Persoalan persoalan Filsafat

Persoalan persoalan Filsafat : Suatu persoalan yang tidak terkait dengan persoalan Faktual namun menyangkut masalah2 metafisis, ultimate dan Persoalan Kehidupan di sekitar kita.

File pdf : PERSOALAN-PERSOALAN FILSAFAT

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Manfaat Ciptaan Allah

Manfaat Ciptaan Allah bagi Manusia (Aksiologi Alam Semesta ) sebuah kajian studi Islam yang disampaikan di Rusunawa Universitas Muhammadiyah Semarang pada tanggal 29 Juni 2011.

File pdf : Manfaat Ciptaan Allah bagi Manusia

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Logika Berfikir Dalam Islam

Logika Berfikir Dalam Islam diuraikan dalam deskripsi yg singkat pada mata kuliah Filsafat Ilmu di UNIMUS

File pdf : logika berpikir dalam Islam

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Filsafat Ilmu Tekpang dan Analis Kesehatan

Materi Kuliah Filsafat Ilmu Teknologi Pangan  dan Analis Kesehatan di Universitas Muhammadiyah Semarang

File pdf : Filsafat Ilmu Tekpang dan Analis Kesehatan

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Doa Pasca Haji

Berikut Tuntunan Doa Pasca Menunaikan Ibadah Haji

File Pdf : Doa Pasca Haji Ok

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Makna Lailatul Qadar

Makna Lailatul Qadar : Disampaikan dalam forum Pengajian Ahad Pon MT  Muhammadiyah Kudus  pada 12 Agustus 2012 di Gedung JHK Kudus

File pdf : Makna Lailatul Qodar

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tuntunan Sholat Praktis

Tuntunan Sholat Praktis ini ditujukan kepada muslim yang sudah terbiasa Sholat  dan hafal doa doa dalam sholat :

File pdf : Tuntunan Sholat Praktis

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tentang Tahlil dan Tahlilan

Tentang Tahlil dan Tahlilan akan dikupas lebih Jelas dan Rinci Oleh Dosen Al Islam UNIMUS : Drs. H. Danusiri, M.A,  Silakan klik di bawah ini :

File pdf :  Tentang TAHLIL dan TAHLILAN

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Khotbah Idul Fitri 1433 H

Khotbah Idul Fitri 1433 H di Halaman Sekolah SD Pegandan Menoreh Semarang oleh Drs. H. Danusiri, M. Ag ( Dosen UNIMUS ) Silakan Klik di bawah ini :

File pdf : Khotbah Idul Fitri 1433 H Menjaga Kemurnian Agama

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Apresiasi Tahun Baru

Pendahuluan

            Dalam waktu kurang dari 20 hari di tahun 2010 ini, kita memperingati dua macam tahun baru, yaitu tahun baru Masehi dan tahun baru Hijriah. Sistem kalender masehi dengan mengambil momentum kelahiran Nabi Isa, orang Nasrani menyebutnya Yesus, diciptakan oleh Yulius Caesar. Tahun baru Hijriah dengan mengambil momentum hijrah Nabi Muhammad dan para sahabatnya umat Islam dari Mekah menuju Yasrib yang kemudian diganti nama al-Madinatul al-Munawwarah (kota yang bercahaya) diciptakan oleh Umar bin Khaththab yang Agung (Umar al-Farukh). Dengan demikian kedua orang ini berjasa besar bagi peradaban  karena kedua tahun baru ini telah menjadi milik umat manusia di seluruh dunia.

Semua umat manusia menyongsong dan mengadakan apresiasi tertentu ketika terjadi peristiwa tahun baru Masehi. Demikian pula, umat Islam sedunia juga menyongsong dengan aneka kegiatan ketika terjadi peristiwa tahun baru Hijriah. Namun, bagi orang Jawa, khususnya Jawa Tengah, tidak bisa melupakan jasa Sultan Agung Hanyokrokusumo berkenaan dengan sistem penanggalan Islam Jawa.

Beliau membangun sistem kalender Islam jawa atau populer dikenal tahun Jawa, berbeda dari kalender Aji saka, yaitu  menyatukan kalender Jawa dengan sistem kalender Islam. Tahun baru Jawa yang jatuh pada tanggal satu Syuro disamakan dengan tahun baru Islam atau tahun baru Hijriah yang jatuh pada tanggal satu Muharram, sehingga tanggal satu Syuro sama dengan satu Muharram. Penyatuan sistem kalender Islam Jawa (little tradition) dengan kalender Islam universal (great tradition) berdampak pada percampuran kebudayaan diantara keduanya sehingga  lambat laun memunculkan pola kebudayaan khas Islam Jawa. Upacara Grebeg Besar di Demak, Sekaten di Surakarta maupun di Yogyakarata, Dugderan di Semarang, Dandangan di Kudus adalah contoh-contoh percampuran budaya antara Islam dan Jawa. Aneka upacara khas ini mengambil waktu tertentu secara ajeg dalam kalender Islam, umpama: grebeg demak dilaksanakan pada Idhul Adha, sekatenan pada hari kelahiran Nabi Muhammad yaitu di bulam Mulud atau Rabi’ al-awwal, (dari bahasa Arab maulud atau maulid), dukderan dan dandangan diselenggarakan hari terakhir bulan Sya’ban untuk memasuki bulan Ramadhan, dan halal bi halal diselenggarakan pada awal-awal bulan Syawwal (kalender Jawa disebut sawal atau apit).

Perhelatan Tahun Baru Masehi Satu Januari

Umat manusia pada umumnya, dalam menyambut tahun baru Masehi dengan cara meluapkan kegembiraan sejak dari pesta kembang api berwarna-warni nan indah pada saat tepat pergantian tahun lama ke tahun baru, yaitu pada jam 0,00, pentas dan konser musik, makan-minum hingga – bagi kelompok tertentu – melengkapinya dengan minuman keras sehingga mabuk. Yang terakhir ini mestinya tidak perlu terjadi karena mengganggu kesehatan maupun menghambat kualitas moral, di samping membuat kekacauan sosial.

Para artis-selebritis kondang dari berbagai spesialisasi hiburan sejak dari seni tradisional: wayang kulit, wayang golek, ketoprak, lodrok Jawatimuran, lenong Sunda/Betawi hingga seni yang bersifat populer dan kontemporer: dangdut, pop, jazz, rock, keroncong, hingga campursari, dan lawak sibuk dan kewalahan menerima order untuk manggung dari berbagai penyelenggara hiburan, baik yang bersifat terbuka maupun tertutup. Vila, penginapan, dan hotel baik di tengah-tengah perkotaan maupun di lereng-lereng gunung seperti di Bandungan untuk satelit kota Semarang, Kopeng dan Kaliurang untuk kota Salatiga, Boyolali, Klaten, Magelang, Yogyakarta, dan puncak di Bogor untuk  Jadebotabeg [Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi] jauh hari sebelum datang tahun baru telah penuh menerima  boocking dari pemesan untuk berlibur merayakan tahun baru.

Kegembiraan dalam menyambut tahun baru berlangsung semalam suntuk. Malam ini, dunia dibuat hingar-bingar tanpa tidur. Malam-malam berikutnya, bisa hingga satu atau dua minggu, di berbagai tempat di kota-kota besar   tetap berlangsung berbagai macam perhelatan yang bernuansa tahun baru.Objek-objek wisata: di gunung, di pantai, taman rekreasi, water boom, dunia fantasi, kebun binatang hingga vila dan hotel dibanjiri oleh pengunjung untuk menikmati suasana tahun baru dan liburan dari kerja rotin harian. Perusahaan-perusahaan bonafide membagi bonus dan tunjangan kepada para karyawannya sehingga menambah energi mereka dalam mengapresiasi tahun baru.

Luapan kegembiraan menyambut tahun baru jauh dari suasana introspeksi, muhasabah, dan merenungi makna hidup. Kalaupun ada yang bernuansa religius, porsinya sangat kecil, baik dalam level kesadaran batin maupun ekspresi empiris dari masing-masing orang yang merayakannya. Wujud aspek religius dimaksud adalah doa syukur kepada yang dipertuhan [sapaan kepada-Nya bersifat umum]  karena mereka terdiri atas berbagai penganut agama. Rumusan anjuran bersyukur  adalah “berdoa menurut agama dan kepercayaannya masing-masing”. Setelah itu mereka meminum soft drink  dengan bersulang dan selanjutnya berpesta dalam kemeriahan dan glamour. Suguhan demi suguhan  acara amat berfariasi dan semuanya membuat hanyut dalam suasana sukacita: menyanyi bersama, berjoget, dan bersendaugurau. Tanpa mereka sadari, tahu-tahu pagi pun datang barulah mereka pulang dengan perasaan puas, capek, loyo, ngantuk berat, dan langsung merebah tidur mendengkur pulas.

Introspeksi (Mulat Sariro) Tahun Baru Jawa satu Syuro

            Dalam menyambut tahun baru Jawa,  baik di lingkungan kraton maupun di pedesaan,  yang jatuh pada tanggal satu Syuro bercorak mitis dan magis. Wujud apresiasinya adalah aneka ritual seperti: jamas pusoko (tombak, keris, jimat, tameng, dan benda-benda keramat lainnya), memulai aneka macam laku (poso mutih, ngrowot, apati geni,  mbisu) dengan aneka macam tujuan seperti: kekebalan (kebal dari senjata tajam maupun tumpul, kebal racun, kebal api), bisa menghilang atau tidak dapat dilihat orang dengan mata kepala meskipun yang bersangkutan berada di depan orang tanpa tabir,  dan kemampuan-kemampuan khusus lainnya.

Menyambut tahun baru satu Syuro disebut tirakatan atau populernya melek-melek (tidak tidur malam).  Salah satu menu acaranya adalah Mocopatan (tembang mocopat Jawa klasik) dalam satu kelompok seperti majlis taklim. Sesepuh yang dipandang senior dalam kelompok itu menyanyikan lagu  dengan penuh hikmat dalam suasana magis. Lagu mocopat ada 11 macam, yaitu: mijil, sinom, kinanthi, durmo, gambuh, megatruh, maskumambang, asmorodono, dhandhanggulo, pangkur dan pucung. Pesan-pesan yang ada dalam lirik lagu disampaikan kepada audiens yang secara umum berisi tentang moral (budhi luhur), ocultisme (kekebalan), dan metafisika (sangkan paraning dumadi) yaitu perenungan mencari makna sejati hakikat hidup dari mana dan akan ke mana hidup  sesudah mati. Tujuan   tirakatan adalah mencapai kesejahteraan umum (ayem tentrem), harmoni dengan alam (memayu-ayuning bawono), sentosa (sehat lahir batin) dilandasi sikap pasrah (tawakkal) atau  sumendhe kepada Yang Maha Hidup – biasa disapa dengan Hyang Manon, Hyang Widi, Hyang Akaryo Jagad -  berpuncak pada  menggapai kesempurnaan hidup.

Profil orang yang telah mencapai kesempurnaan hidup terlihat tenang dalam menghadapi segala macam problem kehidupan, tidak ambisius (ngongso), dan ikhlas menerima keadaan seperti apa pun (nrimo ing pandum). Prinsip hidup manusia Jawa adalah selaras, serasi, dan seimbang.

Refitalisasi Tahun Baru Hijriah Satu Muharram

Apresiasi tahun baru hijriyah  jauh dari perhelatan hura-hura, jauh pula dari ritual  mitis-magis karena konsep Islam adalah ummatan wasathan (umat yang tengah-tengah). Secara umum  umat Islam  melakukan perubahan menuju kesempurnaan komrehensif dengan cara berhijrah: dari statis menuju progresif, dari gelimang dosa menuju amalan shaliha, dari chaos (kacau) menuju cosmos (terautur), dari corruption menuju acuntable, dari keberagamaan yang sarat dengan tahayyul, bid’ah, khurafat, dan syirik menuju keberagamaan murni (ad-dinul qayyimah, ad-dinul khalish) atas dasar Alquran dan Sunnah.

Prosedur hijrah dimaksud secara kronologis adalah:

  1. Mencintai Alquran dan Assunnah, yaitu ada rasa dalam hati cinta terhadap keduanya. Ia berwudu terlebih dahulu ketika akan memegang Alquran. sikapnya sangat hormat terhadap Alquran.  tidak rela jika ada orang melecehkan Alquran maupun Assunnah dalam semua bentuk. Dalam hal ini Nabi bersabda: Aku tinggalkan dua perkara kepadamu. Tidak akan kamu sekalian tersesat selagi berpegang tegung keduanya, yaitu kitabullah (Alquran) dan Sunnah-sunnah utusan-Nya (HR. Al-Bukhari).
  2. Lama-lama tergerak hatinya untuk membaca kedua naskah suci ini. Ia berusaha membaca  sebaik-baik dan sebenar-benarnya menurut ilmu tentang baca-membaca yang baik (ilmu tajwid). Dalam hal ini Nabi bersabda: Bacalah Alquran. Ia akan datang besok pada hari kiamat untuk memberi syafaat kepada pembacanya, (HR. Muslim).
  3. Setelah itu ia berusaha untuk mengerti apa pesan-pesan yang terkandung di dalam manuskrip suci itu.
  4. Berusaha melakukan apa yang menjadi anjuran atau perintahnya dan menjauhi apa yang menjadi larangannya.
  5. Apa yang ia peroleh dari Alquran maupun Assunnah,  ia sosialisasikan kepada orang lain atau saling sharing antar sesama muslim (watawashaubil haqqi watawashaubishabri).
  6. Harapannya terjadi kesadaran bersama  dan aktualisasi massa umat Islam untuk menjadi masyarakat qurani, yaitu masyarakat utama (madinatul fadilah) yang menunaikan amanah sebagai khalifatullah fil ard untuk menciptakan keadilan, kemakmuran, dan keamanan atas dasar tauhid menuju rida Allah.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment