Kelahiran Manusia

Oleh M.Danusiri

Tujuan Umum Pembelajaran
Setelah membaca dan mengikuti pembelajaran bab ini, Mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan tentang kelahiran manusia.
Tujuan Khusus Pembelajaran
Setelah membaca dan mengikuti pembelajaran pada bab ini, Mahasiswa diharapkan dapat:
1.    Menjelaskan dan mengerti proses terjadinya manusia menurut ajaran Islam
2.    Menjelaskan dan mengerti norma-norma Islam bagi ibu yang sedang hamil
3.    Menjelaskan perawatan terhadap ibu hamil, suaminya, maupun penciptaan kondisi kondusif baik secara sosial maupun kultural.
4.    Menjelaskan perawatan ibu dalam proses persalinan secara Islam
5.    Menjelaskan perawatan bayi sejak hari pertama hingga masa ‘aqiqah
6.    Menjelaskan perawatan bayi dalam penyusuan

A. Asal-Usul Manusia
Proses keterciptaan manusia cukup rumit dan panjang. Demikian tahapannya.
1.    Tahap Minerologi: at-Turab (Tanah)
Sekurang-kurangnya Alquran menyebutkan tujuh kali tentang at-turab, yaitu pada QS.Ali Imran : 59, an-Nahl : 59, al-Kahfi : 37, al-Hajj : 5, ar-Rum : 20, Fathir : 11, dan al-Ghafir : 67. ayat-ayat ini menyebutkan  bahwa asal usul manusia adalah at-turab yang secara literal berarti tanah,bumi, atau debu. Dicontohkan di sini firman Allah bahwa manusia itu berasal dari at-turab sebagai berikut:

Artinya:
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah (QS. Al-Hajj/22 : 5).

Padanan kata at-turab ke dalam bahasa Indonesia adalah debu, tanah, bumi.(Warson, [t.th.] : 14). Sifat tanah, bumi atau debu adalah kering karena yang paling dekat di antara sejumlah kata ini adalah debu.
Allah juga menyebutkan sembilan kali, yaitu dalam Q.S. al-An’am : 2, al-A’raf : 12, al-Mu’minun : 12, al-Qashash : 38, as-Sajdah : 7, ash-haffat : 11, Shad : 71 dan 76, dan al-Isra’ : 61 bahwa asal usul manusia adalah ath-thin  yang secara literal berarti tanah lumpur. Unsur cairan dalam pengertian tanah seperti ini, unsur cairan amat dominan. Contoh penyebutan asal manusia dari ath-thin adalah sebagai berikut:

Artinya:
Dan ssungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari sesuatu (saripati) dari tanah.(Q.S. al-Mu’minun/23 : 12).

Jika dipahami melalui pendekatan teori evolusi, dan ini merupakan cara berpikir yang paling akurat karena mengenai objek fisik dan berada selalu menggejala dalam waktu, ath-thin yang paling awal adalah saripati lumpur, kemudian lumpur dalam bentuk tanah liat (ath-thin al-lazib – Q.S. ash-Shaffat/37: 11). Sifat tanah liat ini adalah lekat atau disebut juga lempung dalam bahasa Jawa yang bisa menempel. Unsur cairan lebih sedikit dibanding ketika masih dalam pengertian lumpur. Dengan demikian tanah liat lebih kering daripada lumpur. Dari bahan ini Allah mencipta insanun atau basyarun yang padanan dalam bahasa Indonesia adalah  manusia.
Selanjutnya Allah juga menjelaskan bahwa asal-usul tanah liat dengan kosa kata al-h}ama>’, yang secara literal berarti tanah liat kering, sebanyak tiga kali, yaitu dalam Q.S. al-Hijr : 26, 28, dan 33 berasal dari shalshal (lumpur hitam), umpama Allah berfirman:

Artinya
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk (Q.S. al-Hijr/15 : 26).

Tanah liat kering itu disebutkan berasal dari tembikar (tanah kering, keras, padat, dan tidak ada unsur air). Demikian Allah berfirman :

Artinya:
Dia menciptakan manusia dari tanah kering dari tembikar (Q.S. ar-Rahman/55 : 14).

Mencermati sejumlah ayat tentang asal-usul  manusia ternyata tidaklah mudah karena ada yang disebut at-turab (tanah, debu, bumi), ath-thin (lumpur atau tanah liat), al-h}ama>’ (tanah liat), shalshal (tembikar). Melalui tatapikir logika hubungan antara komrehensi dan denotasi, at-turab berarti bumi dengan demikian berarti genus dan mengandung pengertian umum. Spesiesnya atau denotasinya amat banyak, yaitu keseluruhan mineral bumi, seperti: batu, cadas, lahar, magma, barang tambang, lumpur, debu, belerang, tanah, gas bumi, air,dan masih banyak lagi yang lain. Selanjutnya, dapat dirinci lebih jauh dengan mengambil contoh air, bagian dari bumi, menjadi air tawar dan air laut. Jika air tawar dirinci atas dasar penggunaannya dalam bersesuci sebagai sayarat beribadah terdapat air suci dan menyucikan, air suci tidak menyucikan seperti air kelapa, air tidak suci dan tidak menyucikan.
Diantara sekian banyak  mineral bumi yang dipilih Allah untuk mencipta manusia adalah saripati lumpur (shalshal min thin), tanah liat (ath-thin al-lazib), tanah tembikar (shalshal al-fakhar).
Lagi-lagi, Jika dipahami melalui pendekatan evolusi asal keterciptaan manusia, urutannya adalah (1) tanah kering yang bersifat padat dan kering, (2) debu yang bersifat kering, lunak dan terurai, (3) tanah liat yang bersifat kering, agak lunak, lekat, dan ada unsur air sedikit, (4) lumpur yang bersifat campuran antara yang padat dan cair. Unsur cairan amat dominan, (5) lumpur hitam yang bersifat campuran antara yang padat dan cairan, unsur cairan amat dominan, dan campuran itu telah begitu mengendap sehingga berwarna hitam.
Dari urutan logis bahan untuk mencipta manusia ini, kita dapat melakukan eksperimen sebagai berikut:
Kita ambil air keruh satu gelas. Air ini berasal dari got atau sungai yag baru saja menjadi banjir akibat hujan. Selanjutnya air itu didiamkan saja dalam ruang yang tidak terkena sinar matahari secara langsung. Setiap hari diamati dan dicatat perubahannya. Lama-lama, terdapat benda-benda yang berat jenisnya melebihi  berat jenis (BD) air pasti turun ke dasar. Inilah yang disebut endapan. Makin lama, endapan itu semakin tampak nyata dan air di bagian atas dalam gelas itu akan tampak semakin bening. Nah di sini telah terjadi pemisahan yang jelas antara lumpur yang selanjutnya menjadi tanah liat dan air yang amat jernih.
Selanjtnya, Allah menggunakan air itu sebagai bahan mencipta manusia. Ayat-ayat berikut akan menjelaskan kesimpulan ini.
2.    Tahap Air
Tahapan selanjutnya disebutkan bahwa manusia berasal dari al-ma>’. Secara umum semua yang hidup bernyawa mulai dari tetumbuhan dan binatang bersel tunggal hingga yang paling komplek dan sempurna, yaitu manusia (Q.S. ath-Thin/95 : 4) berasal dari air. Demikian Allah berfirman:

Artinya
Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup, maka mengapakah mereka tidak juga beriman ? (Q.S. al-Anbiya’/21 : 30).

Selanjutnya, Allah mempertegas bahwa segala yang hidup, yaitu  dabbah secara literal berarti makhluk hidup yang merayap atau bergerak baik memakai perut, berkaki dua, berkaki empat atau berkaki lebih dari empat dijelaskan berasal dari air. Demikian firmnan Allah:

Artinya
Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian hewan dari air itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu ( Q.S. an-Nur/24 : 45).

Selanjutnya dari salah satu jenis dabbah (hewan yang merayap) disebutkan secara spesifik atau mengerucut bahwa makhluk hidup yang disebut basyar (secara literal berarti manusia) berkaki dua diciptakan dari air. Demikian Allah berfirman:

Artinya
Dan dia pula yang menciptakan manusia dari air, lalu Ia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah, dan adalah  Tuhanmu Maha Kuasa (Q.S. al-Furqan/25 : 54).

Dari ayat itu juga terkandung pengertian bahwa manusia melalui perkawinan antara laki-laki dengan perempuan menghasilkan keturunan (pertalian darah), dan dari perkawinan itu  muncul pertalian saudara penyerta (mushaharah) seperti anak menantu, cucu menantu, keponakan menantu, saudara dari istri/suami (saudara ipar), bibi/om dan uwak ipar, mbah ipar. Yang kemudian dalam scala luas mengandung pengertian makhluk yang bernama manusia sebagai suatu spesies (kelas) yang berbeda dari non manusia.
Dalam pengertian bahasa Arab semua yang cair disebut al-ma>’ (air) dengan demikian al-ma>’ sebagai genus (jinis – terserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘jenis’), denotasinya bisa air laut, air asin, air tawar, air embun, air kencing, dan air mani (sperma). Dengan demikian maksud al-ma>’ dari ayat 54 dari surat al-Furqan di atas adalah air mani. Sifat air mani disebutkan sebagai sesuatu yang hina. Demikian Allah berfirman:

Artinya
Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (Q.S. as-Sajdah/32 : 8)

Dikatakan hina karena air itu terpancar dari dua kelamin, yaitu kelamin laki-laki, masuk ke dalam kelamin perempuan, berproses di dalamnya  (perempuan) dan keluar dari  kelamin perempuan itu. Kelamin laki-laki maupun perempuan adalah tempat keluarnya air kencing yang menjijikkan dan najis. Kelamin  adalah simbol kerendahan, aurat sebagai sesuatu yang harus ditutupi dan memalukan jika dilihat oleh orang lain. Secara medis air itu disebut air mania tau sperma. Bau air mani itu tidak sedap dan amat tajam menyengat hidung.  Implikasi yang terselip di dalamnya adalah  ‘manusia keliru besar jika ia menjadi sombong dan terlalu berbangga’. Ia harus sadar bahwa asalnya adalah sesuatu yang hina.
Air hina, yaitu air mani (sperma) yang terpancar ke dalam alat reproduksi wanita dan berproses dengan air (cairan) wanita di dalam rahim. Jadi ada pertemuan al-ma>’  dari laki-laki dan al-ma>’  dari perempuan. Demikian Allah berfirman:

Artinya
Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan. Dia diciptakan dari air yang terpancar. Yang keluar antara tulang sulbi dan tulang dada (Q.S. ath-Thariq/86 : 5-7)

B.  Proses Kejadian Manusia Dalam Rahim: Tahap Embriologis
Sebelum menjelaskan proses lebih lanjut tentang keterciptaan manusia dalam taham embriologis ini, perlu dijelaskan siapa tokoh pakar dalam bidang ini. Ternyata, tokoh tersebut adalah seorang dokter muslim yang hidup di abad 13. Dia lahAmin ad-Daulah Abu al-Faraj Ibn Muwafaq ad-Di>n Ya’qu>b ibn Ish}aq ibn al-Quff, popular disebut ibn al-Quff. Ia lahir di Karak 10 mil dari laut mati yang sekarang menjadi wilayah Yordania. Karya dalam bidang kesehatan amat banyak. Diantaranya sangat monumental, yaitu “al-‘Umdah fi al-Jarahat”  (Buku Induk tentang Pembedahan) dan “al-Gharadh fi H}fdz asy-Syifa>’ (Menuju Hidup Sehat). Buku ini menjelaskan tentang embriologi dan usaha-uasa menuju pola hidup sehat.
Dalam ilmu bedah, ia memperkenalkan opium, hyioscine, dan antropine untuk meredakan rasa sakit sewaktu pasien dibedah dalam rangka memulihkan kesehatannya. Ia juga yang berhasil menemukan system pembuluh darah (vascular) vena dan system pembuluh darah arteri, hubungan diantara kedua pembuluh darah itu, serta bungannya ke dalam seluruh tubuh. Empat ratus kemudian baru ditemukan kembali melalui alat microscopis oleh Marcello Malpighi, seorang dokter kenamaan dari Italia. Ibnu Quff juga menemukan katup dalam jantung yang mengatur keluar-masuknya aliran darah dari jantung ke seluruh tubuh dan kembali ke jantung.
Dalam kaitannya dengan embriologi dan perinatologi, sebagaimana diungkapkan dalam karyanya al-Jami’ (semacam karya ensiklopedis), Ibnu membahas proses-proses embriologi keterciptaan manusia sangat akurat, mendetail, dan sejalan dengan penjelasan Alquran. Karya iji dibagi ke dalam 20 bab. Keringkasan penjelasannya adalah sebagai berikut:

Pembentukan awal adalah sebuah buih yang merupakan tahap enam sampai tujuh hari pertama, pada hari ke- 3 hingga 16 secara bertahap membentuk gumpalan dan pada hari ke-28 sampai 30 menjadi sebuah gumpalan kecil daging. Pada hari ke-38 sampai 40, kepala muncul terpisah dari bahu dan lengan. Otak dan jantung yang diikuti dengan hati terbentuk sebelum organ lainnya,”  papar  Ibnu al-Quff seperti dikutip Abouleish.

Al-Quff menambahkan bahwa janin mengambil makanan dari ibunya untuk tumbuh. Ia menambahkan, ada tiga selaput yang  menutupi dan melindungi janin. Pertama menghubungkan pembuluh darah arteri dan vena dengan sesuatu di rahim ibunya melalui tali pusar.

“Melalui pembuluh vena, janin bayi mendapatkan makanan untuk kebutuhan nutrisinya. Sementara pembuluh arteri membawa udara,” tutur al-Quff. Pada akhir bulan ketujuh, lanjut al-Quff, semua organ telah selesai. Setelah kelahiran, tali pusar bayi dipotong pada jarak empat jari luasnya dari badan, dan terikat dengan baik, dengan wol yang lembut.

Wilayah yang dipotong ditutupi dengan filamen/kawat pijar basah dalam minyak zaitun dengan sebuah obat penahan darah untuk mencegah pendarahan yang menetes. “Setelah kelahiran, bayi dirawat oleh ibunya dengan air susu ibu (ASI)  yang merupakan nutrisi paling baik.(www.suaramedia.com).

Dari kutipan ini dapat diambil pengertian bahwa sumbangan sarjana Islam klasik dalam kemajuan ilmu kesehatan modern amat besar dan masih digunakan hingga sekarang. Kutipan ini juga memberikan inspirasi sarjana-sarjana kesehatan muslim sekarang jangan hanya mengikuti secara membabi buta terhadap ’penemuan’ sain Barat yang sering kita idolakan dan sekaligus kita menjadi minder yang sebenarnya sering terbukti bahwa mereka hanyalah plagiat dari karya-karya penemuan sarjana muslim. Sebenarnya kita juga dapat menghasilkan penemuan-penemuan spektakuler dalam bidang sains.
Selanjutnya, mari kembali meneruskan alur pikir tentang proses evolusi keterciptaan manusia dalam tahap embriologi ini.
1.    Unsur Bahan Laki-laki
Perlu ditegaskan kembali bahwa tahap akhir dari asal-usul manusia adalah al-ma>’ (air) dari laki-laki maupun perempuan yang bertemu karena msing-masing terpancar dari sumbernya (sulbi dan taraib). Pengertian empirik kata ‘terpancar’ dan alami hanyalah melalui hubungan kelamin atau senggama antara laki-laki dan perempuan. Menurut Islam Senggama hanya diperbolehkan setelah melalui ritus-inisiasif pernikahan atas dasar syariat, tidak sedang menstruasi bagi perempuannya, dalam keadaan sehat, dan bersih menurut syariat pula. Atas dasar pemancaran al-ma>’ hendak dijelaskan lebih lanjut, yaitu proses penjadian dalam rahim.
Asal manusia menurut firman Allah berikut berasal dari nuthfah:

Artinya
Dia telah menciptakan manusia dari air mani (sperma), tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata (Q.S. an-Nahl/16 : 4).

Pengertian nuthfah adalah air mani (sperma) yang keluar dari laki-laki. Pengertian ini dipertegas oleh ayat berikut:

Artinya
Bukankah dia dahulu setetes air mani yang ditumpahkan ke dalam rahim (Q.S. al-Qiyamah/75: 37)

Segera dijelaskan di sini bahwa penumpahan sperma laki-laki ke dalam rahim sudah barang tentu menurut ajaran Islam adalah melalui prosedur pernikahan antara laki-laki dan perempuan. Ayat berikut menjelaskan tentang penumpahan sperma laki-laki ke dalam rahim ibu

Artinya:
Kemudian Kami jadikan nuthfah (air mani) yang disimpan dalam tempat yang kokoh (rahim – Q.S. al-Mukminun/23 : 13).

Sprema (air mani) atau nuthfah merupakan campuran dari unsur-unsur. Allah berfirman:

Artinya:
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, yang kami hendak mengujinya ( dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat (Q.S. al-Insan/76 : 2).

Unsur-unsur yang membentuk sperma (nuthfatin amsyaj) menurut penemuan ilmu kesehatan modern adalah sebagai berikut:
a.    Testis, adalah batang penis mengeluarkan kelenjar kelamin yang mengandung spermatozoa, yaitu sel panjang berekor dan berenang dalam cairan serolite.
b.    Kantong-kantong benih tempat menyimpan spermatozoa, tempatnya dekat postrat. Sifat cairan dalam kantong ini tidak membuahi.
c.    Postrat mengeluarkan cairan yang bersifat krim dan berbau khusus
d.    Kelenjar yang tertempel pada jalan air kencing, yaitu kelenjar cooper dan kelenjar lettre yang melekat dan mengeluarkan lendir.
Perlu ditambahkan di sini bahwa istilah ‘penemuan sain moderen’ hanya bersifat konseptualisasi data empirik, yaitu ada gejala atas dasar pengamatan indra kemudian memberikan nama (justifikasi) gejala tersebut.
2.    Unsur bahan wanita
Secara teknis bahan  wanita disebut telur. Telur yang terbuahi dalam trompe lalu bersarang di rongga rahim (cavum uteri), tentu melalui proses hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan dan terikat dalam pernikahan yang syah menurut syariat Islam. Dalam hal ini Allah berfirman:

Artinya:
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah(Q.S. al-Hajj/22 : 5).

Telur dalam rahim memanjang dan menghisap pada dinding rahim sehingga lama kelamaan membesar; dan semakin kokoh. Dalam hal ini Allah berfirman.

Artinya
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah ( Q.S. al-‘Alaq/96 : 2).

Arti ‘alaq sebenarnya bukan segumpal darah, melainkan ‘sesuatu yang menempel’. Dalam ayat ke lima dari surat al-Hajj ayat lima di atas juga dijelaskan tahapan-tahapan evolusi tentang sesuatu yang melekat, mulai dari setetes air mani hingga menjadi muthghah (segumpal daging yang belum sempurna (ghairu mukhallaqah), selanjutnya daging yang sempurna (mukhallaqah), dalam arti lebih keras dan lebih jelas bentuknya menuju kepada bentuk janin yang sebenarnya.
3.    Proses Penjadian Dalam Rahim.
Melalui kegiatan sifat telur yang telah terbuahi dan menempel dalam rongga lalu menghisap sesuatu yang menyebabkan membesar dan membentuk jaringan fungsional dan komplek, dalam hal ini Allah berfirman:

Artinya
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari sesuatu saripati (berasal) dari tanah.Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani(yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, kemudian segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang, kemudian Kami jadikan dia makhluk (yang berbentuk) lain. Maka maha Sucilah Allah, pencipta yang paling baik (Q.S. al-Mu’minun/23 : 12-14).
Urutan lompatan kejadian manusia dalam rahim pasca sperma adalah ‘alaqah, muthghah (ilmu kedoketaran umum menamakannya mudigah – begitu sulitnya lisan mereka melafalkan muthghah), muncul tulang dalam muthghah dan tulang itu terbalut atau ada dalam jaringan muthghah, selanjutnya menjadi sesuatu bentuk yang sama sekali baru, yaitu seorang janin di dalam rahim dengan jalan ansya a (tumbuh secara perlahan seperti tumbuhnya biji menjadi pohon, dahan, dan ranting. Pohon, jika dibanding dengan biji merupakan bentuk yang sama sekali baru dan berbeda).   Pohon tidak lagi seperti daun, ranting, akar, batang, bunga, dan buah. Kumpulan itu semua disebut pohon. Nah, janin merupakan kumpulan dari berbagai organ yang berhimpun di dalamnya.
Dalam berproses ini Allah memberikan ruh di dalamnya, kemudian juga melengkapi pendengaran, penglihatan, dan hati sanubari (sebagai  potensi untuk meyakini atau tidak meyakini sesuatu). Demikian Allah berfirman:
Artinya
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuhnya) ruh (ciptaan)-Nya, dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, tetapi kamu sedikit sekali bersyukur ( Q.S. as-Sajdah/32 : 9).

Dari ayat di atas dapat dipetik pengertian bahwa proses janin dalam rahim telah lengkap, ada pendengaran, penglihatan, dan penglihatan batin. Di samping itu Allah menjelaskan dalam sosok manusia yang telah lengkap disertai jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Dalam hal ini Allah berfirman:

Artinya
Dan bahwasanya Dia lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan. dari air mani, apabila dipancarkan ( Q.S. an-Najm/53 : 45-46).

Kedua ayat yang terakhir ini memberikan pemahaman bahwa proses penciptaan janin dari aspek fisik telah sempurna. Allah juga melengkapi dengan memberikan ruh padanya. Allah berfirmaqn demikian:

Artinya
Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepada-Nya dengan bersujud ( Q.S. al-Hijr/15 : 29).

Dengan penjelasan ayat ini proses akhir keterciptaan sosok manusia benar-benar telah final, mencakup aspek jiwa dan raga. Dalam waktu tertentu, kemudian sosok manusia dalam rahim itu keluar (lahir) ke alam dunia menjadi seorang bayi. Dalam hal ini Allah berfirman:

Artinya
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran dan penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur (Q.S. an-Nahl/16 : 78).

Seorang janin secara fisik maupun spiritual telah terjadi secara sempurna, tinggal kapan ia keluar kea lam dunia ini (dalam bahasa Jawa disebut ngalam ndonya alam padhang atau dalam bahasa Indonesia alam mayapada adalah alam yang dapat kita saksikan secara empiric ini. Tetapi sebelum dikeluarkan kea lam dunia, ia diberi takdir terlebih dahulu.

C.  Ketetapan Tentatif Bagi Janin Dalam Kehidupan Selanjutnya
Yang dimaksud dengan ‘ketentuan tentatif janin dalam kehidupan selanjutnya’ adalah bahwa menurut sabda Nabi saw. bayi ketika usia kehamilan seorang ibu, atau proses pembentukan janin dalam rahim ketika usia 120 hari ditetapkan ketentuannya oleh Allah dan dituliskan oleh malaikat tentang empat perkara, yaitu: rezeki, kematian, kesusahan, dan kebahagiaannya. Demikian sabda Nabi yang menjelaskan pengertian ini :
إن الله عز وجل وكل بالرحم  ملكا يقول  يا رب نطفة  يا رب علقة  يا رب مطغة   فإذا اراد  ان يقضي خلقه  اذكر ام ا نثى سقي  ام سعيد  فما الرزق والاجل فيكتب فى بطن امه( رواه البخارى عن انس بن مالك)
Artinya
Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memerintah Malaikat menjaga rahim, maka ia bertanya: Ya Rabbi ! masih berupa nuthfah (air mani), ya Rabbi ! sudah berupa ‘alaqah (darah beku), ya Rabbi ! sudah berupa mudghah (segumpal daging), maka apabila akan dijadikan, ditanyakan laki-laki atau wanita, nasib baik atau jelek, apakah rizkinya, ajalnya. Maka ditulis semuanya ketika berada dalam perut ibunya (H.R. al-Bukhari dari Anas bin Malik, dalam Ahmad Fuad,[t.th.]: l006).

Sebenarnya takdir Allah dalam rahim tentang empat perkara ini bukan harga
mati tanpa peluang untuk berubah. Bagaimana pun takdir ini misteri tidak dapat dimengerti oleh janin itu sendiri setelah ia hidup di luar rahim ibu atau menjadi sosok manusia. Secara realistik, kita tidak mengerti apa yang terjadi nanti, besok, lusa, l0 hari lagi, l00 hari mendatang, atau singkatnya masa depan adalah gelap. Yang tampak di dalam angan-angan kita adalah kemungkinan-kemungkinan. Sesuatu yang mungkin bukanah kenyataan kecuali kemunmgkinan. Hanya saja kemungkinan masa depan itu supaya menjadi kenyataan yang terang, nyaman, dan membahagiakan hendaklah manusia berjuang merajut dan mengusahakan untuk kehidupan di masa depan. Dalam hal ini Allah berfirman:

Artinya
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan  suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya. Dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia ( Q.S. ar-Ra’d/13 : 11).

Ayat ini memberi pesan bahwa ada peluang untuk berubah bagi takdir seseorang setelah ia berniat dan mengusahakan mengubahnya agar masa depan lebih baik. Secara eksplisit Allah menjelaskan memang ada peluang takdir masa lalu bagi yang Allah kehendaki, umpama dalam rahim ditulis ketetapan ‘seseorang senantiasa miskin dan susah hidupnya di dunia ini’, kemudian karena usahanya demikian gigih untuk menyongsong masa depan yang lebih bagus bagus, Allah lalu mengubahnya menjadi orang yang berkecukupan dan bahagia secara ekonomi maupun aspek klehidupan yang lain. Demikian firman Allah yang menyatakan kemungkinan perubahan takdir dimaksud:

Artinya
Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan ( apa yang Dia kehendaki) dan di sisi-Nya lah terdapat Ummul kitab ( Q.S. ar-Ra’d/13 : 39).

Ayat ini dengan demikian mengandung ajaran agar dalam menjalani hidup di dunia ini dengan cara bekerja keras, profesional, dan berkelanjutan, sekaligus tidak boleh berpangku tangan, malas, laksana Pak Ogah dalam film seri ‘Unyil’ Tipologi manusia ‘Pak Ogah’ adalah manusia sampah tak berguna yang lebih rendah derajatnya daripada binatang ternak. Demikian Allah berfirman:

Artinya
Atau kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami, mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak ini. Q.S. al-Furqan/25 : 44).

Dengan demikian secara syar’i dalam Islam tidak membenarkan umat manusia ini bodoh, malas, berderajat rendah, dan melankolis (memelas).” Islam mencitakan: ‘al-Islamu ya’lu wala yu’la ‘alaih’ (Islam itu tinggi dan tidak boleh ada yang melebihi tingginya).
Dalam kaitannya perubahan takdir atau nasib masa depan supaya lebih baik dari sekarang, Abdullah Ibnu Umar berdoa yang doanya itu kemudian direkomendasi oleh Rasulullah. Doanya adalah demikian:
اللهم إن كنت كتبنى سقيا فامحونى واكتبتى سعيدا
Artinya: Ya Alah, jika Engkau menetapkan kepadaku dengan ketetapan susah, maka hapuskan untukku dan tetapkan aku dengan ketetapan bahagia (Fatchurrahman, 1979:31).
Doa itu dilakukan oleh Abdullah bin Umar setelah beliau mendengar sabda Rasulullah demikian:

إن الدعاء والبلاء بين السماء والارض يقتتلان ويدفع الدعاء البلاء قبل ان
ينزل (رواه الترمذى)
Artinya: Sesungguhnya doa dan bencana itu berada diantara bumi dan langit. Keduanya saling berperang. Doa akan menolak bencana sebelum turun ke bumi.
Hadis ini mengandung pengertian bahwa jika berdoa yang baik-baik seperti selamat, beruntung, bahagia, bencana yang telah terencana dari langit tidak jadi mengenai orang-orang yang berdoa tersebut. Tentunya, doa dimaksud disertai dengan usaha keras, gigih, sistematis, dan ulet. Usaha keras tersebut haikatnya adalah doa karena di balik usaha keras adalah harapan. Harapan secara syar’i  identik dengan doa.
Selanjutnya Rasulullah menjelaskan bahwa sedekah dan sillaturrahin itu bisa merubah ketentuan sial menjadi ketentuan beruntung. Demikian Beliau bersabda:
إن الصدقة وصلة الرحم تدفع ميتة السوء وتقلبه السعادة
Artinya: Bahwa sedekah dan sillaturrahmi itu dapat menolak kejelekan-kejelekan dan membalikkannya menjadi kebahagiaan (Fatchurrahman, 1979:32-33).
Cara berpikir demikianlah yang dimaksud bahwa ketetapan dalam rahim bagi seorang calon manusia merupakan ketetapan tentatif, yaitu ketetapan yang bukan final dari Allah, melainkan merupakan ketetapan yang memberikan peluang perubahan ketetapan. Perubahan itu diberikan kepada manusia untuk merubahnya sendiri, Allah hanya memberikan petunjuk, memberi kemudahan, merekomendasi, selanjutnya menetapkan dengan ketetapan yang baru sesuai dengan kehendak manusia itu sendiri.
Dari proses panjang kejadian manusia ini dapat diikhtisarkan kembali sebagai berikut:
1.    shalshal (tanah kering/tembikar) bersifat kering, padat, keras.
2.    turab (tanah, debu) bersifat kering, terurai, lunak.
3.    thin (tanah lumpur) bersifat basah, terdiri dari dua unsur: tanah dan air dan kandungan air masih minor.
4.    ath-thin al-lazib (tanah liat) bersifat perpaduan unsur tanah, air, unsur lekat sehingga bisa menempel pada sesuatu, unsur cair agak dominan.
5.    al-H}ama’ (tanah liat yag menghitam dan akhirnya hitam ), unsur air cukup dominan.
6.    Unsur tanah dianulir dalam proses selanjutnya
7.    al-Ma>’ (zat cair), seluruh makhluk hidup berasal dari zat cair, unsur tanah telah hilang.
8.    al-Ma>’  (zat cair), makhluk dabbah (merayap/bergerak dengan perut, kaki 2 atau lebih ) berasal dari zat cair.
9.    al-Ma>’ (zat cair), yaitu dabbah berkaki 2 dan berjalan secara tegak berasal dari zat cair.
10.    Main mahin (saripati air yang hina) yang keluar dari tempat keluarnya air kencing, yaitu kelamin dua kali. Pertama dari bapak, dan kedua dari Ibu.
11.    Ma>in dafiq (saripati air yang terpancarkan baik dari laki-laki maupun perempuan).
12.    nuthfah (sperma/air mani dari laki-laki).
13.    nuthfah fi qara>rim maki>n (air mani yang tersimpan dalam rahim ibu).
14.    nuthfatun amsajj (air mani yang membentuk embrio, tahap zygota.
15.    al-‘alaq (sesuatu yang melekat) berbentuk panjang, karakternya menghisap, dan lama-lama membesar.
16.    muthghah (segumpal daging)
17.    i‘dham (tulang)
18.    i’dham kusia bi al-lahm (tulang dibalut dengan daging)
19.    Peniupan ruh  pada janin (tahap l8 di atas)
20.    Penentuan takdir 5 perkara: Mati, hidup, rezeki, bahagia, dan kesusahan.
21.    Dilengkapi dengan pendengaran, penglihatan, dan hati sanubari
22.    Dilengkapi dengan jenis kelamin laki-laki atau perempuan.
23.    Terjadilah spisies manusia yang sempurna dan lahir ke dunia.
D.  Merawat janin dan Ibu Hamil
Islam, dalam hal ini Alquran maupun as-sunnah ash-shahihah tidak menjelaskan secara detail tentang perawatan ibu hamil maupun janin dalam kandungan. Aturan bagi keduanya berlaku secara umum, antara lain makan dan minum yang h}alalan thayyiban  (Q.S. al-Baqarah/2 : 168 – halal, baik, bersih, dan sehat), tidak boleh berlebihan (Q.S. al-A’raf/7 : 31), baik dalam arti terlalu kenyang atau over dosis kandungan gizi yang dikonsumsi supaya tidak terlalu gemuk bagi ibu maupun janin dalam kandungan sehingga menyulitkan proses kelahiran. Badan diusahakan selalu bersih (Q.S. al-Baqarah/2 : 222, at-Taubah/9 : 32), baik dengan mencuci muka, mandi, atau yang lain, termasuk menyikat gigi secara teratur; berpakaian yang bersih dan pantas, dan tetap menutup aurat (Q.S. al-A’raf/7 : 32); di siang hari supaya tidur sebagaimana anjuran Rasulullah yaitu qailulah (tidur secukupnya/sebentar); dilarang memakan yang haram, demikian juga minuman keras. Dalam hal ini Rasulullah bersabda: “Kullu muskirin khamrun wakullu muskirin haramun” (semua yang memabukkan itu adalah khamr dan semua yang memabukkan itu haram (H.R. Muslim, II,[t.th.] : 200).
Keseluran norma Islam tentang perangai hidup, makan, minum, istirahat siang secukupnya yang berlaku secara umum, inklusif bagi ibu hamil terbuktikan benar sepenuhnya menurut teori dan praktik secara ilmiah dalam ‘Ilmu Keperawatan (Hamilton, l989 : 14,83,84).
Sikap bapak/suami terhadap ibu hamil berlaku sebagimana biasanya, yaitu suami senantiasa ber-mu’asyarah (pergaulan sehari-hari) secara baik (ma’ruf). Istri yang hamil tetap hormat dan taat kepada suaminya; suami tetap sayang pada istrinya. Keduanya tetap dalam keadaan di luar hamil, dalam arti saling mencintai dan menyayangi. Dalam hal ini Allah berfirman:
Artinya
Dan dantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang, sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir (Q.S. ar-Rum/30/21).
Ajaran Islam ini ternyata terbuktikan benar secara ilmiah, yaitu menurut ‘Ilmu Keperawatan’, bahwa di usia kehamilan, istri maupun suami perlu dirawat juga (Hamilton,l989 : 69). Salah satu perawatan terhadap suami, kehidupan seks supaya tetap normal-normal saja (hamilton, l989 : 83) sehingga suami tidak mempunyai lamunan-lamunan untuk selingkuh. Hanya caranya saja yang perlu disesuaikan dengan keadaan hamil sehingga istri tidak merasa terobjektifasi atau tereksploitasi, melainkan kedua belah pihak merasa saling membutuhkan dan kesehatan janin dalam rahim tetap terpelihara.
Di saat istri  hamil, justru dianjurkan banyak melakukan sujud dan ruku’, sudah barang tentu dilandasi dengan doa dan ibadah. Dalam hal ini Alah berfirman:
Artinya
Hai, Maryam taatilah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku’lah bersama dengan orang-orang yang ruku’ (Q.S. Ali Imran/3 ; 43).

Anjuran ruku’ dan sujut ini ternyata juga terbuktikan benar secara ilmiah menurut disiplin ‘Ilmu Keperawatan’, yaitu supaya berolah raga menurut porsi orang hamil, yaitu senam hamil (Hamilton, l989 : 84), yang salah satu teknis peragaannya seperti gerakan ruku’ maupun sujud, bahkan dua posisi ini cukup dominan dalam praktik senam hamil.
Secara medis mengharuskan kultur masyarakat juga ikut merawat kesehatan bagi keluarga yang istri/ibu sedang menjalani kehamilan. Karena itu bancaan dalam bahasa Jawa adalah salah satu bentuk sedekah untuk menolak bala’ (malapetaka) atau fitnah sosial dapat dilaksanakan sepanjang tidak sampai pada praktik khurafat dan syirik. Tetangga yang diberi sedekahan tentu berterimakasih. Salah satu wujud terimakasih mereka adalah mendoakan supaya ibu dan anaknya senantiasa selamat. Keluarga itu dikaruniai kesehatan, keselamatan, dan kemurahan rezeki oleh Allah. Doa orang banyak tentu lebih ijabah dibanding doa hanya sendirian. Logikanya semakin banyak orang mendoakan kepadanya berpeluang semakin terkabulnya sebuah doa. Dalam hadis-hadis Nabi disebutkan kalau seseorang yang sudah meninggal disalati oleh 100 orang ia akan terampuni, artinya sangat maqbul doa itu. Untuk itu cara doa kepada orang yang sudah meninggal itu bisa diterapkan untuk doa orang yang lagi hamil. Agar ibu hamil didoakan oleh orang lebih banyak, sebut saja lebih dari 100 orang, maka ia harus lebih banyak dalam bersedekah.inilah yang dimaksud bahwa masyarakat harus juga dirawat.
E.  Merawat Persalinan
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar dalam persalinan ibu tidak terlalu berkesulitan.
1.    Ketengan/Keamanan
Prioritas utama perawatan saat persalinan adalah kebersihan dan keamanan (Hmilton, 2003 : 16). Jauh sebelum itu, Islam menjelaskan bahwa dalam semua amal perbuatan termasuk wanita yang hendak melahirkan supaya diciptakan kondisi bersih dan aman, baik keamanan fisik maupun jiwa, tidak boleh cemas, takut, gugup, apalagi putus asa dari rahmat Allah. Mengenai hal ini Allah berfirman:
Artinya
. . .Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum kafir ( Q.S. Yusuf/12 : 87).

Mengenai tidak boleh gugup, cemas, takut, dan berkecil hati, Rasulullah menuntun doa kepada kita supaya baik yang bersalin maupun yang merawat (tim yang menangani persalinan: dokter, bidan, perawat, analisator kesehatan, farmakolog, maupun unsur lain) menjadi sabar, tabah, tawakkal, yang akhirnya justru membangkitkan semangat atas izin Allah. Demikian doanya:
اللهم إنى اعوذبك  من العجز  والكسل  والجبن  والهرم  واعوذبك من عذاب  القبر واعوذبك من فتنة  المحيا والممات  (رواه  البخارى  عن  انس بن مالك)
Artinya
Ya Tuhan kami, aku mohon perlindungan-Mu dari kelemahan dan malas, penakut, dan sangat tua. Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah hidup dan mati (H.R. al-Bukhari dari Anas bin Malik. Dalam ‘Abd al-Baqi,II [t.th.]: 1028).

Pada saat proses pesalinan berlangsung, hendaklah perawat atau tenaga medis lainnya (dokter, dukun bayi, bidan atau yang lain) menuntun doa sabar dan optimisme kepada ibu sebagai berikut:
حسبنا الله ونعم الوكيل على الله توكلت (رواه الترمذى)
Artinya
Ya Allah Dzat yang mencukupi dan sebaik-baik melindungi aku. Hanya kepada Engkaulah ya Allah aku berserah diri (H.R. at-Turmuzi).

Jika persalinan selesai dilaksakan, sambil merawat sebagaimana mestinya menurut ilmu medis, jika anak yang dilahirkan cacat, supaya dituntun doa:
قدر الله وما شاء فعل (رواه مسلم)
Artinya
Allah telah menakdirkan apa yang dikehndaki-Nya, maka berlakulah (H.R. Muslim).

Jika bayi yang dilahirkan meninggal tuntunan doa untuk yang melahirkan adalah:
إنا لله وإنا  إليه راجعون اجرنى فى مصبتى واخلفلى خيرا منها (رواه مسلم)
Artinya:
Sesungguhnya kami ini kepunyaan Allah dan kepada-Nya kami kembali. Ya Allah berilah pahala dari musibah yang aku hadapi dan berilah pengganti dengan  yang lebih baik ( H.R. Muslim).

Jika yang dilahirkan selamat, tuntunan doa bagi siibu oleh para tenaga medis, termasuk yang merawatnya adalah :
اعوذ بكلمات الله ا لتمة من كل شيطان وهامة من كل  عين لامة  (رواه البخاري)
Artinya
Dengan kalimat-Mu yang sempurna hamba mohon perlindungan dari semua syaitan dan binatang yang berbisa dan juga pandangan mata yang jahat (H.R. Muslim).

Aneka macam doa ini menandakan bahwa dalam semua keadaan baik yang sedang mengalami persalinan maupun yang menanganinya dituntut senantiasa memiliki kesadaran transendensi ilahiyah. Inilah yang membedakan antara tenaga profesional medika yang sekuler dengan yang Islami. Kita sebagai seorang muslim dalam menjalani profesi medika, termasuk keperawatan harus berpola islami dan jauh dari sikap sekularistik, sehingga aktifitas profesionalnya bernilai ibadah.
2.    Menjaga Kebersihan
Islam tidak mentoleransi sedikitpun keadaan jorok dan kotor. Di tempat yang secara umum dianggap kotor pun seperti kakus (wc) Rasulullah menekankan supaya tetap bersih. Begitu sungguh-sunggunya  beliau dalam menekankan kebersihan di tempat yang biasa kotor ini menjadi tuntunan doa bagi kaum muslimin supaya tetap bersih kakusnya. Kakusnya saja supaya tetap bersih, apalagi tempat-tempat lain di luar kakus
اللهم إنى اعوذبك من الخبس وا لخبائس (رواه الترمذى)
Artinya: Ya Allah aku mohon perlindungan kepada-Mu dari berbagai macam kotoran / syaitan laki-laki atau syaitan perempuan.(syaitan ini adalah syaitan kotoran. H.R. at-Turmuzi).
Perlu ditegaskan di sini bahwa makna asal ‘khubsun’ adalah kotor. Kemudian secara praktis dimaknai syetan jantan dan kata ‘khabaits’ dimaknai syetan betina, yang semestinya bermakna berbagai macam kotoran. Pengertian kata ‘khubsun’ dan kata ‘khabaits’ dengan makna syetan betina diwarisi secara salah kaprah dari generasi ke generasi.
Menurut Rasulullah, dan ini telah menjadi pandangan hidup setiap muslim, bahwa bersih itu adalah bagian dari iman (an-nadhafatu min al-iman). Implikasi hadis ini dalam kontek merawat pesalinan baik yang sedang bersalin maupun yang tim yang menanganinya bukan semata-mata mencari rezeki atas dasar profesionalitas, melainkan pelaksanaan iman dalam diri  untuk membantu keselamatan, kebersihan, keamanan, dan kesehatan ibu bersalin maupun bayi yang baru lahir.
3.    Merawat Bayi
a.    Azan dan Iqamah
Setelah bayi dibersihkan dari kotoran yang melekat dalam tubuhnya dan diberi berpakaian, perawat segera menganjurkan kepada orang tua si bayi, utamanya bapaknya,  melakukan azan pada telinga bagian kanan dan iqamah pada telinga kiri dengan suara yang halus. Dalam hal ini Rasulullah bersabda:
من ولد له مولود فاذن فى اذنه اليمنى واقام فى اذنه ا ليسرى لم تضره ام الصبيان (رواه احمد والترمذى عن الحسين بن على)
Artinya
Barang siapa melahirkan anak, (dan) anak yang dilahirkan itu  diazani pada telinga kanan dan iqamah pada telinga kiri, maka tidak ada yang membahayakan kepada si ibu anak (H.R. Ahmad dan at-Turmuzi dari Husain bin Ali).

Sangat mungkin bapak si bayi tidak mengetahui syariat azan dan iqamah untuk bayi yang baru dilahirkan ini, atau mengetahuinya tetapi karena begitu bergemnbiranya sehingga ia lupa terhadap kewajiban melakukan azan dan iqamah bagi anaknya, atau kecewa karena anak yang baru lahir ini tidak sesuai dengan harapannya misalnya mengharapkan anak laki-laki tetapi lahir perempuan atau sebaliknya. Maka, kewajiban bagi tenaga medis, termasuk perawat, melakukan azan dan iqamah tersebut karena selain sebagai perawat dia adalah juga seorang muslim yang berkewajiban berdakwah. Bentuk dakwah satu-satunya yang paling monumental dalam keadaan ini adalah melakukan azan dan iqamah untuk si bayi.
Essensi azan dan iqamah bagi si bayi yang baru dilahirkan adalah memperkenalkan kalimat pertama yang ia dengar di dunianya yang baru adalah kalimah tauhid dan ajakan berbuat kebajikan. Harapan selanjutnya adalah ketika nanti dewasa menjadi muslim yang taat beragama dan menjauhi perbuatan-perbuatan buruk.
Implikasi dari ajaran azan dan iqamah bagi bayi yang baru saja dilahirkan tidak boleh diperdengarkan selain kalimat-kalimat dalam dua formula itu. Memperdengarkan suara music ndangdut, klenengan, degung, atau music-musik merdu ukuran local-lokal tertentu harus disebutnya sebagai perbuatan keji sebagai penistaan terhadap bayi, lebih nista lagi terkutuk kalau syair dalam musik itu berbau porno.
b.    Memberi Hanak  dan Berdoa
Setelah selesai melakukan azan dan iqamah supaya bibir si bayi diolesi – sedikit saja – madu murni atau kurma, berkualitas bagus dan steril dari zat-zat perusak: bakteri, kuman, parasut, pewarna, pengawet, dan ajino moto, atau zat berbahaya lainnya. Hal ini didasarkan pada hadis Nabi sebagai berikut:
عن ابى  موسى  الاشعرى  رضىى لله عنه  قال ولد لى غلام  فاتيت به  النبي صلى الله عليه وسلم فسماه ابراهيم وحنكه بتمرة ودعا له بالبركة (رواه البخارى)
Artinya
Dari Abu Musa al-Asy’ari, mudah-mudahan Allah meridainya, berkata: Aku punya anak (yang baru lahir), kemudian aku sowankan kepada Nabi saw., maka beliau memberi nama kepadanya ‘Ibrahim’, kemudian meng-hanaqi-nya, dan berdoa barakah untuknya (H.R. al-Bukhari).

Setelah di hanak supaya si bayi didoakan dengan doa barakah, minimal demikian; “Allahumma barik laka”( Ya Allah, berkahilah engkau (anak).
c.    Pemberian Nama
Perawat bisa memberikan penyuluhan tentang pemberian nama terhadap bayi kepada orang tuanya jika memungkinkan. Rasulullah menganjurkan tentang pemberian nama sebagai berikut:
إنكم تدعون يوم القيامة باسماء ابيكم واسماء ابائكم فاحسنوا اسمائكم (رواه الترمذى عن ابى درداء)
Artinya
Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil besok pada hari kiayamat dengan nama bapakmu dari nama bapakmu, maka perbaikilah namamu (H.R. at-Turmu`i dari Abi Darda’
Nama-nama baik bagi anak laki-laki berdasarkan urutan kebaikan menurut sabda-sabda Rasulullah adalah sebagai berikut: (1) Abdullah, (2) Abdurrahman, (3) Abdurrahim, (4) Muhammad, (5) Ahmad, (6) Nama-nama  Nabi dan Rasul, (7) Nama-nama Malaikat, dan (8) nama-nama lokal (‘ajam) yang memiliki kandungan makna yang baik, umpama nama lokal Jawa ‘Suharto’. ‘Su’ berarti baik, dan ‘Harto’ berarti harta kekayaan. Harta kekayaan yang baik mengandung makna: (1) niat dalam mencari harta baik, (2) cara yang ditempuh dalam memperolehnya baik, (3) sesuatu yang diperolehnya berkualitas baik, (4) di dalam membelanjakannya juga baik, (5) berakibat baik dalam pemakain harta sehingga terthindar dari bala’, inilah yang dinamakan rizqun h}ala>lan thayyiban.
Kombinasi nama Arab dan lokal juga baik asal mengandung arti atau harapan baik, umpama ‘Muhammad Bronto Utomo’.’Muhammad’ berarti ‘orang yang terpuji’, ‘Bronto’ berarti ‘hasrat yang amat kuat’, dan ‘Utomo’ berarti ‘keutamaan’. Jadi ‘Muhammad Bronto Utomo’ berarti ‘ ia memiliki hasrat yang amat kuat untuk berbuat sesuatu yang utama sehingga menjadi orang yang terpuji’.
Khusus bagi wanita, prioritas utama nama-nama baik adalah nama-nama keluarga Rasulullah umpama Fathimah, Khafshah, Zainab, dan ‘Aisyah; selanjutnya nama-nama sesuai urutan nama-nama yang ada pada laki-laki, umpama Mahmud (laki-laki-muzakkar) menjadi mahmudah. Adam (muzakkar) menjadi Adamah (perempuan-muannats). Abdul Karim (laki-laki) menjadi Abul Karimah (perempuan) dan seterusnya. Selanjutnya nama-nama lokal yang memiliki kandungan makna yang baik, umpama dalam tradisi Jawa ‘Suprapti’. ‘Su’ berarti ‘baik’, dan Prapti’ berarti ‘datang’. Jadi ‘Suprapti berarti “setiap datang di manapun ia selalu membawa berita baik, mengakibatkan baik pada diri maupun yang didatangi, atau ia selalu diliputi dengan kebaikan. Kombinasi nama Arab dan lokal juga baik asal tetap mengandung makna baik
Dalam pemberian nama yang bersifat netral, umpama nama bulan seperti Aprilia karena anak lahir pada bulan April, nama hari seperti Kliwon, nama berkenaan dengan peristiwa yang dianggap monumental umpama ‘Ngili bersih’, yaitu anak lahir pada saat orang tua mengungsi segera setelah anak dibersihkan  karena peristiwa perang, kurang dianjurkan karena tidak memiliki kandungan makna yang baik.
Selain yang disebut di atas termasuk kategori nama jelek. Islam tidak menganut falsafah “Apalah arti sebuah nama” sebagaimana yang dianut oleh orang-orang Barat, sehingga buat mereka tidak ada masalah memberi nama manusia sama dengan memberi nama pada binatang. Memberi nama pada binatang piaraannya, umpama monyet, tikus putih, kucing, anjing dengan nama Jibril jelas jelek sekali dan menodai perasaan agama umat Islam. Sementara itu, nama ‘margaret’ untuk manusia maupun anjing piaraan tidak bermasalah bagi orang-orang Barat.
Nama-nama yang paling jelek menurut Islam adalah nama-nama yang kandungan artinya menandingi nama-nama Allah atau kekuasan-Nya, umpama memberi nama anaknya: ar-Rahman, ar-Rahim, al-Malik al-Amlak Temasuk nama-nama yang amat jelek, bahkan simbol kemusyrikan adalah nama-nama penghambaan kepada selain Allah, umpama Abdul Isa, Abdul Manaf, dan Abdul Qulub. Nama-nama binatang untuk nama manusia termasuk nama yang tidak baik, umpama ‘Domba Utama’, ‘Lembu Perkasa’, dan ‘Singo Sakti’.Nama-nama yang mengandung arti porno juga tidak baik, umpama ‘Parjan’, artinya secara praktis adalah lubang dan yang dimaksud adalah kelamin wanita. Memberi nama anak laki-laki dengan nama perempuan atau sebaliknya juga termasuk nama-nama yang tidak baik karena akan mempengaruhi kejiwaan anak di kemudian harinya. Menamai anak dengan perabot rumah tangga seperti siwur (cibuk untuk mandi), kran, cowek (medan untuk menyambal), kuwali (periuk) jelas merupakan nama yang sangat jelek, mengingat manusia adalah makhluk yang di mulyakan oleh Allah. Demikian firmannya
Artinya:
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lauta, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan (QS. Al-Isra’/17 : 70).

Untuk itulah kita tidak boleh menyamakan derajat manusia dengan alat-alat yang dipakai oleh manusia.
d.    Memintakan Doa Barakah Kepada Ulama
Akan memiliki keutamaan jika perawat menyarankan kepada kedua orang tua anaknya supaya membawa anaknya bersilaturrahmi kepada ulama, kiyai yang ikhlas untuk meminta doa mereka bagi kebaikan anaknya. Pada zaman Nabi saw. cara ini telah membudaya. Abu Musa mempunyai anak disowankan kepada Rasulullah, kemudian beliau mendoakan kepada anaknya dengan doa barokah.
e.    Menyusui Selama Dua Tahun
Terutama kepada ibu muda dan baru melahirkan yang pertama, perawat atau tenaga medis lainnya yang menanganinya supaya menganjurkan kepadanya untuk menyusui bayinya selama dua tahun penuh. Dalam hal ini Allah berfirman.

Artinya:
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (Q.S. al-Baqarah/2 : 233).

Menyusui dua tahun penuh bagi ibu terhadap anaknya memiliki manfaat cukup banyak. (1) Kesibukan Ibu tidak terkuras habis atau terforsir jika dibandingkan dengan ibu yang memiliki anak sundulan (anak masih menyusu ibunya tetapi sudah hamil lagi). (2). Kesehatan anak lebih bagus karena makanan asi lebih tercurah kepadanya dibanding dengan adiknya yang masih dalam kandungan, (3) Kesehatan Ibu juga lebih bagus dibanding ia harus melayani suami, merawat kehamilan, dan merawat anaknya yang masih menyusui, (4) Secara tidak langsung mengikuti program KB (Keluarga Nerencana), dan (5) tentunya secara ekonomis lebih teratur, hemat dibanding terlalu banyak anak-anak sundulan  yang semuanya membutuhkan makan dan berarti lebih boros.
f.    ‘Aqiqah
Termasuk keutamaan jika perawat menganjurkan supaya (1) orang tua anak melakukan ‘aqiqah pada hari ke tujuh dari kelahirannya. Untuk anak perempuan satu ekor kambing, dan untuk anak laki-laki kalau bisa dua ekor kambing, dan jika tidak bisa juga cukup satu ekor kambing saja, (2) mengumumkan secara resmi nama anaknya disertai penjelasan arti nama yang dipilihnya. Biasanya pengumuman resmi ini berlangsung dalam upacara tasmiyyah-an (secara literal berarti memberi nama kepada anak). (3) mencukur rambut si anak pada acara ‘aqiqah. Cara ini adalah ittiba’(mengikuti tradisi) Rasulullah.
Essensi menyembelih hewan untuk ‘aqiqah adalah izhar asy-syukur (menyatakan rasa syukur) kepada Allah karena memperoleh amanah dan anugerah dari-Nya. Ketika menyembelih hewan ‘aqiqah untuk anaknya, doanya harus eksplisit. Seandainya nama anak adalah ‘Lalailatul Badriyah’ (secara literal berarti malam purnama) anak Mahmud dan Rabi’ah,  maka doanya adalah sebagai berikut:
بسم الله اللهم منك واليك عقيقة ليلة البدرية بنت محمود و رابعة  الله اكبر الله اكبر الله ا كبر
Artinya
Dengan nama Allah, ya Tuhan kami, dari-Mu dan kepada-Mu ‘aqiqah Lailatul Badriyyah binti Mahmud dan Rabi’ah ; Allah maha Besar, Allah Maha Besar, Allah maha Besar.

Hendaklah disadari bahwa anak yang lahir itu laksana barang yang digadaikan. Untuk memilikinya secara penuh orang tua harus melakukan ‘aqiqah untuk nya. Dalam hal ini Rasulullah bersabda:
كل غلام رهينة بعقيقته تذبح عنه بوم سابعه ويحلق ويسمى (رواه الترمذى عن سمرة)
Artinya
Setiap anak adalah gadaian (yang tebusannya) dengan ‘aqiqah, yaitu menyembelih untuk nya pada hari ketujuh dan memberi nama kepadanya (H.R. at-Turmuzi dari Samurah).

Jika sejak dini sudah diperhatikan secara seksama mengenai syariat Islam untuk kelahiran anak, memiliki peluang lebih besar  perawatan anak tersebut  hingga dewasa juga didasarkan pada syariat dibanding dengan anak yang diasuh kurang memperhatikan syariat di usia masa ‘aqiqah. Bayi yang tidak diupacarai ‘aqiqah memiliki peluang lebih besar pada usia remaja hingga tuanya menjadi orang yang ‘uquq (durhaka), yaitu ‘uqu>q al-wa>lidain (durhaka kepada kedua orang tua) dibanding dengan anak yang diupacarai ‘aqiqah di usia ‘aqiqah-nya. Sebaliknya, anak yang diupacarai ‘aqiqah memiliki peluang lebih besar untuk menjadi orang yang ‘aqiq (permata hati) bagi kedua orang tuanya dibanding dengan anak yang tidak diupacarai ‘aqiqah.
Diantara bentuk durhaka anak karena tidak di-‘aqiqah-i sebagaimana sabda Rasul adalah anak itu akhirnya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi:
ما من  مولود  إلا  يولد على  الفطرة  فابواه  يهودانه  ا و ينصرانه  او يمجسانه كما تنتج ا لبهيمة  بهيمة جمعاء هل  تحسنون فيها  من جدعاء (متفق عليه)
Artinya
Tiada bayi yang dilahirkan melainkan lahir di atas fitrah, maka kedua orang tuanya yang menjadikannya ia yahudi, Nasrani, atau Majusi sebagai lahirnya binatang yang lengkap sempurna. Apakah bagus binatang yang lahir dengan putus telinganya ? (H.R. Muttfaq ‘alaih).

Maksud hadis ini, jika anak lahir dididik secara benar, maka ibarat  binatang, ia lahir dengan sempurna tanpa cacat. Jika dididik secara tidak benar, maka ibarat binatang, ia lahir dengan cacat, bisa cacat fisik, cacat mental, dan cacat aqidah. Bahkan yang terakhir ini bukan hanya cacat melainkan aqidah batal.
Bentuk-bentuk durhaka lain adalah kafir (atheisme) dan M.5 (dalam bahasa Jawa dikenal mo limo), (l) madad (mabuk-mabukan), (2) minum (minum-minuman keras), (3) madon (suka berzina atau selingkuh), (4) maling (mencuri), (5) main (berjudi). Sudah barang pasti, premanisme termasuk durhaka dan termasuk  kategori M.5 karena perangai mereka adalah M.5 tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an al-Karim
‘Abd al-Baqi, Ahmad Fuad, [t.th.], al-Lu’lu’ wa al-Marjan.II (trans.)Salim Bahreisy. Surabaya: Bina Ilmu
. . . . . . [t.th.], Mu’jam Mufahras li Alfaz al-Qur’an al-Karim. Indonesia: Maktabah Dahlan.
Dougall, Jane Mac. 2003, Kehamilan Minggu Demi Minggu (trans.) Nina Irawati. Jakarta: [t.p.].
Fatchurrahman, l979, al-Haditsun Nabawy, I,  Kudus: Menara Kudus.
Esposito, John L., 2001, Insiklopedi Dunia Islam Modern,III. Jakarta: Mizan.
Hamilton, Persis Mary, 1989, Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas  (trans.) Ni Luh Gede Yasmin Asih. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGL.
Hawari, dadang, 1997, al-Qur’an: Ilmu Kedokterfan Jiwa dan Ilmu KesehatanJiwa. Jakarta: Dana Bhakti Prima Yasa.
Munawwir, Ahmad Warsoon, 1984, Kamus Al-Munawwir: Arab-Indonesia Terlengkap: Yogyakarta: Krapyak Yogyakarta.
Sutomo, Adi Heru (trans.), 1988, Perawatan Ibu dan Bayi: Pedoman Praktis. Jakarta: Buku Kedoktertan EGL.
At-Turmuzi, Abi ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin ash-Shurah, [t.th.], Sunan at-Turmuzi: al-Jami’ ash-Shah}ih, Indonesia: Thaha Putra Semarang
www.suaramedia.com

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *