Merawat kematian

Oleh M.Danusiri

Tujuan Instrksional Umum Pembelajaran
Setelah membaca dan mengikuti pembelajaran ini diharapkan Mahasiswa dapat menjelaskan cara merawat  kematian sejak dari sakaratul maut hingga pemakamannya menurut ajaran Islam.
Tujuan Instrusional Khusus Pembelajaran
Setelah membaca dan mengikuti pembelajaran bab ini mahasiswa diharapkan dapat:
1.    Menjelaskan pengertian mati baik secara fisik, psikologis, sosial, maupun ruhani.
2.    Menjelaskan cara menangani orang dalam kritis menuju kepada kematian menurut ajaran Islam
3.    Menjelaskan cara menangani orang mati menurut syariat Islam, yaitu memandikan, mengafani, menyalati, dan mengebumikannya.
4.    Menjelaskan cara yang benar menurut syariat berkenaan dengan upacara-upacara di sekitar kematian.
5.    Menjelaskan cara-cara berziarah kubur menurut syariat Islam.

A. Pengertian Kematian
1.    Kematian adalah berhentinya suatu kehidupan, berakhirnya semua aktifitas kehidupan, penghentian kesadaran indrawi, hasrat dan semua jenis gerak, perpisahan  jiwa dari tubuh. Jiwa kembali ke alam rohani dan tubuh atau raga berangsur-angsur hancur menjadi tanah.
2.    Kematian adalah akhir dari kehidupan, ketiadaan nyawa pada organisme biologis. Semua makhluk hidup pada akhirnya akan mati secara permanen, baik penyebabnya secara alami, terkena penyakit, atau karena kecelakaan. Setelah kematian tubuh, makhluk hidup mengalami pembusukan dan selanjutnya kembali menjadi tanah.
3.    Kematian secara fisik adalah kematian yang sudah benar-benar berakhir karena semua organ tubuh tidak berfungsi untuk bertahan hidup.
4.    Kematian secara rohani  adalah kematian yang sudah diambang ajal, dimana jiwa dan raga sudah tidak bernyawa. Hidup sudah berakhir di bumi ini dan nyawa kembali ke alam selanjutnya (alam barzah). Alquran menjelaskan bahwa Allah lah yang mematikan manusia. Demikian kitab suci ini menyatakan:

Artinya:
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (Qs az-Zumar/39 : 42).
Dan

Artinya:
Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.(QS.Ali Imran/3 : 145).

Tentu, secara empirik kematian manusia disebabkan oleh sesuatu hal atau peristiwa, umapama karena ketuaan, sakit, kecelakaan, keracunan, kebakaran, tenggelam dalam air, dan yang lainnya. Secara imani, penyebab-penyebab kematian itu sudah menjadi ketetapan atau takdir dari Allah.

B. Macam-macam Kematian
Ada beberapa tinjauan pengertian tentang kematian, antara lain
1.Kematian sosial
Kematian sosial terjadi ketika seseorang telah kehilangan kontak dengan      orang lain. Penyebabnya cukup berfariatif. Orang yang karena dianggap terlalu sombong bisa dikucilkan oleh masyarakatnya. Di desa-desa sering terjadi kasus pengucilan oleh warganya karena yang bersangkutan tidak mau bergaul dengan warga masyarakatnya karena berbagai alas an, umpama merasa tidak level bergaul dengan warganya. Ia menilai terlalu jelata, miskin, dan awam. Ketika orang yang dikucilkan ini mempunyai hajatan seperti khitan anaknya, ia mengundang warganya untuk selamatan anaknya. Warganya tak ada yang mau mendatangi undangan itu.
Karena mengidap penyakit berbahaya dan berpotensi menularkan kepada orang lain, seperti sakit paru-paru yang parah. Orang tersebut kemudian diisolasikan supaya tidak kontak fisik dengan orang lain. Dalam keadaan seperti ini, ia bisa dikatakan mati sosialitasnya. Karena penyakitnya amat serius dan membutuhkan kesembuhan, orang semacam ini diisolasikan oleh yang menangani supaya tidak berhubungan dengan orang lain supaya orang lain ini tidak menghalangi proses penyembuhannya. Jika ia dapat disembuhkan kemudian pulang ke kampong halamannya, kehidupan sosialnya bisa dinormalisir kembali.
2. Kematian Psikologis
Orang dikatakan mati secara psikologis jika aspek-aspek kepribadiannya telah hilang, orang yang dikatakan rai gedheg (berwajah dinding) pada hakikatnya adalah mati secara psikologis karena ia telah tidak lagi memiliki rasa malu  berbuat yang mestinya tidak boleh dilakukannya. Ketika seorang pejabat beragama Islam, sudah haji, tetapi gemar berkorupsi, orang ini sebenarnya telah mati jiwanya. Seseorang muslim, dikatakan ustad oleh orang banyak, tetapi ia secara diam-diam sering mengunjungi lokalisasi dan bersenang-senang dengan para penjaja seks. Dia tidak merasa malu dengan dirinya sendiri, tidak merasa khawatir kalau ada jamaahnya mengetahuinya,  maupun tidak merasa malu kepada Allah, ia telah mati jiwanya. Jiwanya akan hidup kembali kalau ia mau bertaubat dari kemaksiatan-kemaksiatannya.
3. Kematian Biologis
Kematian biologis adalah bentuk kematian seluruh atau sebaian organisme, umpama organ jantung telah tidak berfungsi, tetapi organ lain masih berfungsi. Jantung yang telah mati ini dapat digantikan dengan jantung lain dengan cara jantung yang telah mati dilepas dari posisinya kemudian  dicangkokkanjantung lain yang masih berfungsi. Jika semua organ berhenti, maka dari kematian biologis menjadi kematian fisik.
Dalam Ilmu kedokteran dijelaskan,antara lain oleh Frank J Ayd. Kematian merupakan sebuah rangkaian secara urut mulai dari kematian klinis, kematian otak, kematian biologis, dan berakhir dengan kematian sel-sel (Lyons, 1970 : 50). Kematian klinis terjadi ketikan pernafasan dan detak jantung berhenti. Dalam beberapa kasus, kematian klinis masih bisa diselamatkan, artinya hidup kembali. Contohnya seseorang tenggelam. Setelah diangkat, nafas dan jantungnya berhenti. Kemudian dilakukan pijat jantung padanya dan dirangsang pernafasan dengan cara dari mulut ke mulut. Secara berangsur ia bisa bernafas lagi dan jantung berdetak lagi. Ia hidup kembali.
Urutan selanjutnya adalah kematian otak. Otak tidak bisa mengatasi kehilangan suplai oksigen lebih dari 10 menit. Jika nafas dan jantung berhenti lebih dari 10 menit, maka otak juga akan mati. Kematian otak secara keseluruhan bertahap. Pertama adalah kematian cortex, yaitu lapisan luar otak. Selanjutnya diikuti kematian dienchepalon, yaitu lapisan otak bagian tengah. Selanjutnya kematian batang otak. Setelah keseluruhan komponen otak mati kemudian diikuti kematian biologis ditandai berhentinya gerak tubuh. Setelah tubuh mati, segera diikuti kematian sel-sel (Ebrahim, 2001 : 123;
C. Merawat Peristiwa Sakaratul Maut
Ada beberapa tuntunan berkenaan dengan peristiwa kematian antara lain:
1. Bersabar menghadapi musibah.
Ketika seorang wanita menangis karena kematian suaminya dan peristiwa ini diketahui oleh Rasulullah, beliau mengatakan kepadanya: إتق الله واصبرى  “ittaqilla>h was}biri> (Takutlah kepada Allah dan bersabarlah). Wanita tadi tidak menerima nasihat itu karena tidak tahu bahwa yang menasihati Rasulullah. Setelah ia tahu, ia diam dan masuk kamar, lalu menyatakan penyesalannya. Rasulullah lalu menasihati lagi:
إنما الصبر عند الصدمة الاولى . . .
) “Innama as}-s}abru ‘inda as}-s}adamat}il-u>la – Bahwa sabar itu ketika pukulan pertama – HR. Muttafaq ‘alaih dari Anas bin Malik – Fuad, 2007 : 277).
2. Tidak membacakan surat Yasin untuk orang yang sedang mengalami sakaratul maut. Hadis-hadis berkenaan dengan peristiwa ini lemah atau d}a’if dan tidak boleh dijadikan dasar hukum melaksanakan sesuatu perbuatan. Contohnya adalah hadis berikut:
يس قلب القران لا يقرأها رجل يريد الله والدار الاخرة غفر له واقروًوها على موتاكم
Artinya:
Yasin adalah hati Alquran. Tidaklah seseorang yang dibacakannya dan berharap kepada Allah dan kehidupan (bahagia) di akhirat, kecuali ia diampuni. Maka, bacakanlah (surat Yasin) orang (yang akan) mati diantaramu.  (HR.Ahmad. an-Nasai dari Mu’tamir).
Hadis ini lemah. Tiga orang periwayat hadis ini majhu>l  (tidak diketahui- Qadir Jawas, 2005 : 30).
Juga hadis berikut:
إقراو يس على موتاكم. ..   “Iqrau> ya>si>n ‘ala> mata>kum”  (Bacakan surat Yasin orang yang akan mati diantaramu – HR. QAhmad, Abu Dawud, an-Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Abi Syaibah, al-Hakim, Baihaki, dan ath-Thayalisi).
Kualitas hadis ini lemah. Tiga tingkat (thabaqat) periwayat hadis ini majhul, yaitu Sulaiman at-Taimi, Abu Usman, dan ayah dari Abu Usman (Jawas, 2005 : 30).
Hadis yang berbunyi:
ما من ميت يموت فيقرأ عنده (يس) إلآ هون الله عليه
Artinya: Tidak ada seorang pun yang akan mati, lalu dibacakan surat Yasin di sisinya melainkan Allah akan memudahkan (kematiannya).
Terhadap Hadis ini Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Abu Hatim mengomentari bahwa hadis ini mungkar. Hadis ini Palsu (maud}u>’) . Pemalsunya adalah Marwan bin Salim al-Jaziri. (Jawas,2005 : 37). Abdullah bin al-Mubarak, seorang ulama ahli kritikus hadis yang amat handal mengatakan bahwa semua hadis yang menjelaskan tentang berbagai keistimewaaan surat Yasin berkenaan dengan orang mati adalah palsu (Jawas, 2005 : 37).
Cara yang benar menangani orang yang akan mati adalah menuntun membaca “La> ila>ha illalla>h”. Cara ini didasarkan pada Sabda Nabi sebagai berikut:
لقنوا موتكم لا إله إلا الله (رواه مسلم و ابو داود والنساء والترمذى وابن ماجه عن ابى سعد الخدرى
Artinya: ajarkanlah la> ila>ha illalla>h kepada orang yang hampir mati diantara kamu. HR. Muslim, Abu Dawud, an-Nasai, at-Turmuzi, dan Ibnu Majah dari Abu Sa’id al-Hudri. (Jawas, 2005 : 47)
Jika dalam menuntun pengucapan kalimah tauhid tersebut berhasil, harapannya, atas dasar sabda Rasulullah, orang tersebut akan masuk surga, yang ini tidak akan diperoleh keterangan bagi orang yang dibacakan surat Yasin padanya ketika menghadapi sakaratulmaut. Hadis yang dimaksud adalah sebagai bedrikut:
من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة (رواه احمد وابو داود وحاكم)
Artinya: Barang siapa yang akhir berbicaranya la> ila>ha illalla>h , ia masuk surga. HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Hakim (Jawas, 2005 : 45-46).
Menurut para ahli kritik Hadis, hadis ini s}ah}i>h}, dengan demikian dapat dijadikan dasar untuk melakukan sesuatu, dalam hal ini menuntun (talqin) orang dalam keadaan  atau sakaratulmaut.
Jika seorang pasien di rumah sakit sudah mengalami sakaratul maut dan dipasang beberapa fentilator untuk mengontrol denyut jantung maupun syaraf-syaraf otak memang telah menampakkan tanda-tanda menuju kematian, perawat segera meminta seorang  keluarganya masuk di ruang ICCU di mana pasien itu dirawat supaya menalqin kalimah tauhid la> ila>ha illalla>h atau Alla>h hingga ia benar-benar menghembuskan nafasnya yang terakhir.  Jika tidak ada keluarganya yang menunggu, perawat harus secara langsung menangani talqin ini. Jika tenaga perawat sangat terbatas, sementara pasien yang harus dirawat amat banyak, maka bisa ditalkin menggunakan kaset yang suaranya dapat ditangkap oleh telinga pasien. Dengan suara tahlil terus menerus memasuki telinga pasien, harapannya, meskipun ia tidak bisa berbicara, hatinya tetap sadar akan ketauhidannya ketika nyawa atau ruh lepas dari jasadnya, dan tidak diselewengkan oleh Iblis atau syetan. Sehingga, pasien dalam keadaan husnul khatimah. Inilah wujud dakwah yang sangat strategis bagi para tenaga medis dalam mengislamkan orang yang menuju kematian.
D. Merawat Kematian
Ada beberapa tuntunan dan dan kewajiban menangani orang yang telah meninggal, yaitu:
1. Melakukan istirja’, yaitu mengucapkan lafal “Inna lilla>hi wa inna ilaihi ra>ji’u>n”. Tindakan ini didasarkan perintah Allah sebagai berikut.

Artinya: (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “inna lilla>hi wa inna ilaihi ra>ji’u>n (Q.S. al-Baqarah/2 : 156).
Selanjutnya Rasulullah menambah ajaran agar berdoa manakala tertimpa musibah kematian dari keluarganya atau saudaranya seiman, yaitu doa sebagai berikut:
اللهم اجرنى فى مصيبتى واخلفلى خيرا منها.
Artinya: Ya Allah anugerahilah pahala atas musibahku ini, dan gantilah untuk ku yang lebih baik daripadanya.
Doa ini dapat dijelaskan bahwa bagaimanapun, orang yang tertimpa musibah pasti sedih. Tetapi harus ihlas atas musibah itu karena yang menghendaki adalah Allah. Dial ah yang mematikan dan menghidupkan seseorang. Seluruh alam seisinya adalah milik Allah semata-mata. Kapan saja Ia menghendaki untuk mengambil tidak ada yang dapat mencegahnya karena Ia mengambil hak miliknya. Selanjutnya di balik musibah yang menyedihkan itu agar kita memohon kemurahannya agar mengganti musibah dengan sesuatu yang membahagiakan.
Ucapan yang benar ini mengandung hikmah bahwa para ahli waris harus ihlas akan kematian orang tersebut, meskipun mereka amat menyayangi, mendambakan, atau karena motif lain. Tidak ihlas akan kematian orang yang disayangi berarti menentang kuasa Allah. Justru orang yang mati kemudian ditangisi keluarganya, si mayit malah disiksa Allah. Demikian Hadis Nabi berkenaan dengan masalah ini
الميت يعذب فى قبره بما نيح عليه, (متفق عليه)
“al-Mayyitu yu’az|z|abu fi> qabrihi bima> ni>h}a ‘alaihi  (Mayit itu disiksa di kuburnya karena tangis keluarganya atasnya (HR. Muttafaq ‘alaihi dariUmar bin Khathab (Fuad, 2007 : 279).
Setelah nyata seseorang meninggal, maka segera dilakukan hal-hal sebagai berikut:
a).    Memejamkan matanya kalau masih terbuka. Keterbukaan mata itu terjadi karena mata mengikuti keluarnya ruh. Ketika Abu Salamah mengalami sakaratul maut, Rasulullah memasuki  bilik di mana Abu Salamah berbaring. Ia sudah meninggal, dan matanya masih terbuka, kemudian Rasulullah memejamkan matanya dan bersabda:
وقد شق بصره, فاغمصه, ثم قال: إن الروح إذا قبض اتبع البصر. فضج ناس من اهله فقال: لا تدعوا على انفسكم إلا بخير. فإن الملائكة  تؤمن على ما  تقولون, ثم قال: اللهم اغفر لأبى سلمة وارفع  درجته فى المهديين.  وافسح له  فى قبره, ونور له فيه واخلقه فى عقبه (رواه مسلم عن أم سلمة).
Artinya: sesungguhnya apabila ruh itu dicabut mata mengikutinya. Maka orang-orang dari keluarganya berteriak, beliau bersabda: janganlah kamu berdoa untuk dirimu sendiri kecuali demi kebaikan karena Malaikat mengamini terhadap yang kamu ucapkan. Kemudian beliau berdoa: Ya Allah ampunilah dosa-dosa Abu Salamah, angkatlah derajatnya beserta orang-orang yag mendapat petunjuk, lapangkanlah dia dalam kuburnya, sinarilah ia dalam kubur, dan gantilah ia pada putranya (HR. Muslim dari Ummu Salamah).
b).    Tangan disedekapkan di atas dada dan kaki diluruskan.
c).    Mulut dikatupkan dengan diikat kain yang menyangkut bagian dagu, pelipis,  dan kepala bagian ubun-ubun.
d).    Ditelantangkan membujur dengan kepala sebelah kanan kiblat. Untuk di Jawa membujur ke utara.
e).    Muka dan seluruh tubuhnya ditutup, sambil mempersiapkan perawatan selanjutnya, khususnya memandikannya).
f). Mengabarkan berita lelayu ini kepada keluarganya yang menungguinya di rumah sakit. Selanjutnya supaya keluarga berkoordinasi mengabarkan peristiwa ini kepada  para tetangga, relasi, dan kerabatnya.
2. Memandikan mayyit
Sebelum memandikan mayit persiapkan terlebih dulu: (1) air suci yang menyucikan, dengan dicampuri bau-bau wewangian, (2) serbuk larutan kapur barus, untuk meredam bau, (3) sarung tangan dan handuk tangan untuk membersihkan kotoran maupun najis lain, (4) Lidi atau sebangsanya untuk membersihkan kuku, dan (5) handuk untuk mengelap tubuh mayit setelah dimandikan.
Setelah persiapan selesai segera memandikannya, (1) Membujurkan jenazah menghadap kiblat dengan kepala di sebelah kanan,  di tempat tertutup, pada tempat yang telah disediakan. Di rumah sakit, dalam memandikan mayyit perawat bisa bekerja sama dengan bagian kerohanian atau malah ini bagian kerohania sepenuhnya sehingga perawat hanya mengoperkan ke bagian ini. (2) Melepas seluruh pakaian yang menempel padanya, termasuk pengikat dagu, (3) Menutup bagian aurat, (4) Melepas cincin atau gigi palsu kalau ada, (5) Membersihkan kotoran dengan meremas bagian perut agar kotoran keluar, pada saat ini bagian kepala agak ditinggikan sehingga memperlancar keluarnya kotoran, (6) Membersihkan kuku-kukunya, rongga mulutnya, atau lubang-lubang yang lain. Disunahkan menyiram air mulai bagian kanan diawali dari kepala, lalu menurun hingga kaki, setelah itu   dimulai bagian kiri dengan peragaan seperti bagian kanan. Cara ini diulangi beberapa kali sambil digosok-gosok dan bilas sehingga bersih. Diusahakan ganjil, tiga, lima dst, Untuk mengakhiri ini disiran larutan kapur barus atau air yang wangi.
Dalam memandikan jenazah, tidak perlu dibuka atau diakhiri dengan wud}u karena tidak dicontohkan maupun diperintahkan oleh Rasulullah. Demikian dalil peragaan memandikan jenazah dari Rasulullah:
حديث  أم عطيت  الانصرية  رضي  الله عنها, قالت:  دخل علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم ونحن  نغتسل إبنته, فقال: اغسلنها  ثلاثا  او خمسا أو اكثر  من  ذالك بماء وسدر, واجعلن فى الاخرة كافورا, فإذا فرغتن  فاذننى . فلما فرغنا  اذناه, فألقى إلينا
حقوه فقال: أشعرنها إياه.
فقال أيوب (احد الرواة): وحدثنى حفصة بمثل حديث محمد, وكان فى حديث حفصة (أغسلنها وترا) وكان فيه ثلاثا  أو خمسا أو سبعا.  وكان فيه أمه قال: إبدأن بميامنها ومواضع الوضوء منها. وكان فيه, أن أم عطية قالت: ومشطناها  ثلاثة قرون (متفق
عليه)
Artinya:
Hadis dari Ummu ‘Athiyah al-Anshariyyah r.a.berkata: Rasulullah saw. Masuk ketika kami sedang memandikan putrinya, maka beliau bersabda: mandikan dia tiga atau lima atau lebih banyak dari itu bila perlu, dengan air dan daun bidara, dan yang terakhir dengan kapur barus. Jika telah selesai beritakan kepadaku. Maka ketika telah selesai kami beritakan kepadanya, maka beliau memberikan kainnya kepada kami sambil bersabda: pakaikan sarung ini kepadanya. Ayyub, salah satu rawi dalam hadis ini, berkata: Hafshah menceritakan kepadaku seperti hadis Muhammad ini, tetapi dalam riwayat hafshah ada keterangan mandikanlah ia secara ganjil: tiga, lima, atau tujuh. Juga, dahulukan bagian kanannya dan tempat-tempat wudu daripadanya. Ummu ‘Athiyah juga berkata: kemudian kami sisir dan menggulung rambutnya tiga sanggul (Muttafaqun ‘alaih – Fuad, [t.th.] : 286).
Dalam hadis ini hanya dijelaskan supaya di dalam memulai memandikan dimulai anggota badan yang biasa terbasuh dalam wudu dan bagian kanan: wajah, tangan, dan kaki bukan dimulai dengan wudu.  Demikian pula tidak ada azan. Kata-kata yang kemungkinan diasosiasikan secara salah tentang wudu adalah kata-kata: “fa az{innani>” arti ungkapan ini adalah ‘undanglah’ atau ‘beritakan kepadaku, bukan ‘azanilah’.
3. Mengafani Mayit
Perlengkapan kafan meliputi: (1) Selembar kain lingkaran badan dan yang lebih panjang dari seluruh tubuh, (2) Tujuh utas tali dari sobekan kain kafan, (3) Kain segi tiga tutup kepala/rambut, (4) Sehelai  tutup aurat, untuk wanita ditambah kain basahan, mukena untuk rambut, dan baju untuk penutup bagian dada, (5) Kapas untuk menutup semua lobang (mata, mulut, telinga, hidung, dan mulut).
Untuk jenazah laki-laki disunahkan kain tiga lapis, demikian hadis tersebut menunjukkannya:
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كفن فى ثلاث أثواب يمانية بيض سحولية من
كرسف ليس فيهن قميص ولا عمامة (متفق عليه عن عائشة).
Artinya: Rsulullah saw. Dikafani dengan tiga lapis (baju) kain putih Yaman yang dipintal dengan halusterbuat dari kapas (katun) tidak memakai gamis dan surbal (HR. Muttafaq alaih dar ‘Aisyah).
Dalam naskah-naskah  kitab kuning fikih menyebutkan disunnahkan, kalau ada,  ditambah baju kurung dan surban. Untuk jenazah wanita disunahkan lima lapis kain kafan ditambah sarung, baju, dan kerudung.
Untuk mengafani mayit, urutan persiapannya adalah sebagai berikut:  (1) Meletakkan tujuh utas tali  pada posisi: ujung kepala, leher, pinggang/pada lengan tangan, perut, lutut, pergelangan tangan, dan ujung kaki,(2) Menggelar kain memanjang dan melebar di atas tujuh utas tali ke seluruh tubuh, selanjutnya ditaburi serbuk kapur barus, (3) Meletakkan dan mengatur kain (segi tiga) penutup rambut/kepala, (4) Membentangkan kain penutup dada, dengan masih terhampar di ke atas, (5) Meletakkan kain sehelai tutup aurat (semacam celana dalam) memanjang dan melebar ke bawah dan merupakan kain lipatan, (6) Bagi jenazah wanita diatur mukena, baju, dan kain basahan sesuai dengan posisi tubuh masing-masing.
Adapun urutan pelaksanaannya adalah: (1) Meletakkan jenazah membujur di atas kain yang telah dibentangkan, dalam keadaan tertutup selubung, jangan sampai jenazah berkeadaan telanjang, (2) Menutup tujuh lubang (dua mata, dua telinga, hidung, mulut, dan pusar) dengan kapas yang ditaburi serbuk kapur barus, (3) Menutupkan kain segi tiga pada rambut di kepala dengan ikatan  pada jidat, (4) Mengatupkan tutup dada melalui lubang pada leher, (5) Mengatupkan lipatan tutup celana dalamnya. Bagi Jenazah wanita, meletakkan tiga pintalan rambut ke belakang kepala, menutupkan kain mukena pada rambut kepala, menutupkan belahan kain baju pada dada, melipatkan kain basahan melingkar badan perut dan auratnya, di atas penutup kain celana dalamnya, (6) Mengatupkan dengan melingkar tubuh badannya kain kafan yang rapat, tertib, dan menyeluruh, (7) seluruh utas tali ditalikan dengan cara menali yang mudah dilepas, bukan talipati.
4. Menyalati Mayyit
Syarat menyalati jenazah: (1) Bergama Islam, (2) Berakal sehat, (3) Baligh, (4) Menutup aurat, (5) suci dari najis maupun hadas baik besar maupun kecil, (6) Mayat sudah dimandikan maupun sudah dikafan, (7) Posisi jenazah di sebelah kiblat orang yang menyalatinya. Si Imam salat berada di s}af terdepan sendirian berada di samping jenazah bagian kepala kalau jenazahnya laki-laki, dan di bagian kaki bawah lutut kalau jenazahnya perempuan. Para makmum berada di belakang Imam  dan selalu membentuk s}af ganjil.
Jika salat jenazah bersifat ghaib, mayat tidak perlu ada di depan para mushalli ‘alaih. Salat Ghaib dilakukan biasanya terhadap para pemimpin agama yang wafat. Umat Islam dari tempat-tempat yang jauh dihimbau oleh para tokoh agama atau ustaz untuk ikut menyalatinya secara ghaib.
Peragaan salat jenazah meliputi:
(1) Niat dalam hati, bisa juga dilafalkan, “Ushalli ‘ala haz}a al-mayyiti arba’a takbira>tin mustaqbilal qiblati lilla>hi Ta’a>la. Hanya perlu disadari melafalkan niat jangan dinyatakan sebagai rukun. Kalau melafalkan niat diyakini sebagai rukun berarti menambah syariat di luar tuntunan Rasulullah.
(2) Takbiratul ihram atau takbir pertama, melafalkan Alla>hu Akbar (Allah Maha Besar).
(3) Membaca surat al-Fatihah,
(4) Takbir yang kedua, Alla>hu Akbar.
(5) Membaca shalawat Nabi, sebaiknya secara lengkap:
اللهم صل على محمد وعلى أل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى أل إبراهيم, وبارك على محمد وعلى أل محمد. كما باركت على إبراهيم وعلى أل إبراهيم. فى
العالمين إنك حميد مجيد)
)Alla>humma s}alli ‘ala> Muh}ammad wa ‘ala> a>li Muh}ammad. Kama> s}allaita ‘ala> Ibra>hi>ma wa ‘ala> a>li Ibra>hi>m. Wa ba>rik ‘ala> Muh{ammad wa ‘ala> a>li Muh}ammad ka ma> ba>rakta ‘ala> Ibra<>hi>ma wa ‘ala> a>li Ibra>hi>m, fi al-‘a>lam i>na innaka h}ami>dun maji>d – Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah melimpahkannya kepada Ibrahin dan keluarganya. Berkatilah Muhammad dan Keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkati Ibrahim dan keluarganya. Di Alam semesta ini, Engkau sesungguhnya senantiasa terpuji dan diagungkan).
(6) Takbir yang ketiga, Alla>hu Akbar
(7) Berdoa, antara lain:
اللهم اغفر له وارحمه وعافيه واعف عنه واكرم نزوله ووسع مدخله واغسله بالماء
والثلج والبرد ونقه من الخطاياه كما ينقص الثوب الابيض من الدنس. وابدله دارا خيرا من داره واهلا خيرا من اهله وزوجا خيرا من زوجه واعذه من عذاب القبر
وعذاب النار.
)Alla>hummaghfirlahu warh}amhu wa ‘a>fi>hi wa’fu ‘anhu wakrim nuzu>lahu wa wassi’ madkhalahu wa aghsilhu bi al-ma>I wa as|-s|alji wa al-bard wa naqqihi min al-khathaya>hu kama>yunaqqas|s|aubul abyad}u min ad-danas wa abdilhu da>ran khairan min da<rihi wahlan khairan min ahlihi, wa zaujan khairan min zaujihi wa a’iz|hu min ‘az|a>bi al-qabri wa ‘az|a>bi an-na>r – Ya Allah, ampunilah dia, kasihanilah dia, sehatkanlah dia, ampunilah dia, mulyakan di tempat penurunannya, luaskanlah tempat masuknya, mandikanlah ia dengan air, air embun, dan air sejuk, sucikanlah ia sebagaimana kain putih dibersihkan dari kotoran, gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), gantilah keluarganya yang lebih baik dari pada keluarganya ketika di dunia, gantilah istrinya yag lebih baik dari pada istrinya ketika di dunia, jagalah dia dari siksa kubur dan siksa neraka).
(8) Takbir ke empat, Alla>hu Akbar
(9) Berdoa, antara lain:
اللهم إكان محسنا فضعف عن حسناته, وإن كان مسيأ فتجاوز عن سيأته. اللهم لا تحرمنا اجره ولا تضلنا بعده.
)Alla>humma in ka>na muh}si<nan fad}a’’if ‘an h}asana>tihi wa inka>na musi>an fataja>waz ‘an sayyia>tihi. Alla>humma la> tah}}rimna ajrahu wa la> tud}illana> ba’dahu – Ya Allah jika ia termasuk orang yang berbuat baik, maka lipat gandakanlah kebaikannya. Jika ia termasuk orang yang berbuat jelek, maka lewatkanlah kejelekennya. Ya Allah, jangan Engkau haramkan pahalanya. Janganlah menyesatkan kepada kami sepeninggalnya).
Jika si mayyit masih memiliki orang tua yang hidup, doa yang dibaca sesudah takbir ke  empat antara lain demikian:
اللهم اجعله لنا فرطا واجعله لهما سلفا واجعله لهما زخرا وثقل  به موازينهما
وافرغ صبرا على قلوبهما ولا تفتنهما بعده ولا تحرمهما أجره
Artinya:
Wahai Tuhanku, jadikanlah dia pendahulu yang mendahului orang tuanya untuk menyiapkan kebaikan bagin orang tuanya, jadikanlah dia kebajikan yang didahulukan untuk ibu bapaknya, jadikanlah dia pertaruhan (persediaan) bagi keduanya, beratkanlah dia di timbangan dua orang tuanya, curahkanlah kesabaran atas jiwa kedua orang tuanya, janganlah Engkau memberi cobaan-cobaan kepada kedua orang tua sesudahnya, dan janganlah Engkau tidak memberikan pahalanya kepada orang tuanya.
Ulama-ulama Mutaqaddimin membaca doa sesudah takbir ke empat sebagai berikut:
اللهم ربنا اتنا فى الدنيا حسنة وفى الاخرة حسنة وقنا عذاب النار
Artinya:
Wai Tuhanku, berikanlah kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat, dan peliharalah kami dari azab neraka.
Imam Syafi’i menyukai doa berikut: (di luar maupun di dalam shalat jenazah, terutama dalam shalat jenazah). Umumnya tidak ada doa setelah menyalati jenazah)

اللهم هذا عبدك وابن عبدك خرج  من روح الدنيا وسعتها  ومحبوبه وأحبائه منها إلى ظلمة  القبر  وما هو  لاقيه. كان  يشهد  أن لا إله  إلا انت  وأن محمد  عبدك ورسولك  وانت  اعلم  به. اللهم  إنه  نزل  بك  وأنت خير منزول, واصبح  فقيرا  إلى رحمتك  وأنت غني عن  عذابه  وقد جئناك راغبين إليك شفعاء  له  اللهم إن كان  محسينا  فزد فى  إحسانه وإن كان مسيئا فتجاوز عن  سييئاته ولقه  برحمتك ورضاك  وقه فتنة القبر  وعذابه,  وافسح له  فى قبره  وجاف الارض  عن جنبيه  ولقه برحمتك الامن من عذابك حتى  تبعثه   إلى جنتك   يا ارحم الراحمين
Artinya:
Tuhanku, ini hambamu, dan anak hambamu. Dia keluar dari kesenangan dunia dan keluasannya, dari kekasihnya dan teman-teman setianya menuju kepada kegelapan kubur dan kepada apa yang akan ditemui. Dia mengaku bahwasanya tiada Tuhan kecuali Engkau dan bahwasanya Muhammad itu hamba-Mu dan Rasul-Mu. Tentang hal ini, Engkau pula yang lebih mengetahui. Tuhanku, ia datang kepada-Mu dan Engkau sebaik-baik yang didatangi. Dia telah sangat perlu kepada rahmatmu, sedang Engkau tidak perlu mengazabnya. Kami datang kepada-Mu karena gemar kepada-Mu, memohon syafaat untuknya. Tuhanku, jika seorang yang berbuat baik, maka maka tambahkanlah kebaikan untuknya. Jika adalah orang yang berbuat buruk, maafkanlah kesalahan-kesalahnnya. Berilah, dengan rahmat-Mu, ia menjumpai keridlaan-Mu. Peliharalah dia dari fitnah kubur dan azabnya. Luaskanlah untuknya dalam kuburannya.  Jauhkanlah tanah dari lambungnya. Berilah untuknya dengan rahmatmu, memperoleh keamanan dari azab-Mu  sehingga Engkau membangkitkannya ke dalam surga-Mu. Wahai Tuhanku yang amat pengasih dan penyayang.(TM.Hasbi sh-Shidieqy, Ped.Shalat:472).
Versi doa lain dari Rasul:
اللهم أنت  ربها  وأنت  خلقتها  وأنت  رزقتها  وأنت  هديتها   للاسلام  وأنت قبضت  روحها  تعلم  سرها  وعلا نيتها جئنا  شفعاء له  فأغفر له  ذنبه
Artinya: Wahai Tuhanku, Engkaulah Tuhannya, Eangkaulah yang menjadikannya, Eangkaulah yang telah memberi rezeki kepadanya, Engkaulah yang telah menunjukkannya kepada Islam, dan Eangkaulah yang telah menggenggam jiwanya. Engkau mengetahui rahasianya dan  yang dilahirkannya. Kami datang memohon syafaat untuknya, maka ampunilah dosa-dosanya (HR. Abu Dawud dari Abi Hurairah – Subulussalam, II : 144
10).Salam mengakhiri salat: Assala>mu ‘alaikum warah}matulla>hi wabaraka>tuh (Semoga keselamatan untk kamu semua,demikian juga berkah Allah-Nya), sambil menoleh ke kanan), kemudian melakukan hal yang sama sambil menoleh ke kiri.
Di dalam menyalati jenazah tidak ada tuntunan dari Rasulullah maupun perintah Allah dan Rasulullah untuk ditahlili sesudah atau sebelumnya. Karena itu sebaiknya tidak menambah syariat di luar yang dicontohkan oleh Rasulullah dalam hal ini. Akan lebih baik kalau disalati berulang-ulang sebelum diberangkatkan ke makam. Pengulangan salat berdasarkan kehadiran para pelayat yang bergelombang. Pengulangan menyalati jenazah mengacu kepada tindakan Rasulullah sewaktu menyalati Hamzah, paman beliau. Hamzah wafat dalam perang Uhud. Ada 70 syuhada’ ketika itu. Rasulullah menyalatinya satu persatu. Setiap menyalati seorang jenazah, Hamzah selalu disertakannya. (Iwan Gayo, 2008).
Dasar pelaksanaan salat atas jenazah adalah perintah Rasulullah antara lain ketika ada seorang salih dari Habsy meninggal, berita itu sampai kepada Rasulullah, kemudian beliau berperintah: Fahalumma ! fashallu> ‘alaihi (Marilah salat bersama-sama untuknya H.R. Muttafaq ‘alaih dari Jabir R.a.).
Secara umum merawat jenazah di rumah-rumah sakit hanya sampai menyalatinya. Setelah itu diserahkan kepada keluarganya setelah administrasi berkenaan dengan perawatan telah dilunasi oleh keluarganya. Namun, sangat mungkin tenaga klinis seperti perawat atau dokter bertugas di lingkungan militer, sehingga merawat jenazah yang gugur di medan pertempuran harus dirawat hingga pemakamannya. Seorang jenazah karena kecelakaan yang diserahkan ke rumah sakit, dan tidak diketahui keluarganya, sementara identitasnya: KTP [Kartu Tanda Penduduk], ia harus pula dirawat hingga pemakamannya.  Inilah sebabnya pembahasan dalam bab ini diteruskan hingga ke materi pemakaman jenazah. Ebih dari itu, tenaga medis ketika pulang dari kerja, mereka adalah warga masyarakat yang sama-sama memiliki kewajiban dalam merawat jenazah hingga pemakamannya.
5.   Mengubur Mayyit
Hal-hal yang perlu disiapkan dalam penguburan mayit adalah sebagai:
(1). Tempat penguburan jenazah muslim mestinya khusus kuburan muslim, tidak dicampur dengan kuburan non muslim. Kalau karena darurat adalah persoalan lain. Di kota-kota besar, secara umum kuburan itu bercampur-baur antara jenazah yang semasa hidupnya beragama Katolik, Kristen, atau Islam. Kenyataan ini hanyalah karena persoalan praktis, yaitu tanah pekuburan sangat terbatas sehingga kalau kubur keluarga seseorang tidak dipajaki lagi setiap tahunnya, tentu akan digusur dan diisikan jenazah lain yang dikubur belakangan, dengan membayar pada aparat. Umumnya, di kota-kota sangat padat penduduk sehingga mau mengubur jenazah saja harus mengeluarkan biaya banyak kalau ingin tidak digusur.
.(2). Struktur tanah kuburan harus kuat tidak mudah longsor. Mengubur jenazah harus berbentuk   liang lahat, artinya ada rongga di dalamnya. Jadi tubuh jenazah tidak langsung tertindih tanah.
.(3). Ukuran dalam  lubang pemakaman dikira-kirakan tidak bisa dibongkar binatang buas pemakan daging atau bangkai seperti harimau, anjing, dan serigala, dan tidak membocorkan bau busuk. Secara umum dan ideal adalah setinggi manusia dewasa berdiri, kira-kira 160 cm, atau dalam tradisi Jawa sak dedeg sak pengawe (setinggi orang berdiri sambil mengacungkan tangannya lurus-lurus ke atas).
.(4) Keranda jenazah harus dapat menutup rapat jenazah dan dari bahan yang sesederhana mungkin sehingga tidak termasuk mubazir. Setelah liang lahat siap untuk menguburkan, jenazah segera diberangkatkan ke tanah untuk dikubur. Rasulullah memang menganjurkan agar menyegerakan mengubur Jenazah. Demikian sabda beliau:
أسرعوا بالجنازة, فإن تك صالحة فخير تقدمونها, وإن يك سوى ذالك,
فشر تضعونه عن رقابكم {متفق عليه عن ابى هريرة}
Artinya:
Segerakanlah penguburan jenazah. Jika ia baik, maka baiklah yang kamu ajukan. Jika selain itu, maka kejahatan yang kamu turunkan dari bahumu (Muttafaqun ‘alaih dari Abi Hurairah).
Di dalam mengubur jenazah sangat dianjurkan untuk berdoa sebagai ditunjukkan hadis berikut:
كان إذا وضع الميت فى قبره قال: بسم لله وعلى ملة رسول لله, رواه الخمسة.
Artinya: adalah Rasulullah, apabila mayat dimasukkan ke kuburnya, beliau berdoa: bismillah wa ‘ala millati Rasulillah (dengan menyebut asma Allah  dan atas nama agama utusan Allah) –HR. al-khamsah dari Ibnu Umar Ra).
Kiranya perlu disadari bahwa tidak ada riwayat autentik dari Nabi  mengazani dan mengikomati mayit di dalam kubur. Melakukan kedua hal ini bisa dikatakan bid’ah jika itu suatu keharusan atau keutaman. Sepanjang riwayat yang ada, adzan hanya untuk memanggil salat fard}u atau shalat tahajjud, utamanya,  1/3 malam terakhir. Tidak ada riwayat pula riwayat dari Rasulullah melakukan azan untuk mengendalikan angin lesus (putting beliung).
Tidak ada riwayat autentik dari Rasul menalkin mayat dalam keadaan sudah terkubur. Justru malah ada riwayat shahih Nabi menyalati jenazah setelah di kubur dan salatnya di area pekuburan pula karena jenazah tersebut lupa belum disalati di rumah duka. Hadis berikut menunjukkan akan hal ini:
إنتهى رسول الله  صلى  الله  علي  وسلم  إلى   قبر  رطب   فصلى  عليه  وصفوا
خلفه وكبر اربعا
Artinya: (Pada suatu hari) Rasulullah sampai ke kubur yang masih basah, maka beliau shalat baginya dan bershaf-shaflah para sahabat baginya dan bershaf-shaflah para sahabat di belakang beliau (HR. Bukhari dan Muslim).  Wallaahu a’lamu bishawaab.
Catatan
Sebenarnya tidak ada tuntunan:
(1).  Dalam mengiring jenazah membaca tahlil secara koor sepanjang perjalanan ke kuburan,
(2). Berhadiah fatihah atau yang lain kepada jenazah, kecuali doa maghfirah dan keselamatan untuk jenazah. Hal ini didasarkan anjuran Rasulullah sebagai berikut:  Ketika Raja Najasyasi tersebut meninggal dunia, Rasulullah bersabda:
إستغفروا  لأخيكم  {رواه  البخارى  ومسلم  عى  ابى  هريرة}
Artinya Mohonkan ampunan untuk saudaramu (HR. al-Bukhari dan Muslim/Muttafaqun ‘alaih dari Abi Hurairah).
Kalau berdoa untuk ampunan jenazah kepada Allah hendaklah setulus-tulusnya. Demikian anjuran Rasulullah:
إذا صليتم على الميت فأخلصوا الدعاء {رواه ابن ماجه عن ابى هريرة}
Artinya: Jika kamu manyalati orang meninggal, maka hendaklah kamu tuluskan dalam berdoa (HR. Ibnu MaJah Dari Abi Hurairah). Nabi menambahkan nasihat untuk kebahagiaan orang yang telah meninggal di lamnya sana sebagai berikut:
من صل عليه مائة من  المسلمين  غفر له { رواه  ابن ماجه  عن ابى هريرة
إسناده  صحيح  رجاله  رجال  الصحيحين}
Artinya:Barang siapa menyalati mayit terdiri atas 100 orang Islam, diampunilah dia. Sanadnya shahih, para rawinya sederajad rawi Bukhari dan Muslim.
Atas dasar hadis ini, kalau kita benar-benar ingin memulyakan orang yang telah meninggal dan itu beragama Islam, usahakan agar setiap ada peristiwa kematian disalatkan minimal 100 orang. Jaminan ampunan atas dosa-dosanya adalah tidak perlu diragukan. Untuk itu, manusia janganlah mengarang-ngarang peribadatan. Ini pasti sesat dan menyesatkan orang-orang bodoh. Bertaubatlah kamu-kamu yang selama ini mengirim-ngirim pahala untuk orang mati.
(3) Upacara terobosan di bawah jenazah sementara jenazah dipanggul mengawali pemberangkatan. Upacara ini hanya bersifat lokal. Karena itu harus ditinggalkan. Si Mayit tidak butuh dihormati seperti itu. Ia justru, mungkin saja sangat takut kalau se masa hidupnya di dunia tidak termasuk orang salih.
(4). Barisan paling depan membawa lampu sementara penguburan dilakukan pada siang hari, Ruh orang yag meninggal akan memperoleh sinar terang sebagaimana keterangan dari Rasulullah – dalam kasus kematian Abu Salamah – karena amal salihnya. Tetapi jika semasa hidupnya di dunia termasuk orang jahad tak kan memperoleh sinar terang meskipun diberi seribu  lampu siang malam. Cara berpikir member lampu bagi jenazah yang diirung untuk dikuburkan ini amat kacau dan irrasional, khurafat karena tidak ada dasarnya dalam syariat.
(5) Menabur uang atau kembang di sepanjang perjalanan menuju kuburan. Tindakan ini juga sama saja konyolnya. Akan lebih bijaksana kalau uang itu disedekahkan saja secara sopan kepada orang yang dikehendaki.
(6). Pemimpin upacara pemberangkatan jenazah sebaiknya meminta kepada para pelayat agar mau memberi maaf atas kesalahan jenazah semasa masih hidup,
(7). Mengihlaskan hutang jenazah jika dirasa tidak memberatkan. Segera berhubungan kepada ahli waris untuk membayar hutang jika penghutang menuntut pembayaran. Dalam hal ini Rasulullah bersabda:
نفس المؤمن معلقة بدينه حتى يقضى عنه. رواه أحمد والترمذى وحسنه.
Artinya: Ruh orang mati itu digantungkan hutangnya hingga hutang itu terbayar. HR. Ahmad dan at-Turmuzi, dan ia (at-turmuzi) menghasankan hadis ini.
Hadis ini dapat dijelaskan demikian. Jika si mayyit ini memiliki jatah ke surga, jatah itu tidak akan diterima jika hutangnya belum dilunasi oleh ahli warinya. Selanjunya, hadis ini mengandung implikasi, hutang yang semula halal saja menjadi penghalang masuk surgea hingga hutang itu terbayar, apalagi kalau si mayyit itu memakan barang haram ? a’u>z}u billa>hi min z}a>lik.
(8). Memberikan persaksian amal-amal jenazah yang baik ketika masih hidup. Hal ini didasarkan hadis Rasulullah terhadap jenazah Abu Salamah sebagaimana dikutip di awal-awal bab ini.
Setelah rombongan jenazah sampai di kuburan, urutannya sebagai berikut:
(1) Keranda diletakkan di sebelah liang kubur
(2) Tutup keranda di buka,
(3) Dua atau tiga orang pengiring jenazah masuk dulu ke liang lahat untuk menerima jenazah,
(4) Jenazah diangkat dan dimasukkan dari arah kaki, didahulukan dari pada bagian kepala
(5) Yang telah di dalam menerima jenazah dengan hati-hati,
(6) Jenazah dimiringkan dengan lambung kanan sehingga wajah dapat menghadap kiblat,
(7) Tali-temali dilepas, tetapi masih tetap melingkar pada posisinya,
(8) Menutup cekungan liang lahat dengan kayu yang kuat,
(9) Menimbuni tanah secara rapat dan padat.
Dalam mengebumikan mayat perlu diperhatikan ha-hal sebagai berikut:
(1)    Tidak ada tuntunan talkin untuk orang yang sudah mati. Seluruh hubungan antara orang yang sudah mati dengan orang yang masih hidup di dunia terputus kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dalam arti masih dimanfaatkan oleh yang hidup, dan anak salih yang mendoakan kepada orang tuanya (yang sudah meninggal). Dalam hal ini Rasulullah bersabda:
إذا مات إبن ادم إنقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة  جارية او علم  ينتفع به وولد صالح يدعو له.
Artinya: Apabila anak Adam (manusia) meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali dalam tiga hal: sedekah jariah, ilmu yang dapat dimanfaatkan, dan anak salih yang mendoakan kepada orang tuanya.  Namun demikian, masalah talqin menjadi perselisihan di antara umat Islam. Sebagian menolak atas dasar hadis di atas, sebagian tetap menyelenggarakan talqin dengan dasar hadis berikut:
عن ضمرة بن حبيب رضي الله عنه – احد التابعين – قال: كانوا يستحبون إذا سوي على الميت قبره, وانصرف الناس عنه, ان يقال عند قبره: يا فلان ! قل لا إله إلا الله ثلاث مرات.  يا فلان ! قل ربي الله, ودينى الإسلام, ونبي محمد. رواه سعيد بن منصور موقوفا.
Artinya:
Dari damrah bin Habib r.a. bahwa salah seorang Tabi’in berkata: Apabila telah diratakan kubur atas mayyit dan orang-orang telah pergi, hendaknya dibacakan di sisi kuburnya: la> ila>ha illalla>h tiga kali. Hai Fulan (sebut namanya) ! katakanlah: Tuhanku adalah Allah, agamaku Islam, dan Nabiku Muhammad. (HR. riwayat Sa’id bin Manshur dalam keadaan mauquf). Sementara itu, Thabrani meriwayatkan hadis serupa dari Abu Umamah dengan kualitas hadis marfu’(Ibnu Hajar, 2007 : 277-278).
Dari dua buah hadis ini dapat dipahami, sekurang-kurangnya h}asan li ghairih kualitas hadis riwayat Damarah tersebut yang secara praktis dapat digunakan sebagai dasar beragama. Tetapi, jika konfrontasikan dengan hadis tentang terputusnya hubungan antara orang yang sudah mati dengan orang yang masih hidup berkualitas jauh lebih sahih, maka yang harus dijadikan pedoman beragama haruslah yang lebih sahih. Demikian aturan dalam ilmu-ilmu hadis jikan enemukan pertentangan (ta’arud}) di antara dua hadis.
Solusi yang paling netral tidak memihak kelompok manapun adalah yang meyakini harus ditalqin setelah terkubur dengan tanah dipersilahkan. Sementara itu, yang menolak talqin di atas kubur silahkan. Masing-masing pihak hendaknya saling menghormati. Perselisihan ini tidak dapat diselesaikan secara sepihak. Kasus talqin termasuk persoalan khilafiah laten.
(2)     Oleh karena itu kalau diadakan upacara di kuburan setelah selesai menimbuni tanah cukup didoakan yang isinya supaya si mayit jauh dari fitnah kubur, jauh dari siksanya dan siksa neraka, diberi ampunan atas kesalahannya, supaya lapang, terang, dan nyaman di alam kubur baik doa itu dilakukan secara individual atau jamaah. Tidak perlu pula membaca Alquran, surat Yasin atau yang lain yang pahalanya dikirimkan kepada yang baru saja dikebumikan atau orang-orang lain yang telah meninggal.
(3)    Tidak dianjurkan para wanita ikut menghantar jenazah ke kuburan karena dikhawatirkan kehilangan kontrol sehingga berbuat yang tidak-tidak seperti menangis atau sambat-sambat. Laki-laki pun juga tidak boleh kalau seperti permpuan itu.
Berkenaan dengan orang yang telah meninggal terdapat banyak upacara keagamaan yang sebenarnya tidak ada tuntunan dari Rasulullah, umpama: memperingati kematian dengan mengundang orang banyak ke rumah ahli watis si mayit pada hari pertama kematian hingga hari ke tiga tau ke tuju setiap malamnya, pada hari ke 40, pada hari ke 100, ulang tahun kematian pertama (mendhak pisan), ulang tahun kematian ke 2 (mendhak pindho), pada hari ke 1000, dan selanjutnya tiap tahunnya (h}aul) jika dikehendaki untuk mengadakan tahlilan dan yasinan dengan niat pahala bacaan dikirimkan kepada si mayit sebagai bakti anak kepada orang tua (birr al-walidain). Cara ini sama sekali tidak pernah dipraktikkan oleh Rasulullah, para sahabat, tabiin, maupun tabi’ut tabiin. Dengan demikian, maksud hati ingin berbuat baik, tetapi sebenarnya malah tersesat. Praktik ini diadakan jauh setelah kewafatan Rasulullah. Cara ini oleh sementara 11 pendiri mazhab menolaknya mentah-mentah. Ke 11 mazhab itu adalah: Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, Imam Hambali, Sufyan Tsauriyyah, Sufyan ‘Uyainiyyah, Laits bin Rahawaihiyyah, Ibnu Jaririyyah, adh-Dhahiriyyah, dan Auza’iyyah (al-“Alawi,[t.th.]:1969]. Mereka mengkategorikan  aneka macam upacara kematian yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah adalah bid’ah yang perlu dijauhi. Yang dicontohkan bagi yang telah meninggal hanya doa untuk mereka. Doa untuk mereka dapat dilakukan kapan saja, sebanyak-banyaknya, tidak perlu dikuburan kalau di sana malah terjadi kesalahan.
5.    Ziarah Kubur
Ditambahkan di sini mengenai syariat ziarah ke kubur. Amal perbuatan ini  memang boleh asal:
a.  Mendoakan yang diziarahi,
b. Ingat bahwa dirinya akan mati sehingga diharapkan ia banyak bertaubat dan beramal salih sebagai bekal menuju kematian,
c. Tidak boleh meminta atau doa sesuatu kepada yang diziarahi, kepada Rasulullah sekalipun,
d. Tidak mengirim pahala bacaan kalimah-kalimah thayyibah maupun Alquran). Keempat hal ini tercermin dari tuntunan doa Rasulullah bagi para peziarah kubur sebagai berikut:
السلام عليكم اهل الديار من المسلمين والموًمنين و انا إنشا الله بكم لاحقون.
اللهم لنا ولكم العافية
Artinya: Semoga keselamatan untuk kamu hai penduduk para muslim dan mukmin, aku insyaAllah menyusulmu. Ya Allah semoga bagi kami dan kamu semua memperoleh kesehatan. (Basharuddin, 2007 : 164).
e. Kalau ingin ngalap berkah (memperoleh barakah) dalam berziarah kubur terbatas meneladani kesalihan, seperti: ibadahnya, perjuangannya terhadap Islam, keramah-tamahannya terhadapsesama muslim, kealimannya, ke-zuhud-annya, dan yang kebaikan-kebaikan lainnya yang diziarahi ketika ia masih hidup di dunia.
f. Di Kuburan tidak boleh duduk, utamanya di atas pemakaman. Larangan Nabi demikian artinaya: Janganlah kalian salat menghadap kuburan dan duduk di atasnya (H.R.Muslim). Jadi di kuburan cukup berdiri, dengan demikian tidak perlu berlama-lama di sana.
A.    Ringkasan
Kematian adalah berhentinya kehidupan, keluarnya nyawa dari tubuh sehingga semua aktifitas organ tubuh berhenti. Kematian bermacam-macam jenisnya, ada kematian sosial, kematian psikologis, dan kematian biologis.
Pusat perhatian dalam topik ini adalah kematian biologis. Sebelum mati secara definitif didahului proses yang disebut sakaratul maut. Dalam keadaan ini harus dirawat supaya mati seseorang termasuk dalam kategori h}usnul khatimah, yaitu dengan cara dituntun membaca kalimah tauhid La ila>ha illalla>h. Selanjutnya, ketika sudah nayata-nyata meninggal ada empat macam perawatan pokok secara syar’i, yaitu: memandikan, mengafani, menyalati, dan mengebumikannya. Selain ke empat ini tidak ada syariat apa pun kecuali anjuran sebanyak-banyaknya mendoakan orang yang sudah mati agar memperoleh maghfirah dari Allah. Allah berkenan menempatkan di tempat yang luas, terang, dan nikmat, serta selamat dari azab maupun fitnah kubur hingga fitnah akhirat. Upacara-upacara lokal keberagamaan selain yang dituntunkan oleh Rasulullah berkenaan dengan kematian akan menjadi bid’ah dan perlu ditinggalkan.
Daftar Pustaka
Al-Qur’a>n al-Kari>m.
‘Abd al-Baqi, Ahmad Fuad,  2007, al-Lu’lu.u wa al-Marja>n, (ter.) Salim Bahraesy. Surabaya: Bina Ilmu.
Abdat, Abdul Hakim bin Amir,  2006, Hukum Tahlilan (Selamatan Kematian & Hukum Membaca Alqur’an untuk Mayit Bersama Imam asy-Syafi’i. Jakarta: Pustaka Abdullah.
Ali, H.Mahrus,  2007, Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat & Dzikir Syirik (Nariyah, al-Fatih, Munjiyat, Thibbul Qulub), Surabaya: Laa Tasyukl.
Al-Asqalani, Ibnu Hajar, 2000, Bulughul Maram, (tans.) Achmad Sunarto, Jakarta: Pustaka Amani.
Ebrahim, Abul Fadl Mohasin, 2007, Organ Transplatasion, Euthanasia, Cloning and Animal Experimentation: an Islamic View (Trans.) Mujiburrahman: Fikih Kesehatan, Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.
Jawas, Yazid bin Abdul Qadir, 2006, Yasinan. Jakarta: Pustaka Abdullah.
Lyons, Catherune, 1970, Organ Trnasplant: The Moral Issues, London: SMC Press Ltd.
Okho Com
Syuhaimin, Basharuddin bin Shalih,  2007, Membongkar Kesesatan: Tahlilan, Yasinan, Ruwahan, Tawassul, Istighasah, Ziarah, Maulid Nabi, Bandung: Mujahid.
www.Wikipedia Com.
Yuniardi, Harry,2007,  Santri NU Menggugat Tahlilan. Bandung: Mujahid.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>