Pencegahan penularan HIV-Aids

Oleh Danusiri

Tujuan Umum Pembelajaran
Setelah membaca dan mengikuti pembelajaran pada bab ini Mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan konsep-konsep pencegahan menularnya wabah HIV – AIDS.
Tujuan Khusus Pembelajaran
Setelah membaca dan mengikuti pembelajaran pada bab ini Mahasiswa diharapkan dapat:
1.    menjelaskan  pengertian HIV – AIDS
2.    menjelaskan  penyebab penyakit HIV – AIDS dan akibatnya
3.    menjelaskan  cara-cara pencegahan penularan wabah penyakit HIV – AIDS

A. Pengertian Dasar
1. Rehabilitasi dapat diartikan pemulihan kepada kedudukan keadaan yang dahulu (semula), perbaikan individu, pasien Rumah Sakit, korban bencana supaya menjadi berguna dan memiliki tempat di masyarakat. Merehabilitasi berarti memulihkan kepada kedudukan yang dahulu (semula), memulihkan kehormatan (nama baik  (Kamus, l990 : 736).
2.   HIV – AIDS
HIV – AIDS singkatan dari  human immuno deficiency virus – acuired immuno deficiency syindrome (selanjutnya untuk menyatakan istilah ini cukup disebut HIV – AIDS). HIV – AIDS adalah jenis virus yang menyebabkan daya kebal dalam tubuh melemah, bahkan menjadi hilang, sehingga jika terserang oleh penyakit lain (jamur, virus, kuman, atau yang lain) tidak ada perlindungan dalam tubuh.
3.  Rehabilitasi HIV – AIDS berarti memulihkan keadaan tubuh seseorang yang terkena virus ini supaya tubuh memiliki daya kebal (immune) sehingga dapat sehat kembali. Jika virus ini telah menjadi wabah (epidemi), merehabilitasi terhadap virus ini berarti memulihkan keadaan masyarakat dari kembali kepada keadaan semula (normal) setelah terkena wabah virus ini.
B. Penyebab penyakit virus HIV – AIDS
Penyakit HIV – AIDS terdeteksi pertama sebagai epidemi pada tahun l980 – an. Pada tahun 1981 awal tercatat 100.000 orang terinfeksi HIV – AIDS (Hawari, 1977 : 90). Wabah ini semakin meningkat dengan amat pesat. Pada bulan Desember 2007 untuk tingkat dunia sudah tercatat 39,5 Juta kasus, 45 % atau 17.775.000 adalah  wanita. Dari yang 45 % ini, 53 % yang terjangkit virus ini adalah mereka yang berusia antara 20 –29 tahun. Di Indonesia, yang terkena virus HIV dan  amat mematikan ini tercatat 5.230 dan yang telah meningkat menjadi AIDS 8.914 kasus. 73 % dari jumlah ini adalah laki-laki dan wanita 19 % (Suara Merdeka,12 Maret 2008), sisanya mungkin terjadi pada kaum waria. Pada bulan juni 2010 tercatat 47.157 kasus HIV dan 21.770 kasus AIDS (Mutiara, vol.81).
Angka kasus mereka yang terinfeksi virus semacam ini, dengan jumlah penduduk kurang lebih 220.000.000 jiwa, yang 87 % lebih beragama Islam tentu cukup menghawatirkan bahwa mayoritas mereka juga yang beragama Islam. Asumsi awamiyah yang diajukan ini cukup beralasan karena pemeluk agama Islam adalah mayoritas, jadi yang terkena virus ini juga mayoritas. Hanya saja, asumsi ini harus dilanjutkan, benar mereka yang terkena virus ini mayoritas adalah mereka yang beragama Islam, tetapi tentu yang beragama Islam secara nominalisme, Islam hanya KTP-nya saja, atau mereka yang bergelimang dalam kemaksiatan, terutama penyakit molimo (lima M), yaitu: madad (pemakai dan pengedar, atau pemakai tetap narkoba), madon atau medok (promiskuitas atau melacur, selingkuh, hidung belang), maling (mencuri sebagai kegemaran atau penghidupannya), mendhem (meminum minuman keras atau mabuk-mabukan), dan main (berjudi). Secara umum, jika seseorang telah memiliki salah satu dari lima M tentu segera mengambah pada M yang lain. Orang suka mencuri atau merampog umpamanya, hasil rampokan biasanya untuk mabuk-mabukan, berjudi,  narkoba, dan melacur (perzinaan, hubungan seks secara bebas dengan siapa ia mau dan sudah barang pasti di luar nikah atau secara singkat dikatakan promiskuitas). Tercatat dari data rilis BKKBN, di Indonesia terjadi 6000 –an kasus  aborsi. Pertahun kurang lebih terjadi kasus aborsi sebanyak 2,4 juta. Di Yogyakarta, tercatat 37 % dari 1.160 mahasiswi mengalami kehamilan sbelum menikah (Mutiara, vol.81).  isu santer di kota-kota besar di negeri ini, pada warnet-warnet yang tertutup rapat selalu dikunjungi anak-anak sekolah SMP-SMA. Dalam satu ruangan terdapat dua pasang sepatu, laki-laki dan perempuan. Terintip dari ruang-ruang itu ternyata tidak melihat computer untuk main game on line atau meng-up load, melainkan justru melakukan hubungan seksual. Aparat setempat sudah diberi informasi, tetapi tidak menanggapinya. Untuk itu, dalam kesempatan ini penulis menghimbau lagi agar aparat keamanan seperti POLRI dan Polisi Pamong Praja menertibkan usaha-usaha warnet agar lokasi ruangan itu cuku terbuka, atau Pemerintah Daerah membuat PERDA yang menutup peluang penyalahangunaan usaha warnet menjadi ajang promiskuitas yang sangat murah.
Promiskuitas, dalam bentuk hiteroseksual (ganti-ganti pasangan) maupun homoseksual (termasuk lesbian) lah yang  ternyata menjadi  penyebab utama orang terkena penyakit HIV – AIDS. Penyebab selanjutnya adalah penularan diantara  pemakai jarum suntik narkoba atau NAPZA. Medio tahun 2010 tercatat 3,2 juta jiwa anak bangsa ini ketagihan narkoba, 78 % dari mereka adalah remaja. Satu dari dua orang penasun (Pengguna   NAPZA suntik) sudah terinveksi HIV,  dan sisanya kecerobohan tenaga klinis atau para medis dalam melakukan transfusi darah atau penggunaan jarum suntik yang tidak steril atau sekali pakai terus dibuang kepada pasien yang ditangani. Amat langka virus HIV – AIDS menyerang kepada orang-orang yang taat beragama, kecuali para wanita taat dan terhormat yang suaminya terlihat amat setia, tetapi di luar sering jajan di lokalisasi atau tempat-tempat lain yang menyediakan bordilan. Suami semacam ini membawa bibit virus HIV – AIDS kemudian menularkan kepada istrinya yang tidak mengetahuinya. Penganut aliran seks bebas (free sex) biasanya berdalih kebebasan atas dasar HAM – yang sebenarnya adalah aliran iblis budaya Barat dan AS.
Jika seseorang telah terkena penyakit HIV – AIDS, di samping menderita sakit yang luar biasa, amat sulit disembuhkan baik secara klinis-medis maupun alternatis dan pada umumnya berakhir dengan kematian yang mengenaskan, seperti kurus-kering tinggal kulit pembalut tulang, rambut rontok, dan amat menjijikkan. Amat langka ada  orang yang terinfeksi penyakit ini kemudian dapat disembuhkan, boleh dikata ada keajaiban baginya. Sekarang ini telah ada ARV (antiterto virus) pembunuh virus  HIV – AIDS, namun efektifitasnya hanya menghambat saja dan belum membasmi.
Di samping penderita  HIV – AIDS amat menderita, juga ada empat macam akibat lain yang ditimbulkan, yaitu: (1) Fear (rasa takut yang akut, yaitu terbayangi kematian), (2) Contempt (menjijikkan terhadap orang lain sehingga tidak mau menyentuhnya karena takut tertular), (3) Grief (rasa duka dan penyesalan yang mendalam dan berlarut-larut, dan (4) Burn-out (rasa putus asa untuk memiliki harapan hidup). Menurut ajaran Islam, keadaan batiniah rasa takut berkepanjangan, rasa duka terus menerus dan berpuncak pada keputusasaan sama sekali tidak dibenarkan. Keadaan ini hanya karakter orang kafir dan tidak diperbolehkan. Demikian firman Allah berkenaan dengan putus asa:

Artinya
Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir(QS. Yusuf/12:87).

Dengan demikian, para penderita HIV – AIDS yang disebabkan oleh seks bebas,  di samping menderita empat hal di atas juga secara agamais masuk dalam kategorikafir yang ancamannya adalah kekal di neraka. Mereka, akhirnya memperoleh azab baik di dunia maupun di akhirat. Selain itu, Rasulullah menjelaskan bahwa akan terjadi kerusakan apabila seks bebas berlangsung di tengah-tengah masyarakat. Demikian sabda Nabi saw:
يإتى على الناس زمان همتهن بطونهم وشرفهم متاعهم وقبلتهم نسائهم
ودينهم  دراهمهم  و دنانيرهم. اولئك شر الخلق  لا خلاق لهم  عند الله
(رواه الديلمى)
Artinya:
Akan tiba suatu zaman atas manusia di mana perhatian mereka hanya tertuju pada urusan perut; Kehormatan mereka hanya materi semata; Kiblat mereka hanya urusan wanita (seks); agama mereka adalah harta (uang). Mereka adalah makhluk Allah yang terburuk dan tidak akan memperoleh bagian yang menyenangkan di sisi Allah (H.R. ad-Daelami).

Karena begitu mengerikan akibat bagi para penyandang HIV – AIDS yang disebebkan oleh seks bebas (promiskuitas), maka tidak seyoyanya dan tidak pantas bagi setiap muslim mencoba-coba terjun ke dalam dunia gelap ini.
C. Pencegahan
Telah dikampanyekan secara besar-besaran, antara lain melalui program massal ATM kondom gratis, supaya memakai kondom dalam hubungan seks bebas ternyata tidak aman 100 %. Kondom terbuat dari lateks (karet). Kualitas kondom yang paling bagus memiliki pori-pori 1/60 mikron. Sementara itu, besaran virus HIV – AIDS hanya 1/250 mikron (Hawari, l997 : 109). Satu mikron = seper seribu milimeteratau 0,0001 milimeter atau seperjuta meter (Kamus, 1990 : 582). Dengan demikian, sperma yang mengandung virus HIV – AIDS yang disemburkan melalui hubungan seks  ke dalam liang vagina, meskipun telah dilindungi oleh kondom yang berkualitas terbaik sekalipun, virus tersebut tetap memiliki peluang besar untuk bisa menerobos masuk ke dalam organ seksual wanita karena lubang terobosan itu begitu longgar bagi virus tersebut.
Andaikan nanti suatu saat ditemukan obat anti virus HIV – AIDS yang benar-benar efektif dan efisien sehingga menambah kenyamanan praktik promiskuitas, dari segi agama tetap tidak aman sama sekali karena pezinaan termasuk dosa besar dari dosa-dosa besar yang harus dijauhi. Demikian sabda Rasulullah berkenaan dengan dosa zina ini:
سئلت النبي  صلى  الله  عليه  وسلم:  اي الذنب  اعظم  عند  الله ؟  قال:
ان تجعل لله نداوهو خلثك. قلت: إن ذالك لعظيم, قلت ثم اي ؟ قال: وان
تقتل ولدك تخا ف  ان يطعم معك. قلت ثم اي ؟ قال: ان تزانى  حليلت
جارك (متفق عليه عن عبد الله ابن مسعود)

Artinya:
Aku bertanya kepada Nabi saw, Apakah dosa terbesar di sisi Allah ? Jawab Nabi saw: Jika engkau mengadakan sekutu bagi Allah padahal Dia yang menciptakan engkau. Aku bertanya: kemudia dosa apa lagi ? Jawab Nabi saw: Jika engkau membunuh anakmu karena khawatir akan makan bersamamu. Aku bertanya: Kemudian dosa apa lagi ? Jawab Nabi saw: Berzina dengan istri tetanggamu (H.R. Muttafaq ‘alaihi dari Abdullah Ibnu Mas’ud)

Setelah terbukti pencegahan penularan penyakit HIV – AIDS melalui pemakaian kondom gagal atau sama sekali tidak aman, para pemikir yang gelisah dan ikhlas agar virus mematikan itu musnah, menawarkan tiga tahap pencegahan yang semuanya berkenaan dengan seksualitas, yaitu: Pertama, program A, abstentia sexual  yang berarti hidup tanpa seks dengan semboyan “Save sex is no sex” . Kedua, program B, “be faithfull yang berarti setia pada pasangan, suami atau istri. Ketiga, program C, mutually faithfull monogamy  yang berarti setia pada pasangan hidup tanpa menyeleweng/selingkuh (Hawari, l997 : 119)
Ketiga alternatif alternatif ini belum menjamin keamanan pelaku seksual dari penyakit HIV – AIDS baik ditinjau dari klinis maupun syariah Islam karena: (1) alternatif pertama (A) sama sekali tidak manusiawi. Dalam Islam, hasrat seksual adalah sunnatullah. Dalam hal ini Allah berfirman:

Artinya:

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).  (Q.S. Ali Imran/3 : 14).

Aplikasi seksualitas diatur melalui lembaga perkawinan yang ketat dan detail supaya aman dari berbagai kerusakan, termasuk kemungkinan terkena penyakit HIV – AIDS. Hidup tanpa seks akan memunahkan kehidupan. Dengan seks, peluang untuk melangsungkan kehidupan menjadi mungkin. Karena itu alternatif ini (A) harus ditolakbaik secara syar’I maupun rasional-ilmiah. Save sex is no sex hanyalah hanya dibenarkan bagi yang telah terkena virus  HIV – AIDS agar tidak menularkannya kepada orang lain.
Alternatif B maupun C juga belum menjamin keamanan dari kemungkinan besar tertular penyakit HIV – AIDS karena belum tentu pihak laki-laki melakukan supit atau sunat. Ujung penis yang kelopaknya tidak dibuang menjadi aman bagi persemayaman virus HIV – AIDS, termasuk penyakit lain seperti rajasinga (sipilis), dan ketika melakukan hubungan bersebadan, laki-laki akan menstransfer kotoran tersebut ke dalam kelamin pasangannya. Jika si laki-laki telah bersupit, belum tentu alat vital mereka – laki-laki perempuan –  senantiasa bersih karena tidak ada kewajiban agamis untuk membersihkannya. Orang yang tidak terbiasa ber-istinja’ (membersihkan secara sempurna setiap kotoran yang menempel ke tubuh, termasuk pada kelamin menurut aturan syariat) atau berwudu sekurang-kurangnya lima kali sehari semalam, belum tentu organ vital tersebut bersih dan steril dari penyakit (jamur, kuman, virus), lebih-lebih kalau orang pipis atau membuang air tidak cawik (dicuci) tentu kelaminnya tidak bersih dari kotoran (jamur,virus, kuman). Oleh karena itu, alternatif B dan C ini juga harus ditolak secara syar’i.
Pencegahan secara efektif dan efisien supaya tidak terjangkit penyakit HIV – AIDS adalah sebasgai berikut: Pertama, pernikahan secara resmi menurut Islam sehingga hubungan suami-istri menjadi halal dan sehat.  Organ seksualitas senantiasa terjaga bersih karena sekurang-kurangnya dibersihkan 5 kali sehari semalam sebagai kelengkapan ketika melakukan wudu untuk mengerjakan salat. Selain itu masih ditambah 2 kali, yaitu ketika mereka mandi pagi atau sore. Akan lebih sempurna kalau secara khusus ketika akan melakukan senggama masing-masing  membersihkan kelaminnya  terlebih dahulu sehingga menambah kenyamanan dalam hubungan bersebadan.
Kedua, ketika si istri sedang haid (menstruasi), tidak boleh sama sekali melakukan senggama diantara keduanya, tetapi ber-istimta’, bersenang-senang atau berasyik-asyik tetap boleh, bahkan keduanya hingga mengalami orgasmus. Allah memang melarang bagi muslim-muslimah bersenggama ketika si istri sedang haid. Dalam hal ini Allah berfirman:

Artinya:
Mereka bertanya kepadamu tentang darah haid. Katakanlah, darah itu adalah kotoran. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri (Q.S. al-Baqarah/2 : 222).

Ketiga, Sebelum melakukan hubungan suami istri secara khusus memberesihkan alat vitalnya masing-masing dengan air yang bersih, akan lebih sempurna kalau diberi obat pembersih kuman, jamur, atau virus tetapi yang tidak membahayakan sehingga akan diperoleh kebersihan yang sempurna dan memperkecil peluang sekecil-kecilnya terkena penyakit yang membahayakan. Keempat, sebelum melakukan hubungan seksual  berdoa memohon      perlindungan dari syetan atau kejahatan makhluk Allah, umpama membaca surat al-Falaq dan surat an-Nas, selanjutnya doa khusus untuk senggama, umpama “Allahumma jannibnasy-syaya>thi}ni wajannibisy-syatha>na ma> razaqtana>” (Ya Allah, jauhkanlah kami dari syetan, dan jauhkan syetan dari rezeki yang telah Engkau anugerahkan kepadaku). Kelima, Sangat dianjurkan pasca berhubungan seks dibersihkan dan berwudu dengan sempurna, ittiba’ (mengikuti) tradisi Rasulullah, setelah itu baru tidur kalau menghendakinya.  Sebaiknya tidur setelah melakukan hubungan seksual antara suami dan istri di malam hari. Keenam, selalu  hati-hati dan waspada jika buang air  di tempat-tempat umum.menurut nasihat para ahli kesehatan, banyak kuman yang menyerang kelamin bisa bertahan hidup di air. Kalau sampai air yang mengandung kuman-kuman tersebut menyiram alat vital baik laki-laki maupun perempuan, terutama bagian-bagian lubang, kuman tersebut bisa temangsang (tertinggal di lubang-lubang kelamin). Ketujuh, Jika terpaksa harus melakukan transfusi darah hendaklah memperingatkan kepada tenaga medis yang menanganinya supaya memastikan bahwa baik darah yang mau ditransfusikan maupun alat-alatnya steril. Kecerobohan tenaga medis dalam melakukan transfusi darah kepada pasien merupakan kejahatan yang luar biasa karena berhadapan dengan orang sakit, orang yang tidak berdaya dan meminta peretolongan dengan biaya yang cukup besar.
Jika ketujuh  hal ini selalu dipenuhi dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam  melakukan persenggamaan insya Allah selamat dari kekhawatiran terkena virus HIV-AIDS. Walla>hu a’lamu bi as}-s}awab .

DAFTAR  PUSTAKA
AL;-Qur’a>n al-Kari>m.
Daili, Syaiful Fahmi (et.all), Infeksi Menular Seksual. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005.
Hawari, Dadang, Alqur’an: Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa. Yogyakarta: Dhana Bhakti Prima Yasa, l997.
. . . . . . . , Penyalahgunaan & Ketergantungan NAZA. Jakarta: Faklutas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006.
Muma, Richard D., HIV: Manual Untuk Tenaga Kesehatan (trans.) Shinta Prawitasari. Jakarta: Kedokteran BGC Universitas Indonesia, 1997.
“Mutiara”, vol. 81[ Klaten-Jawa Tengah, Ijin terbit oleh Notaris Jauhar Arifin SH, no. 04, 15 Desember 2000].
Nursalim, Ninuk Dian Kurniawati, Asuhan Keperawatan Pada Psien Terinfeksi. Jakarta: Salemba Media, 2007.
“Pedoman Konseling Penanggulangan  HIV/AIDS Sektor Agama. Jakarta: Depag RI, 2004.
“Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa”, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: PN Balai Pustaka, 1990.

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *