Revitalisasi Aqidah Islamiyyah Di Era Globalisasi

Disampaikan dalam Forum Darul Arkom Purna Studi FKM Unimus

 السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 Pendahuluan

 Penggunaan kata ‘revitalisasi’ dalam ungkapan ‘revitalisasi aqidah Islamiyyah’ disadari bahwa nilai-nilai aqidah secara praktis mengendor, melemah, bahkan sebagian mengelupas karena pengaruh budaya globalisasi yang begitu mudah kita amati dalam kehidupan di sekitar kita. Gaya hidup, mode pakaian, trend seni, maupun pemanfaatan teknologi komunikasi, robot, dan komputerisasi atau secara umum ipteks telah banyak yang lepas dari kontrol aqidah Islamiyyah.

Pengertian :

Aqidah  yang jamaknya ‘aqaid  berarti sesuatu yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketenteraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak sedikitpun bercampur dengan keraguan.

 Al-jaziri mengatakan bahwa ‘aqidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum (aksiomatis) oleh manusia berdasarkan akal, wahyu, dan fitrah. Kebenaran itu terpatri ke dalam hati sanubari  kemudian menolak segala sesuatu yang bertentangan dengan  kebenaran itu.

Ada sejumlah istilah yang secara praktis identik dengan aqidah, seperti iman,  tauhid, ushuluddin, ilmu kalam, dan fiqh  al-akbar.

Ruang lingkup.

Pembahasan ‘aqidah mencakup:

  1. Ilahiyyah, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Allah, umpama wujud-Nya, sifat-sifat-Nya, dan af’al-Nya .
  2. Nubuwwah, yaitu pembahasan yang berhubungan dengan  Nabi, Rasul, kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada mereka, mukjizat, dan karamah.
  3. Ruhaniyyah, yaitu pembahasan yang berhubungan dengan alam metafisika seperti jin, malaikat, setan, iblis, dan ruh.
  4. Sam’iyyah, yaitu pembahasan yang berhubungan dengan sesuatu yang hanya diketahui melalui sam’i (yang didengar) dari wahyu (Alquran dan hadis), seperti alam barzah, akhirat, azab kubur, tanda-tanda kiyamat, surga, neraka, Tuba, ‘arsy, akhirat, dan mizan.
  1. Ruang lingkup ‘aqidah juga dapat diperinci sebagaimana yang dikenal sebagai rukun iman, yaitu iman kepada Allah, malaikat (termasuk didalamnya:jin, setan, iblis), kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada para utusa-Nya, Nabi dan Rasul, hari akhir, dan takdir Allah

Sentra aqidah Islamiyyah

Aqidah Islamiyyah berpusat pada tauhid (pengesaan Allah). Seluruh kegiatan iabadah, akhlak, maupun muamalah harus merupakan perwujudan tauhid. Dengan kata lain tauhid  tidak hanya merefleksi dalam kehidupan individual, melainkan juga harus mengejawantah dalam kehidupan sosial (tauhid al-ummah) maupun secara luas mencakup seluruh aspek kehidupan  (wa tauhid al-fanniyyah as-saqafatiyyah). Secara tradisional, menurut warisan intelektual Islam klasik, tauhid mencakup :

  1.  Tauhid rubuibiyyah, yaitu meyakini bahwa hanya Allah yang mencipta, mengasuh, mengatur, memelihara , termasuk yang menghancurkan alam ini kelak hanyalah Allah swt.
  2.  Tauhid Uluhiyyah, yaitu hanya Allah swt yang disembah maupun dimintai pertolongan (diseru dalam doa) tanpa perantara apapun (wasilah).
  3.  Tauhid al-Asma’ w ash- shifat, wa al-af’al, yaitu Allah memiliki nama dan sifat yang hanya dimiliki oleh Allah sendiri, dan Dia juga berbuat tidak karena oleh yang selain Dia.

Sumber Aqidah

Sumber ‘aqidah adalah al-Qur’an dan as-sunnah ash-shahihah al- maqbulah. Selainnya tidak ada.Apa saja yang datang dari keduanya diyakini secara penuh tanpa ada keraguan sedikitpun, kemudian  akal  difungsikan  untuk membenarkan apa yang diyakini oleh hati itu melalui rasionalisasi atau mencari hikmah di balik yang dikatakan oleh kedua sumber itu, sehingga ‘aqidah  Islam itu rasional.

Fungsi Aqidah

Secara umum para ulama membagi keseluruhan Islam ke  dalam kategori tertentu seperti: aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah; atau: aqidah, syariah, dan akhlak; Posisi akidah adalah fondasi atau landasan bagi yang lainnya. Tanpa aqidah yang benar menurut Islam, ibadah, akhlak, dan muamalah tidak ada artinya. Tanpa aqidah islamiyyah, syariah dan akhlak tidak ada artinya. Tetapi hanya berakidah saja tanpa ibadah dan berakhlak, juga tidak ada gunanya. Berakhlak secara baik dalam menjalani kehidupan di dunia ini, tetapi tanpa dilandasi dengan aqidah islamiyyah maupun ibadah menurut Islam juga tidak ada manfaatnya.Bermuamalah tanda dilandasi dengan aqidah Islamiyyah adalah sekularisme sebagaimana yang terjadi dalam sistem kapitalisme atau sosialisme. keempatnya (aqidah, ibadah, akhlak, muamalah) harus tetap dalam keterpaduan.

Pengertian Global

Global adalah relating to or happening throuhout the whole world. Era globalisasi  dicirikan :

      1    Ledakan informasi tanpa batas

  1. Nilai-nilai moralitas melonggar atau bahkan lepas dalam kehidupan modern ini
  2. Rasa perikemanusiaan semakin  tumpul
  3. Kecenderungan mengagungkan iptek
  4. Kecenderungan kehidupan semakin materialistik.

Dengan ciri-ciri semacam itu jika diukur dengan Islam sebagai sistem (mencakup aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah) jelas merupakan suatu tantangan yang serius.

Solusi

Level pragmatis

Satu-satunya menghadapi tantantangan globalisasi  hanyalah kita tetap berakidah Islamiyyah. Istiqamah di dalamnya. Dalam hal ini Nabi bersabda:”Aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang kamu tidak pernah akan tersesat selamanya selagi berpegang teguh keduanya, yaitu Alquran dan As-sunnah”. Namun demikian bukan berarti kita menolak secara in toto terhadap era globalisasi. Pemanfaatan teknologi informasi atau secara umum  iptek modern seoptimal mungkin untuk aktualisasi aqidah Islamiyyah, dan dalam waktu yang sama menekan sekecil-kecilnya dampak buruk bagi refitalisasi aqidah Islamiyyah tersebut. Profil umat  yang pas di era globalisasi adalah secara iptek modern tetapi aqidah, moralitas, ubudiyyah, dan menjalani kehidupan ini tetap istiqamah berdasar aqidah Islamiyyah.

Level Idiologis

Muhammadiyah dengan seluruh komponennya, utamanaya bidang tarjih dan tajid, harus memiliki komitmen mengembangkan ipteks (ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni), atau bahkan menciptakan peradaban yang sepenuhnya Islam sambil mengikis peradaban Barat yang sekularistik dan stiril dari nilai moralitas karena telah terbukti peradaban ini (Barat) hanya menghasilkan peradaban yang bercorak dehumanistik dan hedonistik.

Penutup

Sekelumit penjelasan  tentang “Revitalisasi Aqidah Islamiyyah di Era Globalisasi “ ini dapat menjadi pengantar diskusi yang tindaklanjutnya antara lain  teraktualisasi dalam kehidupan nyata , utamanya dalam menjalani profesi kita masing-masing sebagai sarjana dan alumni Unimus (pprofesi keperawatan, kebidanan, teknologi pangan, analis kesehatan, kesehatan masyarakat, pelaku bisnis, enginering, pengembangan sastra dan kebahasaan, maupun praktisi statikisme).

Semarang, Oktober 2007

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *