AL-HIKMAH : GENERIKA, DOKTRIN, DAN OPINI

I. Pendahuluan

Tulisan ini dilatari oleh dawuh Prof Abu supaya saya ngomong ngalor ngidul  antara lain mengomongkan tentang fenomena Ponari. Saya mengiyakan tanpa mempertimbangkan kemampuan saya. Setelah saya pikir-pikir kemudian muncullah ide untuk memilih tema sebagaimana tertulis di atas. Saya menulis, tidak sekedar ngomong karena para ustadz yang mengisi di forum ini senantiasa orang-orang yang jauh di atas saya – bukan karena merendah tetapi benar-benar faktual – sehingga campur grogi adalah pasti. Jika tidak memenuhi harapan  Bapak Ibu Jamaah saya mohon maaf sebesar-besarnya.

II. Arti  al-Hikmah Secara Bahasa

Arti asal kata al-hikmah adalah al-luja>m, yaitu besi yang dipasangkan pada moncong kuda yang salah satu bagiannya masuk ke dalam mulutnya yang dengannya kuda itu dapat dikendalikan, tidak binal, bersifat sebaik-baiknya bagi yang memanfaatkan (Ibrahim Anis : 191).

Al-Hikmah juga berarti mencegah dengan se se-strik-strik-nya hingga diperoleh perbaikan atau kebaikan maksimal, contohnya adalah al-luja>m  terhadap kuda sehingga kuda tersebut menjadi baik, jinak (lulut), dan tidak binal (ar-Raghib al-Asfahani: 248).

 

III. al-Hikmah dalam Alquran

Alquran menyebut kata al-hikmah dan kata-kata yang lain yang seakar seperti al-hukm, al-hakim, al-ahkam, yahkumu, hakimin, muhkama>t dan yang sejenis hingga tidak kurang dari 198 kali. Ini menandakan al-hikmah termasuk tema yang amat penting menurut Alquran. Pentingnya tema ini dapat dianalogkan kalau kita diperintah oleh orang tua kita hingga terulang 5 kali saja karena kita belum melaksanakan, pasti nada perintah itu sudah keras, kadang-kadang diimbuhi bentakan, dan kita yang diperintah itu telah muncul kejengkelan pula. Bayangkan Allah mengulangi jauh di atas angka 5 kali 10, tetapi 198 kali. Pola kelompok keberagamaan yang kurang mengapresiasi ini, tentu   tidak banyak tahu tentangnya, dan implikasinya tentu bisa nunjangpalang.

Dalam kesempatan ini saya hanya membahasnya sekedarnya saja dari pengertian hakiki sebagaimana dijelaskan Alquran, tetapi saya akan berbuat sejauh  saya mampu. Saya tidak mampu menangkap makna yang sebenarnya dari Alquran. Setiap kata al-hikmah atau yang seakar dengannya, pasti menempati struktur dalam suatu kalimah dan mengandung arti yang khas pula. Di tempat lain pasti memiliki arti lain pula sehingga kalau tiap orang memiliki pemahaman yang sama dari Alquran tentu ada makna 198 dari kata al-hikmah. Jika ada perbedaan pemaknaan terhadapnya, tentu arti al-hikmah lebih banyak lagi dari sekedar jumlah itu (198).

1. Semakna berbuat sebaik-baiknya laksana terhadap kuda

Makna yang demikian ini dipakai dalam Alquran umpama احسن كل شيئ خلقه (Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya, QS as-Sajdah/32 : 7). Contoh pemakaian arti ”sebaik-baiknya” ini antara lain:

 

وما ارسلنامن قبلك من رسول ولا نبي إلا إذا تمنى القى الشيطان فى امنيته فينسخ الله ما يلقى الشيطان ثم يحكم الله اياته والله عليم حكيم

Artinya: Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Rasul pun dan tidak (pula) seorang Nabi, melainkan apabaila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaithan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu. Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaithan, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya, dan Allah Maha mengetahui lagi maha bijaksana. QS. al-Hajj/22 : 52)

 

Arti kata haki>m dalam konteks  ayat itu adalah berbuat terhadap sesuatu, di luar diri sang pembuat, supaya menjadi baik dengan kualitas sebaik-baiknya bagi si pembuat dan objek yang dimanipulasinya. Kalau yang berbuat itu Allah tentu untuk objek manipulasinya., yaitu Allah.

 

2. al-Haki>m

Al-Haki>m adalah orang yang melakukan al-luja>m. Dengan demikian al-hakim adalah orang yang berbuat baik, sebaik-baiknya. Kata al-Hakim   digunakan sebagai salah satu nama di antara nama-nama Allah yang indah (al-asma> al-husna) dan mengandung arti Allah senantiasa berbuat sebaik-baiknya terhadap semua makhluk. Kalau pun akhirnya ada seorang masuk atau dimasukkan ke neraka dengan siksaan yang amat pedih, itu bukan Allah Maha Kejam, melainkan orang itulah yang kejam terhadap dirinya sendiri karena tidak mengindahkan peringatan Allah. Contoh makna demikian ini antara lain:

 

وقالوا لو كنا نسمع او نعقل ما كنا فى اصاب السعير. فاعترفوا بذ نوبهم فسحقا لاصحاب السعير.

Artinya: Dan mereka berkata, “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan) itu niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala. Mereka mengetahui dosa-dosa mereka. Maka kebinasaanlah penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala (QS. al-Mulk/67 : 9-10).

 

3. al-Hukm

Al-hukm berarti perbuatan sebaik-baiknya dari al-Hakim. Al-Hukm juga mengandung arti menetapkan bahwa sesuatu itu begini atau begitu atau tidak begini dan tidak begitu (baik-buruk, benar-salah, ya-tidak, silahkan-jangan dst), yang dikemudian hari melalui para logikus  al-hukm berarti qad}>iyah (kalam khabar yang mengandung afirmasi/mengiyakan atau mengingkari). Contoh pemakaian makna semacam ini dalam Alquran adalah:

 

إن الله  يأمركم  ان تؤدوا  الامانات  الى  اهلها  واذا حكمتم  بين   الناس ان تحكموا بالعدل إن الله نعما يهظكم به إن الله كان سميعا بصيرا

 

Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu), apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat ( QS. an-Nisa>’/4 : 58).

 

Pelaku al-hakim (yang memutuskan begini atau begitu), al-hukkam yang senantiasa memberi putusan hukum, yaitu hakim  di antara amanusia adalah al-h}aki>m, manusia sendiri. Contoh pemakaian makna semacam ini adalah

 

ولا تأكلوا اموالكم بينكم  بالباطل  وتدلوا  بها الى  الحكام  لتأكلوا  فريقا من اموال الناس بالاثم وانتم تعلمون

Artinya: Dan janganlah sebahagian dari kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari pada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui (QS. al-Baqarah/2 : 188).

 

4. al-H}ikmah

Al-h}ikmah berarti mencurahkan kebenaran dengan ilmu dan akal (isha>bathu al-h}aq bi al-‘ilmi wa al-‘aql). Jika makna ini diterapkan kepada manusia adalah manusia yang mengetahui gejala, fenomena, mauju>da>d dan berbuat kebaikan karena curahan kebaikan dari Allah. Tipologi manusia demikian diberikan kepada Lukman al-H}akim. Demikian firman Allah:

 

ولقد اتينا لقمان الحكمة ان اشكر لله ومن يشكرفإنما يشكر لنفسه ومن كفر

فإن الله غني حميد

Artinya: Dan sesunguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu bersukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur kepada dirinya sendiri, dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha kaya lagi Maha terpuji (QS. Luqman/31 : 12).

Kata al-h}aki>m dalam ayat itu berarti nama Luqman itu sendiri yaitu Luqman al-H}akim, sekaligus karakter Luqman dan membuahkan pengertian Luqman senantiasa berbuat sebaik-baiknya (terutama kepada anaknya supaya tidak musyrik).

Jika diterapkan kepada Alquran, kitab suci ini adalah representasi hikmah itu sendiri atau sekurang-kurangnya  mengandung hikmah, contohnya adalah:

 

الر. تلك ايات الكتاب  الحكيم  (Ali>f la>m ra>, Inilah ayat-ayat Alquran yang mengandung hikmah (QS. Yunus/10 : 1).  Yang dimaksud hikmah dalam ayat ini adalah hikmatun ba>lighatun muzdajarun, berita sebaik-baiknya dan yang menjadikan baik.

al-H}ikmah bisa identik dengan al-h}ukmu. Setiap al-h}ikmah pasti al-h}ukmu, tetapi setiap al-h}ukmu belum tentu al-h}ikmah. Al-h}ukmu identik dengan al-h}ikmah manakala dalam meberikan putusan hukum itu benar dan baik. Pemakaian makna semacam ini antara lain dalam:

 

يا يحي خذ الكتاب بقوة واتيناه الحكم صبيا  (Hai Yahya, ambillah al-Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak (QS. Maryam/19 : 12). Ayat ini menjelaskan Yahya telah dicurahi hikmah oleh Allah pada saat ia masih kanak-kanak yang wujudnya adalah kitab suci berisi berbagai petunjuk hidup yang baik dan benar, bukan benda-benda magis. Pengertian al-h}ikmah semacam ini diulang lagi umpama:إن الله يحكم ما يريد  (Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendakinya, QS. Al-Ma>idah/5 : 1).

Pengertian al-h}ukmu yang identik benar dengan al-h}ikmah manakala tidak ada perbedaan antara  lafal dan makna sebagaimana disebut dalam Alquran. Makna yang demikian ini, ketika diterapkan kepada manuaia, dalam keadaan delimatis, mereka memilih mati (dibunuh) sebagai muslim dari pada murtad dengan kehidupan nyaman di dunia. Dalam sejarah Yahudi, banyak Nabi yang mati dibunuh umatnya karena tidak menghentikan dakwah mereka untuk mengajak agama tauhid. Mereka itulah ahl al-hikmah. Rasulullah sendiri berulangkali menjadi percobaan pembunuhan oleh kaumnya sendiri, dan ia tidak pernah surut untuk tetap berdakwah.

Antara sejarah dan mitos, ada dua orang prajurid muslim muzarabes) yang tertangkap oleh pasukan salib. Mereka  akan dibebaskan jika mau berpindah agama dari Islam ke Nasrani. Satu di antaranya mengaku tetap sebagai seorang muslim, meskipun dibunuh. Orang ini kemudian dipenggal kepalanya, kemudian kepala itu menggelinding dan berputar sambil membaca la> ila>ha illa-lla>h dan darahnya berbau harum, dan surga yang akan ditempatinya telah ia lihat dengan jelas. Yang satunya bersedia masuk Nasrani asalkan diberi ampunan sehingga tetap hidup. Setelah mengatakan begitu diiyakan oleh prajurit Nasrani, namun kemudian dipenggal kepalanya. Kepala itu akhirnya menggelinding dan berputar-putar sambil mengatakan penyesalannya dan tempatnya neraka, serta bau darahnya sangat anyir. Walla>hu a’lamu bi ash-shawab.

 

5. an-Nubuwwah (Kenabian)

Ibrahim bin ’Abdurrah}ma>n as-Sa’di menyatakan bahwa al-h}ikmah berarti an-nubuwwah (kenabian) yang menunjuk kepada para Nabi dan Rasul yang memiliki u>lul al-’azmi, kemudian diikuti oleh para Nabi dan Rasul lain maupun orang-orang yang memiliki derajad kenabian (bukan Nabi). Contoh pemakaian makna seperti ini adalah:

 

إنا انزلنا التوراة فيها هدى ونور يحكم بها النبيون الذين اسلموا للذين هادوا والربانيون والاحبار . . .

Artinya: Sesungguhnya kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh Nabi-nabi yang menyerahkan diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka, dan pendeta-pendeta mereka . . . (QS. al-Maidah/5 : 44)

 

Dalam pengertian al-h}ikmah sebagai an-nubuwwah, para Nabi dan Rasul dalam menyampaikan hukum (kebenaran, wahyu, kebaikan) selalu dibekali oleh Allah dua hal: al-Kitab dan al-Hikmah. Dalam hal ini Allah berfirman:

 

ربنا وابعث فيهم رسولا منهم يتلون عليهم اياتك  ويعلمهم  الكتاب  والحكمة

ويزكيهم إنك انت العزيز الحكيم

Artinya: Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah as-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang maha Perkasa dan Maha Bijaksana (QS. Al-Baqarah/2 : 129; dapat dibaca pula pada ayat 2 : 151, 231, 2512, 269; Ali Imran/3 : 48, 81, 164, an-Nasa</4 : 54,113; al-Maidah/5 : 110; al-Jum’ah/62 : 2).

 

Orang yang diberi hikmah adalah orang yang diberi sesuatu kebaikan oleh Allah dalam jumlah yang banyak (ومن يؤت الحكمة فقد اوتي خيرا كثيرا ). Sudah barang tentu orang kebanyakan tidak mengetahui pemberian Allah ini. Al-h}ikmah laksana arus listrik, tidak bisa diamati tetapi efeknya amat terasa baik  mnanfaatnya maupun madaratnya.

 

III. al-H}ikmah dalam Opini

Dalam dunia manusia, orang yang diberi hikmah dipersepsi sebagai orang yang linuwih, banyak memberi manfaat kepada orang banyak. Karena ahlul hikmah juga manusia yang kadang-kadang terkena emosi, bisa saja orang ini menyumpahi orang lain, dan sumpahnya dipercayai terjadi seketika atau tidak lama sesudah itu. Dalam bahasa Jawa disebut nyabda. Karena sabda ahlul hikmah mandhi, maka ia lalu disegani, ditakuti kutukannya, tetapi diharapkan kasih sayang dan bantuannya. Orang semacam ini digelari wali, setengah wali, atau insan kamil, orang yang dekat kepada Allah dan selanjutnya dijadikan perantara dalam berdoa kepada Allah. Syeikh Abdul Qadir aljilani, Syeikh Junaid al-Baghdadi, Syeikh an-Naqsyabandi, dan orang-orang lain yang sejenis adalah contoh tipologi manusia mediator antara Allah dan manusia. Semua urusan hidup (kullu h}a>jatin) menjadi beres setelah dikonsultasikan kepada manusia tipologi ini.

Secara faktual ada dua jenis manusia adi kodrati semacam ini, yang pertama wali sebagai karunia Allah (QS al-Baqarah/2 : 269 – waman yu’til hikmata faqad u>tiya khairan kas}>ran)  dan yang kedua wali sebagai anugerah Thaggut (QS.al-Baqarah/2 : 256-257), atau al-Jibt (QS. An-Nisa>’/4 : 51,60,72; al-Maidah/5 : 60; an-Nahl/16 : 76, dan az-Zumar/39/ : 17). Yang oleh Ibnu Taimiyyah wali jenis pertama disebut auliya>u-ar-Rahma>n (wali karena anugerah Allah) dan jenis wali yang kedua disebut auliyau asy-syaithan (wali karena anugerah syaithan). Orang yang secara formal adalah non muslim pasti bertuhan selain Allah, yaitu thaghut atau al-jibt, yang wujudnya bisa bermacam-macam: Isa bin Maryam, Uzair, Fir’aun, manusia, binatang, gejala alam (benda-benda bermana atau tuah seperti bathaok bolu, kayu kastigi, galeh asem, aneka macam batu akik, pring temu rose, lulang bo landhoh, aneka macam aji-aji, qur’an stambul yang semuanya dijadikan sebagai pelindung dari marabahaya), ualama, hawa nafsu, kekayaan, bahkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Baik personifikasi wali karena anugerah Allah maupun anugerah syaithan sama-sama bersifat adikodrati, sama-sama memiliki kemampuan yang luar biasa (khawariqu al-‚ada>d atau khawarijul ‚ada>d), sama-sama mampu menunjukkan dan memberikan manfaat kepada orang banyak, sama-sama waspodo (ngerti sakdurunging winarah, wicaksono). Wali jenis pertama dapat dicontohkan para Nabi dan Rasul, Umar bin Khatab, atau secara umum khulafa’ ar-Rasyidun, dan wali jenis kedua dapat dicontohkan Ki Joko Bodho, Ki Gendheng Pamungkas,  Mama Lorens, dan si kecil Ponari.

Yang lebih sulit dipahami ialah secara lahiriah berprofil orang bersurban, berbaju gamis, senantiasa berlumuran minyak wangi, idiom-idiomnya Arab, bahkan menggunakan ayat-ayat Alquran untuk membenarkan tindakannya, dan ini aman tidak mendapat kutukan masyarakat, tetapi esensinya tetap auliya> asy-syaithan karena indikator daya linuwih-nya menggunkan haikal, wifiq, rajah, hizib,puasa mutih, ngebleng, ngrowot, ngidang, apati geni,  dan semua laku (ritus) yang tidak ada tuntunannya dalam Alquran maupun Assunnah).

Perkembangan selanjutnya, al-h}ikmah berarti Failasuf atau Thabib (dokter ?). para peminat filsafat di dunia Islam menafsirkan al-h}ikmah dari ayat-ayat Alquran adalah filsafat. Para Nabi dan Rasul dalam berdakwah kepada umat dibekali dua perkara kitab dan filsafat. Mereka, para Nabi dan Rasul adalah ahlul hikmah dalam arti failasuf). Kemudian, para failasuf mengklaim mereka termasuk dalam cakupan u>tiya khairan kas}i>ran (diberi kebaikan yang banyak) oleh Allah secara langsung.

Thabib dan ilmuwan tidak termasuk dalam cakupan u>tiya khairan kas}i>ran, tetapi karena tadabbur-nya, penelitiannya, nad}arnya, dan ta’allum-nya (belajar)nya, kemudian diberi penghargaan oleh manusia, terutama sejak abad 17 dengan gelar akademik (BA, Drs/Dra, Ir, MA, Dr, Phd, Prof. Dan yang sebangsanya). Mereka diberi anugerah Allah u>tu al-’ilma daraja>t (QS. Al-Mujadilah/58 :11). Prestasi sejauh yang dapat mereka peroleh menurut para ahlul hikmah hanyalah karamah ’ammah (kemulyaan umum) yang tingkatannya rendah, yaitu hanyalah ’ilm al-yaqi>n, tidak mencapai derajat h}aqq al-yaqi>n.

Kerendahan ahlu al-hikmah lebih diperparah dalam tradisi, bahkan budaya bangsa Indonesia. Dalam bangsa ini terdapat sedikitnya dua tipologi ahlul hikmah. Pertama orang-orang yang menjual jasa dengan balasan rupiah dan dibahasakan mahar (mas kawin) yang mewujud benda-benda bertuah  dalam bentuk pasang susuk mahabbah-katresnan, pelarisan, kadigdayan, untuk percepatan memperoleh jodoh), dan yang kedua dalam arti suap-menyuap untuk meraih status tertentu (lamaran pekerjaan atau diterima sebagai mahasiswa, pengegulan proyek, kelancaran spj, pemenangan perkara dalam pengadilan, pengesahan undang-undang, penyelamatan dari hukuman, mencari simpati masa untuk menjadi anggota legislatif, dan yang sebangsanya,  dengan rumusan ’mohon kebijaksanaan Ibu/Bapak). Kebijaksanaan adalah terjemahan dari kata al-h}ikmah.

 

IV. Rekomendasi

Kita hanya akan selamat jika kita terbebas dari segala macam bentuk kemusyrikan. Inilah al-h}ikmah al-ba>lighah, kebaikan yang terbaik, kemanfaatan yang paling bermanfaat, dan inilah yang dipegangi oleh para Nabi dan Rasul, meskipun bisa merenggut nyawa mereka dari para penentangnya.

Aneka tawaran ketik reg mama, ketik reg  keberuntungan, ketik reg sio, dan ketik reg-ketik reg lain yang sejenis dapat menimbulkan kemusyrikan. Dalam hal ini Rasulullah melalui sabdanya yang diriwayatkan Muslim, dengan demikian s}ah}i>h menyebutkan: من اتى عرفا فصدق بما يقول فقد برئ محمد عنه  (Barang siapa mendatangi orang pintar kemudian membenarkan perkataannya sungguh Muhammad bebas dari mereka – tak ada persambungan apa pun. Dalam hadis lain disebutkan shalatnya selama 40 hari tidak diterima oleh Allah. Walla>hu a’lamu bi ash-shawa>b.

 

V. Penutup

            Mudah-mudahan uraian singkat ini ada manfaatnya bagi penulis dan para peserta kajian ke-Islam-an ini. Ami>n ya. Rabb al-’Alami>n. Atas segala kekurangannya mohon maaf sebesar-besarnya.

 

 

Semarang, akhir Vebruari 2009

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

RAJABIAH ANTARA DOKTRIN DAN BUDAYA

Oleh: M. Danusiri

Pendahluan

Di dalam bulan Rajab terdapat peristiwa penting, yaitu isra’ dan mi’raj Rasul, merupakan suatu momentum yang amat penting dalam Islam. Karena pentingnya, apresesiasi umat Islam juga sangat istimewa. Dalam perjalanan sejarah, akhirnya muncul berbagai mitos maupun ritual yang sebagiannya perlu diluruskan kembali sebagaimana tuntunan Rasulullah.

Dalam forum ini akan dijelaskan serba ringkas mengenai isra’- mi’raj dan amalan rajabiah yang berlaku di kalangan masyarakat.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>