Merancang Keturunan yang Baik, Sehat, dan Halal

Oleh: M. Danusiri

Sasaran Belajar
Setelah membaca bab ini mahasiswa diharapkan:
1.    Dapat menjelaskan dan menjelaskan bahwa kehidupan seks adalah sunatullah.
2.    Dapat menjelaskan dan menjelaskan tentang kehidupan seksual yang benar dan sehat.
3.    Dapat menjelaskan dan menjelaskan tentang kehidupan seks yang salah dan tidak sehat dengan berbagai dampaknya.
4.    Bersikap positif terhadap hal-hal yang berkenaan dengan kehidupan seks yang benar dan sehat.
5.    Bersikap negatif terhadap hal-hal yang berkenaan dengan kehidupan seks yang salah dan tidak sehat.
6.    Pada saatnya berapresiasi terhadap kehidupan seksual yang benar dan sehat.

A.  Kehidupan Seksual sebagai Sunnatullah.
Dapat dijelaskan bahwa sunnatullah mengandung arti: 1) Hukum-hukum Allah yang disampaikan untuk umat manusia melalui para Rasul. 2) Undang-undang keagamaan yang ditetapkan oleh Allah yang termaktub di Al Qur’an. 3) Hukum kejadian dsb) alam berjalan secara tetap dan otomatis (Kamus Besar,1990:869) atas dasar kehendak Allah.
Dari penjelasan tentang sunatullah di atas dapat dicontohkan berkenaan dengan definisi pertama. 1) Istri yang menolak melayani suami padahal tidak  uzur maka ia (istri) akan dilaknat oleh malaikat, adalah sebuah sunnatullah karena hal tersebut merupakan sabda rasulullah saw. secara prinsip sabda rasulullah adalah juga wahyu. Allah berfirman
وما ينتق عن الهوى ان هو الا وحي يوحى (القران سرة النجم : 3- 4)
Artinya: dan tiadalah yang diucapkannya itu (Alquran) menurut kemauan hawa nafsu. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan  (kepadanya – Q.S. an-Najm/53: 3-4).

Demikian sabda Rasulullah yang dimaksud:
اذا دعا الرجل امراةته الى فراشه فلم تاء ته فبا ت غضبا ن عليها لعنتها الملئكة حتى تصبح (متفق عليه)
….Apabila suami mengundang istrinya ketempat tidur sedang ia tidak memenuhinya maka laknat Malaikat atas perempuan itu sejak ia menolak ajakan itu hingga subuh – H.Mutafaq ‘alaih (an-Nawawi, [t.th.]: 152).

Sebaliknya nafaqah  seorang suami untuk istri dan anaknya, keutamaanya jauh lebih besar dibanding diinfakkan  Kepada yang lain. Demikian sabda Rasullulah saw
د ينار انفقته فى سبيل الله ود ينا ر انفقته فى رقبة  ودينا ر تصد قت به على مسكين ود ينا ر انفقته على اهلك ااعظمها اجرا الذى انفقته علة اهلك (رواه مسلم عن ابى هريره)
Artinya:
Satu dinar engkau nafkahkan ke jalan Allah, satu dinar engkau nafkahkan kepada budak, satu dinar engkau sedekahkan kepada orang miskin, satu dinar engkau nafkahkan kepada keluargamu (istri dan anak), yang paling besar pahalanya adalah dinar yang engkau nafkahkan kepada keluargamu – H.R. Muslim dari Abi Hurairah (an-Nawawi, [t.th.]: 154).

Petunjuk tentang betapa besarnya pahala nafkah pada keluarga dari Rasullulah ini secara prinsip adalah sunnatullah. Termasuk Sunnatullah (undang-undang keagamaan) adalah wanita muslimah kelak akan masuk surga melalui pintu manapun yang ia suka jika saat di dunia ia memiliki karakter 1) Salat fardu yang lima. 2) Puasa Ramadhan. 3) Kesediaan menjaga kemaluan kecuali kepada suami_ tidak selingkuh sama sekali, dan. 4) Taat pada suami dalam hal-hal selain kedurhakaan. Demikian sabeda Nabi:
اذا صليت المراة خمسها وصا مت شهرها وحصنت فرجها واطا عت بعلها د خلت من اي  ا بواب الجنة شا ئت  (رواه احمد عن ابى هريرة )
Artinya:
Apabila wanita mendirikan salatnya yang lima, berpuasa bulan Ramadan, memelihara kemaluannya, dan menaati suaminya, maka dia masuk surga dari pintu-pintu surga mana pun yang dia kehendaki – H.R. Ahmad dari Abi Hurairah (Ibrahim, l994: l84).

Puasa itu wajib adalah berdasar undang-undang keagamaan atau sunnatullah karena perintah itu termaktub di dalam Alquran. Demikian firman Allah
يا ايها الذ ين امنوا كتب عليكم الصيا م كما كتب على الذ ين من قبلكم لعلكم تتقون (سراة البقره  183)
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Q.S.al-Baqarah/2:183).

Apabila hendak melakukan salat supaya berwudu (Q.S. al-Maidah/5: 5) adalah undang-undang keagamaan  (sunnatullah) karena termaktub dalam Alquran. Natur api membakar, air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah, dan  gesekan dua benda keras menumbulkan panas adalah hukum alam atau sunnatullah yang bersifat pasti dan otomatis
Dari contoh-contoh di atas ada kesamaan antara sunnatullah dengan hukum alam atau kedua-duanya identik, tetapi keduanya juga ada perbedaannya. Sunnatullah lebih luas dibanding hukum alam. Hukum alam hanya mengenai kejadian-kejadian alam yang tetap dan otomatis seperti api berkarakter membakar, sedang sunnatullah mencakup mengenai kejadian alam (gejala alam) yang bersifat tetap dan otomatis juga mengandung undang-undang Allah melalui perantara para Rasul, dan undang-undang keagamaan yang termaktub dalam Alquran. Kedua hal yang terakhir tidak tercakup dalam hukum alam. Bahkan sebagian ilmuwan (ilmuwan ateisme) yang berhasil menemukan teori dan akhirnya meningkat menjadi hukum alam bisa ingkar atau tidak mengakui undang-undang keagamaan sebagaimana termaktub dalam kitab suci.
Undang-undang keagamaan, dalam hal ini Alquran, maupun Hadis Nabi saw menjelaskan bahwa nafsu birahi terhadap lawan jenis yang berpuncak pada hubungan seksual adalah sunnatullah. Alquran mengatakan:
زين للنا س حب الشهوا ت من النساء والبنين والقنا طر المقنطرة من الذ هب والفضة والخيل النسو مة والانعام والحرث ذالك متاع الحياة الد نيا والله عنده حسن الما ب
Artinya
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga), Q.S. Ali Imran/3: 14).

Alquran juga menjelaskan bahwa semua yang tumbuh di muka bumi, termasuk manusia dicipta Allah berpasang-pasang, Alah berfirman:
سبحا ن الذى خلق الاز واج كلها مما تنبت الارض ومن انفسهم ومما لا يعلمون
Artinya
Maha suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui (Q.S. Yasin/36:36).

Dalam dunia manusia, pasangan manusia laki-laki adalah manusia perempuan. Dengan demikian, hidup berpasang-pasang atau berjodoh-jodoh adalah sunnatullah, undang-undang Allah, atau pula undang-undang agama Islam.
Rasulullah mengatakan bahwa nikah itu adalah sunnah dari para Rasul. Demikian sabda beliau:
اربع من سنن المر سلين الحياء والتعطر والسواك والنكاح (رواه الترمذى عن سمرة)
Artinya;
Empat perkara termasuk sunnah para Utusan (Rasul), yaitu:malu, wewangian, siwak (gosok gigi), dan nikah (H.R. alt-Turmuzi dari Samurah)

Karena nikah itu sunnah Rasul, maka beliau melarang sahabatnya yang hidup membujang. Larangan itu pada akhirnya berlaku menyeluruh bagi umat Islam. Demikian sabda Nabi saw:
اا ن النبى صلى الله عليه وسلم نهى  عن التبتل (رواه التر مذى عن سمرة)
Artinya:
. . .bahwa Nabi salla-llahu ‘laihi wa sallam melarang hidup membujang (H.R. at-Turmuzi dari Samurah).

Bagi siapa saja dari kaum muslimin yang tetap membujang, pada hal ia mampu menikah, tetapi tidak mau melakukannya, ia tidak diakui sebagi umat Muhammad. Demikian sabda Nabi saw:
فمن رغب عن سنتى فليس منى
Artinya:
. . .Barang siapa tidak menyukai sunnahku, maka ia bukan golonganku . . .

Karena nikah yang salah satu bentuk praktisnya adalah hubungan seksual adalah sunnatullah – dalam arti dianjurkan oleh-Nya – maka siapa pun dengan dalih dan upaya apapun pasti tidak bisa melawan sunnatullah tersebut. Dalam hal ini Allah berfirman:
لهم البشرى فى الحياة الد نيا وفى الاخرة لا تبد يل لكلما ت الله ذا لك هو الفوز العظيم
Artinya:
Bagi mereka berita gembira bag kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat  (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar (Q.S. Yunus/10:64).

Hanyalah omong kosong dan kebohongan besar kalau ada manusia – yang jelas non muslim – untuk menjadi orang terbaik dalam suatu agama justru hidup membujang sebagai orang suci dan mengkhotbahkan kesucian. Di balik lagalitas bujang, ternyata justru bergelimang dengan kehidupan seksual sekuat-kuatnya, dengan cara apapun yang ia mau, dengan siapa pun ia suka, dengan cara apapun ia menghendaki sehingga inses dan sodomi mereka lakukan tanpa merasa berdosa maupun mengkhianati umatnya (Nigel, 2007:1-274) yang jika diukur dari norma agama Islam adalah kehidupan seksual yang paling kotor dan menjijikkan sepanjang sejarah manuisa.
Supaya umat Islam tidak menjalani kehidupan seksual seperti binatang atau orang-orang yang disucikan tetapi paling bobrok dalam kehidupan ini, Rasulullah menganjurkan kepada umatnya segera menikah setelah memiliki kemampuan (nafaqah lahir-batin). Demikian sabda beliau:
يا معشر الشبا ب من استطاع منكم الباء ت فليتز وج فا نه اعض للبصر واخصن للفرج ومن لم يستطع فعليه با الصيا م فانه له وجاء (رواه الجما ععة)
Artinya:
Hai para pemuda, barang siapa yang mampu di antara kamu serta berkeinginan hendak kawin, hendaklah dia kawin. Karena sesungguhnya perkawinan itu akan memejamkan matanya terhadap orang yang tidak halal dilihatnya, dan akan memeliharakannya dari godaan syahwat. Dan barang siapa yang tidak mampu kawin hendaklah ia puasa, karena dengan puasa hawa nafsunya terhadap perempuan akan berkurang  (H.R. al-Jama’ah).

Ungkapan “ aghaddu lil bashar wa ahshanu lil farj  terkandung secara implisit baik laki-laki maupun wanita memiliki bayangan-banyangan  dan khayalan-khayalan tentang berbagai hal berkaitan dengan seks. Konon, remaja kalau sudah jerawatan di wajahnya pertanda ia telah memiliki bayangan dan khayalan tentang seks. Untuk itulah Rasulullah sebagai pemimpin umat mengetahui keadaan ini hingga beliau menghimbau umatnya supaya segera menikah agar khayalan-khayalan tentang seks berkurang karena berganti dengan realisasi-realisasi seksualitas. Beliau sendiri mencontohinya dan melaknat bagi yang membujang yang  mampu untuk menikah.
Hanya saja realisasi hubungan seksual tidak laksana binatang yang hanya berhukum kemauan dan kemampuan mengalahkan pesaingnya dengan kekerasan. Secara naluri pada umunya binatang hanya mengenal lain jenis sebagai pasangan, tidak mengnal muhrim maupun tidak mengenal tempat dan situasi. Tak ada rasa malu ketika hasrat seksual menguasai diri sehingga terlampiaskan di mana saja – yang menurut ukuran manusia tidak mungkin dilaksanakan umpama di tempat terbuka umum, dan keramaian. Perkawinan dalam Islam diatur sangat rumit, sejak meminang, akad nikah, dan kehidupan berkeluarga hingga meninggal salah satu atau keduanya. Alquran menyatakan bahwa perkawinan merupakan perjanjian yang berat. Allah berfirman:
وكيف تاء خذ و نه وقد افضى بعضكم الى بعض وا خذ ن منكم ميثا قا غليظا

Artinya
Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami istri. Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat (Q.S. an-Nisa’/4:21).

Beratnya perjanjian dalam perkawinan sebanding beratnya janji para Rasul untuk menegakkan kalimat  tauhid yang beresiko kematian oleh para penentangnya atau oleh kaumnya sendiri. Isa bin Maryam hendak di bunuh oleh umatnya sendiri, kaum Yahudi, untung saja diselamatkan oleh Allah di-rafa’. Allah berfirman:
بل رفعه الله اليه وكا ن الله عزيزا حكيما
Artinya:
Tetapi (yang sebenarnya) Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Q.S. an-Nisa;/4:l58).

Dengan kerumitan dan beratnya nikah terlihat essensinya bahwa hasrat seksual tidak boleh dibunuh (dipadamkan), karena itu sunnatullah, tetapi juga jangan dibiarkan liar, melainkan dikendalikan dengan berbagai norma, bahkan ditinggikan derajatnya. Perkawinan adalah ibadah dan suci (sakral) sehingga tidak boleh main-main dengan nikah, tidak bereksperimen atau coba-coba.
Dalam kegiatan meminang, kalau seseorang meminang gadis, jadi dilanjutkan ke jenjang berikutnya atau tidak, atau proses peminangan belum nyata-nyata diurungkan, orang lain tidak boleh meminangnya. Demikian sabda Nabi saw:
المؤمن اخو المؤمن فلا يحل للمؤمن يحطب على  حطبت  ا خيه حتى يذر (رواه احمد و مسلم)
Artinya;
Orang mukmin adalah sadara orang mukmin, maka tidak halal bagi seorang mukmin meminang seorang perempuan yang sedang dipinang oleh saudaranya, sehingga nyata sudah ditinggalkan (H.R. Ahmad dan Muslim).

Atas dasar hadis di atas,  Islam hanya membenarkan seorang laki-laki melamar perempuan yang benar-benar kosong (dalam bahasa kontemporer jomblo). Perempuan yang hendak dijadikan jodoh haruslah seiman-tauhid. Nabi bersabda:
اان المراة تنكح على دينها ومالها وجمالها فعليك بذا ت الد ين (رواه مسلم والتر مذى عن جا بر
Artinya:
Sungguh perempuan itu dinikahi oleh karena agamanya, hartanya, dan kecantikannya, maka pilih yang beragama. (HR. Muslim dan at-Turmuzi dari Jabir ).

Perempuan seiman itu masih diseleksi lagi sehingga muncul sederet wanita yang tidak boleh dinikahi, yaitu: (l) ibu dan ibu si ibu (nenek) dari bapak dan seterusnya ke atas, (2) anak dan cucu seterusnya ke bawah, (3) saudara perempuan se bapak se ibu, (4) saudara perempuan se bapak, (5) saudara prempuan se ibu, (6) anak perempuan dari saudara laki-laki dan seterusnya ke bawah, (7) anak perempuan dari saudara perempuan se ibu ke bawah, (8) ibu yang menyusuinya (secara genealogis bisa orang lain tanpa ada ikatan darah), (9) saudara sepersusuan (bukan saudara kandung) se ayah se ibu, sebapak saja, atau se ibu saja, (I0) mertua, (11) anak tiri manakala ibunya telah di-dukhul atau disenggamai, (12)istri dari anak (menantu), (13) istri dari bapak (ibu tiri), (14) saudara ipar (kakak atau adik dari  istri sebapak-seibu, se bapak saja, atau se ibu saja jika di kawin bersama-sama (Soeleman Rasjid, l981:369).
Perempuan yang dapat dinikahi tidak otomatis langsung dapat dinikahi, melainkan harus jelas walinya. Islam memberikan penjelasan siapa saja yang berhak menjadi wali bagi perempuan yang hendak menikah, yaitu: (1) bapaknya, (2) kakek, (3) saudara laki-laki sebapak seibu, (4) saudara laki-laki se bapak,(5) anak laki-laki dari saudara laki-laki se bapak se ibu, (6) anak laki-laki dari saudara laki-laki se bapak, (7) saudara bapak yang laki-laki, (8) anak laki-laki dari paman/pakde pihak bapak, (9) hakim (Soeleman Rasjid, l981:364).
Siapa yang menjadi wali sebagaimana urutan prioritas di atas ada persyaratan internal dalam diri mereka, yaitu wali harus: (1) beragama Islam, (2) baligh, (3) berakal sehat, (4) merdeka/bukan budak, dan  (5) adil (Soeleman Rasjid, l981:364). Syarat perwalian baru gugur jika perempuan yang hendak menikah itu telah menjadi janda.
Setelah persyaratan-persyaratan di atas dipenuhi, bagi laki-laki yang hendak menikahi wanita pilihannya diwajibkan memberi mahar atau mas kawin, boleh berupa uang atau benda. Dalam hal ini Allah berfirman:
واتو النسا ء  صا د قا تهن نحله
Artinya:
. . .Berilah perempuan yang kamu kawini itu suatu pemberian/mahar . . . (Q.S. an-Nisa;/4:4).

Selanjutnya upacara akad nikah dapat dilangsungkan. Pihak yang mesti harus terlibat adalah: calon pengantin perempuan, calon pengantin laki-laki, wali dari perempuan, maskawin dari calon pengantin laki-laki untuk calon istrinya, dan dua orang saksi yang seiman (Islam, baligh, dan berakal sehat). Selebihnya hanya bersifat legal seperti petugas pencatatan nikah dari KUA (Kantor Urusan Agama) dan asesoris yang menambah suasana meriah, khidmad, dan kemegahan. Aneka asesoris baik yang bersifat keindahan maupun upacara-upacara tradisional dan lokal ditoleransi oleh Islam sepanjang tidak menimbulkan takhayyul, bid’ah, khurafat, dan syirik (disingkat menjadi TBC+S) dan tetap konsisten dalam kemurnian tauhid.
Akan sangat utama kalau upacara ijab qabul dilangsungkan di masjid. Nabi saw bersabda: a’linu an-nikaha waja’alu fi al-masajid . . . (umumkanlah pernikahan dan laksanakan di masjid. . . H.R. at-Turmuzi dari ‘Aisyah).
Formula (sighat) akad nikah yang menggambarkan pernyataan  hasrat menikah dari calon mempelai laki-laki dengan mahar diserahkan kepada wali calon penganten perempuan – selanjutnya nanti maskawin itu diserahkan kepada mempelai wanita –  dan kebolehan wali menerima hasrat calon pengantin laki-laki dalam rumusan dialogis adalah – contohnya – sebagai berikut:
Wali          :Aku menikahkan engkau wahai Ahmad Sumarno bin Ahmad Margono dengan anakku Naila binti Ahmad Kosim dengan mahar Seperangkat alat salat, uang sebanyak 200 juta, dan sebidang tanah seluas 500 M.2 berikut bangunan yang ada di atasnya tunai.
Calon penganten laki-laki: Saya terima menikahi saudari Nailah binti Ahmad Kosim dengan maskawin tersebut tunai.
Selesai ijab-qabul kedua calon mempelai menjadi mempelai sah dan resmi sebagai suami istri, pasangan hidup yang salah satunya adalah kehidupan seksual. Karena secara prinsip nikah adalah ibadah dan suci, maka para hadirin yang menyaksikan upacara pernikahan ini supaya mendoakan keduanya dengan kandungan doa barakah. Contoh doa yang diajurkan Nabi saw adalah sebagai berikut:
با رك الله و با رك عليك  وجمع بينكما فى الخير (رواه التر مذى عن ابى هريرة )
Artinya:
Semoga Allah memberkat  dan Dia memberkati kamu, dan mempertemukan  kamu berdua dalam kebaikan (H.R. at-Turmuzi dari Abu Hurairah)

Atau menurut formula Ulama yang semakna dengan hadis Nabi saw di atas :
با رك الله لكما وجمع بينكما فى خير وسعا دة
Artinya:
Berkah Allah atas kamu berdua dan semoga Allah mempertemukan kamu berdua dalam kebaikan dan kebahagiaan.

Atau
اللهم اجمع بينهما فى سعا دة ورخاء اللهم ارزقنا ذ ر ية صالحة  قرة عين لهما وللاسلام وللنا س اجمعين
Artinya;
Ya Allah pertemukan diantara keduanya dalam suasana sejahtera dan gembira. Ya Allah anugerahkan keturunan yang salih-salihat penyenang hati bagi keduanya, Islam, dan bagi manusia semuanya (Tim, 2003:147).

B.  Seksualitas Yang Benar dan Sehat
1.    Kesucian
Bentuk perawatan kehidupan seksualitas adalah pelaksanaan pemenuhan syariat Islam di bidang ini. Jika syariat ini dipenuhi pastilah kegiatan seks itu benar dan sehat. Sebagian perawatan seksualitas terkait dengan norma lain di dalam Islam umpama terkait dengan salat, membaca Alquran, aneka rukun haji, dan i’tikaf di Masjid.Aneka macam ibadah ini mensyariatkan suci tempat, suci pakaian, dan suci badan (sekujur tubuh inklusif alat vital), baik  suci-bersih dari hadas maupun najis. Kalau minimal seorang muslim-muslimah salat lima kali sehari semalam, ia harus berwudu lima kali pula. Di dalam setiap wudu harus harus bersih sekujur tubuh  – inklusif alat vital.Dengan demikian setiap muslim rata-rata minimal membersihkan alat kelaminnya lima kali. Dengan demikian, kapan saja seorang muslim hendak melakukan hubungan seksual dengan pasangan hidupnya yang sah pastilah keduanya dalam keadaan bersih. Akan lebih utama kalau sebelum melakukan hubungan seksual dibersihkan secara khusus, lebih utama lagi kalau dibersihkan pembersih yang dapat menetralisir kuman, basil, virus, atau parasit yang mungkin hinggap pada alat vital. Keutamaan-keutamaan ini  supaya di dasarkan pada pelaksanaan ajaran Islam tentang kesucian: wa-llahu yuhibbu al-mutathahhirin. . .(Allah menyenangi orang yang menyucikan diri – Q.S. at-Taubah/9:l08).
2.    Berdoa
Apabila seorang suami-istri hendak berhubungan, keduanya hendaklah saling berdoa. Doa yang Rasulullah contohkan adalah:
اللهم جنبنا الشيطا ن وجنب الشيطا ن ما ر ز قتنا  (وراه  التر مذى عن ابن عبا س)
Artinya
Ya Allah, jauhkanlah kami dari syaitan, dan jauhkanlah syaitan terhadap rizki yang telah Engkau anugerahkan kepada kami (H.R. at-Turmuzi dari Ibnu ‘Abbas).

Apresiasi kegiatan seks menurut Islam ini tidak semata-mata pelampiasan nafsu birahi, melainkan harus tetap sadar akan eksistensi iman, ingat kepada Allah, bahkan memohon kepada-Nya supaya dijauhkan dari syaitan.
3.    Peragaan
Islam memberikan kebebasan cara yang disenangi dalam melakukan senggama, yang penting masih dalam hubungan kelamin. Di luar itu, umpama wati dubur  (sodomi) terhadap istrinya dan al-harf  (memasukkan penis ke dalam saluran air kencing) tetap dilarang keras. Tentang peragaan senggama Alquran mengatakan
نساء كم حرث لكم فاء توا حرثكم انى شئتم وقد موا لانفسكم واتقوا الله واعلموا انكم ملاقوه وبشر المؤ منين
Artinya
Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanammu bagaimana saja kamu kehendaki dan kerjakanlah amal yang baik untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman (Q.S. al-Baqarah/2:223).

Pengertian anna syi’tum  (bagaimana saja kamu kehendaki) mengandung pengertian antara lain peragaan senggama atas dasar selera bagi suami-istri yang akan melakukannya, boleh dengan cara saling berhadap-hadapan (muqbilat), secara memiringkan tubuh atau berguling-guling (mustaqliyat), atau suami mendatangi istri dari arah belakangnya, tetapi tetap pada lubang vagina /mudbirat – Hasan al-hamsi [t.th]:75-76, Muslim,I,[t.th.]:606-607), bukan lubang yang lain (dubur dan saluran air seni).
4.    Tidak menggosip Pasangan
Ketika beberapa wanita (ibu-ibu) berkumpul, demikian juga laki-laki (bapak-bapak) sering terjadi obrolan santai ke sana kemari, tanpa topik yang jelas ditentukan terlebih dulu, tetapi obrolan itu amat asyik dan sering lupa waktu, bisa menggosip pasangan hidupnya sendiri (suami menggosip istri atau sebaliknya) tentang berbagai hal dengan seksualitas (bisa barang, keadaan, perilaku). Hal ini dilarang keras dalam Islam. Dalam hal ini Rasulullah bersabda:
ا ن من اشر النا س عند الله يو م القيا مة الر جل يفض الى امراة و تفض اليه ثم ينشر سرها (رواه مسلم عن ابى سعيد الحد رى)
Artinya
Sesungguhnya sejelek-jelek manusia pada hari kiyamat adalah seorang suami yang menggosip istrinya dan istri menggosip suaminya mengenai rahasianya (H.R. Muslim dari Abi Said al-Hudri – Muslim,I [t.th.]:608).
Yang di maksud rahasia adalah hal-hal yang menyangkut tentang kehidupan seksualitas.
5.    Penyimpangan Seksual
Jika aturan-aturan agama (syariat) dipenuhi dalam apresiasi seksual, pasti hubungan seksual itu benar dan sekaligus sehat baik secara jasmani maupun rohani, dan membawa kemanfaatan dunia-akhirat. Tetapi jika sebaliknya, yaitu hanya semata-mata pelampiasan nafsu, tentu banyak negatifnya yang ditimbulkan. Berikut ini dijelaskan beberapa bentuk hubungan seks yang tidak diperbolehkan. Jika tetap dilakukan berarti penyimpangan.
a.    Keadaan Menstruasi
Dalam pasangan yang menurut Islam sah  tidak otomatis hubungan seks kapan saja diperbolehkan, melainkan tetap saja ada pembatasan atau saat-saat tertentu tidak diperbolehkan. Larangan ini jika dikaji secara mendalam sebenarnya mengandung manfaat bagi yang bersangkutan, bukan orang lain. Di antara larangan itu adalah tidak boleh melakukan senggama ketika istri sedang menstruasi. Alquran mengatakan:
ويسالونك عن المحيض قل هو اذى فاعتزلوا النساء فى المحيض ولا تقربوهن حتى يطهرن فا ذا تطهرن فاءتوهن من حيث امركم الله ان الله يحب التوابين ويحب المتطهرينز
Artinya
Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: haid itu adalah kotoran. Oleh sebab itu hendaklah  mereka, sebelum mereka suci. Apa bila mereka telah suci, maka campurilah mereka di tempat yang telah diperintahkan Allah kepadamu. Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mnenyucikan diri (Q.S. al-Baqarah/2:222).

Yang dimaksud menjauhkan diri dari wanita haid hanya terbatas tidak melakukan persetubuhan dengan memasukkan penis ke dalam lubang vagina. Bercumbu rayu di antara keduanya diperbolehkan.
Ayat ini turun berkenaan dengan tradisi orang Yahudi bahwa wanita haid tidak boleh makan bersama suami, termasuk tinggal di rumah bersama suami, apalagi berjima’. Dengan demikian ayat ini sebagai jawaban bahwa wanita haid tetap dihormati dalam semua urussan kehidupan. Justru ayat ini mengingatkan kepada suami agar tidak ceroboh dan rakus. Dalam hal ini Rasulullah bersabda:
اصنعوا كل شيئ الا النكاح (رواه مسلم والترمذى عن انس بن  مالك)
Artinya:
. . . perbuatlah (terhadap istri) selain senggama (H.R. Muslim dan at-Turmuzi dari Anas bin Malik – Hasan al-Hamsi,[t.th.]:74.

b.    ‘Azl
‘Azl adalah mencabut penis dari vagina ketika si suami inzal (orgasmus dan mengeluarkan sperma) karena khawatir akan terjadi kehamilan bagi istri. Sebaiknya jangan melakukan ‘azl karena bisa mengecawakan istri maupun diri sendiri. Kalau ingin menghidari kehamilan dalam persenggamaan hendaklah ditempuh dengan cara lain yang sah, umpama memakai kondom berkualitas baik, tissu anti hamil, suntik KB, spiral bagi istri atau yang lain yang cocok dan sehat atas nasihat dokter ahli. Cukup banyak hadis yang melarang ‘azl. Meskipun larangan itu kurang tegas. Pertanyaan tentang ‘azl  oleh sahabat berulangkali, tetapi nampaknya Rasulullah enggan menanggapinya secara vulgar. Diantaranya demikian:
ما من كل الماء يكون الوالد واذا اراد الله خلق شيئ لم يمنعه شيئ (رواه مسلم عن ابى سهد الحدرى)
Artinya:
Tidak ada setiap air mani itu (yang tumpah) tidak menjadi anak. Apabila Allah menghendaki mencipta sesuatu tidak ada yang mencegahnya – H.R. Muslim dari Abu Said al-hudri (Musli,I,[t.th.]:608).

Ketika ada pertanyaan – dan pertanyaan ini terjadi berulang-ulang –  yang nada-nada pertanyaan itu meminta agar diperbolehkan ‘azl  Nabi menjawab: Ana ‘abdu-llah wa Rasuluh – H.R. Muslim dari Jabir bin Abdu-llah (Muslim,I,[t.th.]:610).
Ketidakbolehan ‘azl dimaksudkan melindungi wanita jangan sampai mereka hanya semata-mata sebagai pemuas nafsu laki-laki. Di zaman sahabat, umumnya mereka memiliki istri lebih dari satu, plus budak wanita. Jika ia menyetubuhi mereka dan tidak menginginkan kehamilan, mereka melakukan ‘azl kemudian kekurangpuasan itu,  ia lalu menggilir istri lain di saat itu pula. Itulah sebabnya Rasulullah melarang ‘azl dan supaya mereka kaum laki-laki bertanggungjawab atas perbuatannya.Laki-laki maupun perempuan harus sama-sama merasakan kesenangan dalam persetubuhan. Dalam hal ini Allah berfirman:
اهن لبا س لكم وانتم لبا س لهن
Artinya:
. . .mereka, wanita, adalah pakaianmu dan kamu, laki-laki, adalah pakaian mereka (wanita). . . (Q.S. al-Baqarah/187).

Dalam ayat ini mengandung pengertian bahwa antara suami dan istri adalah setara dan saling mengambil manfaat atas pasangannya.
c.    Transeksualisme
Transeksualisme termasuk gangguan identitas  jenis, umpama secara fisik laki-laki (memiliki penis) tetapi lebih merasa sebaliknya; atau wanita (memiliki vagina) tetapi lebih merasa sebagai bukan wanita. Cara hidup semacam ini tidak dibenarkan menurut Islam. Rasulullah bersabda:
لعن الله المتشا بها ت من النساء با الرجال والمتشا بهين من الرجال با النساء (رواه الترمذى)
Artinya:
Allah melaknati wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai wanita (H.R. at-Turmuzi)

Bentuk transeksualisme yang lebih umum adalah secara fisik laki-laki tetapi berperangai wanita dan dikenal dengan nama waria, dalam bahasa Jawa wandu.
Meniru hanya terbatas pada pakaian yang tidak keterlaluan, umpama wanita memakai celana jeans model laki-laki, memakai T,shirt, memakai kemeja, atau laki-laki memakai kemeja dengan motif bunga-bunga (sembagi), dapat ditoleransi dan tidak termasuk transeksualisme, tetapi telah menjadi isyarat yang bisa saja mengarah kepada transeksualisme beneran. Apabila wanita sudah berperilaku dan berperasaan laki-laki (pakaian tentu bermodel laki-laki) lalu berperasaan seksnya terhadap wanita (sejenis) termasuk transeksualisme (Hawari,l997:383-384). Dengan tegas Rasulullah melarang homoseksual dan lesbian dengan sabdanya sebagai berikut:
لا ينظر الرجل الى عوراة الرجل ولا تنظر المراةالى عوراة المراة ولا يفض الرجل الى الرجل فى الثوب  الواحد ولا تفض المراة الى المراة فى الثوب الواحد (رواه الترمذى عن ابى سعيد وابيه)
Artinya
Jangnlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki (lain)’ janganlah wanita melihat aurat wanita (lain); janganlah laki-laki berada (bersetubuh) dengan laki-laki dalam satu selimut; janganlah wanita berada (bersetubuh) dengan wanita dalam satu selimut (H.R. at-Turmuzi,IV,[t.th.]: l96).

d.    Selingkuh dan Hidup Bersama di Luar Nikah
Hidup bersama di luar nikah adalah hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam satu rumah tetapi tidak diikat oleh perkawinan supaya masing-masing lebih merasa bebas tidak ditekan satu sama lain, termasuk dalam hubungan seksual. Seks hanya semata sebagai pancaran kebutuhan biologis dan bebas dari ikatan agama (Hawari,l9997:223). Kehidupan semacam ini dilarang keras dalam Islam karena termasuk kategori zina, yaitu hubungan seksual laki-laki-perempuan di luar nikah. Nabi saw bersabda:
االسحا ق بين النساء زنا هن (رواه الطبرانى)
Artinya:
Lesbi di antara wanita adalah zina mereka (H.R. Thabrani – PP.4, 2003:228).

Zina adalah perbuatan keji menurut Islam. Demikian Allah berfirman:
ولا تقربوا الزنى انه كا ن فاحشة وساء سبيلا
Artinya:
. . . Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk (Q.S. al-Isra’/17:32).

Termasuk zina adalah selingkuh. Perselingkuhan adalah hubungan seksual di luar nikah yang masing-masing pihak atau salah satunya mempunyai pasangan hidup (suami atau istri) yang  sah menurut syariat Islam. Seorang istri memiliki suami yang sah tetapi bersebadan dengan laki-laki lain disebut zina muhshan. Pelaku zina muhshan dihukum dengan dilempari batu hingga meninggal. Zina ghairu muhshan, yaitu perzinaan antar bujang dihukum dengan dilempari batu 100 kali. Penghukum (eksekutor) tidak boleh merasa kasihan terhadap pelaku zina. Demikian firman Allah:
الزانية والزانى فجلدوا كل واحد منهما مائة جلدة ولا تاء خذ كم بهما راء فة فى دين الله ا ن كنتم تؤمنون با الله واليوم الاخر واليشهد عذا بهما طا ئفة من المؤمنين

Artinya:
Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina maka deralah tiap-tiap orang dari keduanya 100 kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu  untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah  dan hari akhir, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman (Q.S. an-Nur/24:2).

Dengan demikian pelaku perbuatan seks menyimpang berakibat amat menyakitkan atau bahkan mematikan, bukan hanya mengganggu kesehatan.
e.    Masturbasi
Kelihatannya masturbasi (al-istimta’ bi al-yad) bersenang-senang dengan menggunakan tangan) atau secara ekstrim dikatakan zina tangan tidak dikenal dalam tradisi Islam generasi pertama, zaman Rasulullah, sehingga baik Alquran maupun as-Sunnah tidak menyinggungnya, tidak ada pertanyaan dari para sahabat kepada Nabi saw tentang masturbasi, maupun tidak ada kisah dan kasus dari sahabat atau komunitas di negara Madinah di zaman Nabi tentang masturbasi. Kelihatannya tradisi seksual menyimpang ini, masturbasi, berasal dari Eropa lalu melanda ke wilayah lain, termasuk di Indonesia.
Karena essensi masturbasi adalah pelampiasan nafsu birahi tetapi menyimpang dari kenormalan, maka tentunya disamakan dengan zina, dilarang, dan tidak boleh mencoba melakukannya; wala taqrabu az-zina. Secara umum Rasulullah memerintah supaya menjaga aurat (kemaluan) kecuali kepada istrinya atau suaminya. Demikian sabda Rasulullah saw:
احفظ عورتك الا من زوجتك اوما ملكت يمينك  (رواه الترمذى عن جد بهز بن حكيم)
Artinya:
. . . jagalah auratmu kecuali kepada istrimu atau budak wanitamu (H.R. at-Turmuzi dari kakek Bahaz bin Hakim – at-Turmuzi,IV,[t.th.]:188).

Dalam hadis ini dijelaskan bahwa membuka aurat diperbolehkan ketika melakukan jima’ terhadap istri atau wanita lain yang halal dijima’, yaitu budak wanita (‘amat). Di luar itu tidak boleh kecuali ketika buang air. Mandi saja sebaiknya tetap memakai kain penutup, kecuali di kamar mandi yang tertutup.Di dalam persepian, tetap tidak boleh membuka aurat karena Allah tetap mengetahui, demikian juga  malaikat yang bertugas mengikuti kita untuk merekan semua aktifitas yang kita lakukan untuk diskor termasuk kategori perbuatan yang mengandung pahala atau mengandung dosa. Dengan demikian, ketelanjangan yang tidak perlu jangan dilakukan.
Untuk mengendalikan emaginasi-emaginasi seksual bagi perjaka yang belum menikah supaya melakukan puasa yang sungguh-sungguh. Nabi Bersabda:
يا معشر الشبا ب من ا ستطاع منكم الباء ت فليتزوج فانه اغض للبصر واحصن للفرج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فانه له وجاء (الحد يث)
Artinya
Wahai para pemuda, barang siapa yang ingin menikah sedang ia mampu, maka hendaklah ia menikah, karena menikah itu dapat menjaga mata (untuk melihat wanita) dan menjaga kesucian farji. Barang siapa yang belum mampu menikah, maka hendaklah ia berpuasa karena dapat mengurangi khayalan-khayalan tentang wanita (al-Hadis).

Memahami hadis di atas begitu jelas bahwa masturbasi termasuk yang dilarang dalam agama. Ketidaktegasan sabda Nabi tentang ini adalah terlalu suci bagi  Rasulullah untuk berkata sia-sia dan tidak perlu.

Latihan-latihan
1.    Jelaskan persamaan dan perbedaan antara hukum alam dan sunnatullah, berilah contohnya masing-masing berikut keterangannya sehingga persamaan dan perbedaan diantara keduanya menjadi semakin jelas.
2.    Berilah argumen naqli maupun aqli bahwa menikah itu sunnatullah !
3.    Bisakah manusia melawan sunnatullah, termasuk dalam pernikahan ? Berilah argumen secara rasional maupun bukti-buktinya yang autentik !
4.    Jelaskan aturan meminang seorang gadis muslimah yang benar menurut ajaran Islam  !
5.    Jelaskan karakter wanita (yang telah bersuami) yang baik , demikian karakter laki-laki (yang beristri) yang baik  !
6.    Jelaskan persyaratan wali dan saksi dalam akad nikah antara pengantin muslim dan pengantin muslimah !
7.    Jelaskan peragaan seksualitas yang baik, benar , dan sehat !
8.    Jelaskan siapakah orang yang terburuk ketika dibangkitkan besok di hari kiyamat !
9.    Sudahkah kamu merasa mampu untuk menikah ? jelaskan argumentasimu baik merasa sudah mampu atau belum mampu  ! Berpuasakah kamu jika merasa belum mampu menikah ? Apa yang kamu perbuat jika emaginasi-emaginasi seksual muncul sementara kamu belum kawin ?
10.    Ada teks sebagai berikut:
زلا تقربوا الزنى انه كا ن فا حشه وساء سبيلا
Pertanyaan:
a.    Tulis kembali dan harakati secara benar !
b.    Terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara baik dan benar !
c.    Jelaskan apa kandungan ayat itu dalam kaitannya dengan kehidupan seksualitas ?
d.    apa arti kata yang digarisbawahi ?

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur-anul-Karim
Abdu-llah, Ahmad fuad, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfaz al-Qur’an al-Karim. Indonesia: al-Maktabah Dahlan, [pt.th.].
Cawthorne, Nigel, Rahasia kehidupan Seks para Paus (trans) Hilmi Mustafa & Sigit P. Yogyakarta: Alas, 2007.
Al-Hamsi, Muhammad Husain, Qur’an Karim: tafsir wa Bayanu ma’a Asbab an-Nuzul li as-Sayuti. Bairut: Dar ar-Risalah, [t.th.].
Ibrahim, Majdi as-Sayyid, 50 Wasiat Rasulullah saw Bagi Wanita (trans.) Kathur Suhardi. Jakarta: Pustaka Alkautsar, l994.
“Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: PN.Balai Pustaka, l990
Rasjid, Soeleman, Fiqh Islam, Jakarta: Attahiriyah, l981.
“Tim PP. Muhammadiyah “, Tanya Jawab 4 dan 5. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2003.
An-Nawawi, Muhiyyi ad-Din Abi Zakaria bin Syaraf. Riyad ash-Shalihin. Surabaya: Syirkah wa Mathba’ah Ahmad bin Sa’id bin Nabhan, [t.th.].
“Shahih Muslim”. Indonesia: Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, [t,th.].
at-Turmuzi, Abi Isa Muhammad bin Isa bin Saurah, Sunan at-Turmuzi wa Huwa al-Jami’ as as-Shahih, Semarang: Toha Putra, [t.th.].

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *