Etika Bisnis Menurut Islam

I. Pengertian Dasar

  • Etika berbeda dari akhlaq
  • Untuk etika, standar bai-buruk, utama-sia-sia, boleh-dilarang berdasar pada falsafah dan ilmu
  • Untuk akhlaq, standar baik-buruk, utama-sia-sia, boleh- dilarang berdasar pada syariat (aturan Tuhan – wahyu suci).
  • Maka, menyebut istilah ”Etika Bisnis Menurut Islam” itu sudah salah, meskipun dalam istilah ”Akhlaq Menurut Islam” terkandung di dalamnya ada unsur filosofis-ilmiah. Tetapi jika menggunkan istilah ”Akhlaq Bisnis Menurut Islam” tidak lazim karena pngaruh peradaban sekuler, sehingga di sini tetap menggunakan istilah ”Etika Bisnis Menurut Islam”.

II. Inti Diinul Islaam

  • Inti Diinul Islam adalah tauid, mengesahakan Tuhan, perbuatan apa pun harus di atas namakan kepada Tuha.
  • Tauhid harus merefleksi ke dalam total kehidupan, inclusif dunia bisnis.
  • Islam memihak kepada sistem bisnis tauhid, karena itu menolak sistem bisnis non Islam. Karena itu, liberalisme, sosialisme, kapitalisme, Pancasila yang tampilannya kapitalisme, dan isme-isme lain yang sekuler harus ditolak. harus di tolak

III. Sistem Paradigma  Etika berbisnis

  • Islam ditujukan sebagai rahmatan lil’alamiin. Allah berfirman

Artinya:

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi     semesta alam (QS. Al-Anbiya’/21:07)

  • Jangkauan Islam mencakup semua aspek kehidupan. Allah berfirman:

Artinya:

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-  cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. . . (QS. Al-Maidah/5 : 3).

  • Al-Qur’an menjelaskan segala sesuatu. Allah berfirman:

Artinya:

(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (QS.an-Nahl/16 : 89).

  • Tak ada bagian kehidupan yang terlewatkan oleh Islam. Allah berfirman:

Artinya:

Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan (QS. al-An’am/6 : 38).

  • Bagian dari ’segala sesuatu’, ’total kehidupan’ adaah dunia bisnis.

IV. Realitas Sejarah

  • Rasulullah adalah teladan yang bagus. Allah berfirman:

Artinya:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (QS. al-Ahzab/33 : 21).

  • Rasulullah pernah mengelola bisnis istrinya, Khatijah al-Kubra, dengan transparan, jujur, dan sukses. Jadi, bisnis telah muncul sejak generasi Islam pertama.
  •  Rasulullah sangat apresiatif terhadap dunia bisnis. Beliau pernah menegur peminta-minta: seandainya seseorang mencari kayu bakar dan dipikul di atas punggungnya, itu lebih baik daripada kalau ia meminta-minta HR. Bukhari dan Muslim).
  •  Etika bisnis dalam Islam lahir bersamaan dengan kegiatan bisnis dalam Islam. Berbeda dari Amerika Serikat. Etika bisnis baru muncul tahun 1970-an. Di Eropa tahun 1980-an, dan menjadi fenomena global 1990-an.

V. Motifasi Rasulullah untuk  berbisnis

  • Islam melarang pemeluknya menganggur, dan supaya senantiasa dalam kesibukan, kecuali istirahat. Allah berfirman:

Artinya: Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (QS.98 : 7).

  • Ibadah itu ada 10 bagian. 9 bagian adalah mencari rezeki halal. (konon) Rasul bersabda; ”al-’ibaadatu ’asyaratu ajzaa’. Tis’atun minha fi thalabil halaal (al-Hadis).
  • Mencari rezeki halal wajib bagi setiap Muslim. Rasul bersabda: ”Thalabul Halaali faridlatun ’alaa kulli muslimin. Rawaahu  Abu Daawuda dari Abi Hurairah dari).
  • Mencari rezeki halal direken seperti Syahid-syuhadaa’. Rasul bersabda: Man sa’a ’ala ’aalihi min halaalinfahuwa kalmujaahid fi sabiilillaahi. Waman thalaba ad-dunya halaalan fi ’afaafin kaan fidarajatis-Syuhadaa’ (Barang siapa yag keluar rumah mencari rezeki halal untuk keluarga, ia seperti pejuang di jalan Allah. Dan barang siapa mencari rezeki halal dalam penjagaan, ia berada pada status syuhadaa’).

VI. Larangan-larangan dalam berbisnis

  • Berbisnis haram, umpama MMOK (makanan, minuman, obat-obatan, dan kosmetika) haram atau mengandung sesuatu yang haram, night club discotic, bordilan, dan yang sebangsanya). Allah berfirman:

Artinya:

Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan (QS. al-Maidah/5 : 100).

  • Memperoleh harta secara tidak halal. Alah berfirman:

Artinya:

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya (QS. al-Baqarah/2 : 279).

  • Monopoli atau persaingan tidak fair. Allah berfirman:

Artinya:

Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui (QS. al-Baqarah/2 : 188).

Rasul bersabda: Man ihtakara hakratan yuriidu an-yaghla biha ’alal-muslimiina fahiwakhaathiun (Barang siapa menumpuk-numpuk, dagangan, sedang ia bermaksud menjualnya dengan harga mahal terhadap kaum muslimin, dia itu salah besar.HR. Muslim).

  • Memalsu dan menipu mitra bisnis. Allah berfirman:

Artinya:

Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (QS al-Isra’/17 : 35).

Bentuk-bentuk penipuan antara lain:

  1. Penawaran dan pengakuan (testimony) fiktif, umpama belum ditawar orang sudah mengaku ditawar orang banyak dan persediaan amat terbatas, system entul yaitu teman-teman oenjual sendiri berpura-pura berebut untuk membeli supaya orang lain segera membeli karena khawatir tidak kebagian membeli.
  2. Iklan yang tidak sesuai dengan kenyataan seperti ikhlan tentang MMOK, baik melalui TV, media cetak, maupun media in door, dan out door.
  3. Eksplorasi erotisme dan seksualisme wanita dalam berbisnis, baik dalam level individual, organisasi, maupun system; Sejak dari promosi, kegiatan bisnis, maupun pasca bisnis (bonus-bonus, bina lingkungan).

VII.  Rambu-Rambu dalam Berbisnis

Dalam berbisnis, baik dalam level individual, organisasi, maupun system (Dawam     Rahardjo, 1995 ; 320 ) harus senantiasa:

  • Jujur. Allah berfirman:

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (QS. at-Taubah/9 : 119).

Dan:

Artinya:

Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya (QS. al-Mu’minun/23 : 8).

  • Adil, al-Qur’an menyebut kata al-’adil dan berbagai macam derifasinya, kata al-qisht dan berbagai macam derifasinya – al-qisht sinonim dengan al-’adl – sebanyak 58 kali.
  • Dasar berbisnis adalah cinta kasih (santun dan ramah)terhadap mitra bisnis. Al-Qur’an menyebut kata rahiim, rahmaan, dan rahmah dan berbagai derifasinya sebanyak 288 kali, mengindisaikan bisnis hanya boleh dijalankan dalam koridor santun dan ramah.
  • Akuntabel. Allah berfirman:

Artinya:

Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya (QS. al-Mu’minuun/23 : 8).

  • Cermat. Allah berfirman:

Artinya:

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula (QS. Al-Zalzalah/99 : 7- 8).

VIII. Ancaman terhadap larangan dalam berbisnis

  • Neraka siksaannya kelak. Rasul bersabda: Man laa yubaali min aina iktasabal maala lam ybaali-llaahu min aina adkhalahun-naara Barang siapa yang tidak mempedulikan dari mana ia memperoleh kekayaan, Allah tidak mempedulikan dari mana Allah akan memasukkannya ke neraka – al-Hadis).
  • Shalatnya tidak diterima. Rasul bersabda: Man isytara tsauban bi’asyri daraahiima, wa fii tsamanihi dirhamun haraamun lam yaqbalil-llaahu shalaatahu maa daama ’alaihi minhu syai un (Barang siapa yang membeli pakaian dengan harga 10 dirham, satu dirham diantaranya uang haram, Allah tidak akan menerima shalatnya selagi pakaian itu dikenakannya – HR. At-Turmudzi dari Ka’ab bin Ujrah).
  • Neraka bagi yang mengonsumsi makanan haram. Rasul bersabda: Kullu lahmin nabata min haraamin fan-naaru aula bihi (Setiap daging yang tumbuh dari barang haram, maka neraka itu lebih utama baginya – HR. Ka’ab bin Ujrah)

IX. Muhammadiyah dan Bisnis

  • Dalam tubuh persyarikatan Muhammadiyah terdapat berbagai macam ortom (organisasi otonomi)
  • Satu diantara ortom  adalah AUM (Amal Usaha Muhammadiyah)
  • Laba bersih AUM diperuntukkan pengembangan persyarikatan dan sarana dakwah amar ma;ruf nahi munkar.

X. Daftar Bacaan

Al-Qur’an al-Kariim.

’Abd al-Baqi, Ahmad Fuad, [t.th.],al-Mu’jam al-Mufahras li Alfaaz al-Qur’aan al-      Kariim, Indonesia: Maktabah Dahlan.

Abu Ismail, al-Bukhari. [t.th.],  Shahih al-Bukhari. Indonesia: Maktabah Dahlan.

Ahmad, Mustaq.2001. Etika Bisnis Dalam Islam, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Ali, Marpudji, [t.th.], Etika Bisnis Dalam Islam.

Al-Asyhar, Thobieb. 2003, Bahaya makanan Haram, jakarta: PT. Al-Mawardi Prima.

Daud, Abi. [t.th.], Sunan Abi Daud. Indonesia: Maktabah Dahlan.

Eldine, Achyar, Etika Bisnis Islam, www. UIKA Bogor

Kholiq, Achmad, Etika Bisnis Dalam Perspektif Islam

Kunio, Yoshihara, 1990, Kapitalisme Semu Asia Tenggara, Jakarta: LP3ES.

Muslim, Imam. [t.th.], Shahih Muslim, Indonesia: Maktabah Dahlan.

Rahardjo, Dawam, 1995, Etika Bisnis Menghadapi Globalisasi dalam PJP II, dalam    Prisma, No.2. Jakarta: LP3ES.

Richard T, De George.1995, Bussines Ethics, Ed.4. New Jersey: Printice Hall.

Shihab, Muhammad Q. 1997. “Etika Bisnis dalam Wawasan “Al-Qur’an”, dalam         Ulumul Qur’an, No.3/tahun V.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>