’ mi’raj berarti tidak perlu melakukan shalat karena antara shalat dan isra’ mi’raj laksana selembar mata uang yang berbeda permukaannya antara bagian belakang dan bagian depan.

Berita isra’ disebutkan dalam surat al-isra’ sebagai berikut:

 

 

Artinya:Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS.al-Isra’/17:1).

 

Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dirinci dalam hadis-hadis dan sering diragukan keautentikannya dari Rasul. Rincian itu: Dari Masjidil Haram berhenti di Madinah. Selanjutnya berhenti di Syajar, tempat Nabi Musa memperoleh wahyu. Selanjutnya berhenti di Betlehem (baitullahm) tempat lahirnya Nabi Isa. Selanjutnya ke Masjidil Aqsha. Setiap pemberhentian beliau shalat dua rakaat. Selanjutnya naik ke langit untuk melakukan mi’raj.

Penjelasan mi’raj tidak ditemukan dalam al-Qur’an. Kata ‘al-mi’raj atau yang seakar denganya, dzil ma’aarij tidak ada kaitannya dengan mi’raj dalam arti perja;anan Rasulullah ke langit saptujuh. Ayat itu sebagai berikut:

 

 

 

 

Seseorang telah meminta kedatangan azab yang akan menimpaorang-orang kafir, yang tidak seorangpun dapat menolaknya(yang datang) dari Allah, Yang mempunyai tempat-tempat naik (QS al-Ma’arij/70 : 1-3)

Atau

Artinya: Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng- loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya (QS. Zukhruf/43 : 33).

 

Teks pokok perjalanan Rasulullah menuju ke langit sampai ke sidratul muntaha, secara praktis berarti tutuking tutuk (the best of the best). Setelah itu membubung lagi sendirian. Malaikat Jibril sudah tidak mampu lagi menemani beliau. Di tangan para sastrawan, tindak lanjut naik lagi yang lebih tinggi melintasi raf-raf, kampus para Nabi dan Rasul dan orang-orang yang diberi izin oleh Allah untuk menimba ilmu di tempat ini, dengan perpustakaan induknya lauhil mahfudh. Rasul membubung terus hingga sampai ke mimbar. Di tempat ini beliau sujud di hadirat Allah. Di tempat ini beliau menerima wahyu shalat 50 kali dalam sehari semalam.

Sekembalinya dari tempat ini, ia mondar-mandir antara posisi Nabi Musa dan mimbar, hadirat Allah, untuk meminta keringanan melakukan shalat atas bimbingan Nabi Musa. Pada akhirnya diperoleh kesepakatan bahwa beliau dan umatnya supaya melakukan shalat lima kali dalam sehari semalam. Dalam perjalanan ruhani ini Rasulullah memperoleh visi berbagai tamsil antara orang yang beramal baik akan menemui kebaikan dan yang beramal buruk akan mengunduhnya pula.

Salah satu atau bahkan inti shalat oleh kaum muslimin dimaksudkan sebagai napak tilas perjalanan beliau. Dalam hal ini shalat adalah mi’rajul mu’minin. Secara mengindikasikan dialog intim antara mushalli dengan Allah. Demikian bunyi hadis qudsi yang menunjukkan maksud itu:

 

يقول الله تعالى قسمت الصلاة بينى وبين عبدى قسمين ولعبدى ما سائل. فإذا قال العبد :الحمد لله

رب العالمين, قال الله تعالى: حمدمى عبدى. وإذا قال: الرحمن الرحيم,  قال الله تعالى: أثنى علي

عبدى. وإذا قال مالك يوم الدين, قال الله تعالى: مجدنى عبدى. وإذا فال: إياك نعبد وإياك نستعين,

قال الله تعالى: هذا بينى  وبين عبدى ولعبدى   ما سئل. وإذا قال: إهدنا الصراط المستقيم صراط

الذين أنعمت عليهم  غير المغذوب  عليهم  ولا الضالين,  قال الله تعالى: هذا  لعبدى . ولعبدى ما

سئل{رواه مسلم عن ابى هريرة}.

 

Artinya: Allah Ta’ala berfirman, Aku bagi shalat itu antara Aku dan hambaku dua bagian. Untuk hamba-Ku, terserah ia mau meminta apa. Ketika (hamba-ku) berkata: al-hamdulillahi Rabbil ‘alamiin, (segala puji hanya untuk Allah pencipta alam semesta). Allah berfirman:hamba-Ku memuji-Ku. Ketika (hamba-Ku) berkata: ar-Rahmaan ar-Rahiim (Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih), Allah berfirman: hamba-Ku menyanjung-Ku. Ketika (hamba-Ku) berkata: Maliki yaumiddiin (Yang merajai di hari pembalasan), Allah berfirman: hamba-Ku mengagungkan Aku. Dan ia mengulangi berfirman sekali lagi dengan sepenuhnya sampai kata-kata : ilaa ‘abdi. Ketika hambaku berkata: iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin, (hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan), Allah berfirman: ini untuk-Ku dan untuk hamba-Ku. Terserah hamba-Ku mau meminta apa. Ketika (hamba-Ku) berkata: Ihdina as-shirathalmustaqim, shirathalladziina an’amta ‘alaihin ghairil maghdlubi ‘alaihin wala adl-dlalliin (Tunjukilah kami ke jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang Engkau anugerahi nikmat kepadanya, bukan jalannya orang-orang yang Engkau murkai dan bukan jalannya orang-orang yang sesat), Allah berfirman: ini khusus untuk hamba-Ku. Tersererah ia mau meminta apa. (HR. Muslim dari Abi Hurairah).

 

Dalam attahiyyat juga terkandung dialog lagi yang jauh lebi intim. Rasul berkata: Attahiyyatu lillahi wa ash-shalawaatu wa ath-thayyibaat (segala penghormatan hanya untuk Allah, demikian juga segala pujian dan segala kebaikan). Allah menjawab: Assalaamu ‘alaika ayyuhannabiyyu warahmatulaahi wabarakaatuh (keselamatan untukmu wahai Nabi, demikian juga kasih sayang dan berkah dari Allah). Rasul menjawab: Assalaamu ‘alainaa wa ‘ala ‘ibaadillaahi ash-shalihin (keselamatan untuk kita dan untuk hamba-hamba Allah yang shalih-shalih). Rasul menambahi ucapannya: Asyhadu an-laa ilaaha illa-llaah (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah). Allah berfirman: Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu warasuuluh (Aku pun bersaksi bahwa Muhammad itu hamba dan utusan Allah).

Setelah bagebinage antara Allah dan Rasulullah, beliau dipersilahkan memohon apa kepada Allah. Peristiwa  ini kemudian terabadikan menjadi aneka doa sesudah tasyahud qabla salam. jika si mushalli bisa menghayati redaksi shalat seperti ini secara utuh dan kontinyu, tidak mustahil ia juga sampai pada derajat nubuwwah mengalami kembali seperti yang dialami oleh Rasulullah.

 

Waktu Isra’Mi’raj

Secara umum peristiwa isra’ mi’raj dinyatakan terjadi pada tahun ke 12 kenabian, tanggal 25 atau tanggal 27 Rajab. Tetapi studi sejarah yang lebih intensif, isra’ mi’raj tidak diketahui secara pasti. Ketepatan ini kurang penting. Yang jelas peristiwa ini adalah suatu kenyataan dan mutawatir.  Al-Qur’an menyebutkan bahwa bulan Rajab adalah bulan suci. Allah menyebutkan sebagai berikut:

 

Artinya: Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa (QS at-Taubah/9 : 36).

Empat bulan  suci sebagaimana sabda Nabi  adalah:

 

الزمان قد إستدار كهيئة يوم خلق  السماوات  والارض. السنة إثنى  عشر شهرا فى  كتاب الله

منهااربعة حروم. ثلاثة متوالية ذوالقعدة وذوالحجة ومحرم, ورجب الذى بين جمادى وشعبان

رواه البحارى عن أبى بكرة}

Artinya: Zaman itu berputar seperti pada hari Allah mencipta langit-langit dan bumi. Satu tahun itu ada 12 bulan, diantaranya ada empat bulan haram (suci) tiga bulan berturut-turut, yaitu Dzul Qa’dah, Dzl hijjah, dan Muharram.satu bulan lagi adalah Rajab yang terletak diantara Jumadil akhir dan Sya’ban (HR. Bukhari hadis no. 3197 dan Muslim no. 1679)

Salah satu arti haram atau suci di bulan-bulan itu sejak zaman Nabi Ibrahim telah terjadi tradisi turun temurun untuk tidak saling berperang dan supaya saling berbuat baik satu dengan yang lain, antara masyarakat yang satu dengan yang lain. Menurut sebagian mufassirun, ayat ini telah termansukh karena orang-orang kafir menyerbu umat Islam di bulan muharram, selanjutnya umat Islam diperintah untuk menangkis serangan di saat itu pula, sebagaimana ditunjukkan ayat dia atas.

 

Ketika menafsir penggalan ayat: Falaa tadhlimuu anfusakum (Maka janganlah kamu menganiaya dirimu). Ibnu Katsir menyatakan:

إن الظلم فى الاشهر الحرام اعظم خطيئة وإن كان الظلم فى كل حال عظيما.ولكن الله يعظم من

امره ما يشاء.وقال: إن الله اصطفى صفايى من خلقه, واصطفى  من الملئكة رسلا, ومن النا س

رسلا.واصطفى من الكلام ذكره واصطفى من الارض مساجده والصطفى من الشهور رمضان

والاشهر الحرام. واصطفى من الايام  يوم الجمعة  والصطفى من الليال  ليلة القدر,  فعظموا ما

عظم الله.

Artinya: Berbuat aniaya di bulan-bulan suci itu amatlah besar kesalahannya, meskipun berbuat aniaya di sembarang waktu itu juga besar kesalahannya. Allah mengagungkan urusan-Nya sesuai kehendak-Nya. Allah memilih yang suci-suci diantara sekalian makhluk-Nya. Ia memilih malaikat sebagai utusan-Nya, demikian juga diantara manusia sebagai Rasul-Nya. Ia memilih diantara firmannya untuk berzikir kepada-Nya. Ia memilih sebagian bumi untuk masjid-masjid. Ia memilih bulan Ramadlan dan bulan-bulan suci. Ia memilih diantara hari-hari, yaitu hari Jumat. Ia memilih diantara malam-malam, yaitu lailatul qadar. Karena itu agungkanlah apa-apa yang telah Allah agungkan (h. 355).

Pengagungan apa yang telah Allah agungkan bisa di isi dengan aneka ibadah mahdlah baik yaag wajib maupun  tathawwu’ mapun ibadah-ibadah sosial seperti membantu kesulitan para fakir miskin. Saat ini amat tepat karena menghadapi tahun ajaran baru sekolah-sekolah. Banyak orang tua bingung mau menyekolahkan anak berkenaan dengan biaya.

 

Perkembangan Pola ibadah

Jauh setelah Rasulullah wafat, terutama di kalangan kaum tasawwuf dan tarekatisme banyak memunculkan aneka peribadatan dan keyakinan yang tidak ada contohnya dari Nabi saw. Umpama:

  • Shalat raghaib (kesenangan, keutamaan), dilaksanakan pertama kali di Baitul Maqdis pada tahun 480 H. Jumlahnya 12 rakaat, setiap rakaat membaca surat al-Fatihah, surat al-Qadr 3 kali, dan surat al-Ikhlash 12 kali.  Setelah itu ada doa khusus dan membaca shalawat sebanyak 70 kali. Pelaku shalat besok di hari kiyamat bisa memberi syafaat sebanyak 700 kerabatnya.
  • Puasa dan persembahan ‘atirah dan farra’ di zaman jahiliah hidup kembali. ‘atirah adalah menyembelih unta untuk berhari raya setelah puasa, yaitu pada tanggal 10 Rajab. Farra’ adalah anak kambing atau anak unta yang lahir pertama, kemudian dipelihara, lalu disembelih untuk persembahan berhala. Pada zaman Islam, berhala itu diganti untuk peringatan para syeh besar. Sementara itu, pada zaman Rasulullah gejala puasa ini muncul karena memelihara tradisi jahiliah, oleh Rasulullah dilarangnya. Demikian hadis fi’li menyebutkan.

 

كان النبي صلى الله عليه وسلم ينهى عن صيام رجب كله لئان لا يتخذ عيدا{رواه ابن

ماجه هن إبن عباس}

Nabi melarang berpuasa di hari seluruh bulan Rajab agar tidak dijadikan sebagai hari Raya (HR. Ibnu Majah dan ath-Thabrani dari Abdurrazaq.). Hadis ini memang mauquf, tetapi mendapat syahid dari Ibnu Abbas dengan hadis marfu’.

  • Atirah ala Jawa menjadi umpama menyembelih kambing kendhit, yaitu kambing hitam berbelang putih melingkar atau kambing putih berbelang hitam melingkar penuh, atau menyembelih ayam putih polos, ayam cemani, kucing condromowo (hitam polos), atau kadal berekor cabang dua sebagai ritual tertentu
  • Umar bin Khathab pernah memaksa orang untuk membatalkan puasa Rajab, lalu berkata: Laa tasyubbuuhu bi Ramadlan (Jangan kamu menyamakan puasa Rajab dengan Ramadlan (Al-Bani, Irwa’ul Ghalil).
  • Imam Ahmad menghimbau, sebaiknya tidak berpuasa di bulan Rajab, meskipunD hanya satu atau dua hari.
  • Imam Syafi’I menyatakan tidak suka jika ada orang berpuasa penuh di bulan Rajab. Ia beralasan dari hadis ‘Aisyah, bahwa Rasulullah tidak pernah berpuasa di bulan itu (Ibnu Rajab, Lathaif al-Ma’arif: 215).
  • Kepercayaan luas menyebutkan bahwa Rasul bersabda: Allahumma baarik lanaa fi Rajab wa Sya’baan, wa ballighnaa Ramadlan (Ya Allah. Berkatilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, kemudian sampaikan kami ke bulan Ramadlan – HR. Ahmad). Kritik hadis ini oleh Ibnu Suni dinyatakan lemah sekali karena terdapat rawi Zaidah bin Abi ar-Ruqad. Ia tergolong mungkarul hadis dan banyak pelupa dalam meriwayatkan hadis. Ibnu Rajab juga mendaifkan hadis ini (Lathaif al-Ma’arif : 218).
  • Pada malam-malam bulan-bulan suci, utamanya bulan Muharram dan bulan Rajab banyak para ‘urafaa’ setelah melihat lintang alian (batu meteor) membuat jimat, rajah, wifiq, maupun rapal-rapal (jampi-jampi, guna-guna) sesuai dengan kebutuhan clien-nya. Sekarang sudah banyak diproduk tanpa permintaan clien kemudian dieklankan untuk dimiliki orang lain dengan ketentuan mengganti mahar (mas kawin). Praktik ini tentu amat dilarang oleh Islam.Rasul pernah bersabda: (artinya) Barang siapa menggantungkan jimat (di tubuhnya), nasibnya tergantung pada jimat itu, HR. Muslim).
  • Hadis-hadis yang menyebutkan pahala puasa di bulan Rajab lebih utama disbanding bulan-bulan lainnya atau bulan-bulan suci (minus Ramadlan) adalah lemah sekali bahkan maudlu’ (palsu – al-Bida’ al-Hauliyyah: 235-236; al-Hawaadits  wal Bida’: 130).

Wal hasil, dalam bulan Rajab tidak perlu mengagungkan yang berlebihan dari yang dicontohkan oleh Rasulullah. Puasa Senin-Kamis yang sudah biasa dilakukan tentu boleh karena Rasulullah melaksanakan. Puasa Dawud yang melintasi waktu bulan Rajab tentu boleh karena direkomendasikan oleh Rasulullah. Puasa ayyamul baidh (hari-hari putih, purnama, tanggal 14, 15, 16 setiap bulan, termasuk  dalam bulan Rajab) tentu boleh karena Rasulullah juga sering melakukannya. Para wanita berpuasa nyahur utang Ramadlan tentu boleh karena itu wajib. Semua puasa ini tidak dalam rangka memuasai Rajab untuk memperoleh ridla Allah. Mencari ridla memang perlu dan harus, tetapi harus mengindahkan aturan-aturan yang telah ditentukan oleh Allah dan Rasulullah. Wallahu a’lamu bi shawaab.

 

Semarang, 22 Juni 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *