BAKTERIOLOGI DALAM SABDA NABI SAW

A. Pengertian

Bakteriologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari berbagai segi tentang bakteri. Bakteri sendiri berarti makhluk hidup bersel tunggal, terdapat di mana-mana, dapat berkembang biak dengan kecepatan luar biasa dengan jalan membelah diri, ada yang berbahaya dan ada yang tidak (bagi kehidupan manusia), dapat menyebabkan peragian, pembusukan, dan penyakit (Kamus Besar, l990:70-71). Tujuan akhir dari kegiatan apa pun dalam cabang ilmu ini adalah untuk kesehatan manusia baik secara langsung atau tidak langsung. Memberikan obat Bio L ke dalam sapitek bertujuan penghancuran kotoran manusia oleh bakteri penghancur itu adalah untuk memperoleh kesehatan manusia secara tidak langsung. Memberikan faksinasi bakteri tertentu ke dalam tubuh manusia adalah untuk memperoleh kesehatan secara langsung.

 

B. Sabda Nabi Tentang Dunia Bakteri

Idiom yang dapat diasosiasikan dengan bakteri dalam sabda Nabi saw. Adalah tha’un. Secara literal tha’un berarti penyakit pes, sampar, atau wabah (Warson, [t.th.]:914). Sampar berarti penyakit menular (Kamus Besar, l990:777); wabah berarti penyakit menular yang berjangkit secara cepat, menyerang sejumlah orang dalam daerah yang luas (Kamus Besar, l990: l005); dan pes adalah basil pes atau sampar (Kamus Besar, l990: 677).

 

C. Kesadaran kolektif Terhadap tha’un  Sebagai Wabah

Tha’un disadari sebagai wabah yang menggelisahkan masyarakat Rasulullah saw ketika itu. Jika suatu wabah berjangkit dalam suatu wilayah, maka kebijakan Nabi adalah melakukan isolasi, yaitu orang luar tidak boleh masuk ke wilayah epidemi dan sebaliknya orang yang berada di wilayah itu tidak boleh keluar ke daerah lain. Demikian sabda Nabi Muhammad saw.:

 

ااذا سمعتم با لطاعون با رض فلا تد خلوا ها واذا وقع با ر ض وانتم بها فلا تخرجوا منها (رواه الترمذى عن سعيد)

Artinya;

Jika kamu mendengar tentang tha’un di suatu tempat, maka janganlah kamu memasukinya (tempat itu). Apa bila kamu  (terlanjur) berada di tempat yang terkena wabah itu, maka janganlah kamu keluar darinya (tempat itu) (H.R. at-Turmuzi dari Sa’id).

 

Pernah di suatu saat daerah luar Madinah terjangkit wabah tha’un (pes, sampar, atau penyakit sejenisnya) dan al-masih (sejenis kuman  yang mengelupaskan kulit  – mungkin seperti wabah gudik, bengkoyok, atau secara umum penyakit kulit). Rasulullah melarang siapa pun yang terkena kedua jenis penyakit itu (tha’un dan al-masih) masuk ke kota Madinah. Demikian sabda Nabi: . . . la yadkhulu al-Madinata al-masihu wala ath-tha’un ( . . . Tidak boleh masuk ke Madinah bagi yang terjangkit oleh al-masih dan tha’un  – H.R.al-Bukhari dari Abu Hurairah)

 

D. Tha’un Sebagai Kotoran (ar-Rijsu) Sekaligus Rahmat

Dalam hadis yang panjang, Rasulullah mengatakan: . ath-tha’un rijsun ..  (. . .tha’un itu adalah kotoran . . . H.R. al-Bukhari dari Usamah bin Zaid) dan berfungsi sebagai siksa atau penyakit (‘azab). Beliau bersabda:

– – – انه كا ن عذ ا با يبعثه الله على من يشاء فجعله الله رحمة للمؤمنين فليس من عبد يقع الطعون فيمكث فى بلده صا برا يعلم انه لم يصيبه الا ما كتب الله له الا كا ن مثل اجر االشهيد (رواه البخارى  عن عائشه)

Artinya:

. . . Bahwa ada suatu ‘azab yang Allah mengutusnya (untuk) menimpa kepada seseorang yang Ia kehendakinya. Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang mukmin. Tidaklah bagi seseorang yang tertimpa tha’un kemudian ia berdiam diri di wilayahnya itu dengan sabar dan ia menyadari bahwa tha’un itu tidak akan menimpa kecuali telah ditetapkan Allah, kecuali ia memperoleh pahala bagaikan orang mati syahid (H.R. al-Bukhari dari ‘Aisyah).

 

Dalam hadis tersebut dijelaskan bahawa (l) penduduk yang wilayahnya terkena wabah dan tidak boleh keluar dari wilayah itu supaya mereka bersabar. Penyakit itu tidak akan menular kepada orang kecuali atas kehendak Allah. Pahala orang yang sabar (tidak keluar dari wilayahnya) memperoleh pahala sepadan orang mati syahid, (2) Perwujudan rahmat dalam kasus ini adalah bersabar. Orang sabar berada dalam lindungan Allah (inna-llaha ma’a ash-shabirin)

 

E. Pemerintahan Umar dan Wabah Tha’un

Pada waktu pemerintahan Umar bin Khatab terjadi wabah di Syam (sekarang Suriah). Pada saat itu sedang terjadi peperangan antara pasukan Islam melawan pasukan Byzantium di Suriah. Kasus ini (wabah) didiskusikan berulang-ulang dengan para pemimpin negara maupun para ulama. Kesimpulan akhir dari diskusi itu adalah: (1) Para prajurit yang belum berangkat ke Syam supaya diurungkan tidak jadi berangkat ke medan  perang, (2) Bagi yang sudah berada di medang perang (di Syam) tidak boleh mundur atau kembali ke Madinah, (3) Dasar kesimpulan ini adalah menghindari takdir (tertular wabah)  dan mencari takldir (keselamatan dengan menjauh dari wabah – H.R. al-Bukhari,VII [t.th.]:20-21).

 

F. Kesimpulan

Dari berbagai kasus wabah yang menimpa pada zaman Islam generasi pertama ini dapat disimpulkan bahwa: (l) tha’un cukup menggelisahkan masyarakat generasi pertama Islam, (2) mereka berusaha supaya wabah tidak menjalar ke daerah lain secara luas. Kata kunci untuk usaha ini adalah lari dari takdir lama  kemudian mencari takdir baru.

 

G. Kesadaran Baru

Di balik kegelisahan supaya selamat dari wabah mengandung hikmah supaya umat Islam bisa mengendalikan wabah. Dalam dunia moderen, pengendalian wabah yang pelakunya adalah bakteri – dapat ditempuh antara lain:

  1. Melemahkan daya (potensi) penimbulan penyakit bagi bakteri kepada manusia, sehingga manusia menjadi kebal terhadap bakteri tersebut. Pewerwujudannya adalah vaksinasi.
  2. Melakukan bakteriofaga, yaitu mengadu domba sesuatu jenis bakteri dengan bakteri lain dengan harapan bakteri yang tidak membahayakan manusia bisa menumpas bakteri yang membahayakan manusia.
  3. Melakukan bakteriolisis, yaitu membasmi bakteri dengan jalan proses pelarutan.
  4. Memproduk bakteriosida untuk membasmi sesuatu bakteri yang tidak dikehendaki demi kesehatan manusia.

Keseluruhan prosedur di atas hanya dapat (untuk sementara ini) terlebih dulu ditempuh melalui metode eksperimen di dunia mikroskopik dan mikroskup elektron. Perintah eksperimen ini dapat dirujuk pada ayat berikut:

سنريهم اياتنا فى افا ق وفى ا نفسهم حتى يتبين لهم انه ا لحق اولم يكف بربك انه على كل شيئ شهيد

Artinya:

Kami akan perlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu ? (Q.S. al-Fushilat/42:53).

 

Pengertian afaq adalah alam semesta (universa, the world). Dalam kajian moderen alam semesta mencakup:

  1. Makro kosmos ( ‘alam al-kubra).
  2. Mikro kosmos (‘alam ash-shughra).
  3. Mikro biologi mencakup  mikro organisme dan mikrobe.

Ketiga dunia inilah yang oleh Allah dijadikan dijadikan media bagi manusia untuk melakukan eksperimen, pengamatan, dan  memanipulasi untuk menemukan konsep, teori, dan ilmu. Untuk disiplin ilmu analis hanya menelaah, dan melakukan eksperimen pada dunia mikrobiologi. Harapannya untuk menemukan tentang konsep, teori, dan ilmu yang ada kaitannya dengan bakteri dan secara praktis disebut bakteriologi.

 

 

 

 

H. Kode Etik Ilmu di Dalam Islam

Islam tidak membenarkan doktrin ilmu untuk ilmu (science for the science). Ilmu di dalam Islam memiliki misi untuk sesuatu di luar ilmu. Ilmu di dalam Islam, termasuk yang di luar ilmu (seni, art ), haruslah dijadikan instrumen beribadah kepada Allah atau perwujudan tauhid.

 

 

One Response to BAKTERIOLOGI DALAM SABDA NABI SAW

  1. vera miska yuliana says:

    saya tertarik dengan artikel ini sebab artikel tentang bakteriologi yang di kaitkan dengan sabda Nabi Muhammad SAW inii dapat membuka jendela pengetahuan bagi saya selaku pembaca artikel ini.
    setelah membaca artikel inii pemikiran saya tertuju pada keterkaitan ajaran agama yang di bawa oleh Nabi besar Muhammad SAW dengan seluruh ilmu pengetahuan yang dipelajari hingga detik inii, dengan demikian tidak ada lagi keraguan tentang islam dan kitab suci Al Qur’an serta al Hadist sebagai sabda nabi
    ilmu pengetahuan dan gagasan gagasan baru tentang penanganan bakteri yang membawa wabah penyakit seperti dengan cara vaksinasi merupakan trobosan brilian yang dapat dilakukan manusia
    alam semesta sebagai obyek penelitian manusia hendaklah di gunakan dengan sebaik baik nya tanpa menyalahi prosedur dan ketentuan agama ,dan dengan sebaik baik nya pengelolaan alam n pemeliharaan nya
    dengan begitu kita dapat mencegah munculnya wabah penyakit yang disebabkan oleh bakteri
    tha’un cukup menggelisahkan masyarakat generasi pertama Islam, (2) mereka berusaha supaya wabah tidak menjalar ke daerah lain secara luas. Kata kunci untuk usaha ini adalah lari dari takdir lama kemudian mencari takdir baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *